Minggu, 31 Agustus 2008

Gara Gara Walet???

Gara-gara burung walet orang bisa menjadi sirik dan serakah. Bukan gara-gara burung waletnya.... tetapi hasil dari burung walet menjadikan orang serakah. Lihat saja, kejadian pembobolan rumah walet dan mengambil peralatan audio terjadi karena suara walet yang effektif memikat walet, hal ini timbul karena iri hati atau sirik. Kenapa harus membobol RBW orang dan mencuri suara walet orang lain? Memangnya tidak bisa membeli suara walet yang lainnya untuk mengalahkan suara tersebut? Intinya, hal ini terjadi karena SIRIK.
Banyak kasus yang berkaitan dengan burung walet... gara-gara walet, mata jadi gelap... dan serakah, tidak peduli teman lagi, tidak peduli etika...gara-gara walet persahabatan hancur, gara-gara walet teman hilang. Mereka tidak peduli hal ini.... menyedihkan!

Desember Tahun lalu seorang teman saya menerima SMS pesan NATAL yang bunyinya "Walet membuat kita kaya, walet membuat kita jaya dan makmur, walet juga dapat membuat kita kehilangan teman dan sahabat - Selamat Natal-". Demikian pesan natal yang disampaikan oleh hamba Tuhan kepada teman saya.. Ironis memang, tapi ini kenyataan yang terjadi di bidang perwaletan.
Persaingan dan serakah.... intinya demikian. Burung walet dapat mengubah kepribadian seseorang, burung walet dapat mengubah pola pikir orang... he he he... sakti...

Keserakahan ini timbul karena seseorang ingin memiliki seluruh dari hasil budidaya walet, mereka lupa bahwa rejeki itu dari Tuhan, ..... banyak cara yang dilakukan seseorang yang sirik dan serakah. Bisa dengan cara adu domba, melakukan sandiwara untuk menyingkirkan partner-nya, banyak cara tipu muslihat yang dilakukan untuk menyingkirkan partner-nya... dunia ... dunia... walet telah membuat orang lupa teman, lupa sahabat, lupa saudara, lupa orang tua ..juga lupa istri..... he he he... Ini bukan mitos, tapi kenyataan yang terjadi.
Walet dapat membuat keluarga berantakan, walet dapat membuat persahabatan hancur....

Keserakahan! Ingatlah.. bahwa keserakahan juga dapat membuat anda hancur... boleh percaya atau tidak, itu hak anda.

Suara Sriti

Beberapa hari lalu saya menerima email dari seorang rekan yang berada di Malaysia. Rekan ini menanyakan apakah suara yang berasal dari Indonesia bercampur dengan suara sriti? karena di Indonesia banyak burung sriti sehingga saya menanyakan hal ini... dan apakah suara sriti tidak membuat burung walet takut?
Dan apakah suara walet yang berasal dari Indonesia dapat digunakan di Malaysia? ... dan masih banyak lagi serentetan pertanyaan yang ditujukan ke saya...

INDONESIA...Indonesia.... Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau... tidak hanya P. Jawa.... masih banyak pulau-pulau besar lainnya di Indonesia... P. Sumatra, P. Kalimantan, P. Sulawesi... dan Papua yang kaya dengan vegetasi dan kaya akan satwa...
Memang di P. Jawa masih terdapat burung sriti, dan memang di P. Jawa, pada umumnya RBW dihuni terlebih dahulu oleh burung sriti, lalu dilakukan putar telur dengan telur walet.. Tapi perlu dicatat, bahwa tidak semua RBW di P. Jawa dihuni oleh burung sriti dan burung walet. Banyak RBW di P. Jawa yang berisi hanya burung walet.. dan tidak hanya di P. Jawa... di Pulau lainnya - yang terdapat burung sriti dan burung walet - juga banyak RBW yang hanya berisi burung walet dan tidak ada burung sriti...
Dan berdasarkan pengamatan saya, RBW yang murni berisi burung walet di daerah-daerah tersebut adalah RBW yang menggunakan suara walet.
Strategi memikat walet telah banyak dikembangkan.... kini jaman kuda makan keju dan bukan jaman kuda gigit besi lagi....

Suara sriti.... apa yang menjadi masalah dengan suara sriti? emangnya burung walet takut dengan suara sriti? Siapa takut? he he he.... emangnya suara sriti tidak bisa digunakan untuk memikat walet?

Rabu, 27 Agustus 2008

Pemburu Sarang Walet

Sumber: Liputan6.com, Kebumen

Burung walet atau apodidae memiliki sekitar 30 spesies. Walet pun mempunyai beberapa ciri khusus dibanding dengan jenis burung lainnya. Sayap menyempit dan runcing, serta ekor yang panjang, adalah salah satu ciri yang mudah dikenali. Jenis burung ini cenderung hidup di dalam goa, menempel dan bergantung pada dinding. Ini berkaitan dengan anatomi walet. Kaki yang sangat kecil membuat walet tak mampu hinggap seperti burung lainnya.
Dinding gua yang berpori-pori memang sangat membantu walet saat harus beristirahat dan membuat sarang. Kaki-kaki kecil mencengkeram dinding gua dengan kuat sehingga dapat bergelantung.
Spesies Aerodramus fuciphagus atau walet sarang putih habitat aslinya di gua gelap dan lembab. Jenis walet ini yang paling mudah ditemui di wilayah Indonesia. Sebagian orang pun gemar mengonsumsi sarang walet dengan alasan rasa yang lezat dan khasiatnya bagi kesehatan.



Sarang walet memang banyak dipercaya mampu menyembuhkan bermacam penyakit. Sejumlah peneliti menyebutkan, sarang walet mengandung protein, mineral, dan juga sumber asam amino yang lengkap. Karena khasiat dan rasanya yang lezat, sarang walet hingga kini memiliki nilai jual tinggi. Di pasaran lokal, satu kilogram sarang walet dijual seharga Rp 12 juta hingga Rp 20 juta. Tak aneh bila perburuan sarang walet dengan risiko apa pun terus dikerjakan. Namun, bila konservasi alam diabaikan, keberadaan walet dan sarangnya sangat mungkin tak ditemukan lagi.



Kendati demikian, harganya yang mahal membuat para pemburu sarang walet akan terus berupaya mendapatkannya.
Berbagai risiko tentu saja bagian dari hal yang harus diatasi. Seperti yang dilakoni para pemetik sarang walet di Desa Karang Bolong, Kebumen, Jawa Tengah. Gulungan rotan sepanjang 30 meter dipersiapkan dan dipilih sebagai tangga karena kecuraman lokasi.
Yang pertama kali turun adalah singkep atau pembuka jalur. Meniti tangga rotan yang terpasang di dinding gua adalah satu-satunya cara mencapai mulut gua. Risiko terbesar dari pemetik sarang walet di gua di Desa Karang Bolong adalah terhempas ke gelombang ganas Samudra Hindia. Utas tali akan membawa singkep pada sarang walet yang menempel pada dinding gua.
Berbeda dengan para pemburu sarang walet di gua pegunungan. Di kawasan Gasiang, Solok Selatan, Sumatra Barat, misalnya. Buat mencapai gua sarang walet, para pemburu terlebih dahulu berjalan selama dua hari. Sebab gua yang dipilih walet rata-rata berada di lereng gunung yang jauh dari tempat tinggal manusia. Untuk mencapai sarangnya, seorang pemburu harus menaiki tebing yang tingginya mencapai 30 meter dari mulut gua.

Selasa, 26 Agustus 2008

Banyak Potensi di Lunyuk layak dikembangkan dan dilestarikan

Kecamtan Lunyuk, di bagian Selatan Sumbawa,memiliki berbagai potensi yang layak dikembangkan, di antaranya pariwisata sejarah berupa gua-gua peninggalan jepang, sumber daya alam laut dan pertanian hingga sarang burung walet berkualitas tinggi.
Camat Lunyuk Arief Usman S.Sos kepada Gaung NTB di Wisma Daerah kemarin menyebutkan, salah satu sumber daya alam yang musti dilestarikan masyarakat adalah potensi produksi telur penyu yang telah mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam menunjangn pendapatan masyarakat setempat, khususnya bagi mereka yang mendiami kawasan pantai selatan.
Menurutnya, jika masyarakat mengabaikan pelestarian dengan segala aspeknya, maka pendapatan masyarakat dari hasil penjualan telur-telur penyu lambat laun akan menurun bahkan berkurang.
Di pantai Lunyuk, katanya, musim berburu telur memuncak pada musim air laut pasang (Juni hingga Agustus)."Pada periode ini telur penyu yang diperoleh masyarakat bisa mencapai 900-1000 butir, dengan harga Rp 10.000 per butir.

Begitu pula dengan potensi sarang burung walet yang kini kuasa pengelolaannya dipercayakan oleh pemda kepada Perusda Sumbawa selama 3 tahun (2006-2008), menurut Arief Usman, tidak boleh mengabaikan pelestariannya.
"Perusda harus tetap menerapkan pola pelestarian dengan tidak melakukan panen berlebihan sehingga ada kesempatan bagi burung walet untuk berkembang."
Sarang burung walet di Gua LiangTana Mate dipanen 3-4 kali setahun dengan total produksi hampir 100 kg selain mampu memberikan kontribusi bagi PAD, juga kontribusi bagi sejumlah desa serta juga telah mampu menyerap puluhan tenaga kerja setempat Namun, ia mengharapkan agar Perusda membayar upah karyawan / buruh penjaga, pemelihara dan pemetik SBW sebelum keringat mereka kering. "Sebaiknya tidak menunda gaji mereka," pintanya.
Bagaimana dengan pertanian? Seperti kecamatan-kecamatan lainnya, warga Lunyuk kata Arief,sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Para petani tersebut telah menikmati keberadaan bendungan Plara bagi penyediaan pasokan air yang dibutuhkan dalam mengelola areal pertanian mereka."karenanya, masyarakat tani yang tergabng dalam kelompok P3A setempat sadar betul bahwa dibutuhkan kebersamaan dalam memelihara dan membenahi jaringan irigasi yang ada." katanya.
Arief juga menjelaskan,budaya gotong royong masih tetap terpelihara dalam masyarakat yang heterogen (Samawa, Sasak, Jawa,dan Bali), dimana kecamatan Lunyuk terdapat sedikitnya 4 lokasi transmigrasi yang kini telah diserahkan kepada Pemkab Sumbawa plus satu lokasi baru(UPT Sampar Goal).Buktinya, sebuah gedung sekolah dasar mampu dbangun secara swadaya di Desa Empang Lestari.
"Sekolah itu dibangun dengan dana swadaya sekitar Rp 20.000.000 rupiah.Kami mengharapkan Dinas Diknas memberikan perhatian bagi pembangunan lanjutannya."kata Arief.
Ia juga mengharapkan Pemprop NTB dan Pemkab Sumbawa bersinergi dalam mewujudkanlancarnya arus transportasi, komunikasi dan perekonomian dari dan ke Lunyuk-Sumbawa serta jalan-jalan yang menghubungi desa-desa di Lunyuk.
Sumber : HU Gaung NTB

Budidaya Sarang Walet Kawasan Karst Naga Umbang

May 14th, 2008 Oleh: T. Alfizar, SP

Gua yang ada Naga Umbang bernilai 600 juta setahun berpotensi meningkatkan PAD Aceh Besar terancam hancur oleh karena penambangan dan pabrik semen.Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.

Budidaya walet adalah bertujuan untuk memanen sarang burung walet yang terbuat dari saliva atau air liur burung walet. Sarang burung walet menjadi populer setelah pada masa dinasti Tang (618-907)di china dijadikan sebagai makanan para raja. Selain sebagai makanan saranga burung walet yang kaya akan biopolymer ini dijadikan sebagai bahan obat-obatan untuk mengobati penyakit paru-paru, panas dalam, memperbaiki kerja syaraf, menjaga vitalitas bahkan sebagian mempercayai bahwa sarang burung walet dapat membuat awet muda. Pada masa-masa itu Kerajaan China sudah mengimport sarang burung walet dari Malaysia, Vietnam, Thailand dan Indonesia.
Desa Naga Umbang yang memiliki bentangan alam karst yang memulai budidaya sarang walet gua sejak tahun 1985, dan mulai diatur pengelolaannya kepada pihak swasta oleh Pemda Kabupaten Aceh Besar sejak 1995. Gua yang dikenal dengan nama gua uleue atau gua ular karena bentuknya berkelok-kelok seperti ular memiliki populasi burung walet jenis Sriti (Collocalia esculenta) dalam jumlah ribuan dimana pada akhir 90 an mampu memproduksi sarang walet sebanyak 400kg per masa pemanenan.
Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera : CollacaliaS
pecies : Collacalia fuciphaga, Collacalia esculenta

Desa Naga Umbang yang terletak di Kecamatan Lhoknga setiap tahunnya memberikan kontribusi bagi PAD Pemkab Aceh Besar melalui asset daerah mereka yaitu gua sarang walet. Pengelolaan sarang walet dilakukan setiap bulan oktober di kota Jantho, setelah melalui proses pelelangan dengan pembukaan harga 600 juta maka gua sarang walet akan dikelola oleh pemenang tender yang memberikan harga tertinggi. Bagi masyarakat local keberadaan gua sarang walet di desa Naga Umbang adalah sebagai sebuah lapangan pekerjaan, dimana pengelolaan sarang burung walet ini menyerap 24 orang tenaga kerja sebagai penjaga, dan 22 orang tenaga kerja pemanenan.
Burung walet merupakan satwa liar yang sangat sensitif dalam memilih lokasi membuat sarang dimana, hewan ini membutuhkan tempat bernaung dengan suhu 24-26 derajat celcius, serta kelembaban antara 85%-90 %, di daerah dataran rendah. Burung ini biasanya memilih lokasi bersarang di daerah gua di pesisir pantai, gua-gua di gunung dataran rendah, dan merupakan daerah yang jauh dari jangkauan manusia dengan kualitas lingkungan yang tinggi.

Lokasi gua sarang walet di desa Naga Umbang berjarak kurang lebih 1,5 km dari pemukiman penduduk pada ketinggian 150 Mdpl. Lokasi gua yang terletak di hutan adat, sangat jarang di akses oleh warga yang tidak memilki kepentingan. Otomatis merupakan tempat berbiak yang sangat baik bagi hewan yang sangat sensitive ini.
Selain tempat berbiak, burung walet membutuhkan air, dan lapangan luas yang mampu menyediakan suplai air untuk kelangsungan hidupnya, hewan ini memiliki kebiasaan minum setiap pagi dan sore. Fungsi hidrologi kawasan karst Naga Umbang yang menyuplai air ke permukaan melalui hulu sungai Krueng Raba merupakan komponen abiotik yang sangat berpengaruh terhadap terjaminnya lokasi hunian yang layak bagi burung walet. Ketersediaan serangga sebagai makanan bagi burung walet budidaya gua juga salah satu faktor yang sangat penting. Lahan pertanian dan perkebunan seluas 30 Ha menyuplai makanan setiap harinya bagi burung walet di desa Naga Umbang.
Budidaya walet gua dan rumahan memiliki perbedaan pada masa-masa pemeliharaan, dimana budidaya walet rumahan menuntut pemeliharaan yang lebih rumit dibandingkan budidaya walet gua. Budidaya walet rumahan menuntut pemiliknya untuk melakukan pemeliharaan ternak, yang dimulai dengan penetasan telur hingga pengawasan dan pemeliharaan kandang agar burung walet tetap menyukai lingkungan tempat tinggalnya. Sementara budidaya walet di gua sarang desa Naga Umbang hanya membutuhkan pengawasan yang dilakukan sepanjang masa pengelolaan. Pengawasan di gua sarang ini dilakukan oleh 24 orang yang terbagi dalam 3 kelompok, masing-masing kelompok bertugas menjaga selama 1 minggu dan akan digantikan kelompok berikutnya. Penjagaan hanya bersifat mencegah pencurian sarang walet oleh pihak asing, dan para penjaga gua sarang ini tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam gua.
Hama dalam budidaya walet biasanya berasal dari hewan pemangsa baik, masih berupa telur maupun anakan walet. Hama ini dapat mengganggu populasi burung walet dan membuat burung walet tidak betah. Beberapa jenis hewan yang kerap menggangu antara lain tikus, cicak maupu tokek, ular dan semut yang biasanya mengganggu telur walet. Budidaya walet di rumahan membutuhkan perhatian yang sangat besar untuk menjaga hunian burung walet agar bebas dari hama tersebut, antara lain dengan membersihkan rumah walet dari tempat bersarangnya hama tersebut.
Hama tikus merupakan hama yang paling sering mengganggu dalam pengelolaan gua Sarang di desa Naga Umbang, dimana tikus-tikus tersebut memangsa anakan walet yang baru menetas. Tikus ini hanya memangsa anakan walet yang dapat di jangkaunya, dimana walet merupakan komunitas langit-langit gua. Pemberantasan hama tikus tidak perlu dilakukan karena interaksi di dalam sebuah ekosistem gua yang sangat besar. Ketidakseimbangan jaring dan rantai makanan dalam ekosistem gua berarti dapat merusak ekosistem gua secara keseluruhan, dimana gua adalah sebuah ekosistem yang sangat rentan.
Selain hama tikus, penurunanan kuantitas roduksi walet juga dipercaya akibat aktivitas manusia di sekitar kawasan. Beberapa aktivitas ini antara lain penebangan liar, penggunaan insektisida untuk lahan pertanian dan ladan serta penambangan batu kapur dan aktivitas pabrik semen. Aktivitas penebangan liar menyebabkan pembusukan akar, dari pohon yang ditebang. Pembusukan akar ini menyebabkan rembesan air melalui celah dinding dan atap gua semakin besar, yang akhirnya walet enggan untuk bersarang ditempat yang telah dialiri air tersebut. Ekses dari hal ini akan berakhir dengan terjadinya kompetisi intra spesies untuk memperebutkan tempat bersarang yang lebih baik, sehingga sebagian walet akan pindah mencari tempat bersarang di lokasi lain.
Penggunaan insektisida untuk lahan pertanian untuk mengendalikan hama pada lahan pertanian dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam piramida makanan pada kawasan eksokarst. Menurunnya ketersediaan sumber makanan bagi burung walet juga mengakibatkan kompetisi intra dan antar species, dan setiap kompetisi di alam harus ada pemenangnya.
Aktivitas penambangan dan eksploitasi alam oleh perusahaan semen secara umum dapat merusak struktur hidrologi pada kawasan karst. Kerusakan atau pengurangan kualitas pada tata air di kawasan karst dapat mengakibatkan pindahnya walet dari kawasan huniannya. Ketersediaan air bagi walet sangat penting dimana burung ini memiliki kebiasaan minum setiap pagi dan sore hari. Burung walet yang dibudidayakan di rumah, bahkan pembuatan kolam ini sangat dianjurkan agar burung ini betah untuk tinggal dan bersarang.
Pemanenan sarang burung walet dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu: metode rampasan,dimana sarang walet dipanen setelah burung walet telah selesai membuat sarang dengan sempurna dan belum berisi telur. Metode kedua yang dapat digunakan adalah pemanenan dengan metode tetasan, dimana sarang walet dipanen setelah sarang walet telah selesai dibuat dengan sempurna dan telur yang terisi di sanga telah menetas dengan dan anakan walet mampu terbang dan mencari makan sendiri. Pemanenan dengan metode yang pertama sangat efektif untuk meningkatkan jumlah pemanenan, dimana panen bisa mencapai 4 kali dalam setahun. Pemanenan dengan metode pertama juga memiliki kekurangan, antara lain populasi burung walet akan menurun dengan cepat, karena kesempatan reproduksi walet yang rendah, serta kualitas sarang walet akan menurun menjadi tipis dan kecil, karena produksi air liur walet yang harus diimbangi dengan pemacuan waktu dalam pembuatan sarang.
Pemanenan dengan metode ke dua memiliki memiliki kelebihan antara lain burung walet akan mampu memproduksi sarang yang yang tebal dan besar, serta reproduksi walet tidak terganggu dan populas walet akan meningkat. Kelemahan pemanenan dengan metode ini adalah mutu sarang walet akan menjadi turun, karena sarang walet mulai rusak dan sangat kotor penuh dengan bulu walet dan anakannya.

Sesuai dengan SK menhutbun nomor 449 tahun 1999, pemanenan yang dilakukan d gua sarang di desa Naga Umbang dengan menggunakan metode pemanenan rampasan dan satu kali dalam setiap tahunnya dilakukan pemanenan dengan metode tetasan untuk menjaga populasi walet.
Kuantitas produksi sarang walet di gua sarang di desa Naga Umbang dilaporkan telah menyusut, dibandingkan 10 tahun yang lalu.Kuantitas produksi sarang walet pada saat itu mencapai 400 kg per masa panen, sedangkan pada tahun-tahun belakangan hanya dapat mencapai 100-200 kg setiap musim panen.
Pasca pemanenan oleh pihak pengelola, masyarakat di level lokal diberikan kesempatan selama 2 hari untuk memanen sisa-sisa sarang walet. Sisa sarang walet yang dipanen oleh warga akan menjadi milik mereka masing-masing. Hal ini harga dari sebuah kontribusi akan eksistensi sarang walet di desa mereka di Naga Umbang. Jumlah yang bisa dikumpulkan oleh masing- masing warga adalah kurang lebih 1 kg. Menurunnya populasi walet yang notabene menurunkan kuantitas produksi sarang walet dibanding 10 tahun silam, berbanding lurus dengan menurunnya jumlah warga yang ikut memanen selama 2 hari tersebut. Apabila 10 tahun silam jumlah produksi sarang walet mencapai 400kg per masa panen, jumlah warga yang ikut pada masa pasca panen mencapai 100 orang. Sedangkan pada musim panen yang lalu dilaporkan hanya 20 orang yang mencoba peruntungan mereka.
Berkurangnya kuantitas sarang walet, meningkatkan kesulitan pada masa pemanenan hal ini merupakan faktor penyebab terjadinya beberapa angka kecelakaan yang berakibat fatal maupun cacat permanen. Sesuai dengan kebijakan adat di Aceh Besar umumnya, begitu pula yang berlaku di desa Naga Umbang kecelakaan yang terjadi di Gua Sarang menjadi tanggung jawab pihak pengelola pada masa berjalan.
Pemasaran sarang walet ditingkat eksportir untuk sarang sriti , seperti yang ditemui di gua sarang di desa Naga Umbang dapat mencapai Rp.2,5 juta perkilogram sedangkan untuk sarang walet yang putih dapat mencapai 12 juta rupiah setiap kilogramnya. Setiap sarang walet yang akan diekspor dibagi berdasarkan kelas dan gradenya seperti bentuk, warna sarang, dan bahkan kadar airnya.
Sarang walet dari desa Naga Umbang setelah selesai dipanen biasanya langsung di jual ke tingkat eksportir di pulau Jawa. Pembesihan, setelah sarang selesai dipanen pun biasanya dilakukan di level eksportir.

Delapan Koli Sarang Walet Selundupan disita

Metrotvnews.com, Jakarta: Delapan koli sarang walet selundupan disita petugas Bea Cukai


Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta Barat, Selasa (22/7). Sarang walet seberat 235 kilogram itu sedianya dikirim ke Singapura.
Kasus ini terbongkar setelah petugas Bea Cukai memeriksa paket kiriman barang lewat terminal cargo Bandara Soekarno-Hatta. Petugas menemukan kejanggalan dalam dokumen pengiriman barang ke Singapura itu.
Kepala Seksi Penyidikan dan Penindakan Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Eko Darmanto mengatakan, sarang walet yang hendak diselundupkan termasuk berkualitas tinggi. Nilai totalnya diperkirakan mencapai Rp 4 miliar.(***)

Cocktail

When I have my diner last night, I received SMS from my friend..... quickly I open and read the SMS because I am worry he has a problem again with his BH, since few weeks ago he was very upset and very moody. I don't want to say anything in my CATATAN about his BH problem and caused by what... but I help him to solve his BH problem with my heart without any obligation and or attack to anybody.

He always remember what I said to him. This is part of his email to his friends which he has CC to me : "When I went to see Pak Hen this is the first thing he said to me" Quote" Pak B.. you want to play bird ? (swiftlets in this case). First you must fill your stomach , then play with birds (swiftlets) to fill your heart. "Unquote" I hope my friends understand what Pak Hen is saying. "

This is his SMS to me last night:
"Hi Pak. I applied the cocktail today. Very strong smell even my clothing smell. Good sign 2 spot of birds shit while I was away. Also have few birds in BH at 7 PM. I will update you 1 week time as I will be in KK tomorrow. Thanks."

I am very happy to read his SMS, my cocktail work as I predicted. I had use this cocktail in many BH which have problem, proven effective to attract the swiftlet and make the swiftlet stay. I will continue to assist him till his BH success without any obligation.

Senin, 25 Agustus 2008

Lagi Lagi Rumah Burung Walet dibobol

Beberapa bulan lalu saya menerima kabar dari rekan saya yang ada di negeri Jiran. Pagi ini saya juga menerima SMS dari rekan yang sama yang memberitahu bahwa RBW nya dibobol oleh maling. Tidak ada sarang burung yang dicuri, tidak ada pompa air yang dicuri.... namun yang dicuri adalah 5 unit audio playernya berikut CD atau MMC yang berisi suara walet. Ini adalah kejadian untuk kedua kalinya yang dialami oleh rekan saya tersebut. 

Pencurian audio suara walet dan audio player semakin marak terjadi. Saya pun pernah mengalami hal yang sama, di mana penjaga RBW melakukan pencurian MMC audio player dan menggandakannya untuk "diberikan" kepada orang yang menghendaki suara tersebut. Kejadian ini saya alami pada saat saya pergi ke Malaysia bulan Maret 2008, seminggu kemudianpemilik RBW SMS saya bahwa di daerah Cak........ ada yang menggunakan suara yang sama dengan yang kita gunakan pak... Saya katakan bahwa tidak mungkin di daerah itu ada yang menggunakan suara yang sama dengan yang dipakai di RBW bapak..., tidak ada yang punya suara itu. Lalu saya teringat bahwa seminggu sebelum saya pergi ke P. Kapas, Terengganu - Malaysia, penjaga RBW tersebut pernah ingin membeli audio player dari saya dan katanya untuk pamannya yang nota bene juga paman dari pemilik RBW. Saya katakan kepadanya bahwa saya tidak menjual audio player dan saya hanya menjualnya atau meminjamkannya kepada pemilik RBW yang RBW saya kelola atau dalam penanganan saya. Saya mengatakan seperti ini karena saya tahu bahwa dia bukannya berkeinginan untuk membeli audio playernya, tetapi yang diarah atau diinginkan adalah suara yang saya gunakan di RBW tersebut. Berkali-kali dia SMS dan telpon tetapi saya tetap mengatakan hal yang sama.

Berdasarkan hal tersebut, maka saya telpon ke pemilik RBW dan ternyata benar bahwa penjaga RBW telah menggandakan MMC tersebut dan diberikan ke pamannya... apakah akan berhenti sampai di sini? Tidak! Setelah menggandakan suara tersebut dia dapat melakukan banyak hal, yang pasti dapat menjual suara tersebut kepada pemilik RBW lainnya dan terus menerus seperti itu sehingga suara menyebar ke mana-mana.... dan bisa jadi penjaga RBW tersebut menjadi pengelola RBW di tempat lain. Dengan pengetahuan yang minim tentang budidaya walet, tapi dengan "suara sakti" dia bisa menjadi pengelola RBW .... he he he... hebat ya! Bisakah??????

Kasus yang saya alami pernah saya sampaikan ke rekan saya yang berada di negeri Jiran yang juga mengelola RBW di sana untuk berhati-hati.... namun tak disangka dan tak dinyana beberapa minggu kemudian rekan saya tersebut mengalami hal yang sama, bedanya RBWnya dibobol dan audio playernya diambil, serta tidak ketahuan siapa yang mengambilnya.... sekarang rekan saya tersebut mengalami hal yang sama lagi....

Berikut adalah SMS rekan saya yang saya terima pagi ini:

"Pagi ni RBW 4 lantai saya dipecah masuk maling, kesemua 5 unit audio system dicuri, keliatan ............... (sengaja saya hapus) punya angkara kerana akhir2 ini terlalu ramai yang minta beli suara termasuk orang lama yang sudah sukses tapi saya tak mau jual walau harga tinggi"

Begitu maraknya pencurian suara walet terjadi, begitu hebatnya suara sehingga menjadi incaran orang yang sirik... untuk itu melalui catatan saya ini, saya ingin mengingatkan kepada rekan-rekan untuk lebih berhati-hati... si angkara murka, si Siti Sirik berkeliaran, merambah dan mencuri suara walet. Berbagai cara mereka gunakan untuk mendapatkan "suara sakti" entah untuk dipakai sendiri atau untuk dijual kepada orang lain.

Kalau RBW anda ada penjaganya, pastikan bahwa dia tidak memiliki kunci "Music Control Room". Kebanyakan dari kita terkena omongan si penjaga yang mengatakan kalau ada trouble dengan suara dan peralatannya bagaimana pak? sedangkan bapak ada di luar kota, jauh dari sini... kalau kunci bapak tinggalkan ke saya kan saya bisa cepat perbaiki... kalau nggak ada suara gimana pak? apa bapak nggak takut burung yang sudah nginap pada kabur atau pindah ke RBW lain? dan lain sebagainya sehingga kita mengiyakan untuk meninggalkan kunci Control Room ke penjaga tersebut. Apa yang akan terjadi??? Sekuat apapun pohon beringin, kalau tiap hari digoyang-goyang terus, suatu hari akan rubuh juga, sekeras apapun batu kali kalau setiap hari ditetesi dengan air suatu hari akan bolong juga. Penjaga RBW adalah manusia yang mempunyai kebutuhan..... berapa gaji yang kita bayarkan ke penjaga RBW setiap bulannya? berapa uang yang akan diterimanya hanya untuk "meminjamkan" CD suara walet hanya untuk 10 menit?? Kebanyakan penjaga RBW berpikiran pendek dan tidak pernah memikirkan efek dari "meminjamkan" CD ke rekan penjaga RBW lainnya atau ke boss pemilik RBW tetangganya.

Sekali lagi, berhati-hatilah dengan suara walet yang anda miliki dan yang anda gunakan, pastikan bahwa CD atau MMC atau apapun medianya, aman dari jangkauan si Siti Sirik dan KOLOR IJO. 

 

Sabtu, 23 Agustus 2008

Walet di Pantura P. Jawa

Banyak pemilik rumah burung walet di Pantura (Pantai Utara) P. Jawa berkeluh kesah dan menyatakan kesulitannya memikat burung walet menggunakan CD suara walet. Sebagian besar mengatakan bahwa burung walet di daerah tersebut sudah "budeg", tuli, kebal terhadap suara panggil. Dan apakah benar kenyataannya seperti itu?? Dan apakah semua daerah di Pantura Jawa seperti itu??

Beberapa bulan ini setiap hari Sabtu saya bersama Ko Abeng - nama akrab Ade, hitam manis mirip Jamal Mirdad tuh tampangnya - (penulis buku Memancing Walet dengan Sarang kertas) melakukan survey di berbagai daerah di Pantura Jawa. Kami berdua keluar masuk kampung dan keluar masuk rumah burung walet yang ada di daerah Jawa Barat - dari Karawang sampai Cirebon. Berdasarkan pengamatan kami, kegagalan rumah burung walet di daerah tersebut lebih banyak disebabkan karena tata ruang di dalam rumah burung dan kurang mengertinya pemilik RBW tentang teknik-teknik memikat burung walet. Dari banyak RBW yang kami kunjungi, 95 % belum sukses karena kesalahan dalam mendesain rumah burung walet dan karena tidak mengetahui dengan benar tentang budidaya walet. Mereka beranggapan bahwa burung walet akan masuk ke RBW nya lebih disebabkan karena hokki.... sehingga mereka dengan PASRAH (PASti dan berseRAH) menunggu kedatangan Dewa Keberuntungan... kapan datangnya?? Wah... mas saya ini tak tahu kapan datangnya... bisa saja besok.. moga-moga aja rumah walet yang diseberang sana kesambar halilintar, lalu kebakar... kan burungnya bisa aja yang ngungsi ke rumah saya... gitu kata salah seorang pembudidaya di daerah C......, Weleh-weleh.... ini orang koq jahat banget ya ya.... koq dongake wong keno musibah..... pikir saya..
Saya tanya ke bapak tersebut, apa yang selama ini sudah dilakukan agar burung walet bisa masuk ke RBW nya? Bapak ini mengatakan bahwa dia tidak berbuat apa-apa, tidak melakukan apa-apa... Pada waktu pertama kali RBW nya selesai dibuat, bapak tersebut sangat rajin merawat RBW nya, diberi kotoran walet, dindingnya dilaburi dengan telur bebek, untuk makanan walet... disediakan jagung dan dedak. Hal ini saya lakukan terus menerus selama 2 tahun, tapi ya nggak ada hasilnya... burung walet nggak ada yang tinggal. Waktu ada serangga dari dedak dan jagung, wah mas... tiap hari ratusan burung masuk.... tapi ya itu mas... burung walet ini kurang ajar tenan... Mosok makan gratis di sini, main di sini, tidurnya di rumah seberang itu... enak tenan ya.. aku sing ngasi makan, ehhhh dia ngiler nya di rumah seberang he he he he.... Jarwo... jarwo... mikirnya koq simpel wae...

Dari beberapa kunjungan ke RBW - RBW di Pantura Jawa, untuk sementara waktu kami berkesimpulan bahwa banyak pemilik rumah burung walet yang belum mengerti teknik memikat walet dengan benar dan kebanyakan dari mereka cenderung pasrah menunggu dewa keberuntungan datang.
Ada juga yang stress, akhirnya jadi provokator untuk melakukan demontrasi... memprotes kehadiran RBW di daerah tersebut, dan ada juga yang jadi preman alias tukang peras... he he he ........ tapi ada juga yang karena frustrasi, RBW nya yang kosong dijual ke orang lain, dan dia menjadi perawat RBW tersebut.... dan anehnya... RBW tersebut berhasil... pada hal waktu masih menjadi miliknya kosong melompong selama 4 tahun.... lha gimana ini??? Apa yang salah? Ada yang dilakukan oleh pemilik baru, namun hal ini tidak disadari oleh perawat RBW, apakah itu?? Tunggu tulisan saya berikutnya.

Saya dan Ko Abeng sedang melakukan beberapa pengkajian dan berusaha untuk mengembangkan teknik-teknik terbaru untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya burung walet di Pantura Jawa.

Minggu, 17 Agustus 2008

Perilaku Seks Burung Walet


Musim kawin burung walet terjadi disaat musim hujan tiba dikarenakan ketersediaan pakan walet yaitu serangga sangat banyak dan berlimpah sehingga anak burung walet akan terjamin kelangsungan hidupnya. Walaupun koloni burung walet tinggal di rumah burung walet tetapi burung walet tidak akan melangsungkan perkawinan dengan saudaranya sendiri, karena kalau hal tersebut terjadi maka kualitas anakan tidak bagus bahkan terjadi cacat. Dengan demikian maka burung walet akan mencari pasangannya dari rumah burung walet yang lain atau yang tidak satu turunan dengannya.

Perkawinan di udara
Pada saat masa perkawinan tiba burung walet biasa melakukan perkawinan di atas udara. Salah satu dari sepasang burung ini terbang di depan lawan jenisnya dan tiba-tiba menahan sayapnya membentuk sudut besar horizontal atau bahkan vertical. Burung ini akan meluncur turun ke depan sedangkan burung yang dibelakang mengejarnya. Kemudian sepasang burung ini akan terbang normal dengan posisi terbang pejantan di atas dan betina terbang agak dibawah. Kemudian burung jantan langsung hinggap di punggung burung walet betina tersebut dan sepasang burung ini pun terbang meluncur turun dengan sudut kecil. Burung betina merentangkan sayapnya secara horizontal dan burung jantan merentangkan sayapnya secara vertical membentuk sudut. Sepasang burung ini akan membentangkan sayap dan ekornya selama terjadi perkawianan. Jika ketinggian terbang rendah salah satu burung ini akan sedikit mengepakan sayapnya setelah beberapa detik mereka kembali berpisah.
                    


Perkawinan di sarang
Perkawinan di sarang dilakukan pada malam hari. Sang betina memanggil burung walet jantan dengan suara cicitannya, setelah mendengar suara walet betina yang berahi, burung walet jantan akan menuju ke tempat burung walet betina dan hinggap di punggung betina. Pasangan burung walet ini kemudian merenggangkan sayapnya dan terjadilah perkawinan. Proses perkawinan di sarang ini akan berlangsung beberapa kali dalam semalam.

Papua Surga bagi Satwa

Papua, INDONESIA -- juga Papua -- kaya dengan keanekaragaman hayati dan hewani. Tidak dapat terhitung banyaknya margasatwa di Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Seperti hewan-hewan di Indonesia bagian barat yang mempunyai ciri khas tersendiri, jenis hewan-hewan yang berada di Indonesia bagian timur juga merupakan bagian yang memiliki ciri khas tertentu, sehingga ada yang tidak dapat kita temui di bagian barat Indonesia.

Di Papua, satwa-satwa di daerah ini punya keunikan tersendiri. Burung cendrawasih merupakan salah satu jenis burung yang beberapa nama ilmiahnya berarti 'dari surga', 'agung', 'indah', dan 'sangat bagus'.

Ia juga disebut sebagai bidadari tak berkaki atau Apoda, dalam bahasa Latin burung cendrawasih digambarkan sebagai besar (paradisaea apoda). Burung yang sangat cantik tetapi tidak punya kaki dipercaya bukan berasal dari bumi karena mereka berjalan atau bertengger di pohon.

Tiga puluh jenis cendrawasih terdapat di Indonesia, 28 di antaranya ditemukan di Papua yang merupakan tempat tinggal cendrawasih berpial paradigalla carunculata, cendrawasih ekor panjang astrapia nigra, cendrawasih paratia parotia sefilata, cendrawasih Wilson cicinnurus respublica, dan cendrawasih merah paradiasea rubra.

Terdapat juga keragaman lain dari cendrawasih yang persebarannya terbatas hanya di Papua dan Nugini, yaitu cendrawasih ragiana, cendrawasih superb, cendrawasih magnificent, cendrawasih 'dua belas kawat', cendrawasih raja dan cendrawasih biru Nugini.

Sedangkan cendrawasih raja, cendrawasih botak, cendrawasih merah, toowa, dan cendrawasih kecil ekor kuning telah masuk dalam daftar jenis satwa yang dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan PP RI No 7 Tahun 1999.

Hutan di Papua seperti Aru dan Yapen merupakan habitat untuk si burung besar yang tidak dapat terbang: Kasuari. Di Australia tinggi burung ini bisa mencapai 180 cm dan berat 60 kg. sarangnya berada di bagian rendah dari hutan. Telurnya berwarna kehijauan dan berjumlah 3-5 butir. Lama pengeraman dapat mencapai 50 hari dan burung jantan yang melakukan tugas ini.

Jenis yang dilindungi adalah kasuari gelambir tunggal yang berada di bagian utara Papua. Jenis burung lainnya yang berada di kawasan Papua, yaitu kasuari raja psittrichas fulgidus. bentuk tubuhnya perpaduan antara burung nuri dengan gagak. Kepalanya menyerupai elang. Paruh dan ekor hitam, sedangkan sayap dan tunggingnya berwarna merah.

Papua merupakan rumah bagi sebagian besar hewan yang tidak dapat ditemukan di kawasan barat Indonesia. Di antaranya wallaby agile (macropus agilis), kanguru pohon wakera (denrolagus inustus), cendrawasih (ptiloris magnificus), kakatua raja (probosciger atterimus), dan kadal berjumbai (chlamydosaurus kingii).

Kadal merupakan jenis reptil yang cukup dikenal di Indonesia. Ada sekitar 300 jenis kadal di Indonesia dan 150 jenis di antaranya terdapat di Papua. Bentuk kadal di Indonesia cukup beragam, di antaranya yang berada di Papua adalah jenis D novaeguineae.

Untuk jenis biawak, keragaman yang paling tinggi juga berada di Papua, bahkan yang terpanjang sekitar 3 meter. Biawak salvadori (varanus salvadori) juga ada di sini. Soa Payung (chlamydoasurus kingii) berada di Papua bagian selatan.

Soa payung memiliki ciri punya lipatan tipis di leher, ditunjang oleh dua batang tulang, yang digunakan untuk mengancam mangsa. Kulit dekat kepalanya dapat mengembang untuk menakuti mangsanya.

Kupu-kupu masuk ke dalam jenis serangga lepidoptera yang berarti "sayap bersisik". Sejak tahun 1980-an Indonesia sudah melindungi kupu-kupu sayap burung yang beberapa jenis lain yang kurang menarik.

Siput dan keong masuk ke dalam kelas gastropoda Di Papua, siput berada di daerah Lembah Baliem, tepatnya di gua-gua Lembah Baliem dan daerah batu kapur. Siput berwarna-warni merupakan salah satu contoh yang banyak ditemukan di Papua.

Sanca hijau Irian (morelia viridis) merupakan jenis ular berwarna hijau yang hidup di hutan tropis Papua. Papua juga merupakan habitat untuk hewan-hewan yang hidup di dua alam, seperti kura-kura Irian yang habitatnya berada di sungai-sungai besar di Papua selatan, penyu hijau (chelonia mydas) dan buaya Irian (crocodylus novaeguineae) yang hidup di muara sungai sampai ke pedalaman di Papua sebelah utara. Papua benar-benar kaya. (Golda/S-5)

(sumber: media indonesia)

Kamis, 14 Agustus 2008

Kaitan Suhu dan Kelembaban Rumah Walet dengan Daya Tetas Telur (Bagian I)

Pada kebanyakan orang beranggapan bahwa suhu dan kelembapan udara di rumah burung walet hanya terkait dengan kualitas sarang, dan tidak terpikir bahwa suhu dan kelembapan udara di dalam rumah burung walet ada kaitannya dengan daya tetas telur. Mengapa suhu udara berkisar 26 derajat Celcius s/d 29 derajat Celcius? Mengapa kelembapan udara berkisar 75% s/d 95%? Jawabannya kebanyakan agar supaya sarang tidak pecah, supaya sarang tidak keriput, supaya sarang tidak berwarna kuning, dan lain sebagainya.

Di seminar saya yang baru lalu, saya pernah membahas suhu dan kelembapan udara dalam kaitannya dengan daya tetas, dan berkali-kali saya highlight hal ini, namun sayangnya tidak ada yang bertanya lebih lanjut. Pada hal, ini penting sekali. Kita harus menyediakan tempat tinggal untuk burung walet bukan hanya untuk indukannya saja, tetapi juga untuk turunannya.

Sebagai makluk hidup, burung walet mempunyai instink untuk bertempat tinggal di suatu tempat untuk kelangsungan hidupnya dan juga turunannya. Kitapun demikian, kita akan bertempat tinggal di suatu tempat yang aman dan nyaman bagi kelangsungan hidup kita dan juga keturunan kita.

Di daerah tropis, seperti di Indonesia, kelembapan udara berkisar antara 65 - 70% di daerah dataran rendah, sedangkan di dataran tinggi, kelembapan udaranya berkisar antara 50 - 65%. Sedangkan suhu udara sangat bervariasi bergantung daerah masing-masing.

Di daerah tropis, suhu udara yang merupakan faktor penentu untuk burung walet mau tinggal, membuat sarang dan beranak pinak. Saya akan bahas hal ini di bagian selanjutnya, dan sebelum itu saya akan membahas mengenai Struktur Telur Burung.

Struktur Telur Burung


Struktur telur burung berpori-pori memberikan kelenturan dan tahan terhadap benturan. Telur merupakan pembungkus gizi dan air yang dibutuhkan oleh embrio yang tumbuh di dalamnya. Kuning telur mengandung protein, lemak, mineral dan vitamin. Putih telur berfungsi untuk menyimpan cairan.

Anak burung yang tumbuh di dalam telur ini menghirup oksigen dan melepaskan carbon dioxide, anak burung di dalam telur ini juga membutuhkan panas, calcium, perlindungan terhadap guncangan dan perlindungan dari serangan kuman dan bakteri. Untuk itu, cangkang telur dibutuhkan untuk melindunginya dan anak burung dapat bernapas melalui kantung selaput telur. Pembuluh darah di kantung telur ini akan membawa oksigen untuk embrio burung dan mengeluarkan carbon dioxide. Cangkang telur ini tipis namun kuat dan berfungsi untuk menghantarkan panas dari induk yang mengeraminya.

Anak burung memiliki paruh yang mana paruh atas diujungnya ada lapisan keras berwarna kuning. Paruh ini berfungsi untuk memecahkan telur pada saat anak burung sudah waktunya menetas. Paruh ini terbentuk segera sebelum anak burung menetas dan setelah menetas lapisan kuning yang ada di paruh bagian atas ini hilang dengan sendirinya. Pengeraman telur burung walet sekitar 18 -20 hari dan cangkang telur akan melindungi anak burung di dalamnya selama pengeraman.

Selama pengeraman, telur akan kehilangan air kurang lebih 18%. Penguapan cairan ini terjadi karena pengeraman yang menghasilkan panas. Penguapan ini akan menghasilkan ruangan yang cukup sesuai dengan pertumbuhan anak burung yang ada di dalam cangkang telur. Penguapan ini juga akan menghasilkan oksigen yang diperlukan untuk kehidupan anak burung tersebut. Namun, jika telur kehilangan air lebih dari 18%, maka anak burung di dalam telur tersebut tidak berkembang sebagaimana mestinya dan bahkan akan mati.


Jadi, agar telur burung walet dapat menetas dibutuhkan panas dan air. Panas diperlukan agar terjadi penguapan cairan dan menghasilkan oksigen yang diperlukan untuk tumbuh kembang embrio, sedangkan air diperlukan untuk menjaga agar cairan di dalam telur tersebut tidak terlalu cepat menguap. Jika terlalu cepat menguap akan berakibat anak burung di dalam cangkang telur kekeringan, sehingga selaput cangkang telur akan menempel ke bulu anak burung walet dan anak burung kekurangan air dan akan berkibat anak burung walet akan kesulitan untuk memecahkan cangkang telur tersebut.


Suhu udara untuk menetaskan telur adalah 32 - 34 derajat Celcius dengan kelembaban 70 - 75%. Merujuk hal ini, maka untuk di daerah tropis yang memiliki kelembapan udara 70-75% tidak bermasalah, namun yang perlu diperhatikan adalah suhu udaranya. Untuk daerah dataran tinggi, menjadi masalah karena suhu udara yang rendah dan kelembapan rendah.

(bersambung)

Rabu, 13 Agustus 2008

Penempatan Sprayer

Fungsi sprayer air adalah untuk meningkatkan kelembaban udara dan dapat dipasang di dalam maupun di luar rumah burung walet.
Sprayer ini juga berfungsi untuk menarik perhatian burung walet agar bermain di roving area, jika ditempatkan di roving area atau di sekitar lubang masuk burung jika ditempatkan di atas lubang masuk burung.
Dengan adanya butitan-butiran air yang keluar dari sprayer ini, diharapkan banyak burung-burung walet yang kepanasan, terutama siang hari, mau singgah dan bermain di sekitar atau di dalam RBW.

Sprayer air juga dapat ditempatkan di roving room atau di void (Lubang Antar Lantai) yang lurus vertikal dari atas ke bawah. Penempatan sprayer air lebih effektif di dalam RBW, karena selain dapat meningkatkan kelembaban udara, juga dapat memancing burung walet untuk masuk ke dalam RBW.

Sabtu, 09 Agustus 2008

Effektifitas Aroma Walet (Seri 2)

Sebagaimana saya sampaikan dalam artikel yang lalu bahwa aroma walet harus diapplikasikan sesuai dengan aturan penggunaannya. Jangan mengaplikasikannya tidak sesuai dengan petunjuk. Kesalahan dalam pengaplikasian bisa berakibat fatal, yaitu burung walet tidak berani masuk ke dalam RBW, tidak mau menempel atau menghindar dari nesting plank yang disemprot atau diolesi aroma, dan yang lebih buruk lagi burung walet pindah ke RBW lain karena semua nesting plank diolesi dengan aroma walet yang tidak sesuai.

Agar effektif, penggunaan aroma walet harus tepat guna dan tepat tempat. Tepat guna maksudnya adalah aroma walet harus digunakan sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan diaplikasikan sesuai dengan peruntukannya. Misalnya aroma walet yang dikhususkan untuk dinding, tidak boleh diaplikasikan ke nesting plank, demikian juga aroma walet yang dikhususkan untuk nesting plank tidak boleh diaplikasikan ke dinding.

Tepat tempat maksudnya adalah aroma harus diaplikasikan di tempat yang tepat sesuai dengan petunjuk yang dianjurkan. Misalnya aroma walet yang untuk dinding harus diaplikasikan di bawah nesting plank dengan jarak dari lantai antara 1.5 - 2 meter dari lantai atau 30 cm dari nesting plank. Aroma untuk nesting plank hanya diaplikasikan di sudut-sudut nesting plank, dan atau di landasan sarang styrofoam serta sarang karton.

Photo di bawah ini adalah landasan styrofoam yang telah diolesi dengan aroma Plank

Photo di bawah ini adalah landasan sarang styrofoam dan sarang karton yang diolesi dengan aroma Plank dan burung walet membuat sarang di atas landasan sarang dan sarang karton.


Berdasarkan pengalaman, effektifitas penggunaan aroma walet akan terlihat setelah 1 bulan sejak pengaplikasian aroma walet (dengan catatan mikro klimat memadai). Burung walet baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan tempat tinggalnya yang baru paling cepat 1 bulan, setelah itu barulah burung walet membangun sarangnya. Pembangunan sarang sampai sempurna membutuhkan waktu 40 - 50 hari di musim penghujan, sedangkan di musim kemarau membutuhkan waktu lebih lama lagi yaitu sekitar 80 hari. Dengan demikian secara rata-rata burung walet membutuhkan waktu kurang lebih 65 hari untuk membangun sarangnya, sehingga kalau kita hitung dari sejak aplikasi aroma sampai jadi sarang utuh, membutuhkan waktu 95 hari atau kurang lebih 3 bulan. Merupakan hal yang ganjil (ataukah kejadian luar biasa????) bila dalam waktu 2-4 minggu setelah aroma walet diaplikasikan sudah ada sarang walet dalam bentuk yang sempurna. Bisa saja kejadian tersebut adalah kejadian luar biasa, yang mana burung-burung walet tersebut hijrah atau migrasi dari suatu tempat yang mengalami gangguan (misalnya: RBW roboh atau terbakar, adanya kebakaran hutan, atau adanya kesalahan dalam renovasi RBW) ke tempat atau RBW lainnya. Namun, perlu dicatat bahwa jarang terjadi bahwa dalam waktu singkat burung membuat sarang di RBW atau tempat yang baru.

Agar supaya penggunaan aroma walet effektif, sebaiknya aplikasikan aroma walet sesuai dengan petunjuk penggunaan yang dianjurkan oleh supplier. Kesalahan dalam pengaplikasian aroma walet dapat berakibat fatal dan menjadikan aroma walet tidak berguna.

Jumat, 08 Agustus 2008

Migrasi Burung Walet

Migrasi burung walet dapat terjadi karena beberapa sebab:

-. adanya gangguan oleh predator.

-. kesalahan dalam renovasi RBW, nesting plank rusak / roboh, RBW terbakar atau roboh.

-. adanya kebakaran hutan.

-. menipis atau berkurangnya makanan.

Hal-hal tersebut di atas mengakibatkan burung-burung walet hijrah atau pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Dan sebagai makluk hidup dan demi kelangsungan hidupnya serta untuk generasi berikutnya burung walet akan menuju ke suatu tempat yang menyediakan pakan yang cukup. Maka tidaklah heran bilamana di daerah-daerah lintasan, yaitu antara sentra walet dengan daerah buruan, yang beberapa tahun lalu tidak ada rumah burung walet sekarang menjadi sentra walet. Yang dulunya hanya ada sriti sekarang telah mulai dihuni oleh burung walet juga.

Kenapa hal ini dapat terjadi?

Sebagaimana saya sampaikan bahwa sebagai makluk hidup, burung walet mempunyai instink untuk mempertahankan hidupnya dan juga membutuhkan makanan yang cukup untuk dirinya sendiri dan keturunannya. Sebagai gambaran, rumah burung walet berada di kota. Burung walet akan mencari makan ke daerah-daerah yang ada serangganya dan burung walet harus menempuh perjalanan sejauh 20 km ke tempat tersebut. Di daerah perburuan tidak ada rumah yang dapat menjadi tempat tinggalnya, maka burung-burung walet tersebut kembali ke rumahnya yang di kota. Namun bila di daerah perburuan atau daerah yang dilintasinya ada rumah yang dapat menjadi tempat tinggalnya (mikro klimat memadai), maka tidak heran bila suatu saat burung walet akan tinggal di rumah tersebut. Hal ini masuk akal, kitapun juga akan berbuat yang sama, ngapain jauh-jauh ke Jakarta cari makan kalau di desa tersedia banyak kerjaan dan bisa makan?? Ngapain harus tinggal di Yogyakarta kalau cari makannya di Jakarta,  capekkk deh...  mendingan tinggal di Jakarta walupun indekost.... seminggu sekali baru pulang untuk "bill air" he he he.... nggak berat diongkos...

Burung waletpun demikian, dia akan tinggal di rumah yang daerahnya banyak makanannya, tidak capek-capek untuk mendapatkan makanan, bisa pulang pergi berkali-kali menyuapi anaknya atau tidak terlalu lama mencari makan dan kembali lagi dengan cepat untuk mengerami telurnya. So...., cari lokasi yang bagus untuk RBW... jangan selalu mikir maunya buat RBW di kota saja... Semangka, mangga, pisang, jambu... dibawa dari desa ke kota... di sana banyak pembelinya.... , mau berebut burung walet di kota?? Monggo kerso mas...

Demikian juga bila ada gangguan di tempat tinggalnya semula. Burung walet akan hijrah dari gua atau RBW nya ke gua atau RBW lainnya. Sama dengan kita manusia. Walau ada pepatah "Lebih Enak Tinggal di Negeri Sendiri walaupun hujan batu dari pada tinggal di negeri orang yang hujan emas". Kalau saya sih pilih tinggal di negeri orang yang hujan emas rek..., pemain dan pelatih bulu tangkis kita yang migrasi ke Singapura berapa banyak.... enak hidup di negeri orang, gaji atau honorarium lebih tinggi dibandingkan di sini, keamanan lebih terjamin, kesejahteraan lebih bagus, dikasi Citizen lagi... he he he... siapa yang nggak mau migrasi ke sana kalau semuanya lebihhhhhh baik... Nggak NASIONALIS deh kita... he he he... CINTA DATANG DARI PERUT... DEMI PERUT AKU RELA UNTUK MIGRASI...

Kamis, 07 Agustus 2008

Predator dan Pengganggu Burung Walet (2)

Ada cerita lain lagi.... Seorang pembudidaya walet yag ingin menjadi pawang walet...Setiap malam pembudidaya tersebut masuk ke dalam RBW nya dengan menggunakan senter untuk mengetahui keberadaan dan jumlah burungnya. Setelah mengetahui keberadaan burung walet, mulailah dia memberi salam kepada sang burung, syaloom... sahabat maisku... 1, makan apa hari ini? pakai lalat buah atau anakan jangkrik? jangan makan anakan jangkrik ya, nanti kelolotan.. matek deh... tangannya mulai mengelus badan sang burung... berrrr.... burung walet terbang....
Lalu sang pembudidaya melanjutkan penghitungan dan memberi salam ke burung walet lainnya. Jumlah total burung ada 50 burung dengan 20 sarang. Esok malam dia lakukan hal yag sama. Demikian seterusnya dia lakukan setiap malamnya.
Kami bertanya, mengapa dia lakukan hal ini?? Dia jawab dengan enteng, agar burung walet jinak, dapat beradaptasi dan tidak takut dengan manusia... jadi harus dilakukan seperti itu. Telah kami peringatkan untuk tidak melakukan hal itu, tapi tidak digubrisya... akhirnya sampai 4 tahun sarang burung walet tidak bertambah, dan hanya 40 sarang, he he he ....  

Cara ini pernah diusulkan oleh seseorang dalam sebuah blog walet, bagaimana menghitung jumlah burung secara akurat, begitu judulnya kalau tidak salah lho....
Ringkasnya, cara yang tepat dan akurat, masuk ke dalam rumah burung walet pada malam hari, pergunakan senter, dan jangan arahkan senter tersebut ke nesting plank, tapi arahkanlah  ke lantai dan mulailah menghitung burung.... he he he... GILA...bener-bener deh... ini dia ILMU SESAT! CIALAT...

Predator dan Pengganggu Burung Walet (seri 1)

Sebagaimana kita ketahui bahwa predator burung walet antara lain: tikus, tokek, burung hantu, burung alap-alap, burung elang, ular dan lain sebagainya, namun tidak pernah ada yang menyebutkan bahwa manusia adalah predator dan pengganggu yang paling bahaya bagi burung walet, ada yang menyebut pengganggu burung walet yang bentuknya manusia adalah pencuri alias maling. Tapi tidak pernah disebutkan bahwa pemilik RBW adalah pengganggu dan predator burung walet.

Pencuri atau maling masuk ke RBW pada malam hari dan agar tidak ketahuan aksinya, lubang masuk burung ditutup dengan tujuan agar burung tidak keluar dari RBW. Namun, jahatnya setelah mencuri sarang-sarang yang ada di RBW,  maling tersebut tidak membuka lagi lubang masuk burunng, sehingga burung-burung walet tidak dapat keluar dari RBW untuk mencari makan dan akhirnya burung-burung walet mati kelaparan. RBW ini selanjutnya akan kosong alias tidak dihuni lagi oleh burung-burung walet, dan kita harus mulai dari nol lagi.

Pemilik RBW juga merupakan pengganggu utama. Banyak kejadian burung bermigrasi karena kesalahan yang dilakukan oleh pemilik RBW, misalnya kesalahan dalam merenovasi RBW, menutup LMB lama dan membuka LMB baru di sisi lain, dan tidak jarang terjadi karena pemilik RBW sering masuk ke dalam RBW.

Bagi pemula yang baru memiliki RBW baru, rasa ingin tahu setiap hari muncul dan keinginan untuk masuk ke RBW setiap hari terjadi, walau sudah memasang CCTV dengan monitor LCD 34 inchi, masih juga ingin masuk ke RBW. Setiap hari masuk dan ada saja alasannya, katanya untuk pasang ini pasang itu, kasi ini kasi itu, setting ini setting itu... dan lain sebagainya... namun alasan sebenarnya ingin tahu apakah burug walet ada masuk dan turun sampai bawah nggak ya... ada kotoran nggak ya sebagai bukti burung walet sudah nginap....
Pada hal dengan sering di buka, maka kondisi suhu udara dan kelembaban akan berubah.... hawa yang ada di dalam RBW akan keluar dan diisi dengan udara luar ruangan.... dan bila hal ini terjadi maka mikro klimat di dalam RBW menjadi tidak stabil.... dan juga akan mengganggu burung walet yang sedang survey atau observasi RBW. Sedangkan burung walet yang baru masuk ke RBW tersebut sedang observasi untuk menentukan pilihan tinggal atau tidak tinggal di RBW tersebut. Karena burung walet tersebut merasa ada gangguan, maka bisa jadi burung walet tersebut tidak jadi menginap di RBW tersebut.... hal ini tentunya akan memperlambat proses pemancingan.
Dan kalau pemancingan atau pemikatan lambat yang disalahkan advisor atau consultant nya... gawat deh.... Lempar batu sembunyi kaki he he he he.... dunia... dunia...

Makanya... sekarang pintu harus digembok, kunci dibawa advisor atau consultant, lalu audio player pun dimasukkan ke kotak hitam dikunci dan di segel... supaya tidak dikutak-katik... nggak diganti suara.... tapii eh... dasar manusia yang berakal... digantilah audio player dengan yang lain dan suara diganti dengan suara yang lain.... DASAR! Begitu burung yang datang dan masuk keluar berkurang... teriak... weee oiiii... burungya setiap hari berkurang nihhh... gimana seh.... lu punya suara tak bagus...
Ada lagi... audio player dan amplifierya sudah dikunci.... dia rekam suara walet dari line out dimasukkan ke line in computer... direkam dah tuh suara.... lalu.... dia ganti audio player dan amplifier dengan yang lain, kemudian dia mainkan suara walet tersebut, dituning sini tuning sana... akhirnya banyak burung walet yang datang... dan yang dia katakan ... tuh konsultan dan advisor tersebut BEGO (BElagu dan GOblok)  masa dia setting audio, burung nggak banyak yang datang.... lihat nih gue... gue yang setting banyak burung yang datang.... langsung dia telpon konsultan atau advisornya... oiii lu kalau setting yang bener dong.... waktu kamu yang setting dan tuning nggak banyak yang datang... sekarang gue ubah settingannya... burung banyak yang datang....he he he... LARWO LARWO..... 
Seminggu kemudian pemilik telpon lagi... hei kon.. nggak ada burung yang datang....  CD suara walet kamu jelek nih... burung sudah bosan... gimana nih... bla bla.. bla ... beribu kata-kata keluar dari mulutnya he he he... lek JARWO lek JARWO...

Kalau kejadian seperti di atas, siapa yang akan disalahkan? Kalau sudah tahu tentang burung walet, tentang suara walet, tentang audio setting, dan semaunya sendiri...... ya jangan pakai konsultan atau advisor lah yaoooo Capek deh..!

(bersambung) 

Rabu, 06 Agustus 2008

Landasan Sarang dari Styrofoam

Berdasarkan pengalaman saya  landasan sarang dari styrofoam ukuran lebar 2 cm , panjang 8 cm dengan ketebalan 2 cm yang diolesi dengan aroma P (untuk nesting plank)  kemudian dipasangkan di nesting plank, dalam waktu kurang dari 4 bulan, landasan sarang tersebut sudah dilapisi oleh liur burung walet.

Landasan sarang dari styrofoam ini mampu meningkatkan populasi burung walet 30 - 50% setahun. Landasan sarang ini berguna sebagai penopang sarang saja, sehingga sarang yang dihasilkan penuh dan besar, tidak seperti sarang imitasi plastik yang hanya sedikt diolesi liur oleh burung walet lalu digunakan untuk bertelur. 

Landasan sarang dari styrofoam ini memaksa dan memicu burung walet untuk membuat sarang secara utuh, karena styrofoam ini tidak dapat digunakan untuk meletakkan telur, oleh karena itu fungsi styrofoam ini akan meningkatkan produksi sarang.

Selain meningkatkan produksi sarang, styrofoam juga menambah populasi si liur emas putih. Populasi walet dan sarang meningkat setelah 2 kali tetasan. Panen dilakukan 8 bulan setelah tetasan terakhir itu. Pada periode pertama tetasan, anak walet menempati sarang yang dibuat induk sehingga sarang diisi 4 walet: induk jantan, betina, dan 2 anak hasil tetasan.

Supaya anakan burung walet tidak menggunakan sarang induknya sebagai tempat berdiam, landasan sarang yang telah diolesi dengan aroma P ini ditempel di dekat sarang induk, yaitu sekitar 10 cm dari sarang induk
Pada saat anakan burung walet matang gonad, yaitu berumur sekitar 9 bulan, maka anakan ini akan mampu membuat sarang di landasan sarang styrofoam.

Supaya anakan tidak kabur, sebaiknya sarang yang ada di landasan sarang dipanen  setelah melewati 2 kali tetasan. Bila 1 kali tetasan sarang induk sudah diambil, dikhawatirkan walet muda yang sedang belajar terbang atau mencengkeram tidak bisa mengenali sarang induknya dan dapat berakibat anakan burung walet akan mudah kabur sehingga populasi tidak meningkat.
Landasan sarang styrofoam dapat rusak dan berlubang, karena anakan burung walet sering mematuk-matuk styrofoam tersebut dan membentuk lengkungan. Oleh karena itu sebaiknya gunakan styrofoam yang lebih tebal, minimal 2 cm.

Rumah Burung Walet di Dataran Tinggi

Pada kebanyakan orang berkecenderungan membuat rumah burung walet di daerah yang ketinggiannya kurang dari 400 meter di atas permukaan laut (dpl). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa mikro klimat rumah burung walet yang ideal adalah berkisar suhu udara antara 26 - 29 derajat Celcius dan kelembaban antara 80 sampai dengan 95%, sehingga lokasi yang ideal untuk rumah burung walet adalah di dataran rendah sampai dengan 400 meter dpl. 

Pada daerah dataran tinggi, misalnya  600 meter dpl, suhu udara luar berkisar antara 16 sampai dengan 22 derajat Celcius, dengan kelembaban udara antara 60% sampai dengan 70%. Melihat kondisi ini, maka daerah dataran tinggi (di atas 400 meter dpl) tidak ideal bagi perkembangan burung walet. Namun, seperti di Benteng Pendem, Ambarawa, Jawa Tengah, yang dihuni burung walet, terletak di 600 meter dpl setiap panennya menghasilkan sarang burung walet +/- 40 kg, hal ini disebabkan karena dinding Benteng Pendem ini tebalnya 80 cm sehingga suhu udara di dalam Benteng Pendem ini lebih hangat dibandingkan suhu udara luar.

Membudidayakan burung walet di dataran tinggi mempunyai keuntungan, karena di dataran tinggi masih banyak lahan pertanian dan perkebunan sehingga serangga yang merupakan pakan burung walet  lebih banyak tersedia. Dengan tersedianya pakan tersebut, maka burung walet tidak perlu terbang jauh untuk mencari makan. 

Suhu dan Kelembapan

Kendala yang dihadapi dalam membudidayakan burung walet di dataran tinggi adalah suhu dan kelembapan udara. Suhu dan kelembapan yang rendah membuat perkembangbiakan burung walet lebih lambat. Kelembapan udara dapat ditingkatkan dengan membuat kolam yang diisi air. Air di kolam ini selain berfungsi untuk meningkatkan kelembapan udara, juga berfungsi sebagai stabilisator suhu udara dan menjaga agar kelembaban udara relatif stabil.

Agar suhu udara di dalam rumah burung walet relatif stabil, maka RBW di dataran tinggi sebaiknya tidak banyak lubang ventilasi udara. Untuk setiap ukuran 4 m x 4 m, cukup 1 lubang ventilasi udara atas dan tidak diperlukan lubang ventilasi bawah. 

Dan perlu diketahui bahwa suhu udara dan kelembapan udara tidak hanya berkaitan dengan kualitas sarang walet tetapi juga berkaitan dengan daya tetas telur. Suhu dan kelembapan udara yang rendah akan mengurangi daya tetas telur. Oleh karena itu, di datran tinggi perkembangbiakan burung walet akan lebih pesat di musim kemarau dibandingkan di musim hujan, untuk itu pola panen rampasan yang biasanya dilakukan pada atau menjelang musim kemarau di dataran rendah tidak dapat diterapkan begitu saja di dataran rendah.  

Yang menjadi permasalahan, di dataran tinggi populasi walet masih sedikit, yang banyak justru burung sriti. Bila di RBW sudah ada burung sriti maka harus dilakukan putar telur dan pergunakan suara walet agar burung walet tetasan tetap kembali ke RBW kita  dan yang penting mikro klimat yaitu suhu dan kelembapan udara dibuat semirip mungkin dengan habitat burung walet. Selain itu ketersediaan pakan juga merupakan salah satu kunci agar burung walet betah tinggal di dataran tinggi yang dingin dan kering. 

Jika global warming terus terjadi dan menyempitnya lahan persawahan dan ladang, maka tidaklah mustahil bila 2 - 3 tahun mendatang kawasan dataran tinggi yang semula banyak dihuni oleh sriti akan menjadi daerah walet. 

Selasa, 05 Agustus 2008

Kemarau Datang Bobot Sarang Meningkat

Kemarau Datang Bobot Sarang Meningkat
Oleh trubus
Selasa, April 10, 2007 14:21:28



Anggapan bobot sarang turun pada musim kemarau tak berlaku di Sedayu, Gresik, Jawa Timur. Di sana bobot sarang malah naik ketimbang musim hujan. Itu terlihat dari 8 bulan pengamatan terhadap 25 sarang walet di rumah walet model piggy back. Empat bulan musim kemarau, Mei-September, bobot rata-rata 10,7882 g/sarang. Padahal musim hujan hanya 8,9085 g/sarang.

Uji bobot dengan menggunakan timbangan analitik Denver tipe AA-250 dengan ketelitian 4 digit di laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu sungguh di luar dugaan. Selama ini bobot sarang selalu lebih rendah saat musim kemarau. Suhu dan kelembapan sangat memegang peranan.

Dari penelitian didapat 88% walet setia menempati tempat asal bersarang di rumah walet 5 lantai setinggi 14 m yang dipakai tempat uji coba. Bangunan bercat putih itu dilengkapi lubang walet berukuran 100 cm x 30 cm, normalnya 40 cm x 14 cm agar walet mudah masuk. Suhu ruangan berkisar 25-27oC terasa sejuk karena ventilasi cukup banyak.

Agar kelembapan terjaga pada kisaran 95-98%, di setiap lantai yang memiliki 6-9 kamar ditaruh 2-3 kolam berisi air. Luasan kolam 3 m x 3 m dan kedalaman 30 cm. Pada musim hujan jumlah kolam dikurangi sehingga ruangan tidak terlalu lembap. Kelembapan di atas 98% dapat membuat sarang berubah warna menjadi abu-abu.
Dekat pakan

Selain lingkungan dalam rumah walet, lokasi rumah turut andil menaikkan bobot sarang. Bangunan dekat sumber pakan menjadi pilihan pas. Bangunan yang diamati penulis dikelilingi rawa dan berada 7 km dari pantai utara Jawa. Duapuluh kilometer dari tempat itu tampak jejeran hutan jati. Sungai Bengawan Solo membentang di sebelah selatan lokasi. Itulah lintasan walet saat terbang mencari serangga yang memang menyukai daerah lembap dan berair.

Memang pada musim penghujan produksi pakan melimpah. Namun, pada musim itu walet tergesa-gesa membuat sarang agar cepat bertelur. Hasilnya, bobot sarang lebih ringan dan tipis. Berbeda pada musim kemarau. Meski kecenderungan sumber pakan berkurang, tapi walet tetap aktif memproduksi liur. Itu karena persaingan memperoleh pakan berkurang. Maklum sebanyak 12% walet muda biasanya pergi mencari pakan ke tempat lain.

Saat faktor-faktor seperti suhu, kelembapan, dan kedekatan dengan sumber pakan terpenuhi, walet akan setia dan rajin membuat sarang. Oleh karena itu pada musim kemarau tak ada hambatan bagi walet untuk tinggal dan mencari pakan. Hasilnya bobot sarang terjaga.

Serangga Perbanyak Liur

Kelembapan Perbanyak Liur
Oleh trubus
Selasa, April 10, 2007 14:22:47 Klik: 923

Kemarau datang, serangga pun berkurang. Itulah yang terjadi di daerah penyebaran walet. Penyebabnya hanya satu: kelembapan turun. Menurut Stefanus Yoki, praktikus walet itu Purwokerto, Jawa Tengah, serangga yang menjadi sumber pakan utama si liur emas itu menyukai daerah lembap dan berair. Contohnya tempat sampah dan aliran sungai. Berkurangnya pakan menyebabkan walet harus terbang ke tempat lain. 'Jarak terbang bisa 40-50 km,' ujarnya.

Setelah mendapatkan pakan, keluarga Collocalia fuchipaga yang terkenal setia itu akan kembali ke rumah asal. Namun, jauhnya jarak tempuh membuat walet kehabisan energi untuk mengeluarkan liur. Imbasnya sarang pun menjadi kecil dan bobotnya ringan.

Hal senada juga diungkapkan Hary K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara. Menurutnya serangga yang kaya protein mampu memicu walet untuk memproduksi liur lebih banyak, sehingga sarang cepat terbentuk. Idealnya sarang terbentuk selama 45 hari. 'Saat pakan melimpah sarang terbentuk dalam 38 hari,' ujar pemilik Eka Walet Center itu.

Ketika pakan berkurang, produksi liur pun sedikit. Akibatnya saat sarang masih berukuran 3 jari, walet sudah bertelur. Dampak lain, sarang yang dihasilkan menjadi tipis dan berbulu, di bawah bobot ideal, 8 g/sarang. Namun, saat kelembapan stabil, niscaya populasi serangga terjaga. Walet pun leluasa memperoleh amunisi untuk membuat sarang. (Lastioro Anmi Tambunan)

Prediksi Peningkatan Sarang

Seri Walet (123):
Prediksi Peningkatan Sarang
Oleh trubus
Selasa, September 04, 2007 02:41:56


Rumus statistik untuk mengetahui jumlah penduduk pada kurun waktu tertentu ternyata dapat diterapkan pada walet. Itu dilakukan Ubaidillah Thohir di Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Melalui penelitian selama 3 tahun, kenaikan jumlah sarang dapat diprediksi.

Selama ini kenaikan jumlah sarang walet dihitung berdasarkan pengalaman empiris peternak. Pertambahan sarang sebesar 25% per tahun dianggap bagus untuk sebuah rumah walet. Artinya jika rumah walet itu semula berisi 10 sarang, tahun depan dapat diperkirakan jumlahnya meningkat mencapai 12-13 sarang. Persentase kenaikan sebesar itu lazim terjadi di lokasi-lokasi rumah walet yang memiliki sumber pakan melimpah. Seandainya sumber pakan tak mendukung, kenaikan populasi sarang sekitar 10%, bahkan bisa jadi lebih kecil lagi.

Sidayu yang dipakai Ubaidillah Thohir sebagai lokasi percobaan, menjadi sentra walet sejak zaman penjajahan Belanda. Dahulu di sekitar rumah walet terdapat banyak hutan sebagai sumber pakan walet, sehingga penambahan populasi lebih dari 25% per tahun. Namun, kini sejalan dengan maraknya penebangan liar dan pergantian musim yang tak menentu, laju pertumbuhan sarang terus menurun, bahkan negatif. Padahal, populasi rumah walet di Sidayu terus meningkat.
Laju pertumbuhan

Menurut Ubaidillah untuk memprediksi pertambahan sarang walet bisa menggunakan rumus sensus jumlah penduduk. Ada 3 parameter yang dipakai: jumlah awal sarang (simbol Po), tahun peningkatan yang dikehendaki (simbol n), dan laju pertambahan sarang (simbol r). Secara umum rumus itu adalah 1 ditambah r dipangkatkan n. Hasilnya kemudian dikalikan angka Po untuk memprediksi jumlah pertambahan sarang (Simbol Pp).

Besarnya nilai r dipengaruhi antara lain oleh kematian dan kelahiran walet, serta kemampuan tumbuh hingga dewasa yang berkisar 80%. Namun, sekarang persentase kematian bisa lebih banyak karena sumber pakan banyak yang tercemar pestisida, kata Ubaidillah. Akibatnya, banyak cangkang telur tipis dan mudah pecah, sehingga tak membuahkan anak.

Faktor lain yang mempengaruhi nilai r adalah sumber pakan yang menipis. Hal itu memaksa walet terbang lebih jauh mencari pakan. Bahkan seringkali walet pindah ke rumah lain yang lebih dekat sumber pakan untuk menghemat energi saat perjalanan pulang dari perburuan. Dari pengamatan alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu sejak 1980 di Sidayu, nilai r berkisar 0,25-0,6. Artinya laju kenaikan penambahan sarang di suatu rumah rata-rata berkisar 25-60% per tahun. Tapi kenyataannya saat sekarang mencapai kenaikan 30% saja sudah sangat sulit, tambahnya.

Contoh perhitungan, awal di tempat pengamatan 10 keping. Nilai r yang digunakan 0,25. Berapa penambahan pada tahun pertama? Perhitungannya, 0,25 ditambah 1 lalu dipangkatkan 1. Setelah itu dikalikan jumlah sarang awal, 10 sarang. Hasil akhir diperoleh 12,5 sarang, dibulatkan menjadi 13 sarang. Dengan perhitungan sama pada tahun kedua, akan diperoleh jumlah 16 sarang.
Tergantung pakan

Menurut Philip Yamin, konsultan walet di Cengkareng, Jakarta Barat, cara yang ditempuh Ubaidillah itu bisa digunakan. Tapi karakteristik setiap daerah berbeda sehingga nilai laju pertumbuhan berbeda dengan di Sidayu, ujarnya. Karena sulitnya menentukan laju pertumbuhan (r)-perlu pengamatan lama supaya akurat-Philip memilih menghitung secara manual.

Caranya, hitung jumlah sarang walet yang ada di sebuah rumah, misal 5.000 keping. Sarang-sarang itu masing-masing ditempati oleh sepasang induk. Sepasang induk mampu berbiak 2 kali dalam setahun. Andai tingkat keberhasilan penetasan 80% maka ada sekitar 16.000 anak walet yang dihasilkan dalam setahun. Dari jumlah itu anak walet yang kembali ke rumah hanya 20%. Artinya tahun depan ada penambahan sebanyak 1.600 sarang. Penambahan sebanyak itu menurut Philip berlaku untuk daerah-daerah pengembangan.

Di daerah-daerah padat rumah walet seperti Sumatera Utara dan Pulau Jawa, berdasarkan pengalaman Philip selama puluhan tahun, hanya 10% walet akan kembali ke rumah asal. Sisanya bisa hinggap ke rumah lain dan migrasi ke daerah yang kaya pakan, katanya. Itu artinya, sebanyak 8.000 walet yang akan kembali ke tempat semula dan membuat sarang.

Boedi Mranata, praktisi walet di Jakarta, menggarisbawahi perlunya menjaga lingkungan agar laju pertumbuhan sarang terus meningkat. Ia menggambarkan untuk 1.000 walet setiap harinya butuh 6-7 kg pakan. Jika kebutuhan pakan tercukupi, walet bisa 3-4 kali membuat sarang dalam setahun. Akibatnya, tanpa ada penambahan populasi walet baru, jumlah produksi sarang menjadi 1,5-2 kali lipat. (Lastioro Anmi Tambunan)

Effektifitas Aroma Walet (Seri 1)

Hampir 2 bulan belakangan ini saya banyak menerima pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan mengenai effektifitas aroma walet untuk memikat walet. Mereka sangat heran dengan effektifitas aroma yang digunakan sebagaimana dimuat dalam suatu blog. Begitu banyak burung walet yang menempel di tempat yang disemprot dengan aroma walet.

Kegunaan aroma walet telah saya bahas di buku saya Strategi Jitu Memikat Walet termasuk satu formula yang saya berikan, demikian pula banyak formula aroma saya berikan di seminar baik di P. Kapas maupun di Pontianak yang berlangsung baru-baru ini. Kenapa saya menekankan KACASUSU (Kelembaban Cahaya Aroma Suhu dan Suara)? Semua ini sangat berkaitan, tanpa mikro habitat yang memadai burung akan lebih lama untuk masuk atau tinggal di RBW... tanpa suara, burung walet yang berada di kejauhan tidak akan mendekat ke lubang masuk burung.

Aroma walet sudah lama dikenal dan dipergunakan di Indonesia, dan sejak tahun 1990 saya pun sudah menggunakan aroma walet. Pada waktu itu saya membeli di toko perlengkapan budidaya walet, dan tiap 2 minggu sekali saya semprotkan aroma tersebut di RBW. Setelah disemprot dengan aroma tersebut (walau tidak memakai suara panggil), banyak burung walet berdatangan dan masuk ke area yang disemprot dengan aroma tersebut. Memang menakjubkan efek dari aroma tersebut.... namun pada saat aroma tersebut hilang maka burung-burung walet pun tidak banyak yang datang, sehingga aroma walet terus menerus digunakan walau burung walet telah menginap agar populasi burung walet meningkat dengan pesat. 
Namun aroma tersebut lama kelamaan tidak effektif lagi, maka pada tahun 1996 saya mulai melakukan berbagai percobaan untuk membuat aroma walet baik untuk dinding maupun untuk nesting plank.

Bagaimana mengetahui bahwa aroma tersebut effektif?
Sebagaimana saya jelaskan di post sebelumnya bahwa aroma terdiri dari 2 yaitu untuk dinding dan untuk nesting plank.
Aroma untuk dinding dikuaskan atau disemprotkan di dinding dan atau lantai nesting room. Effektifitasnya bisa dilihat dari reaksi burung walet yang memasuki ruangan setelah ruangan tersebut disemprot dan biasanya burung akan bereaksi "ganas" seperti menyambar dinding yang disemprot dengan aroma dinding.
Sedangkan effektifitas aroma nesting plank dapat dilihat dari reaksi burung yang mendekat, menempel dan tinggal di nesting plank yang diolesi aroma dalam waktu yang relatif singkat.

Effektifitas aroma juga ditentukan oleh cara aplikasinya. Banyak orang tidak memperhatikan cara pengunaan atau aplikasinya sehingga hal ini akan mengurangi effektifitas aroma tersebut. Sebagai contoh, aroma tersebut seharusnya disemprotkan ke dinding dan tidak boleh disemprotkan di nesting plank, tapi karena ingin tahu efeknya, disemprotkan juga ke nesting plank. Atau seharusnya disemprotkan di dinding nesting room disemprotkan di lubang masuk burung dan roving room.
Hal seperti ini akan mengurangi effektifitas aroma tersebut. Burung akan lebih banyak memutar-mutar di roving room atau tidak masuk ke roving room dan nesting room karena LMB nya disemprot dengan aroma.
Oleh karena itu, sebaiknya perhatikan cara penggunaannya dan ikuti ... jangan melakukan cara-cara lain dengan maksud trial... kalau hal ini kita lakukan mungkin kita hanya dapat error nya saja.

Mengingat bahwa banyak aroma walet yang dijual di pasar, maka sebaiknya berhati-hati memilih aroma walet. Di pasaran ada juga aroma walet yang malah membuat burung walet kabur atau burung walet tidak berani masuk ke RBW , dan bahkan ada yang ngawur membuat aroma untuk nesting plank dengan menggunakan ammonia!

Ramuan Baru Pemikat Walet

Seri Walet (127):
Ramuan Baru Pemikat Walet
Oleh trubuson
Minggu, Januari 06, 2008 03:36:19 Kirim-kirim Print version

Selama 2 tahun rumah walet di Mojokerto, Jawa Timur, itu kosong melompong. Padahal, persyaratan lingkungan makro dan mikro-kelembapan, suhu, pencahayaan-dipenuhi. 'Sudah dipancing pakai air bekas cucian sarang, tapi nihil,' ujar BM Wawan. Namun, baru seminggu memakai ramuan pemikat walet dengan campuran rumput laut, suara cericit si liur emas itu mulai terdengar di dalam rumah.

Air cucian sarang hanya satu dari sekian cara yang pernah diupayakan BM Wawan untuk memikat walet. Pengusaha kelontong di Surabaya itu pernah pula mengoleskan telur bebek ke dinding. Bahkan menebar air kotoran walet ke lantai rumah walet. 'Itu sudah dikombinasi dengan CD player untuk mengundang walet,' ujarnya. Namun, segala upaya itu belum menuai hasil.

Titik terang muncul setelah Wawan menggunakan ramuan campuran sarang walet dan rumput laut. Kombinasi bau amis keduanya mujarab memancing walet masuk. Tak perlu disemprotkan ke dinding, ramuan itu hanya dioleskan memakai kuas pada lagur. 'Seminggu setelah dioleskan ada walet yang masuk,' katanya. Bahkan saat dicoba pada bangunan walet lain miliknya, walet masuk dalam tempo 3 hari.

Rumput laut

Menurut Agung Santoso, peternak di Mojokerto, rumput laut dapat menghasilkan bau amis yang tidak membuat walet pergi. 'Bau amisnya tidak keras, tapi bisa tahan lama sampai berbulan-bulan karena menyerap di pori-pori kayu,' kata Agung yang sudah meneliti formula itu sejak 1995. Begitu aroma amis di lagur hilang, walet tetap bertahan di sarangnya.

Sarang walet dan rumput laut memang bahan baku utama ramuan itu. Sekitar 100 g sarang dicuci bersih sebanyak 3 kali selanjutnya sarang itu direndam air selama semalam. Sarang kemudian dihancurkan hingga lembut dengan blender. Selanjutnya tambahkan 50 g rumput laut dan campuran itu direndam air sebanyak 5 liter.

'Perendaman dilakukan selama kira-kira sebulan,' ujar pengusaha yang sukses menernakkan walet itu. Hasil terbaik bila didapat air rendaman menjadi keruh dan berwarna kekuningan. Bau amisnya tercium lembut. Air rendaman itu kemudian disaring untuk membuang ampas sarang dan rumput laut. 'Yang dipakai hanya air rendaman saja,' katanya.

Cairan pemikat walet itu harus segera dioleskan pada lagur. Musababnya bila didiamkan terlalu lama, lebih dari 2 minggu, bau amisnya berubah, tidak tercium segar. 'Ini dapat terjadi pula bila perendaman dilakukan sampai 2 bulan,' ujar Agung. Bila cairan itu dipaksa untuk digunakan, walet tidak akan terpikat. Untuk itu perlu takaran yang pas agar ramuan tidak terbuang percuma. Dari pengalaman Agung cairan pemikat sebanyak 5 liter cukup untuk dioleskan pada 2 rumah walet berukuran 10 m x 20 m.

Pemakaian sarang utuh untuk bahan campuran memang mahal. Untuk itu Agung menyarankan sarang remukan yang harganya Rp1-juta-Rp1,5-juta/kg 'Bisa juga dipakai sarang sriti,' kata Agung. Rumput laut dapat dibeli di pasar tradisional. Harganya cukup murah sekitar Rp60.000-Rp70.000/kg.

Tenang

Ramuan pemikat walet sebetulnya mudah ditemui di pasaran. Namun, tidak semua ramuan itu efektif menjerat walet untuk masuk. Selain sarang sebagai bahan utama, campuran lain yang dipakai adalah kombinasi air kotoran walet dan minyak ikan. Itu yang dilakukan oleh Ade H. Yamani di Karawang. Namun, cairan pemikat itu harus disemprotkan ke seluruh permukaan dinding agar bekerja efektif.

Menurut Hary K Nugroho memancing walet memang gampang-gampang susah. 'Tanpa dipancing walet dapat datang asalkan kondisi lingkungan rumah walet tenang,' ujar pemilik Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara, itu. Tenang berarti jauh dari hiruk-pikuk kegiatan manusia. Itu pula yang terjadi pada walet-walet yang menetap di gua tepi pantai.

Pendapat senada disampaikan Agung. 'Hasilnya akan lebih bagus jika lingkungan tidak ada gangguan,' katanya. Apalagi jika peternak memperhatikan arah masuk dan keluar burung. 'Posisi lubang keluar dan masuk harus searah terbang walet,' ujar Agung. Harap mahfhum itu akan membuat walet merasa aman sehingga saat cairan pemikat dioleskan, Collocalia fuciphaga itu lekas masuk. (A. Arie Raharjo)

Oper Bola Pancing Walet Bersarang

Seri walet (129): Oper Bola Pancing Walet Bersarang
Oleh trubus
Senin, Maret 03, 2008 11:31:14 Kirim-kirim Print version

Sudah 3 tahun rumah walet Afong di Kecamatan Siantan, Kabupatan Pontianak, Kalimantan Barat, kosong dari cericit walet. Jangankan untuk bersarang, singgah pun Collocalia fuciphaga itu tidak mau. Namun sejak rumah walet itu dipasang tweeter sistem oper bola selama 8 bulan, ada 200 sarang walet di sana.

Sulitnya si liur emas untuk bersarang di bangunan walet milik pengusaha emas itu kontras dengan lingkungan sekitarnya. Lokasi tempat bangunan itu berada kondang sebagai kompleks walet. 'Di sini ada sekitar 100 rumah walet,' ujar Afong. Mayoritas rumah-rumah itu sudah banyak dihuni walet. Namun, 'Di tempat saya walet-walet itu hanya keluar masuk,' tambahnya. Padahal perangkat pendukung untuk memancing walet antara lain cd walet dan tweeter sudah dipasang.

Nasib baik mulai berpihak setelah bangunan itu dikunjungi seorang konsultan walet dari Jakarta Barat. Konsultan itu menduga sulitnya walet bersarang karena penempatan tweeter yang salah. 'Rupanya posisi tweeter yang berhadapan membuat suara antartweeter bertabrakan. Akibatnya walet sulit menentukan sumber suara,' ujar Afong yang kemudian mencoba sistem tweeter oper bola. Terbukti setelah posisi dan jarak antartweeter diubah, muncul suara jernih yang membuat walet mau menetap.

Atur jarak

Sistem tweeter oper bola yang didesain oleh Ir Lazuardi Normansah pada 1997 bertujuan untuk mengundang walet tertarik masuk, terutama burung baru. 'Diusahakan burung yang datang itu langsung menginap dan dapat ditolerir sampai hari ketiga,' ujar konsultan walet di Jakarta Barat. Langkah awal untuk mengundang walet adalah dengan memasang 2-4 tweeter luar di pintu masuk walet yang terletak di lantai teratas. 'Tweeter harus menghadap keluar supaya suaranya jelas terdengar oleh walet,' kata kelahiran Riau, 40 tahun lalu.

Tweeter lain, void, dipasang lebih dalam berjarak 1-2 m dari tweeter luar. Tujuannya supaya suara tweeter luar samar-samar terdengar dalam ruangan. 'Kalau tweeter void tidak ada, walet-walet itu akan mengikuti arah suara tweeter luar dan walet akan keluar rumah lagi,' ujar Lazuardi. Nah, agar burung masuk sampai ke lantai bawah, pada void di tiap lantai juga dipasang sebuah tweeter. Posisi tweeter antarlantai-tweeter dalam-berselang-seling. Jarak pemasangan setengah dari lebar sirip tembok.

Tweeter dalam yang terpasang pada sirip-sirip perlu diatur letaknya. Idealnya setiap 1 m² dipasang sebuah tweeter dengan jarak 10-20 cm dari bibir sirip. 'Biasanya walet suka menempel pada tweeter. Bila posisi tweeter dekat bibir sirip, walet jadi takut dan malas bersarang,' ujar Lazuardi. Selain itu posisi tweeter diupayakan tegak lurus agar suara yang keluar terdengar jelas.

Ragam suara

Selain posisi dan jarak, jenis suara menjadi bagian penting memancing walet masuk dan bersarang. Untuk itu menurut Lazuardi perlu dipasang cd suara kawin, bermesraan, saling memanggil, dan piyik. Yang lain suara walet remaja bermain di tweeter luar. Yang disebut pertama lebih dominan terdengar, sekitar 60-70%. Hal itu untuk merangsang walet segera mencari pasangan dan kawin. Suara piyik dan remaja bermain digunakan 10-20%. Begitu pula suara panggil digunakan sebesar 10-20%. 'Walet itu hidup berkoloni. Saat mendengar suara-suara itu mereka tidak akan merasa sendiri,' jelas Lazuardi.

Pada tweeter dalam dan void suara walet mengasuh piyik, piyik, dan remaja yang sedang bermain lebih dominan. Masing-masing porsinya mencapai 20-30%.

Sisanya, suara walet saat birahi dan bermesraan. Pada tweeter luar, dalam, dan voidragam suara itu dipasang dengan durasi 20 menit yang direkam dalam cd.

Lamanya tweeter menyala mempengaruhi kehadiran walet. Tweeter luar dan void hanya dihidupkan setiap hari pukul 05.00-19.00 WIB. Tweeter dalam pada rumah yang telah berproduksi dipasang mulai pukul 04.00-21.00 WIB. Pemasangan pagi huta untuk tanda waktu agar burung keluar mencari pakan,' tutur Lazuardi. Sedangkan tweeter dalam di rumah dibiarkan menyala selama 24 jam.

Mikroklimat

Tweeter yang mampu bekerja maksimal dapat membuat walet masuk dan bersarang. 'Bila dianggap nyaman walet akan menyusuri ruangan sampai ke lantai bawah,' kata Lazuardi. Pada rumah baru, walet biasanya akan berhati-hati masuk lantaran takut. 'Dalam waktu 1-2 detik terbesit keraguan walet untuk tinggal. Namun jika tweeter terpasang benar, keraguan burung akan hilang,' tambahnya.

Tweeter memang bukan satu-satunya faktor penentu walet bersarang. Menurut Hary K Nugroho, konsultan walet di Jakarta Utara, tweeter dipakai sebagai langkah awal menarik walet masuk ke dalam rumah. 'Setelah masuk, selanjutnya mikroklimat dan aroma dalam rumah memegang peran penting,' ujarnya. Idealnya suhu diatur 28-30°C, sehingga tweeter bakal bekerja lebih ringan untuk memikat walet bersarang. (Lastioro Anmi Tambunan)

BIJAK PILIH RUMAH WALET

Seri Walet (133) Bijak Pilih Rumah Walet
Oleh trubus
Senin, Juli 07, 2008 15:35:21Kirim-kirimPrint version

'Dijual rumah walet 15 m x 7 m. Tiga lantai. Siap isi'. Tawaran menarik dari teman dekat itu segera disambar William-bukan nama sebenarnya-di Jakarta Barat. 'Saya langsung beli seharga Rp0,5 miliar,' katanya. Namun, seiring perjalanan waktu janji walet-walet itu akan bersarang bak jauh panggang dari api. 'Jangankan bersarang, untuk memancing walet masuk saja susahnya setengah mati,' tambah pengusaha alat elektronik itu.

William kian masygul saat menjumpai rumah walet orang lain yang berjarak 1 km dari tempat miliknya di Serpong, Tangerang, itu bisa panen 3 kali setahun. 'Kurang apalagi? Cakram CD walet sudah diputar 6 jam sehari. Dinding pun diberi ramuan walet, tapi hasilnya nihil,' katanya. Bahkan sriti yang mendahului masuk sebelum walet datang juga tidak segera bersarang.

Menurut Harry K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara, hal yang menimpa William itu salah satu efek maraknya penjualan rumah walet belakangan ini. Di berbagai surat kabar pariwara dijualnya rumah walet kerap terpampang. 'Rumah yang dijual biasanya produksinya rendah atau memang sulit mengundang walet. Yang tidak mengerti hal itu akan langsung tergiur oleh iming-iming produksi tinggi,' ujarnya. Boleh jadi William adalah salah satu yang menjadi korban.

Sejatinya penjualan rumah walet jadi-real estate walet-adalah bisnis menarik. Tren yang muncul sejak 1999 itu memancing banyak pengusaha mencemplungkan modal besar demi membangun kavling walet. Itu tampak di Tangerang, Serang, Bekasi, hingga Subang, Jawa Barat. Sayang, antusiasme itu malah mengundang petaka. Yang menyedihkan, banyak tempat yang menjadi sumber serangga seperti sawah dan padang rumput bersalin rupa menjadi bangunan walet. 'Serangga jadi sulit didapat sehingga walet semakin jauh mencari pakan,' kata Harry. Ujungnya bisa ditebak, populasi turun bahkan rumah tak kunjung terisi walet.

Cermat

Kondisi itu memang harus diwaspadai pembeli. Menurut Doddy Pramono, konsultan walet di Haurgeulis, Indramayu, saat me milih rumah walet perlu dipastikan lokasi rumah berada di daerah lintasan walet. Maksudnya dilalui walet saat pergi dan pulang mencari pakan.

Selain itu lokasi terpilih dekat dengan sumber pakan. 'Paling jauh sekitar 2 km,' ujar Harry. Sayang hal itu sudah sulit ditemui di Jawa, kecuali di Kalimantan, Sumatera, atau Sulawesi.

Meski demikian, walet sebetulnya dapat menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencari pakan. Jadi, 'Kalau sekadar berisi walet, bisa. Yang sulit memprediksi tingkat huniannya,' kata Doddy. Pria yang mengeluti walet sejak 1994 itu menyebut, idealnya rumah walet 3 lantai seluas 72 m2 berisi 50 sarang supaya dapat dipanen setiap tahun.

Hal lain yang mesti dicermati saat membeli rumah walet adalah memprediksi populasinya. Padat atau tidaknya populasi dapat dicek dengan memutar cakram CD pemikat walet. Populasi disebut padat bila dalam ½ jam sejak CD diputar tampak sekitar 100 individu. 'Tapi kalau hanya 10 ekor populasinya sangat rendah,' kata Doddy. Oleh sebab itu, pemikiran rumah walet harus berukuran besar agar bisa menampung walet lebih banyak tidaklah sepenuhnya benar. Percuma membangun rumah walet berukuran besar jika populasi walet di lokasi itu sedikit. 'Kecuali kalau mau menunggu hingga bertahun-tahun,' tambahnya.

Luar Jawa

Kavling-kavling walet di Pulau Jawa cenderung sulit untuk diharapkan bisa menjaring walet dalam jumlah besar. Di Jawa kini memasuki masa suram untuk pengembangan rumah walet. Kondisi sebaliknya justru terjadi di Kalimantan. Itulah yang dialami para pemain walet di Ketapang. Sebut saja Timotius Kim.

'Sejak 3 tahun terakhir kavling walet banyak tumbuh di jalur Pontianak sampai Ketapang,' ungkap Viany Cin Hong, konsultan walet di Pontianak. Viany menuturkan perusahaannya mengalami kenaikan penjual an perlengkapan rumah walet 200-300% dibandingkan 5 tahun lalu. Sayang, ia menolak menyebut angka pasti. Yang jelas omzetnya sampai puluhan juta rupiah tiap bulan.

Menurut Viany di luar Jawa kondisi alam masih mendukung untuk perkembangan walet. Sebut saja sumber pakan melimpah sehingga memungkinkan penambahan populasi lebih cepat. Perkebunan sawit yang kian meluas dan peternakan ayam yang muncul di berbagai tempat adalah bagian dari pengkayaan sumber pakan. Di luar Jawa ini pula belum banyak pabrik yang mendorong si penghasil liur emas itu untuk bermigrasi. Yang terpenting, rumah-rumah walet belum banyak sehingga tidak terjadi persaingan.

Namun, pengembangan rumah walet di luar Jawa bukan tanpa hambatan. Awal tahun lalu pemda Kota Pontianak mengeluarkan perda yang melarang pemba ngunan gedung walet di dalam kota. Tujuannya, 3-5 tahun mendatang tidak ada lagi gedung walet di tengah kota. Setahun sebelumnya, pemda Kabupaten Ketapang sudah menempuh jalur sama. Rumah walet dianggap merusak keindahan kota, mengancam kebersihan lingkungan, sampai memancing kecemburuan sosial. Makanya izin pembangunan rumah baru tidak diberikan. (A. Arie Raharjo)

Sabtu, 02 Agustus 2008

Sarang Raja Walet??


Hari Rabu, tanggal 30 July 2008, saya mampir ke toko sarang walet Wong Coco, di Mal Taman Anggrek mengantar rekan dari negeri China yang berminat untuk membeli sarang walet yang sudah diproses.

Ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu sarang walet yang belum diproses yang dipajang di etalase toko tersebut.
Di antara sarang-sarang tersebut ada satu sarang yang memanjang (kurang lebih panjangnya 30 cm) seperti sampan sebagaimana photo di atas, dan sarang ini dibuat oleh dan hanya sepasang burung walet. Terus terang, bentuk sarang yang memanjang seperti ini belum pernah saya lihat, dan baru kali ini saya melihat di etalase toko.
Karena bentuk sarangnya yang unik ini maka pemilik gerai Wong Coco menjulukinya sebagai Raja Walet.
Apakah Raja Walet akan membuat sarang seperti ini?
Bentuk sarang seperti photo di atas terjadi karena tempat tempelan sarang atau nesting plank lebarnya tidak mencukupi atau adanya landasan sarang yang dibuat memanjang sehingga burung membuat sarangnya sesuai dengan tempat landasan sarang tersebut.
Jadi bisa saja bukan "Raja walet" yang hanya bisa membuat sarang seperti itu, tapi burung walet tuapun juga dapat membuat sarang memanjang mengikuti nesting plank dan/atau landasan sarang yang ada.

Jumat, 01 Agustus 2008

Aroma Walet

Berbagai cara digunakan oleh pembudidaya datau peternak walet untuk memikat walet. Cara yang digunakan antara lain: dengan menggunakan CD suara walet, menyediakan makanan berupa serangga terbang dan aroma.

Aroma merupakan salah satu bagian dari KACASUSU (Kelembapan Aroma CAhaya SUhu dan SUara), namun sebagian orang tidak memercayai bahwa aroma diperlukan dan dapat dipergunakan agar burung walet segera tinggal atau menginap di rumah burung walet.

Suara panggil dipergunakan untuk menarik burung walet menuju ke lubang masuk dan suara dalam atau suara inap dipergunakan agar burung walet yang terpancing atau terpikat merasa rumah burung walet tersebut telah dihuni oleh burung-burung walet lainnya. Agar burung walet merasa bahwa rumah burung tersebut telah dihuni oleh burung-burung walet, tentunya rumah burung tersebut mempunyai aroma atau berbau burung walet.

Bau burung walet bisa juga karena kotoran burung walet yang baunya khas atau bau khas liur burung walet di nesting plank. Dengan adanya aroma di nesting plank yang serupa atau menyerupai bau burung walet maka burung walet yang terpikat akan segera tinggal dan membangun sarangnya di rumah burung walet tersebut, jika suhu dan kelembapan udara telah terpenuhi.

Aroma walet dibagi menjadi dua yaitu untuk dinding dan untuk nesting plank. Aroma diyakini dapat merangsang burung untuk segera tinggal atau menginap di rumah burung dan membuat sarang.