Selasa, 24 April 2012

Menyiasati Bau Tak Sedap dari Kandang

Bau tak sedap di kandang disebabkan kadar amonia yang tinggi. Berpotensi meningkatkan angka kematian ayam.

Widodo baru saja memulai usaha beternak ayam pedaging (broiler). Lelaki muda asal Temanggung ini belum memiliki lahan khusus untuk bisnis barunya ini. Dia menggunakan lahan kosong di halaman samping rumahnya. Populasinya tak banyak, hanya 1000 ekor. Walau demikian, Widodo tetap was-was jika bisnisnya nanti akan ditentang warga.
Sebab, dia tinggal di pemukiman yang padat penduduk. Ini artinya, dia tak bisa sekadar mengelola limbah ternaknya sebaik mungkin agar tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Lebih dari itu, dia juga harus menekan serendah mungkin polusi udara akibat bau tak sedap yang ditimbulkan dari usaha ternaknya tersebut.
Widodo hanyalah satu dari sekian banyak peternak yang masih dipusingkan dengan masalah polusi bau. Dan ini bukan masalah sepele. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut, bau tidak hanya akan menimbulkan masalah polusi udara, tapi juga akan menurunkan produktivitas ternaknya. Bisa-bisa sebelum mencapai untung sudah buntung duluan.
Ini sangat masuk akal. Manajer Umum PT Alltech Biotechnology Indonesia, Isra Noor menyatakan bahwa kandang yang bau biasanya disebabkan oleh kandungan amonia yang tinggi dari produksi kandang. Amonia dalam konsentrasi kecil hanya akan berdampak pada bau yang tidak sedap. Sebaliknya dalam konsentrasi besar, amonia menyebabkan persoalan pernafasan dan iritasi.
?Amonia yang tinggi di kandang akan sangat merugikan peternak karena menurunkan produksi ayam baik broiler maupun layer (petelur). Kadar amonia yang tinggi di kandang juga memungkinkan terjadinya peningkatan angka kematian akibat berbagai penyakit pernafasan,? kata ahli nutrisi dari PT Trouw Nutrition Indonesia (PT Trouw), Wira Wisnu Wardani dalam kesempatan berbeda.

Produksi Amonia, Tak Terelakkan

Amonia, menurut Isra, produksinya tak bisa dihindarkan dalam kandang ternak. Sementara secara terpisah, Manajer Pemasaran PT Trouw Harris Haryadi menjelaskan bahwa munculnya amonia merupakan hasil dari sisa proses pencernaan protein yang tidak sempurna. Sisa protein yang banyak tersebut akan menyebabkan banyak unsur nitrogen (N) di dalam kotoran. Selanjutnya, sisa N tersebut oleh bakteri pengurai akan diubah menjadi amonia (NH3) atau amonium (NH4+).
Secara lebih rinci, pakar nutrisi unggas dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Zuprizal memiliki penjelasan untuk hal ini. Unggas memiliki sistem pencernaan yang unik, katanya. Salah satunya adalah sisa pencernaan yang dikeluarkan melalui kloaka (anus) berupa ekskreta, yaitu campuran antara pakan tak tercerna dengan asam urat sebagai hasil akhir metabolisme tubuh ayam (semacam urin pada mamalia).
Pakan tak tercerna dan asam urat ini merupakan penyumbang kandungan N (Nitrogen) dalam ekskreta. N dari ekskresi ginjal sebanyak 80% dan dari sistem pencernaan 20%. N urin ditemukan dalam bentuk asam urat, amonia, urea dan kreatinin.
Terkait hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsentrasi amonia di dalam kandang. Yaitu, lanjut Zuprizal, kualitas protein pakan, desain kandang, manajemen pemberian pakan, penanganan kotoran, temperatur lingkungan, kecepatan angin dan kondisi litter (alas kandang/sekam). Selain itu, daerah dengan kelembaban tinggi juga menyebabkan produksi amonia yang berasal dari dekomposisi asam urat lebih cepat, karena aktivitas bakteri dekomposer di tempat itu lebih cepat juga.
Harris menambahkan, tempat yang sangat berpeluang mengandung konsentrasi amonia tinggi adalah setiap tempat yang memiliki ventilasi kurang lancar dan kelembaban tinggi (bisa berkaitan dengan jenis sekam yang kurang daya serap airnya, tempat minum yang membasahi sekam, musim hujan dan atap bocor). Isra punya pendapat, konsentrasi amonia dalam kandang terkait erat dengan banyaknya konsentrasi nitrogen dalam kotoran, pH dan sistem ventilasi. Produksi amonia akan maksimal ketika pH kotoran berkisar antara 7-10.
Konsentrasi amonia ini pada tingkatan tertentu menurut Zuprizal bisa menyebabkan berbagai gangguan (lihat tabel). Threshold limit value (ambang batas konsentrasi) amonia pada unggas sebesar 25 ppm dan pada manusia 50 ppm. Angka ambang batas yang sama 25 ppm juga disodorkan Isra. Tapi dia menyebutkan rekomendasi ilmuwan Eropa yang jauh lebih kecil yakni 10 ppm
Senada, Harris menyebutkan kadar 25 ppm adalah ambang batas kadar amonia untuk mulai menimbulkan efek negatif pada ayam. Diawali iritasi permukaan saluran pernafasan, yang berpotensi diikuti masuknya kuman melalui epitel saluran nafas yang mulai rusak.
Akibatnya penyakit-penyakit pernafasan, seperti SNOT, CRD kompleks dan sejenisnya akan lebih mudah menyerang dan sulit disembuhkan pada keadaan amonia di kandang sudah tinggi, katanya. Celakanya, kata Harris, penyakit-penyakit pernafasan yang menyerang tersebut, terkadang masih pada tahap subklinis (gejala yang tak tampak), tetapi sudah membengkakkan angka FCR (perbandingan konversi pakan) .

Deteksi Amonia
Berdasarkan kemungkinannya, Zuprizal mengatakan, kandang postal memiliki potensi gangguan akibat amonia lebih besar daripada kandang panggung. Sebab, amonia memiliki massa jenis lebih tinggi daripada udara. Sehingga amonia ngendon di atas lantai. Akibatnya, pada kandang litter, ayam akan langsung menghirupnya terus menerus, kata Zuprizal.
Beberapa cara dapat digunakan untuk mendeteksi kadar amonia di kandang. Harris menyebutkan, diantaranya dengan memakai indikator kadar amonia, seperti kertas litmus (kertas pengukur pH). Penggunaan indikator seperti itu, Harris mengungkapkan, yang terpenting adalah mengukurnya di ketinggian + 25 cm atau setara dengan kepala ayam di kandang tersebut. Terlalu dekat ke lantai akan terlalu pekat, terlalu tinggi akan kurang bermakna.
Dan untuk cara termudah mengetahui kadar amonia di dalam kandang adalah, Bila kita masuk kandang dan bau kotoran sudah mulai menyengat, maka kadar amonia sudah bisa dikatakan berlebihan, kata Harris.

Perketat Manajemen Kebersihan
Demi mengurangi munculnya amonia ini, Isra memberikan tiga solusi. Yaitu dengan manajemen perkandangan, kebersihan dan manipulasi nutrisi. Untuk manajemen perkandangan antara lain bisa dilakukan dengan mengatur ventilasi kandang dengan baik. Ventilasi kandang yang baik ini akan meminimalkan kandungan amonia. Tetapi tidak banyak berpengaruh terhadap bau yang muncul dan menyebar di sekitar perumahan, kata Isra. Pasalnya, bau yang tidak sedap tersebut akan dibawa keluar dan bisa menyebar.
Karena itu, Isra mengemukakan cara yang paling rasional untuk mengurangi amonia ini adalah dengan memperketat manajemen kebersihan. Artinya harus secara rutin membersihkan kandang dan membuang atau menampung kotoran ke tempat yang jauh dari pemukiman.
Membiarkan kotoran dalam kandang terlalu lama akan membuat produksi amonia kian tinggi. Cara lain adalah menurunkan pH kotoran dengan penambahan asam (asam sulfat, asam nitrat, asam klorida/HCl dll). Maksudnya untuk menghambat populasi bakteri penghasil enzim urease.

Sumber: Majalah Trobos edisi Juni 2009

Kualitas Udara Mempengaruhi Kesehatan dan Produktivitas Ayam

Udara, suatu zat yang tidak berwarna dan tidak berbentuk namun keberadaan dan ketersediaanya menjadi hal yang sangat vital bagi kehidupan, termasuk juga pada ayam. Saat ayam tidak memperoleh makan dan minum selama jangka waktu tertentu, ayam masih mampu bertahan hidup. Namun tidak demikian adanya dengan udara, ayam akan mati jika dalam hitungan detik tidak memperoleh udara.
Paragraf di atas merupakan sebuah gambaran sederhana fungsi pentingnya ketersediaan udara dalam jumlah dan kualitas yang baik. Ya, bukan hanya kuantitas atau kadarnya yang harus sesuai, kualitasnya pun harus memenuhi standar kualitas udara yang baik. Inilah yang menjadi permasalahan kita saat ini.

Amonia, Pencemar Utama Udara Kandang
Kualitas udara yang baik ditunjukkan dari tingginya kadar oksigen (02) dan rendahnya kadar karbon dioksida (CO2) maupun zat lainnya, seperti ammonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S).
• Amonia
Amonia merupakan gas alkali dan tidak berwarna. Gas amonia ini dihasilkan dari proses pengomposan (decomposition) bahan organik atau dari subtansi nitrogen (seperti sisa protein atau asam urat yang terdapat dalam feses) oleh bakteri ureolitik (Skema 1).

Amonia terdapat dalam 2 bentuk, yaitu bentuk terikat atau terlarut dalam cairan feses (NH4OH) dan bentuk gas (NH3).
Gas amonia mempunyai daya iritasi yang tinggi, terutama pada mukosa membran pada mata dan saluran pernapasan ayam. Terlebih lagi jarak antar saluran pernapasan ayam dengan feses, sebagai sumber amonia begitu dekat (< 20 cm). Tingkat kerusakan akibat amonia sangat dipengaruhi oleh konsentrasi gas ini. Konsentrasi amonia yang aman dan belum menimbulkan gangguan pada ayam ialah dibawah 20 ppm (part per million atau 1 : 1 juta). Diluar ambang batas aman ini, akan menimbulkan kerugian pada ayam, baik berupa kerusakan membran mata dan pernapasan sampai hambatan pertumbuhan dan penurunan produksi telur (Tabel 1). Selain itu, masih ada efek simultan lainnya yaitu menjadi lebih mudah terinfeksi bibit penyakit, terutama yang menginfeksi melalui saluran pernapasan, seperti ND, AI, IB, CRD. Hal ini tidak lain disebabkan adanya kerusakan membran saluran pernapasan yang merupakan gerbang pertahanan terhadap infeksi bibit penyakit.



• Hidrogen sulfida (H2S)
Meski jarang terdengar, hidrogen sulfida merupakan gas beracun yang dihasilkan dari penguraian materi organik, seperti feses oleh bakteri anaerob. Gas ini bisa merusak sistem pernapasan ayam dan menghambat sistem enzim. Ayam yang menghirup hidrogen sulfida dengan konsentrasi 2.000-3.000 ppm selama 30 menit akan mengakibatkan frekuensi dan volume pernapasan menjadi terganggu dan tidak teratur. Dan ayam akan mati saat menghirup H2S dengan kadar 4.000 ppm selama 15 menit.

Tabel 1. Pengaruh Kadar Amonia terhadap Kondisi Kesehatan dan Produktivitas Ayam

Keterangan : Semakin (+) semakin parah Sumber : Disease of Poultry 11th, 2003

Faktor Penyebab Peningkatan Pencemaran Udara

Amonia sebagai pencemar utama kualitas udara akan meningkat apabila “bahan baku” gas ini tersedia secara melimpah dengan jumlah bakteri ureolitik yang berkembang secara pesat. Kedua kondisi ini akan mudah tercapai jika kondisi fesesnya basah atau lembab. Kondisi ini bisa saja dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya :
• Feses yang dikeluarkan ayam basah
Pokok awal permasalahan peningkatan kadar amonia ialah feses yang dikeluarkan ayam dalam kondisi basah. Hal ini dapat kita ketahui jika kita memperhatikan bagian pantat ayam yang cenderung “belepotan” oleh feses. Dan jika kita perhatikan dari bawah kandang pada saat ayam mengeluarkan feses akan berbentuk seperti semburan cairan agak kental.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya infeksi saluran pencernaan, baik karena necrotic entritis, koksidiosis, colibacillosis maupun jamur sehingga pencernaan dan penyerapan ransum menjadi terganggu dan feses menjadi basah.
Selain infeksi, kandungan garam dan protein kasar yang terlalu tinggi dalam ransum juga dapat menyebabkan feses menjadi basah (diare). Kondisi tersebut akan mengganggu kerja ginjal dalam membuang asam urat, sehingga feses pun menjadi lebih basah dan memiliki kandungan asam urat (“bahan baku” amonia) semakin tinggi.
• Manajemen litter yang kurang optimal
Litter berfungsi membantu penyerapan air yang ada pada feses sehingga lebih cepat kering. Jika kualitas dan kuantitas litter kurang baik maka akan menyebabkan feses basah. Kondisi ini tentu saja akan mendukung terbentuknya amonia. Manajemen litter yang kurang baik, seperti tidak ada pembolakbalikan litter dan adanya tumpahan air minum juga akan mengakibatkan hal ini.
• Kandang terlalu padat
Semakin tinggi kepadatan ayam, feses yang menumpuk per m2 luasan kandang semakin banyak dan daya serap litter menjadi terbatas. Akibatnya kadar amonia menjadi lebih tinggi.
• Sistem sirkulasi udara yang terhambat
Sirkulasi udara yang terganggu karena jarak kandang yang terlalu dekat, kandang terlalu dekat dengan tebing atau terlalu banyak pepohonan, akan mengakibatkan pembuangan gas amonia menjadi terhambat. Selain itu bisa menghambat pengeringan feses oleh aliran angin. Akibatnya kadar amonia akan lebih cepat meningkat.

Cara Meningkatkan Kualitas Udara

Setelah kita bisa mengetahui dan menganalisis penyebab meningkatnya kadar amonia dalam kandang maka langkah selanjutnya ialah mencari solusi untuk mengatasi faktor penyebat tersebut, yaitu :
• Memberikan obat dan vitamin untuk mengatasi kasus infeksi yang menyebabkan feses basah
Treatment ini dilakukan untuk mengatasi infeksi penyakit, seperti koksidiosis, colibacillosis dll. Obatnya antara lain Coxy, Antikoksi atau Therapy. Obat ini dapat diberikan 2 x pemberian, yaitu pukul 06:00 – 12:00 dan 12:00 – 18:00. Sedangkan malam hari diberikan air minum plus vitamin (Fortevit, Vita Stress) atau air minum biasa. Keberhasilan pengobatan ini juga sangat dipengaruhi oleh ketepatan diagnosa. Jika perlu lakukan uji laboratorium (Medilab) untuk memastikan diagnosa.
• Kualitas ransum yang sesuai
Dalam hal ini utamanya kadar garam dan protein kasar. Periksa kadar protein kasar dan garam pada laboratorium yang terpercaya (Medilab). Sesuaikan kadar protein kasar dan garam sesuai dengan kebutuhan ayam. Selain itu, pastikan asupan ransumnya juga sesuai dengan standar kualitas ransum. Bisa saja kualitas ransum ayam sudah sesuai namun karena feed intake yang berlebihan menyebabkan kadar protein dan garam terlalu berlebih.
• Manajemen litter yang baik
Manajemen litter ini dimulai dari pemilihan bahan litter yang berkualitas (kering, tidak berdebu, mampu menyerap air secara optimal) dalam jumlah yang cukup (tidak terlalu tipis). Seringkali yang terlupakan ialah pengaturan ketebalan litter. Setidaknya ketebalan litter pada saat chicks in ialah 8- 12 cm dengan tujuan agar DOC lebih hangat, feses lebih kering dan litter tidak mudah menggumpal. Pada 3 hari setelah chicks in lakukan pembolakbalikan litter secara teratur setiap 3-4 hari sekali. Jika litter basah dan menggumpal dalam jumlah sedikit, terutama di sekitar tempat makan, tempat minum dan di depan pintu segera ambil dan ganti dengan yang baru. Namun jika jumlah litter yang menggumpal banyak, alangkah lebih baik jika ditambahkan litter baru.
• Atur kepadatan kandang
Kepadatan kandang ideal per 1 m2 untuk ayam pedaging dewasa ialah 6-8 ekor dan ayam petelur 8-10 ekor. Saat awal (masa brooding) lakukan pelebaran sekat kandang secara teratur sesuai pertumbuhan ayam sampai seluruh kandang ditempati.
• Pengaturan sirkulasi udara
Hal ini dilakukan dengan memperhatikan manajemen buka tutup tirai, penggunaan lantai slat (panggung), mengatur jarak kandang dan juga penambahan blower atau fan (kipas). Yang perlu diperhatikan ialah angin jangan mengenai tubuh ayam langsung dan kecepatannya sebaiknya tidak lebih dari 2,5 – 3 m/detik untuk ayam dewasa atau < 0,3 – 0,6 m/detik.
Udara berkualitas merupakan kebutuhan vital bagi ayam. Menjaga dan memanage udara dalam kandang sehingga tetap berkualitas merupakan kunci pencapaiaan kesehatan dan produktivitas yang optimal.

Info Medion Edisi Januari 2011
Sumber: http://info.medion.co.id

Sabtu, 21 April 2012

Aplikasi H4N1 Bio Aroma



H4N1® Bio Aroma dibuat dari bahan-bahan alami dengan mengadopsi teknologi Jepang untuk menghasilkan mikroba yang dapat menghancurkan struktur molekuler bakteri pembentuk amoniak dan hydogen sulfide sehingga secara optimal akan mengurangi populasi bakteri pembentuk amoniak, menguraikan limbah organik atau kotoran walet di dalam rumah burung walet.

H4N1® Bio Aroma yang diproses dengan mengadopsi teknologi Jepang, akan bekerja sangat optimal untuk menurunkan kadar amoniak dan nitrit di rumah burung walet sehingga sarang burung walet akan tetap putih dan bersih serta berkadar nitrit rendah.

H4N1® Bio Aroma juga dapat dipergunakan di rumah burung walet yang baru yaitu untuk menghilangkan bau semen dan menjadikan rumah burung walet seperti rumah burung walet lama sehingga burung yang sudah tertarik masuk ke dalam RBW baru akan merasa lebih nyaman.

Petunjuk Pemakaian H4N1® Bio Aroma:
1. Penghilang bau amoniak dan bau busuk
Larutkan 1 liter H4N1 ® Bio Aroma dengan 10 liter air bebas chlorine (air sumur), semprotkan pada kotoran walet dan/atau lantai. Lakukan setiap 2 minggu sekali.
Jika penyemprotan dilakukan 1 bulan sekali, larutkan 1 liter H4N1 ® Bio Aroma dengan 5 liter air bebas chlorine (air sumur).


2. Penghilang bau busuk di kolam rumah burung walet

Tuangkan H4N1 ® ke dalam kolam air, 1 liter H4N1® untuk setiap kolam dengan air 1 M3 (1.000 liter) setiap bulan.

3. Untuk menurunkan kadar nitrit
Bersihkan kotoran walet di dinding dan lantai. Karkan kotoran walet dari rumah burung walet.
Larutkan 1 liter H4N1 ® Bio Aroma dengan 5 liter air bebas chlorine (air sumur).
Semprotkan larutan tersebut ke dinding dan lantai secara merata. Untuk ruangan yang populasi waletnya tinggi, lakukan pengulangan penyemprotan sekali lagi atau dengan konsentrasi larutan yang lebih tinggi yaitu 1: 3 (1 liter H4N1 ® Bio Aroma dengan 3 liter air sumur/bebas chlorine).
Lakukan penyempotan secara berkala untuk mendapatkan hasil yang optimal.

A. Untuk Rumah Burung Walet yang padat populasinya:
-. Setelah panen, lakukan pembersihan kotoran walet. Sapulah dinding dan lantai lalu buang kotoran walet keluar rumah burung walet.





-. Larutkan 1 liter H4N1 Bio Aroma dengan 5 liter air bebas chlorine (gunakan air sumur).




-. Semprotkan larutan H4N1 Bio Aroma ke dinding dan lantai rumah burung walet secara berkala.





Untuk mendapatkan hasil yang optimal, gunakanlah H4N1 Bio Aroma setelah panen secara berkala.



B. Untuk Rumah Burung Walet yang masih belum padat populasinya:

-. Larutkan H4N1 Bio Aroma dengan 10 liter air bebas chlorine (gunakan air sumur)
-. Semprotkan larutan H4N1 Bio Aroma ke dinding dan lantai yang ada kotoran waletnya.
-. Lakukan penyemprotan secara berkala. Untuk ruangan yang sudah padat populasinya lakukan pembersihan kotoran walet dan keluarkan kotoran walet dari rumah burung walet lalu lakukan penyemprotan larutan H4N1 Bio Aroma ke dinding dan lantai.

4. Untuk menghilangkan bau semen rumah burung walet baru
Larutkan 1 liter H4N1 ® Bio Aroma dengan 10 liter air bebas chlorine (air sumur).
Semprotkan larutan tersebut ke dinding dan lantai secara merata.

Kini, H4N1® Bio Aroma sudah tersedia juga di Malaysia.
Dapatkan H4N1® Bio Aroma di kota-kota terdekat anda.

INDONESIA:
Jakarta:
HM Swiftlets : +628161405605; +628111893798
MSI : +628159485188
Banjarmasin:
Jakarta Walet Center: +6281210441588
Belitung:
Willy : +6281977790199
Bukit Tinggi:
Effendy H. : +62811668560
Mataram:
Johny: +62818360880
Makasar:
Sanjaya: +6281354909918
Hansen: +62816277222
Pekanbaru:
Aman : +6285265825555
Samarinda:
Resota Jaya Walet: +6282156270917
MALAYSIA:
Jim Lee : +60129210048; +60129484848
MDK Swiftlet: +604-4214116

Kamis, 19 April 2012

Sarang Burung Walet - HALAL

Ada beberapa rekan yang menanyakan kepada saya "apakah sarang burung walet halal mengingat bahwa sarang burung walet dibuat dari liur?". Berikut ini adalah cuplikan berita dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang baru-baru ini dipublikasikan di media massa.

Dari sisi Islam, bagaimana sebenarnya hukum makan sarang burung walet? Bukankah proses pembuatannya menjijikkan karena terbuat dari air liur burung itu sendiri. Belum lama ini LPPOM MUI membahas tentang hukum sarang burung walet. Di sisi lain, ada perusahaan juga yang minta dibuatkan sertifikasi halal dari sarang burung walet.

Menurut Ir Muti Arintawati, MSi, Wakil Direktur LPPOM MUI, hasil kajian LPPOM MUI pada prinsipnya hukum sarang burung walet dibolehkan.
Karena, sarang burung tersebut dihasilkan dari bagian dalam perut burung sehingga tidak ada masalah.
“Jadi, telah disepakati kalau sarang burung walet hukumnya halal.“

Namun, yang menjadi perhatian LPPOM MUI, bagaimana proses pembersihan dari sarang burung walet tersebut. Karena tidak menutup kemungkinan, kata Muti, di sarang tersebut tercampur dengan sesuatu yang najis, seperti kotoran burung itu sendiri, mungkin juga lingkungan yang membawa kotoran ke dalam sarang. Pengaruh luar ini yang bisa membuat sarang burung walet menjadi tidak halal.

Oleh karena itu, proses pencucian sarang burung walet harus diperhatikan dengan serius. Jangan sampai ada kotoran yang masih melekat di sarang burung. Karena, kalau sarang burung masih bercampur dengan kotoran menjadi najis, tidak halal untuk dimakan. Sebaliknya, pencucian yang benar-benar bersih halal hukumnya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa bahan dari sarang burung walet adalah halal. Namun, bisa menjadi haram jika sarang burung tersebut tercampur dengan kotoran
.
Sumber: Koranfakta.net

Berkaitan dengan hal di atas, ada baiknya bila sarang burung walet yang sudah diproses disertifikasi oleh MUI untuk mendapatkan sertifikat HALAL dengan demikian konsumen akan lebih yakin bahwa sarang burung walet yang dibeli tidak ada campuran bahan haram.