Sabtu, 23 Agustus 2008

Walet di Pantura P. Jawa

Banyak pemilik rumah burung walet di Pantura (Pantai Utara) P. Jawa berkeluh kesah dan menyatakan kesulitannya memikat burung walet menggunakan CD suara walet. Sebagian besar mengatakan bahwa burung walet di daerah tersebut sudah "budeg", tuli, kebal terhadap suara panggil. Dan apakah benar kenyataannya seperti itu?? Dan apakah semua daerah di Pantura Jawa seperti itu??

Beberapa bulan ini setiap hari Sabtu saya bersama Ko Abeng - nama akrab Ade, hitam manis mirip Jamal Mirdad tuh tampangnya - (penulis buku Memancing Walet dengan Sarang kertas) melakukan survey di berbagai daerah di Pantura Jawa. Kami berdua keluar masuk kampung dan keluar masuk rumah burung walet yang ada di daerah Jawa Barat - dari Karawang sampai Cirebon. Berdasarkan pengamatan kami, kegagalan rumah burung walet di daerah tersebut lebih banyak disebabkan karena tata ruang di dalam rumah burung dan kurang mengertinya pemilik RBW tentang teknik-teknik memikat burung walet. Dari banyak RBW yang kami kunjungi, 95 % belum sukses karena kesalahan dalam mendesain rumah burung walet dan karena tidak mengetahui dengan benar tentang budidaya walet. Mereka beranggapan bahwa burung walet akan masuk ke RBW nya lebih disebabkan karena hokki.... sehingga mereka dengan PASRAH (PASti dan berseRAH) menunggu kedatangan Dewa Keberuntungan... kapan datangnya?? Wah... mas saya ini tak tahu kapan datangnya... bisa saja besok.. moga-moga aja rumah walet yang diseberang sana kesambar halilintar, lalu kebakar... kan burungnya bisa aja yang ngungsi ke rumah saya... gitu kata salah seorang pembudidaya di daerah C......, Weleh-weleh.... ini orang koq jahat banget ya ya.... koq dongake wong keno musibah..... pikir saya..
Saya tanya ke bapak tersebut, apa yang selama ini sudah dilakukan agar burung walet bisa masuk ke RBW nya? Bapak ini mengatakan bahwa dia tidak berbuat apa-apa, tidak melakukan apa-apa... Pada waktu pertama kali RBW nya selesai dibuat, bapak tersebut sangat rajin merawat RBW nya, diberi kotoran walet, dindingnya dilaburi dengan telur bebek, untuk makanan walet... disediakan jagung dan dedak. Hal ini saya lakukan terus menerus selama 2 tahun, tapi ya nggak ada hasilnya... burung walet nggak ada yang tinggal. Waktu ada serangga dari dedak dan jagung, wah mas... tiap hari ratusan burung masuk.... tapi ya itu mas... burung walet ini kurang ajar tenan... Mosok makan gratis di sini, main di sini, tidurnya di rumah seberang itu... enak tenan ya.. aku sing ngasi makan, ehhhh dia ngiler nya di rumah seberang he he he he.... Jarwo... jarwo... mikirnya koq simpel wae...

Dari beberapa kunjungan ke RBW - RBW di Pantura Jawa, untuk sementara waktu kami berkesimpulan bahwa banyak pemilik rumah burung walet yang belum mengerti teknik memikat walet dengan benar dan kebanyakan dari mereka cenderung pasrah menunggu dewa keberuntungan datang.
Ada juga yang stress, akhirnya jadi provokator untuk melakukan demontrasi... memprotes kehadiran RBW di daerah tersebut, dan ada juga yang jadi preman alias tukang peras... he he he ........ tapi ada juga yang karena frustrasi, RBW nya yang kosong dijual ke orang lain, dan dia menjadi perawat RBW tersebut.... dan anehnya... RBW tersebut berhasil... pada hal waktu masih menjadi miliknya kosong melompong selama 4 tahun.... lha gimana ini??? Apa yang salah? Ada yang dilakukan oleh pemilik baru, namun hal ini tidak disadari oleh perawat RBW, apakah itu?? Tunggu tulisan saya berikutnya.

Saya dan Ko Abeng sedang melakukan beberapa pengkajian dan berusaha untuk mengembangkan teknik-teknik terbaru untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya burung walet di Pantura Jawa.

Tidak ada komentar: