Jumat, 08 Januari 2010

OJO DUMEH! (JANGAN SOMBONG) Oleh : Bambang Priantono



OJO DUMEH! (JANGAN SOMBONG) Oleh : Bambang Priantono
for everyone

Ojo Dumeh! Jangan Sombong!
Jangan mentang-mentang biarpun kau sudah termasyhur
Ojo Dumeh! Jangan Sombong!
Jangan mentang-mentang biarpun kau sudah bermandikan harta
Ojo Dumeh! Jangan Sombong!
Jangan mentang-mentang biarpun kau paling pandai sekolong jagadpun
Ojo Dumeh! Jangan Sombong!
Ingatlah darimana akarmu berasal, jangan kacang lupa pada kulitnya

Ojo Kaget! Jangan Kagetan!
Jangan terpukau oleh yang namanya kekondangan
Ojo Kaget! Jangan kagetan!
Jangan terpukau oleh gilang gemilang hidup
Ojo Kaget! Jangan kagetan!
Jangan terpukau manakala engkau dikenal banyak orang
Ojo Kaget! Jangan kagetan!
Karena semuanya itu nanti akan kembali pada-Nya

Ojo Gumunan! Jangan Heran!
Jika sekarang dunia terbolak balik
Ojo Gumunan! Jangan Heran!
Jika sekarang makin banyak yang gila
Ojo Gumunan! Jangan Heran!
Jika sekarang yang makruf ditinggalkan
Ojo Gumunan! Jangan Heran!
Karena dunia sudah makin tua

Ojo Dumeh! Ojo Kaget! Ojo Gumunan!
Tetaplah terus membumi meski engkau telah besar
Tetaplah tepo seliro/rendah hati meski engkau bergelimang harta
Karena semuanya takkan kekal
Untuk kemudian dikembalikan pada-Nya

(Sebagai penguat hatiku agar tetap taat asas dan tetap seperti sekarang)

Bambang Priantono
http://bambangpriantono.multiply.com

Selasa, 05 Januari 2010

BECIK KETITIK OLO KETORO

SUARA SHIHAN

BECIK KETITIK OLO KETORO


Oss.

Dalam hidup manusia ini ada dua gugus perilaku yang satu sama lain saling bertolak belakang; yaitu : Perbuatan yang dikatagorikan `Baik`(Mulia) dan Perbuatan `Jahat` (Buruk). Kandungan didalamnya hanya berupa keaneka ragaman dan jenis perbuatan manusia itu.
Umpama; berderma dengan tulus termasuk dalam gugusan perbuatan baik, mencuri berada pada gugusan perbuatan jahat dan sebagainya.
Apabila dalam hidup ini kita selalu berusaha berbuat kebaikan, besar maupun kecil kepada sesamanya, alam lingkungannya dengan tulus dan ikhlas karena kesadaran bahwa; berbuat kebaikan itu indah dan mulia untuk dilakukan sepanjang hayat karena mempertinggi nilai hidup kemanusiaan kita, maka berusahalah sebisa bisanya menabung nilai kemuliaan ini sebanyak mungkin didalam hati. Tidak untuk ditonjolkan apalagi dipamerkan. Jangan pernah terlintas dalam pikiran kita bahwa perilaku yang sudah berada pada jalur yang benar ini, sebagai imbangannya, dimenfaatkan dan dimunculkan niat dan keinginan bahwa sekali kali boleh juga berbuat hal buruk dan jahat, karena beranggapan dirinya sudah berbuat banyak kebaikan.
Baik dan buruk itu tidak mungkin dicampur aduk lalu diambil rata ratanya seolah olah hasil akhir itulah nilai kemuliaan diri kita. Yang baik tetap baik, jahat tetap jahat. Tidak ada hubungannya satu sama lain. Segala perbuatan baik kita jangan dinodai dengan lawan perbuatan ini. Sebaliknya, apabila dalam hidup ini secara sengaja maupun khilaf, banyak perbuatan jahat dan buruk yang kita lakukan, maka atas kesadaran yang tulus dan bersungguh sungguh, masih memungkinkan apa yang buruk kita peringan dengan penyesalan penuh kesadaran dan perbuatan terpuji dan baik.

Apapun, kebaikan yang kita lakukan tidak perlu ditonjolkan, dipamerkan, diekspose keluar tetapi dibaliknya terselubung tujuan sekedar untuk meninggikan derajat diri sendiri agar dikagumi, dihormati, disanjung melalui kamuflase perbuatan bersandiwara itu.
Alangkah rendah dan nistanya hasilnya apabila hal ini merupakan tujuan yang dipoles dengan lapisan kemilau tetapi didalamnya nol besar. Bisa dipastikan bahwa nilai perbuatan kita adalah sebatas `rasa puas` hati kita sendiri melihat perbuatan kita dipuji, dikagumi dan disanjung itu tadi. Tetapi nilai bathin dan kemuliaan yang harusnya kita tabung menjadi simpanan sisa hidup yang makin pendek, tidak bernilai samasekali.
Perbuatan baik yang tulus dari hati sanubari jangan dicampur aduk dengan perbuatan `Show` yang bersifat politis dan ada udang dibalik batu. Perbuatan yang memang untuk konsumsi politis, biarlah menjadi bagian politik. Sebaliknya, perilaku kemanusiaan akibat sentuhan rasa hati nurani dan pikiran yang tulus, tinggi dan mulia harus diberi wadah sendiri. Tidak dicampur aduk. Nilainya satu sama lain bertolak belakang dan bahkan bertentangan.
Banyak rakyat jelata, walau dirinya sendiri masih hidup dalam keterbatasan dan kekurangan, sanggup melakukan sesuatu demi sesamanya, lingkungannya, generasinya dalam jangka waktu bertahun tahun tanpa pamrih. Tanpa keinginan sedikitpun atau bermaksud serta bertujuan untuk dipublikasikan segala perbuatannya, dihargai atau disanjung karena apa yang dilakukan itu murni dari kesadaran bathin yang mulia demi sesama dan generasi mendatang.
Sepi ing pamrih, rame ing gawe - Tanpa pamrih tapi banyak bekerja. Semua ini membuat hati kita terenyuh dan terharu kala pada akhirnya melihat hasil pengabdiannya yang belum tentu pernah dilakukan mereka yang penuh daya kemampuan tetapi bahkan sering segala tujuan perbuatan terhadap sesamanya, lingkungannya itu hanya semata mata untuk promosi dan pamer diri. Ada maksud tertentu dibaliknya.

Ironis sekali, apabila perbuatan baik kita yang relatif kecil saja, selalu diekspose dengan meletakkan kaca pembesar didepannya agar terlihat jelas dan luas jangkauannya.
Semua perbuatan baik, besar maupun kecil tidak perlu dilakukan dalam bentuk pameran. Biarlah berjalan wajar dan tidak perlu didramatisir. Dengan berjalannya waktu, yang baik dan benar pada akhirnya akan terlihat juga.
Sebaliknya, serapat rapatnya kita membungkus, menyembunyikan, menutup nutupi perbuatan buruk dan jahat dan sepandai pandainya kita bersikap penuh kepura puraan dengan memakai topeng dan berkedok wajah pengasih, dermawan yang dramawan, berlagak paling bersih dihadapaNYA dan bahkan menempatkan dirinya sebagai `manusia` pilihanNYA. Lambat tapi pasti, jati diri kita `siapa kita` dan bagaimana kita sebenarnya akan tercium dan terbongkar.
Becik ketitik olo ketoro!
Perjalanan waktu yang terus bergerak dengan cepat akan ikut peduli untuk membongkar dan membeberkan kenyataan yang sebenarnya.
Karenanya, hidup wajar penuh kejujuran apa adanya. Jangan mengembangkan diri `Pandai Bersandiwara`dan berpura pura. Pasti hidup akan lebih aman dan tenteram.
Gambar sampul depan sedikit banyak bisa mencerminkan jiwa pelakunya dibalik ini semua. Setidaknya hatinya adalah manusia `Penuh Kasih sayang`, ada rasa kepedulian dan berperasaan halus`.
KEPADA SATWA KECIL TAK BERDAYA SAJA ADA RASA KASIH DAN PEDULI, APALAGI KEPADA SESAMA DAN ALAM LINGKUNGANNYA.

Ungkapan `Becik ketitik olo ketoro` dari leluhur dalam Bahasa Jawa sehari hari yang amat sederhana ini memiliki nilai luas dan dalam maknanya. Kata kata indah ini berlaku sepanjang masa dan perlu menjadi pegangan hidup kita agar kita selalu mawas diri, tidak menjadi manusia berkedok dihadapan sesamanya dan hipokrit dihadapanNYA. Nilai kebaikan itu akan makin mulia, apabila segala perbuatan kita lakukan dengan tulus ikhlas dan kasih sayang kepada apa dan siapapun. Dijauhkan dari sifat pamer serta menonjolkan diri. Sebaliknya, perbuatan buruk kita akan makin dalam menghunjam, menusuk dan merobek nilai nilai keluhuran budi kemanusiaan kita apabila perbuatan ini selalu ditutup tutupi dengan kepura puraan.

Tabunglah segala kebaikan yang saudara lakukan didalam hati dan persembahkan keindahan dan kemuliaan ini hanya kepada Yang Maha Kasih.
Hindari perbuatan buruk dan jahat, walau dengan cara sembunyi dan terbungkus rapat karena sepandai pandainya kita menutupinya, semua itu tetap akan tampak jelas dihadapan Yang Maha Tahu. Jadilah manusia jujur dan sederhana dalam perbuatan sehari hari betapapun perkasanya diri kita dalam berbagai bidang. Nilai manusia yang utama adalah dimukaNYA, bukan sekedar dimata sesamanya.

Kebaikan murni dan tulus tidak pernah menuntut balas ( Tanpa Pamrih). Kejahatan tidak akan memberikan pahala ( Crime doesn`t pay).

Sumber: http://www.kyokushin.or.id/artikel29.php

Kisah Ria Jenaka (Seri I)

Alkisah ini terjadi di dunia Antah Berantah, di alas Gung Liwang Liwung. Bakgong duduk termenung melihat keindahan alam semesta, melihat burung walet terbang ke sana ke mari menyambar makanan, mereka tidak berebut makanan, se sekali mereka berkejaran sambil mengalunkan suara cit chier chit chierrr... Indah dan damai.

Tiba-tiba teman Bakgong yang bernama Pailul datang mendekatinya. Mereka berbincang-bincang tentang burung walet dan akhirnya Pailul bertanya ke Bakgong bahwa dia mendengar dari temannya yang juga teman Bakgong hal yang tidak baik tentang Bakgong.

Pailul : Gong, aku denger dari Si Aswan, katanya kamu nggak bagi hasil ke Petra pada waktu kamu manggung di Puri Ki Patih Gajah Mada.

Bakgong : Aduh Lul... semua ada catatan dan hitungan yang membuat ya si Petra, yang menerima duitnya juga Petra... surat tak berperangko dari diapun aku masih simpan. bagiannya berapa juga ada hitungannya 42 tael tuh untuk dia ...ntar saya kasi liat kamu catatannya ya...

Pailul : katanya rugi jadi si Petra yang nanggung ruginya... dan kamu nggak mau nanggung ruginya..

Bakgong : walahhh Lul ... Lul... nggak ada ceritanya rugi...rugi apanya? Aku manggung sama teman-teman nggak pake rugi tuh... nggak ada ceritanya deh.
"Bentar ya.... " kata Bakgong sambil membuka kotak saktinya. " Nih lihat, ini dari dia. Ini hitungan penerimaan dan pengeluran manggung di Puri Ki Patih Gajah Mada, untung kan? Liat bagiannya berapa? Betul kan? makanya kalau nggak liat sendiri nggak caya kan?. Makanya jangan gampang percaya sama omongan orang. dibodohin orang juga mau. Yang bodoh siapa yang pinter siapa kalau gini"

Pailul: Iya bener, itu dari si Petra. Lha koq ya aneh gitu... bilang sama temen-temen gitu lho. Rugi.. dan si Petra yang nanggung ruginya...

Bakgong : ha ha ha ha... bukan rugi mungkin... kurang banyakk bagiannya...yang manggung siapa yang mau banyak untung siapa... yang capek siapa yang mau seneng-seneng siapa. Lha ini khajatan aku koq, yang capek juga aku. katanya nggak mau dibagi, mau bantu aku, awalnya gitu... giliran dikasi bagian kurang, minta tambah ditambahin dah ditambahin katanya rugi...wis to mas Pailul njarke wae... Nggak usah diurusi orang itu...

Pailul : Ni ada lagi, katanya si Lukmono, kamu waktu diundang ke purinya Petra, katanya kamu minta bayaran gede banget?

Bakgong: Lul, memang mulut itu gampang kalau njeplak, mangap gampang banget mumpung gratis. Kon mene wae, kon ngomong sama aku. Kalau aku disuruh bantu dia ya ongkos buat naik dokar yo pantes kalau si Petra itu bayar ongkos dokar, kalau nginep ya panteslah kalau Petra bayarin pondokan.

Pailul : Gong, yang saya dengar nggak gitu lho... katanya si Petra bayar kamu 60 tael emas lho. Dia ngomong ke si A gitu lho...

Bakgong : Lul.. Lul... aku nggak tahu Petra ngomong ke A begitu juga nggak tau, yang jelas aku itu dikasi ikan Kutuk sing ono sungute iku lho opo jenenge... wah iwake yo wis matek...

Pailul: "aduh... koq gitu ya... koq semuanya dibalik-balik." kata Pailul sambil garuk garuk kepalanya yang plontos dan berketombe

Bakgong : "Biasalah... orang yang salah kan biasa cari pembenaran, dengan cara menjelekkan orang lain. Kalau dia mengaku salah kan nggak aneh, nggak seru gitu... dan kalau dia bisa menjelekkan aku kan dia bisa tenar... hebat... banyak pengikutnya... banyak pendukungnya. " sahut Bakgong sambil menghisap rokok kawung nya.
udahlah Lul... mau ngomong apa saja dia mah nggak perlu digubris... nanti ya ketahuan .. "Becik ketitik Olo Ketoro, sing salah yo seleh".

Pailul : iya sih... tapi ya aneh gitu koq dia begitu.

Bakgong : ha ha ha .... Gusti Allah Maha Tahu... dia bisa bohongi kamu dan semua orang, tapi dia tidak bisa bohong sama Gusti Allah..." Lul.. Lul, nggak usah dibuat bingung sama dia. Dari kelakuan dan tabiatnya saja kan kamu bisa tahu.. dah dulu deh... aku mau ngopi dulu.."

Pailul: bentar Gong... mau nanya lagi nih mengenai Sungai Seberas...

Bakgong : Tanya mengenai uang proyek Tuit Tuit di Sungai Seberas? Ha ha ha ha ha tanya aja sama pak Hanoman Hariaman, dia masih hidup.. dia ada buktinya koq... tanya sama Hanoman...atau pak Halimun... dia kirim uangnya ke siapa ha ha ha.. yang jelas pak Hanoman Hariaman itu kirim uangnya ya ke Petra. Capek deh ngurusin omongan orang yang mencari pembenaran diri..

Tiba-tiba sang Begawan dan hanoman muncul di depan Bakgong dan Pailul. "Tanya tuh sama Begawan dan pak Hanoman, cerita yang benarnya gimana" kata BakGong ke Pailul.

Singkat cerita, akhirnya Pailul mengerti duduk perkara tentang Kisah Ria Jenaka yang dibuat oleh Petra. "...Oooo kalau gitu Petra mau buat lelucon ya ha ha ha... Politik yang hebat..." kata Pailul, makanya Gong, nama kamu jangan Bak Gong, gantilah nama kamu yang lebih keren gitu masa nama Bak Gong Ciak Tempong.... Babi Bodoh makan teri Asin ha ha ha. Kata Pailul sambil ngeloyor pergi... Nggak nyambung deh.....(bersambung)

Tweeter Suara Dalam - Super Tweeter PR-80



Memenuhi permintaan pasar, telah hadir dari Piro “Super Tweeter PR-80″ sebagai tweeter penghasil suara walet yang lebih natural. Tweeter ini dirancang secara khusus sehingga sangat cocok dan bagus untuk suara dalam atau suara inap.

DIJAMIN :
- LEBIH BAIK

Dijamin kualitas Suara lebih baik, lebih natural dari tweeter-tweeter yang ada di pasaran karena didesign spesial untuk memproduksi suara burung walet secara alami.

- LEBIH AMAN
Di design dengan proses filterisasi yang benar sehingga power amplifier akan beroperasi dengan efisien. Hal ini membuat tweeter menjadi tahan lama serta tidak ada noise yang terdengar.

- LEBIH PRAKTIS
Di design untuk memudahkan proses instalasi, karena sudah disiapkan kabel inter-connect sehingga pengoperasian tinggal menghubungkan ke kabel induk tanpa perlu solder kabel satu per satu

JAMINAN PURNA JUAL
Layanan purna jual dengan Garansi 2(dua) tahun

Anda membutuhkannya? Silakan hubungi: +6281932346435 atau email: henmulia@yahoo.com