Jumat, 19 September 2008

Carilah Sembuh ke Negeri China



Oleh trubusid
Jumat, Juni 13, 2008


Jo Meng Tie kini kerap datang ke Guangzhou, minimal setahun 2 kali. 'Selain mengambil ramuan obat, juga untuk melepas kangen dengan para dokter dan perawat di sini,' kata Jo Meng, warga Tanjungpinang, Riau, itu. Pada 2004, lelaki 46 tahun itu membawa 2 saudaranya, Meng Keng dan Kasim ke sebuah rumahsakit di kota surga bagi para kuliner itu. Keduanya sakit kanker nasofaring yang sudah menjalar ke getah bening. Selama 3 bulan mereka dirawat dan tinggal di sana. Saking lamanya menjalani perawatan itulah mereka begitu dekat dengan para dokter dan perawat sehingga memunculkan kerinduan.

Guangzhou dipilih Jo Meng Tie untuk kedua saudaranya bukan tanpa alasan. Rumahsakit-rumahsakit di Jakarta, bahkan Singapura sudah disambanginya, tapi tidak memberikan kesembuhan. Atas informasi dari karib-kerabat, ia pergi ke Guangzhou. 'Saudara dan keluarga maunya diobati secara tradisional untuk menghindari efek tidak baik dari obat-obat sintetis,' kata Jo, saat diwawancarai Trubus di sebuah restoran di Guangzhou.

Menurut Jo mencari rumahsakit di provinsi terbesar kedua di China setelah Beijing itu sangat mudah. Musababnya hampir di setiap sudut kota berdiri rumahsakit yang menawarkan pengobatan modern dan tradisional. 'Jumlahnya ada ratusan,' kata Mochamad Yusuf, sinse asal Sukabumi, Jawa Barat, yang menjadi tenaga ahli pengobatan di rumahsakit-rumahsakit China. Masing-masing rumahsakit bersaing keras untuk mendapatkan pasien. Itulah sebabnya, saat Jo menjajakan kaki di bandara Baiyun sudah ada penjemput dari pihak rumahsakit. Bahkan banyak rumahsakit yang menempatkan calo-calonya di negara-negara potensial seperti Indonesia untuk menggaet pasien.

'Hati-hati saja, karena rumahsakit yang dijanjikan kadang tidak sesuai harapan. Banyak pasien dari Indonesia yang telantar di sana karena salah mendapatkan rumahsakit,' kata Yusuf. Sinse ahli kanker itu menggambarkan, jika masuk rumahsakit yang asal-asalan kesembuhan pasien semakin lama dan biaya membengkak. Akhirnya, untuk pulang saja mereka tidak punya biaya. Sementara penyakitnya belum selesai diobati. 'Makanya, lebih baik tanya dulu sedetail-detailnya kepada yang berpengalaman sebelum memutuskan pergi,' saran Yusuf

Rumahsakit pemerintah
Meng Keng dan Kasim menurut Yusuf dibawa ke rumahsakit yang tepat. Rumahsakit itu milik pemerintah. Di China rumahsakit milik pemerintah peralatannya lengkap dan pelayanannya lebih baik dibanding milik swasta. Guangzhou Military Hospital, misalnya, merupakan rumahsakit besar dengan para dokter berpengalaman. 'Rumahsakit ini berdiri sejak 1954 khusus untuk militer. Tapi 20 tahun kemudian dibuka untuk umum menangani penyakit umum dan khusus kanker,' kata dr Mai Hengseng, direktur Guangzhou Region Military Hospital bagian penyakit tumor dan kanker.

Selama dibuka sudah ribuan penderita kanker dan tumor dari berbagai negara seperti Vietnam, Taiwan, Birma, Thailand, Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Indonesia berobat ke rumahsakit yang berlokasi di Yudongxi Road 22, Shahe, Guangzhou itu. Angka statistik menunjukkan, 'Dari 965 pasien yang saya tangani sebanyak 483 atau 50,05%, sembuh,' kata Prof Chao Wu Jun, tenaga ahli kanker di rumahsakit itu. Angka itu memang kecil, tapi wajar karena pasien yang ditangani pria 72 tahun itu hampir semuanya sudah setadium akhir. 'Secara total persentase kesembuhan mencapai 84%,' kata Mai.

Kalau hanya sebatas kanker nasofaring menurut Chao mudah disembuhkan. Kanker di hidung itu umum diderita masyarakat Provinsi Guangzhou lantaran kondisi udara buruk. Tidak hanya yang berusia di atas 30 tahun, tapi juga yang belasan tahun. Meski begitu untuk penyembuhannya butuh waktu lama, minimal 2 bulan. Itu karena penyembuhan kanker harus menyeluruh. Organ-organ yang terkait seperti lambung, jantung, atau ginjal harus diperbaiki. Itu pula yang terjadi pada Meng Keng dan Kasim.

Setelah berobat ke Guangzhou Kasim dan Meng Keng memang dinyatakan sembuh, meski untuk mengantisipasi berkembangnya sel-sel tumor hingga sekarang mereka rutin mengkonsumsi ramuan dari rumahsakit. Kesembuhan itu dibuktikan hasil pemeriksaan yang dilakukan rumahsakit di Singapura setiap 4 bulan. 'Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda sel kanker itu tumbuh kembali,' ujar Meng Keng. Sebelum berobat di bagian dalam hidung pria 34 tahun itu ada benjolan sebesar telur puyuh. Benjolan itulah yang hampir merenggut jiwa Meng Keng. Ia divonis hanya bisa bertahan dalam hitungan bulan karena kankernya sudah stadium akhir.

Terpadu
Tak hanya Meng Keng dan Kasim yang terbebas dari vonis mati akibat kanker yang menggerogoti. Beberapa pasien dari mancanegara tertolong jiwanya berkat pengobatan rumahsakit setinggi 9 lantai itu. Sebut saja Mr Huang dari Vietnam yang mengalami kanker hati. Pria 69 tahun itu mengenaskan karena kurus-kering, hanya tulang berbalut kulit. Setelah dirawat selama 6 bulan, ia sembuh. 'Ia berterima kasih kepada kami dengan banyak mengirim tenaga-tenaga medis dari negaranya belajar di sini,' ucap Mai.

Miss Lian dari Hongkong dibawa ke rumahsakit dalam keadaan koma. Wanita itu menderita kanker otak stadium 4. Selama setahun dokter-dokter ahli menanganinya hingga kini ia terlihat segar-bugar dan bisa bekerja kembali. 'Akhir Desember 2007 ia bergembira dan mengabarkan kesehatannya lewat telepon,' kata Chao, dokter yang menangani. Chao menuturkan dalam pengobatannya ia menggabungkan antara ramuan tradisional China dan psikis. Itu berlaku ke setiap pasien. Sebab menurut dia banyak penderita kanker meninggal karena putus asa, tidak mau berjuang untuk hidup.

Bahkan Chao menyimpulkan 30% kesembuhan pasien-pasien kanker ditentukan oleh factor psikis. Makanya setiap ada pasien baru, dokter yang pernah bertugas di Amerika Serikat dan Beijing itu langsung menyodorkan album-album foto. Album itu berisi foto-foto pasien yang memperlihatkan kondisi sebelum dan sesudah pengobatan. Dengan begitu pasien baru, tahu bahwa banyak penderita kanker bisa sembuh, sehingga ia pun termotivasi untuk sembuh. 'Selama ini pasien-pasien kanker selalu memvonis dirinya sendiri akan segera meninggal. Akibatnya, ia ogah-ogahan menjalani pengobatan. Obatnya banyak yang dibuang,' papar Chao panjang lebar.

Setelah itu barulah pasien diberikan ramuan yang sifatnya memperlancar peredaran darah, memperkuat pencernaan lambung, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memperbaiki organ-organ pendukung. Tak heran selain ada beragam kunyit, tapak dara, juga aneka jus seperti alpukat, tomat, dan wortel sebagai minuman terapi. Kankernya 'ditembak' belakangan dengan campuran berbagai herbal di China. Chao tidak menyebut secara khusus jenis herbalnya lantaran kecocokan masing-masing pasien berbeda. Namun yang jelas, ling zhi Ganoderma lucidum, temuputih Curcuma zedoaria, pegagan Cantela asiatica, disebut dalam komposisi ramuan.

Ia pun menyarankan agar pasien rutin berolahraga pagi untuk memperbaiki peredaran darah, menambah stamina, dan melatih pernapasan. Sebaiknya semua itu dilakukan di tempat berudara bersih dan di atas rumput tanpa menggunakan alas kaki. Sebab, pada telapak kaki banyak pori-pori yang bila bersentuhan dengan rerumputan sangat berguna untuk menjaga kesehatan mata, ginjal, jantung, dan usus. Waktunya jangan berlebihan, cukup setengah jam. Usai berolahraga gunakan otak kiri untuk berkonsentrasi memerintahkan mengeluarkan kotoran atau penyakit yang ada dalam tubuh.

Yang disebut terakhir, membuang penyakit lewat pemusatan pikiran Chao mengatakan boleh percaya boleh tidak. Di China sendiri ada yang setuju, ada juga yang membantah. Di Indonesia? Merta Ade, ketua perguruan meditasi kesehatan Bali Usada di Bali menjelaskan. 'Pikiran mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat untuk mempengaruhi kondisi tubuh. Manusia merasa sehat kalau tidak memikirkan keluhan akibat rasa sakitnya,' kata Merta. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan memang olahpikir harus dilatih minimal 3 kali dalam seminggu.

NK-cell
China memang selalu terdepan dalam urusan kesehatan. Koyo Guangzhou Hong Yang Biotech yang mengembangkan. Kantornya terletak di kawasan Guangzhou Business Incubator, Science Park of Guangzhou High-Tech. Ia mengatasi beragam penyakit, termasuk kanker, bukan dengan obat-obat tradisional peninggalan nenek moyangnya. Dengan mengadopsi lisensi dari Jepang, perusahaan yang dinakhodai William Chong itu mengembangbiakkan sel untuk melawan beragam penyakit. Pria yang fasih berbahasa Inggris itu menyebutnya natural killing cell alias NK-cell.

Manusia punya antibodi sebagai pertahanan tubuh. Antibodi itu dikultur selama 2 pekan hingga jumlahnya beribu-ribu kali lipat. Sel hasil kultur itu dimasukkan kembali ke dalam tubuh. 'Prosesnya sederhana, tapi saat mengembangbiakkan sel perlu kehati-hatian sangat tinggi agar tidak terkontaminasi,' ucap Chong. Pantas ruangan tempat pengembangbiakan seluas 10 m x 12 m tertutup rapat. Di dalamnya hanya tampak lemari besi berisi tabung-tabung reaksi, tanpa peralatan kantor seperti meja dan kursi karena tidak boleh ada orang yang tinggal di situ.

'Sebenarnya kami mengembangkannya di China sejak 2000. Tapi karena mungkin alasan biaya yang cukup besar peningkatan jumlah pasiennya kurang menggembirakan,' lanjut pria humoris itu. Bayangkan biaya 8 kali penyuntikan Rp200-juta. Wajarlah kalau pasiennya adalah kalangan orang-orang berduit. Mochamad Yusuf yang mendampingi Trubus ke China mengatakan, 'NK-cell efektif mengatasi berbagai penyakit dan tidak menimbulkan efek samping. Pemanfaatannya kini justru untuk solusi ingin awet muda.'

Sinse Yusuf yang menjabat sebagai pemimpin klinik Citra Insani di Sukabumi, Jawa Barat, itu, memprediksi teknologi NK-cell banyak dibutuhkan masyarakat. Apalagi jika biayanya bisa ditekan. Oleh karena itu ia dan Koyo akan bekerja sama membuka cabang di kota-kota besar di Indonesia. Dengan begitu, apakah masyarakat Indonesia masih mencari kesembuhan ke China? China kadung populer sebagai negeri kaya ahli-ahli pengobatan, meski untuk ke sana tidak sedikit biaya yang dikeluarkan. (Karjono)

Pengagum Sejati Guci


Boedi Mranata Pengagum Sejati Guci

Ini tawaran langka. Baru kali ini Trubus diperkenankan untuk melihat koleksi guci yang sangat lengkap. Sang pemilik, Dr Boedi Mranata, memang tak sembarangan mengizinkan orang untuk masuk ke tempat guci itu disimpan. Sebagai kolektor guci china, Boedi tidak saja dikenal di tanahair, tapi juga dimancanegara. Pantaslah kalau kesempatan itu dimanfaatkan oleh Destika Cahyana, Karjono, dan Lastioro Anmi, wartawan Trubus, untuk menyaksikan keindahan guci dari dekat.

Dengan rasa penasaran ketiga wartawan Trubus, meniti belasan anak tangga, akses menuju guci-guci ditempatkan. 'Wow?!' pekik Lastioro ketika saklar lampu dinyalakan. Ia tidak bisa menyimpan kekagumannya begitu melihat aneka bentuk, ukuran, dan warna guci. 'Berbeda sekali dengan guci-guci yang biasa kita lihat,' imbuhnya. Guci-guci yang dikumpulkan sejak 20 tahun lalu itu terhampar di lantai keramik yang cukup luas. Sebagian lagi merapat ke dinding, menempati 'kamar-kamar' kecil sesuai ukuran guci.

Selain ditempatkan di ruang khusus, pengusaha walet itu memajang guci di sudut-sudut ruang rumah pribadinya. Total jenderal ada 500 guci berbagai umur dari 100-1.200 tahun. 'Saya hanya mengoleksi guci-guci tua. Karena di situlah letak kebanggaan sebagai kolektor,' ungkap Boedi. Mafhum kalau koleksi-koleksi doktor biologi lulusan Universiteit Hamburg Jerman 1984 dengan predikat summa cum laude itu sangat langka. Ada yang cuma satu-satunya di dunia, ada juga yang hanya dipunyai 2 kolektor.

Sebut saja guci berbentuk bulat setinggi kurang lebih 80 cm yang ada di museum Victoria, Jerman, kembarannya dikoleksi Boedi. Atau guci dengan gambar killin-binatang mirip naga yang dipercaya pembawa keberuntungan oleh masyarakat Tionghoa-yang kembarannya dimiliki oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, terpajang di kanan kiri ruang tamu.

Guci-guci yang mempunyai nilai sejarah tinggi dari berbagai pelosok tanahair juga terkoleksi. Misal guci perdamaian, guci pasangan laki-perempuan, dan guci peninggalan Laksamana Cheng Ho yang 'temannya' ada di depan hotel Marriot di Singapura menjadi pusat perhatian turis.

Guci perdamaian yang khas dengan gambar kepala di sisi sebelah dan gambar tangan di sisi lainnya sudah dikoleksi sejak belasan tahun lalu. 'Tanpa ada guci perdamaian orang Dayak yang bermusuhan tidak bisa berdamai,' tutur pria yang terkenal sebagai raja walet merah itu. Kala suku Dayak hendak berdamai, guci perdamaian harus ada di tengah-tengah mereka sebagai syarat. Barulah mereka berpestapora, menari, makan dan minum sambil mengelilingi guci.

Untuk mendapat guci-guci itu memang tidak mudah. 'Bisa menunggu 1 tahun, 2 tahun, hingga belasan tahun,' ujar pria kelahiran Banyuwangi 56 tahun silam yang berburu guci hingga mancanegara itu. Musababnya banyak pemilik guci yang menjadikannya barang bertuah, sehingga transaksi jual-beli pun harus patuh pada adat istiadat. Boedi pernah gagal membawa sebuah guci yang sudah dibayar gara-gara keluarga si pemilik tidak menyetujui. Cerita lain, guci baru bisa dibeli setelah si pemilik meninggal dan tidak punya ahli waris.

Boedi menuturkan koleksi-koleksinya banyak didapat dari Kalimantan, terutama dari suku Dayak yang begitu fanatik. Bagi suku Dayak zaman dahulu guci adalah segala-galanya. Mereka lebih memilih berperang atau bersedia menjadi budak daripada kehilangan guci kesayangan. Namun kini, setelah orang-orang dari kota-kota besar banyak masuk ke Kalimantan pada 1970-an, guci-guci mereka berpindah ke tangan kolektor. 'Di sana sekarang hampir tidak ada lagi guci-guci berumur tua. Kalau guci-guci modern banyak, karena di Singkawang ada industrinya,' lanjut Boedi.

Pengagum Sejati Guci
Menurut Boedi guci-guci modern mungkin terlihat lebih mencolok lantaran warna lebih ngejreng, model dan bentuknya pun lebih bervariasi. Namun, dari segi historis tidak ada nilainya, sehingga harga pun jauh lebih rendah. Boedi mengilustrasikan sebuah guci yang mempunyai nilai historis penting, sangat mahal. Oleh karena itulah usaha-usaha untuk menduplikasi guci-guci 'berkualitas' selalu dilakukan. Bahan, bentuk, warna, dan ukuran sepintas sama, hanya kolektor ahli yang bisa membedakannya.

Dulu waktu masih pemula, pehobi tenis meja itu juga sering tertipu. Kini tidak lagi. Apalagi ia mempunyai jalan pintas untuk menguji 'keaslian' guci bila kemiripannya sangat sempurna. 'Ya, saya datangkan ahlinya dari Oxford Authentication Ltd, Inggris. Lembaga itu diakui dunia. Tingkat kebenarannya mencapai 99,99%,' kata Boedi. Dengan alat termoluminescence sebuah guci dapat diketahui umur pembuatannya hanya dengan mengebor sedikit bagian bawah. Meski untuk mengujinya butuh biaya cukup besar, Rp6-juta per guci, belum termasuk ongkos pesawat dan biaya akomodasi.

Memang mahal untuk sebuah kesenangan. Namun, 'Kalau tidak 'diamankan', guci-guci bersejarah dari tanahair banyak terbang ke luar negeri,' alasan Boedi mengumpulkan guci. Menurut Boedi di dunia ada ribuan kolektor guci, terutama di Asia Tenggara, dan beberapa museum yang mengoleksi guci seperti Leeuwarden di Belanda, di Kucing, Sarawak, serta Shanghai, China. Di Indonesia sendiri, selain Boedi tercatat beberapa kolektor guci di antaranya Presiden Soekarno, Megawati Soekarno Putri, Fauzi Bowo, Miranda Gultom, dan Pia Alisyabana.

Terlepas dari tujuan mulia itu Boedi mengaku, 'Ada kerinduan terhadap sejarah saat melihat dan mengelus guci-guci itu,' ucap Boedi. Kini sebagai upaya untuk mendokumentasikan guci-gucinya, Boedi bersama kolektor lain sedang giat menyusun buku mengenai guci-guci tua di Indonesia. 'Direncanakan terbit pada 2008,' tambahnya. (Karjono)

Sumber: Trubus On Line

Selasa, 16 September 2008

Halmahera, Sentra Baru Cericit Walet


Boedi Mranata



Peta dalam buku Swifts A Guide to The Swifts and Treeswifts of The World karangan Phil Chantler dan Gerald Driessens pada 2000 tentang lokasi lintasan walet di kawasan Timur Indonesia perlu perbaikan. Keduanya tidak memasukkan Pulau Halmahera di Maluku Utara sebagai habitat si liur emas Collocalia fuciphaga. Padahal, 'Sejak lama di sana banyak sekali walet,' ujar Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan.

Boedi membuktikan itu saat berkunjung ke pulau seluas 17.780 km2 itu untuk mengikuti undangan Lokakarya Awal Program Kemitraan untuk Pengelolaan Konservasi di Taman Nasional Aketajawe Lolobata, di Lolobata, Halmahera, Maluku Utara, pada April 2008. Kedatangan pengusaha sarang walet yang menjabat sebagai patron bird life Indonesia beserta rombongan itu bertujuan memperkenalkan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. Selama perjalanan ke sana Boedi mengamati keberadaan si liur emas.

Pengamatan dimulai sejak meninggalkan Manado menuju Bandara Sultan Baabullah di Ternate. Di ibukota Maluku Utara itu Boedi menyaksikan puluhan sriti terbang mencari pakan. 'Tapi tidak ada satu pun rumah walet di sana,' tuturnya. Pemandangan serupa terlihat saat menuju Pulau Tidore. Sriti beterbangan, tapi tidak ditemukan satu pun burung walet.

Sarang gua

Setelah bermalam di Ternate, perjalanan dilanjutkan menuju Halmahera menggunakan speed boat 40 PK. Sejam berlayar tibalah Boedi di Payahe. Dari sana alumnus Biologi di Universiteit Hamburg Jerman itu melanjutkan perjalanan ke Sidagoli sampai Jailolo. Sepanjang perjalanan Boedi melihat puluhan sriti terbang mencari pakan.

'Di sana ukuran sriti lebih besar dan gempal daripada saudaranya di Pulau Jawa,' kata pelindung dari pengelolaan Hutan Harapan di Jambi itu. Sekilas tubuh bongsor itu menyerupai walet. Harap mafhum, ukuran tubuh sriti hanya 10% lebih kecil dari walet. Di Pulau Jawa perbedaan itu sangat mencolok, mencapai 30%. Tak hanya itu, warna bulu sriti di sana lebih gelap. 'Bulu putih di dada yang menjadi penanda sriti tak terlihat secara kasat mata,' tutur Boedi.

Kehadiran walet di tanah Halmahera sangat mungkin. Musababnya, iklim di pulau itu cocok untuk walet. Suhu berkisar 28°C dan kelembapan 80-90%, misalnya. Selain itu 'Dari selatan sampai utara Halmahera terdapat bukit yang hutannya alami dan pohon-pohon kelapa di pinggir pantai,' tambah Boedi yang terbang dengan helikopter untuk melihat kondisi lingkungan Halmahera dari udara. Dengan kondisi itu dapat dipastikan: serangga, sumber pakan walet, melimpah.

Keyakinan Boedi terjawab setelah Basri Amal, sekretaris daerah (Sekda) Halmahera Tengah yang bertemu rombongan, menyebut kan Halmahera punya 2 sentra penghasil sarang walet: Loloda dan Wasile. 'Loloda yang terbesar,' ujar Basri. Sarang berasal dari gua-gua. Sayangnya, belum ada data volume produksi. Namun, berdasarkan pengamatan Basri produksi sarang bisa mencapai 200 kg/tahun.

Kualitas sarang yang dihasilkan tak jauh berbeda dengan sarang walet rumahan asal Pantura dan Sumatera. 'Tebal dan berbentuk mangkuk,' kata Basri. Penampilan sarang seperti itu terjadi karena musim hujan di Halmahera sangat panjang, rata-rata 10 bulan per tahun. Itu artinya walet tak perlu terbang jauh untuk mendapatkan serangga yang berkembangbiak di musim penghujan. Imbasnya energi yang ada lebih banyak dipakai untuk memproduksi liur.

Potensial

Lantaran berada di Indonesia Timur, kemungkinan besar tingkat keberhasilan putar telur di Halmahera sama seperti di Sulawesi Utara yang mencapai lebih dari 50%. Itu artinya bila 10.000 telur sriti ditukar dengan telur walet akan ada lebih dari 5.000 walet. Di Pulau Jawa hampir semua telur yang ditukar menetas, tapi yang kembali untuk bersarang hanya 10%.

Meski begitu bukan perkara mudah membuat walet berkembang di lokasi ini. Harap mafhum, banyak jalan antarkota dan daerah yang belum dibenahi sehingga akses menuju lokasi sangat sulit. Menurut Boedi bila kendala itu teratasi Halmahera potensial menjadi sentra walet di timur Indonesia. 'Semoga banyak investor yang melirik ke sana,' harap Boedi yang menutup perjalanan dengan melihat burung-burung endemik di Wedabe. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sumber: Trubus On Line

Kamis, 11 September 2008

SUARA LACUR

Banyak yang penasaran dengan suara LACUR, dan banyak yang bertanya-tanya mengapa suara tersebut disebut suara LACUR, apa sih isi suara tersebut?. Ada pula yang email ke saya, "memang hebat suara LACUR terbaru tersebut, bisa membuat burung walet 'ereksi' dan masuk ke dalam lubang masuk burung"... ... Pel.... telah membuat burung ereksi...., geregetan dan ingin kawin..

Ada pula yang berpikiran tanpa mengetahui apa sebenarnya isi dari suara LACUR lalu mengatakan bahwa suara Duress adalah suara LACUR, pada hal di dalam suara LACUR tersebut tidak ada sedikitpun suara DURESS atau walet stress, tidak ada suara anak walet yang kecekik atau dicekik... tidak ada sama sekali. Makanya saya sangat kaget bila ada yang mengatakan suara untuk test lokasi adalah suara duress atau LACUR.

Suara LACUR adalah "trade mark" untuk suara yang saya buat atau ciptakan. Nama LACUR diilhami dari buku "MIMPI". Buku ini banyak digunakan untuk menebak nomor dan memasang lotere. Bila bermimpi tentang sesuatu, esok paginya orang yang gila nomor dan lotere langsung membuka buku "MIMPI" untuk mengetahui nomor berapa mimpinya, lalu nomor yang tertera sesuai dengan isi mimpinya orang tersebut membeli nomor atau lotere.

Berdasarkan buku MIMPI tersebut, WALET = PELACUR = 21, jadi suara WALET = suara PELACUR dan rasanya tidak enak menyebutnya sebagai suara pelacur, maka saya ambil LACUR saja dan menjadi "trade mark" untuk suara walet yang saya ciptakan dengan beberapa seri. Nomor seri pun mempunyai makna dan maaf, makna dari nomor seri suara LACUR tidak dapat saya bahas di sini.

Jadi suara LACUR = suara WALET, dan tidak mempunyai arti yang negatif... hanya sekedar nama saja...

Bagaimana dengan suara DURESS? Yang memberi nama Duress adalah seseorang Malaysia.
Di negara Jiran kita itu, suara ini amat sangat dibanggakan. Mereka sangat suka "bermain" dengan suara ini. Mereka bangga bila bisa mengundang burung dan berputar-putar saja di atas bumbung.... dan mereka bangga disebut "SIFU" karena bisa mengundang serta mengumpulkan banyak burung walet.... pada hal burung walet hanya berpusing-pusing saja di atas bumbung dan tidak berani mendekat ke LMB... Sungguh bangga ya bermain dengan suara DURESSSS...silakan nikmati terus.... sampai puas... tapi ingat ya ... eh... biarkanlah mereka happy menikmati tontonan yang menarik he he he... biarkan saja sampai mereka kena batunya..

Selasa, 09 September 2008

Suara LACUR = Suara DURESS??????

Berikut adalah cuplikan yang saya ambil dari web www.jahaniwalit.com yang baru saja saya baca sore ini.

"Anda jangan terperanjat jika mendapati suara yang dipasang akan mampu menarik terlalu ramai burung datang suara ini dikenali dengan suara dures atau dikenali juga dengan suara lacur. Suara ini dirakam dalam keadaan burung stress. Suara begini biasanya digunakan untuk menguji penentuan lokasi yang sesuai bagi membina rumah burung walit. Anda dinasihatkan supaya tidak menggunakan suara jenis ini untuk dipasang pada pintu masuk rumah burung anda kerana ia tidak akan bertahan lama.Burung akan menhilangkan diri secara perlahan lahan."

Saya sungguh terperanjat dan kaget kalau suara LACUR disamakan dengan suara DURESS. Suara-suara walet yang saya miliki memang saya beri nama atau saya juluki "LACUR" dengan beberapa seri.
Banyak rekan-rekan yang menanyakan arti LACUR ini dan memang saya hanya menjawab dengan senyum saja... silakan mengartikan sendiri...
Namun perlu dicatat dan diketahui bahwa suara seri "LACUR" tidak berisi suara walet stress dan bukan berisi "suara anakan burung walet" yang digunakan untuk test lokasi, dan tidak berisis DURESS, sama sekali tidak ada.

Tulisan ini bukan untuk mengkonter apa yang ditulis oleh jahaniwalit.com, tapi saya hanya ingin meluruskan apa yang telah beliau tulis di web nya.... ataukah mungkin penulis jahaniwalit.com asal menulis saja tanpa tahu apa itu suara LACUR... he he he dan kalau beliau beranggapan seperti itu maka saya berkeyakinan bahwa beliau belum pernah mendengar suara LACUR saya...
Kalau beliau pernah mendengar suara LACUR saya, tentu beliau tidak akan mengatakan bahwa suara LACUR = suara DURESS... he he he... Bisa dilihat di youtube... dan coba dibandingkan bagaimana respon burung terhadap kedua suara tersebut.
Respon burung yang mendengar suara DURESS dengan pergerakan burung yang mendengar suara LACUR, berbeda... sangat berbeda. Silakan di analisa sendiri, he he he....

Saya yakin pak Jahani tidak mengerti dan tidak tahu apa yang beliau tulis serta tidak pernah mendengar suara LACUR saya ... beliau hanya beranggapan bahwa suara LACUR adalah suara DURESS.... beda lho ...weleh weleh.... Racun... eh, Lacur ... Lacur...

Saya sudah SMS pak Jeff untuk mengingatkan ke jahaniwalit.com bahwa suara LACUR bukan suara DURESS.... dan seketika itu pula jahaniwalit.com merevisi tulisannya

Bagi rekan-rekan yang pernah mendengar suara LACUR saya, silakan beri komentar.., apakah suara LACUR saya adalah suara DURESS??? Terima Kasih.