Selasa, 30 Desember 2008

Rabu, 17 Desember 2008

HexaZooka

Video clip ini merupakan kiriman dari Pak D dari Meulaboh - Aceh Barat. Pak D menggunakan external sound saya dan menggunakan HexaZooka (gabungan antara Hexagonal dan Bazooka) untuk "menembakkan" suara tersebut ke Rumah Burung Walet yang telah berproduksi. Jarak antara rumah burung walet pak D dengan rumah burung walet tersebut sekitar 1 km.

video

Sabtu, 13 Desember 2008

Ketika Nangka Tak Berbaju

Ketika Nangka Tak Berbaju
Oleh trubusid, Sumber: Trubus Online
Senin, Desember 01, 2008 02:56:41

Seratus lima puluh pasang mata terbelalak diikuti gumaman 'wow....!' panjang. Detik berikutnya kilatan lampu blitz bertubi-tubi menghujani foto nangka tanpa kulit yang terpampang di layar teater Dewi Sri, Taman Wisata Mekarsari (TWM), Bogor.

Para peserta Simposium Buah Internasional ke-4 wajar terkaget-kaget melihat foto nangka telanjang itu. Artocarpus heterophylus itu memang nyleneh. Di sekujur buah terlihat tonjolan tak beraturan. Warnanya kuning terang dengan ujung sedikit menonjol kehijauan. Itu tak lain nyamplung yang biasanya tertutup kulit. 'Saya baru melihat nangka seperti ini,' ujar Frank Sekiya, penangkar buah tropis di Hawaii.

Rasa manis langsung manggetarkan lidah waktu Trubus mencicipi nangka tanpa baju itu pada Oktober 2008. Teksturnya renyah dan kering. Tingkat kemanisannya mencapai 15o briks. Memang tak semanis nangka biasa yang umumnya 18o briks. Namun, justru itu yang membuatnya lebih segar dan tidak terlalu legit.

Bekasi vs Kudus
Bibit nangka telanjang koleksi TWM didapat dari Bekasi. Waktu itu, pada 2004, pohon nangka umur 3 tahun milik Ikhsan pertama kali berbuah. Uniknya semua tanpa kulit. Gregori Garnadi Hambali, pakar buah TWM, yang mendengar berita langsung tertarik. Bermodal 4 batang bawah didapat 4 bibit hasil sambung susu. Dua bibit ditanam di TWM, sisanya ditanam di kediaman Greg. Namun, hanya 2 pohon yang bertahan.

Tiga tahun berselang pohon di TWM mulai berbuah. Buahnya persis seperti tanaman induk di Bekasi. Sampai umur 2,5 bulan pascabunga, bentuk buah masih normal. Setelah itu, kulit mulai pecah disusul dengan munculnya tonjolan-tonjolan. Dua minggu kemudian, buah menguning tanda siap dipanen. Kondisinya semua nyamplung tanpa kulit. Dari semua buah yang muncul, karakternya sama. Artinya, kelainan itu sudah stabil.

Ukuran buah dan jumlah nyamplung normal. Buah berbobot 14 kg dengan panjang 65 cm, jumlah nyamplungnya mencapai 200 buah. Dengan penyerbukan buatan-bunga jantan nangka biasa diserbukkan ke bunga betina nangka telanjang-jumlah nyamplung dua kali lipat daripada penyerbukan alami.

Penampilan nangka telanjang dari Bekasi itu mengingatkan Trubus pada buah serupa asal Kudus. Di kota Jenang itu Mujib Bambang Santoso juga memanen nangka tanpa baju. Bibitnya asal biji yang didapat dari rumah sang kakek di Banyuwangi.

Sifat asli
Yos Sutioso?pakar fisiologi tumbuhan di Jakarta?menduga kelainan tanpa kulit disebabkan hilangnya gen pembentuk kulit karena mutasi. Greg justru berpendapat sebaliknya. 'Sifat tanpa kulit itu mungkin malah sifat asli nangka,' tutur master biologi dari Universitas Birmingham, Inggris, itu.

Dari sifat tanpa kulit muncul mutasi yang berkulit dengan kemampuan adaptasi jauh lebih baik. Makanya, hanya nangka berkulit yang tersisa. Namun, nangka berkulit punya peluang bermutasi ke sifat asalnya yang tanpa kulit. Seperti yang ada di TWM, Bekasi, Kudus, dan Banyuwangi. (Nesia Artdiyasa)

Walet di Negeri Tango

Walet di Negeri Tango
Oleh trubusid, sumber: trubus online
Senin, Desember 01, 2008 02:40:22


Argentina tak hanya gudang pemain sepakbola andal. Negeri Tango itu juga gudang walet. Di Taman Nasional Iguazu, misalnya, terdapat puluhan ribu walet menghuni tebing-tebing di dekat air terjun. Burung berbulu hitam-putih itu dijadikan lambang iguazu.

Terkuaknya Argentina memiliki gudang walet berawal dari lawatan Dr Michael Rands, presiden direktur Birdlife International ke Indonesia pada Februari 2008. Setelah melihat rumah-rumah walet milik penulis, orang nomor 1 di dunia konservasi perburungan itu sangat tertarik pada kemajuan budidaya walet di Indonesia. 'Ini sumbangan nyata terhadap perkembangan populasi walet yang pada 1990-an dianggap terancam punah,' ujarnya. Ujung-ujungnya, ia mengundang penulis ke konferensi Birdlife International di Buenos Aires, Argentina, pada September 2008 untuk membeberkan seluk-beluk budidaya walet dan perdagangannya. Konferensi ini dihadiri hampir 1.000 delegasi dari lebih 100 negara.

Diwakili penulis dan 9 delegasi Birdlife Indonesia lainnya, berangkatlah kami menuju negara yang terkenal tarian tango-nya itu. Perjalanan udara ditempuh selama 30 jam dari Bandara Soekarno-Hatta. Buenos Aires penuh dengan gedung-gedung tua dengan corak Eropa. Hampir sebagian besar wilayah Argentina merupakan tanah pertanian yang subur dengan peternakannya yang maju. Negara yang berbatasan dengan Brazil itu sangat memperhatikan lingkungan, sehingga di sudut-sudut kota terlihat asri dengan vegetasi tanaman terpelihara.

Great dusky swift
Menyampaikan makalah walet di hadapan para delegasi adalah kehormatan bagi Indonesia, khususnya penulis. Kesempatan itulah yang dipergunakan untuk memperkenalkan mereka pada produk dan budidaya walet. Hasilnya mereka menyadari bahwa budidaya walet adalah bagian dari aktivitas konservasi yang harus dilindungi dan didukung bersama. Banyak peserta aktif terlibat diskusi dan menyatakan kekagumannya, bahkan beberapa peserta berminat untuk mencicipi dan mengetahui lebih jauh khasiat sarang burung walet.

Yang mengagetkan, dalam diskusi terlontar di Argentina bagian utara terdapat populasi walet yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Burung yang mirip walet itu hidup liar, tidak ada yang membudidayakan. Informasi inilah yang membuat penasaran penulis untuk mengunjungi habitatnya. Sayangnya panitia tidak mengagendakan kunjungan ke sana, meski burung ini termasuk yang sangat ketat dilindungi pemerintah Argentina.

Terdorong keinginan kuat untuk mengetahui keberadaan sang walet, keesokan harinya setelah selesai kongres, delegasi dari Indonesia terbang ke Iguazu, tepatnya Taman Nasional Iguazu. Di taman inilah walet-walet kabanggaan Argentina membangun kerajaan. Perjalanan yang melelahkan selama 2 jam seolah terbayar lunas kala melihat walet-walet berseliweran di atas air terjun. 'Pemandangan yang indah,' ucap salah seorang anggota delegasi. Air terjun Iguazu memang satu dari 3 air terjun terbesar di dunia, selain Niagara di Amerika Serikat dan Victoria di Zimbabwe.

Bagi pengusaha walet, tentu bukan air terjun setinggi 80 m yang mengagumkan, tapi waletnya. Walet-walet yang jumlahnya mencapai puluhan ribu memperlihatkan gerak-gerik menarik. Dengan kepakan sayap yang kuat mereka menerobos derasnya kucuran air terjun. Mereka tidak takut air, tapi justru bermain di antara cipratan-cipratan air. Perilaku itu sama seperti kebiasaan walet di tanahair yang senang dengan semprotan air dari sepuyer di samping pintu keluar-masuk.

Sosok walet yang konon ada sejak ratusan tahun lalu itu lebih besar dari walet Collocalia fuciphaga. Panjang tubuhnya 18 cm, tapi rentang sayap relatif pendek, sekitar 24 cm. Oleh karena itu, walet yang sama-sama famili Apodidae itu terbangnya tidak seelegan saudaranya C. fuciphaga. Kepala agak besar berwarna abu-abu keputihan dengan mata cukup lebar. Tubuhnya yang sedikit membulat diselimuti bulu kecokelatan. Jenisnya Cypseloides senex, di Argentina dikenal dengan sebutan great dusky swift.

Sarang lumut
Tak seperti C. fuciphaga, sarang great dusky terbuat dari lumut atau rumput-rumputan yang tumbuh di tebing-tebing basah. Sepintas mirip sarang sriti yang tersusun dari rumput laut atau daun cemara yang direkat air liur. Sarang berukuran 2-3 kali sarang mangkuk collocalia itu tidak mempunyai nilai ekonomis. Bentuk sarang agak membulat sehingga terlihat cekung. Sang burung memanfaatkannya untuk beristirahat dan menyimpan telur kala musim berbiak tiba.

Sarang-sarang great dusky banyak ditemukan di dekat air terjun, bahkan di balik air terjun. Karena tidak dilakukan pemanenan, sarang-sarang itu terlihat berderet-deret. Itu mengindikasikan dusky juga hidup berkelompok. Anak-anaknya membangun sarang tidak jauh dari sarang sang induk. Berdasarkan jumlah sarang yang teramati, setiap kelompok bisa mencapai ratusan ekor. Menurut staf pengelola taman nasional, burung-burung yang posisi istirahatnya menggantung-tidak bisa berdiri tegak-itu mengeluarkan bunyi nyaring waktu terbang bermain atau menjelang keluar untuk mencari pakan dan saat pulang akan tidur.

Di habitatnya, di antara 150 jenis burung penghuni taman, kehidupan dusky terlihat 'sejahtera'. Sebab, ia berada di lingkungan yang aman dengan pakan berlimpah. Maklum dusky burung terkenal yang jadi perhatian pemerintah Argentina, itu, tak ada yang mengganggu sama sekali meski pengunjung taman mencapai 1,5-juta orang per tahun. Apalagi daya adaptasinya cukup baik, dusky bisa hidup di bawah suhu 20-33oC. Tak aneh kalau populasinya terus meningkat, diperkirakan mencapai 10% per tahun. Namun jenis walet ini masih sulit dan kemungkinannya kecil bisa dibudidayakan seperti sejenis C. fuciphaga. Sebab, di Argentina terbentur iklim yang terlalu dingin.

Andai bisa dibudidayakan pun, Indonesia yang selama ini menjadi penghasil sarang walet terbesar di dunia tak perlu takut tersaingi. Justru dengan semakin dikenalnya walet di berbagai benua, diharapkan konsumen sarang walet pun mendunia, tidak sebatas Asia. Asal, kreativitas para peternak untuk mengembangkan teknologi budidaya walet terus dipacu dan pihak pemerintah mendukungnya, Indonesia akan tetap menjadi produsen nomor 1. Penulis yakin kunjungan ke Taman Nasional Iguazu sangat bermanfaat untuk mendapatkan ide-ide baru demi kemajuan perwaletan di masa mendatang. (Dr Boedi Mranata, praktikus walet, patron Birdlife Indonesia)

Belahan Jiwa Dua Dokter Jiwa

Sumber: Trubus Online

Oleh trubusid

Jumat, Oktober 17, 2008 10:54:56
Klik untuk melihat foto lainnya...

Bom yang menghancurkan tanah Lebanon baru saja meledak. Desing peluru sesekali terdengar di tengah linangan air mata pengungsi. Dari balik duka itu muncul pria berompi cokelat masuk ke sebuah rumah yang selamat. Setelah meminta izin dari si empunya, dr H Fuadi Yatim SpKj, relawan kesehatan asal Indonesia, menggunting cabang pohon tin yang tumbuh di pekarangan. Dari negeri yang tengah diamuk perang, dokter jiwa itu memboyong 50 cabang Ficus carica ukuran 20-30 cm untuk diperbanyak di tanahair.

Menjadi relawan kemanusiaan ke berbagai negeri memang menjadi bagian hidup Fuadi. Namun, di tengah kesibukannya, mata dokter jiwa di RS Islam Bunga Rampai itu selalu mencari hal yang sama. 'Di setiap negeri yang saya kunjungi, mencari bibit buah menjadi sebuah kewajiban,' kata aktivis Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) itu. Saat masih aktif di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) misalnya. Fuadi memilih berburu cabang jambu air ketimbang belanja di sela-sela acara IDI di Taiwan.

Cinta Fuadi pada buah-buahan memang sudah 'akut'. 'Tak menyiram tanaman sehari, pikiran menjadi kurang tenang,' ujar spesialis kejiwaan jebolan Universitas Indonesia itu. Itu bermula saat Fuadi menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada 1980. Di saat kelelahan karena terik matahari yang menyengat ia tertarik pada sebuah rumah yang pekarangannya menghijau. Di sana hamparan rumput dan pohon buah tumbuh subur. Pemilik rumah rutin menyiram tanaman yang tumbuh di tanah pasir itu.

Hobi pemilik rumah di Mekkah itulah yang menular pada Fuadi. Sepulang dari tanah suci ayah 4 anak itu kerap nongkrong di penjual bibit buah-buahan di Pasarminggu dan Ragunan, Jakarta Selatan. 'Pulang memberi kuliah di universitas, saya belajar mengokulasi belimbing pada tukang kebun,' kata mantan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Pengalaman praktek menggunakan pisau di dunia kedokteran membuat Fuadi gampang melepas kulit batang tanaman dari kambium. Setahun berselang, pada 1981, kediaman Fuadi sudah penuh dengan bibit belimbing.

Terapi

Menurut Fuadi bukan tanpa alasan hobi itu digeluti secara serius di tengah aktivitas berpraktek, mengajar, dan menjadi relawan. 'Dari segi ilmu kejiwaan hobi memelihara tanaman bagian dari sebuah terapi regresi,' katanya. Secara teori, regresi ialah menarik kehidupan ke masa lampau yang indah. Saat menyiram tanaman kita seperti kembali pada masa kanak-kanak yang gemar bermain air dengan bebas. Fuadi pun seperti tertarik pada masa lampau di Batusangkar, Sumatera Barat, yang sering pergi ke ladang menanam terung dan memelihara bebek.

Karena pijakan teori itulah, Fuadi kerap menyarankan pada keluarga pasien yang datang agar penderita gangguan jiwa menggeluti hobi bercocok tanam. 'Mereka tak bisa bekerja keras. Menyiram tanaman bisa menjadi aktivitas positif yang gampang dilakukan,' tuturnya. Ia merujuk pada banyaknya penderita gangguan jiwa yang sering berlama-lama di kamar mandi. Itu karena mereka senang bermain dengan air seperti bocah kecil. Menyiram tanaman mengalihkan bermain air tanpa guna menjadi hal yang bermanfaat.

Kini, 27 tahun berselang, hobi Fuadi mengoleksi buah-buahan semakin 'kronis'. Terutama setelah mangga lazis djiddan yang diperoleh dari Cirebon 15 tahun silam dinobatkan sebagai pemenang buah unggul 2003. Kemenangan itu menjadi sebuah tonggak sejarah baru. Bibit lazis djiddan menjadi laris manis. Buah lain seperti mangga tsunami, jambu pihinwai, dan tin ikut laris. 'Tadinya hanya hobi, sekarang bisa menambah pendapatan yang lumayan,' kata kakek 4 cucu itu. Pantas papan nama praktek dokter jiwa di bilangan Cipinang, Jakarta Timur, itu kini bersanding dengan papan nama kebun bibit buah.

Buah langka

Psikiater yang juga hobi mengoleksi buah-buahan ialah dr M Hendrarko SpKj di Malang, Jawa Timur. Spesialis kejiwaan jebolan Universitas Airlangga itu mengoleksi buah-buahan di sebuah kebun seluas 400 m2. Kebun itu terletak di belakang Panti Cacat dan Rehabilitasi Mutiara Bunda di Lawang, Malang, yang dihuni 30 pasien penderita gangguan jiwa. 'Sebelum mengunjungi pasien, saya lihat kebun dulu. Begitu pula ketika mau pulang,' kata mantan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu.

Hendrarko pun sependapat dengan Fuadi. 'Bertanam buah mendatangkan kepuasan batin, apalagi saat memetik buah yang matang,' kata ayah 4 anak itu. Yang membedakan, Hendrarko cenderung mengoleksi buah langka dan belum populer di tanahair. Misal, pineaple guava, brazilian cherry, black sapote, dan white sapote. Dua yang disebut pertama berasal dari Australia dan Selandia Baru. Menurut Hendrarko, menjadi suatu kebanggaan bila tercatat sebagai orang yang mengintroduksi tanaman luar ke tanahair. Memang dari tangan Hendrarko buah-buahan itu lalu beredar ke Jakarta, Blitar, Bali, hingga Medan dan Bulungan.

Dua tahun bertanam di kebun koleksi tak membuat konsultan medis perusahaan rokok itu puas. 'Setelah melihatnya, banyak kenalan yang memesan bibit, sementara lahan sempit,' katanya. Hendrarko pun membuka lahan bekas sawah seluas 2 ha di Bunton, Malang, sebagai kebun produksi bibit dan tabulampot sejak 3,5 tahun silam. Pembukaan kebun dilakukan bertahap dimulai dengan luasan 4.000 m2. Ia pun menggandeng seorang sarjana pertanian untuk mengelola kebun. Kini dari kebun di ketinggian 400 m dpl itu setiap bulan diproduksi ratusan bibit buah-buahan.

Perban induk

Yang menarik, ilmu kedokteran Hendrarko ternyata berguna untuk memproduksi bibit. Sebut saja saat alumnus Fakultas Kedokteran UGM itu mengatasi hama pengerek batang yang menyerang induk tanaman. 'Disemprot pestisida tak mempan. Cairan langsung kering, hama kembali menyerang,' ujarnya.

Penangkar lain banyak mengatasi penggerek dengan menggunakan kuas untuk mengoles pestisida. Hendrarko membasahi kapas dengan larutan pestisida. Lalu batang yang terserang dibungkus kapas dan diikat dengan plastik transparan. Mirip perban pada pasien yang luka. Dengan cara itu hama di dalam batang mati, luka pun berangsur pulih.

Menurut Hendrarko dasar ilmu kimia dan biokimia di Fakultas Kedokteran yang dipelajarinya memudahkan mempelajari tanaman. 'Prinsip dasarnya sama, hanya objek yang berbeda,' katanya. Lantaran itu tak heran kedua dokter jiwa itu dengan mudah menjiwai hobi mengkoleksi tanaman buah. (Destika Cahyana)

Selasa, 09 Desember 2008

Share My Thoughts

Saturday, December 6, 2008 11:24 PM
From: This sender is DomainKeys verified "Ben Chai"
To: henmulia@yahoo.com
Cc: ck@hmswiftlets.com

Hi Pak Hen,

I am now back in Miri and rested. Like to share my thoughts on your seminar in Jakarta last week.

First let me congratulate you and your team for organizing such successful event with 86 participants with walk in participants one from Sarawak one Kuala Terengganu and two from as far as Pontianak .
The good respond from Indonesia proved your critics dead wrong that you are not popular in Indonesia. Cry your heart out Man!

Pak. Bung Bung and team demonstration on 4 ways surround sound to emulate the true sound in a natural cave with only one amp. Although is only on trial one can see the great interest and concentration by everyone .
Your team further reveled the high tech method of making bird sounds artificially using trumpet and other devices in a studio and tuning them to the right frequencies and is far more effective then natural sound as demonstrated.
I will not go further on this subject . For readers who wish to find out , Come to the next seminar. I will be tempted to copy them and rename them with some dangerous sounding name like “Tornado”or “Harrycan” and sell them for say RM 500.00 each.(limited time only) Hay! Pak can make money lah ! but no principal Lah!

The home made imitation nest by Pak Abeng is great but I think Malaysian Ranchers will not bother and will just buy ready made ones . Never the less you observed the number of participants copy the cut out samples.

One can feel the room feel with excitement when Pak Preddy presented the extraction of oil from birds feathers, Bird Nest and glands of civet cats for aromas with his impressive set up of scientific apparatus to extract only 7 gm of oil from 1 liter of media or wash, this is brush on to the speakers and will last for 3 months. Solution type are packed in aerosol can and the dispenser will slow released them , each can will also last for three months thus planks will not be contaminated and become moldy . What a great idea and soooo high tech. I am fortunate enough be given a small bottle from Pak Preddy ( Thanks Pak ) which I have applied to all the speakers in my new bird house which have 5 nest ( 4 months) all on the corner board. I will report back if they started building nest on or near the speakers. I am already ordering my distiller from US and 2 kgs of feathers from my friend who is processing black nest in Kuching.

The high light of the seminar have to be the natural method of making RED nest . Pak Hen and Pak Abeng brought in samples and pre – prepared media. Procedures were shown step by step how to make these beautiful Orange to Red nest. Everyone was so engrossed , even the only Lady participant the Lovely Mrs. Jeff Kau Kau.( Hay! Congratulation on the birth of your first child ) Stood up and unconsciously moving nearer and nearer to the front table. Question after questions were patiently answered and explain again and again. This section alone is worth lots more then what we actually paid for the seminar plus the 2 free cds and all tea breaks and lunches. Wah !! it’s a gift. I am Willing to pay RM5000.00 fees just to attend a course exclusively on this subject alone.

So many Participants are already asking when is the next seminar. Not only the course but the brotherhood, the fun being together with friends who speak Golf ( in this case Swift lets) Jakarta is a great city, blows your mind. Our friends from Kuching were really carried away and partied all night. Danny miss the second day seminar was told by his two buddies that he was in his room and on saline drip Ha Ha HA!! On last day went MIA again.

Suggest Pak Hen to conduct another seminar early 2009 somewhere in Malaysia and in English. The hand out also in English and perhaps improve on enlarging the diagrams and clearer printing for future reference without the help of a magnifying glass HA Ha sorry Pak. Here Pak Hen teach you how to be a successful swift lets farmer base on his 10 years experiences and the most successful method practice in Indonesia. He don’t have any merchandise to sell nor entice you to engage him to be your sifu for a fee. Consultations and answer all your question and no extra charges. I will definite go to the next Pak Hen’s seminar .I also suggest pak that you start a forum exclusively for participants who have attended your seminar .
All must have personal identification, photo and personal email address. This site we can keep in touch and exchange views, ideas, perhaps music, aromas the list goes on and on . Your comment pls.

Last but not list may I on behalf of all the wonderful participants say thank you to Pak Hen and team. I perhaps the most senior (in terms of age !!!!) feel so in touch with all the youngsters. Still the monkey in the zoo ! arriving back in Kota Kinabalu received 2 personal calls and 3 sms if I have arrive home safely. Thanks for your concerns guys, I don’t think I look as if I was fall dead anytime soon did I ?? HaHaHA!!! Wah! Worth all the jokes and entertainments I shared with everyone all these are bonus of my life.

Thanks All and God Bless.

Ben Chai

Black Thunder

I just came back from outtown last night, and I just open my email this morning.

I receive email from my blog reader as follow:

Black ThunderSunday, December 7, 2008 6:43 PM
From: This sender is DomainKeys verified
Add sender to Contacts To: henmulia@yahoo.com

Dear Pak Hendri,

I wrote to you a few weeks back enquiring if you will be holding seminars in mALaysia next year. U told me to keep in touch with your partner CK.
Pak, I hope you don't mind. I really don't know who is who in this industry. I recently just got burned by a Consultant I hired. I was impressed by his website.
I guess the Krai Ecopark influenced me to believe he is genuine. ANyway after the mieny has been paid and he cannot be contacted after 1 month I decided to draw the line. I cannot recover what I have lost.
I hope I can be more careful next tiem round.
I surf your site and saw the Black Thunder here in yr website. You selling and how much is it?
IS Harry Kok your partner? He is selling but I just want to double check with you first.

HOpe you can find time to reply me.I know you are a busy. ANywya I try my luck.

Thank you.

SIncerely,

Jxxx


I already reply to her that Harry Kok (www.swiftletfarming.blogspot.com) is not my partner or agent. He never bought the Black Thunder sound from me, may be he got Black Thunder Sound from his friend, then copies and sell it again and/or change the name become "C.... Thunder", I don't know.... but my readers will be the judge...

I already predict he will copy and sell it, as one of my reader already warned and informed me last time, even he scanned my book "Strategi Jitu Memikat Walet" and sell it to his blog readers.

My partner in Malaysia is only CK and we don't have any agent in Indonesia or Malaysia.