Sabtu, 28 Februari 2009

How to Win?

Yesterday I received email from my readers, after they watched my "Singkawang Swiftlet Center" and "Bengkulu Swiftlet Center" video. They are asking how to win in sound war at swiftlet center, since many BHs play the sounds very very loud and many types of sound they use to lure swiftlets.

I replied their email and ask them to use Tai Chi sound. What is Tai Chi Sound?

The Song of Tai Chi
"Ketika dilahirkan, manusia lembut dan lemah,
Saat meninggal menjadi kaku dan keras,
Ribuan mahluk, tanaman dan pepohonan,
Adalah lembut dan lentur ketika tumbuh.
Saat mati menjadi getas dan kering.
Sesungguhnya yang kaku dan keras adalah sahabat dari kematian,
Yang lembut dan lentur adalah sahabat dari kehidupan"

(Tao Te Ching)

I hope my blog's readers understand what I meant about Tai Chi Sound. Good Luck!

Kamis, 26 Februari 2009

Rabu, 25 Februari 2009

Senin, 16 Februari 2009

Pak Ben's Email: Town Planning National Guideline for Swiftlet Shelter

Dear All,

I have wanted to share some of my views but was flat out for last two weeks till last night bringing much needed humanitarian Aids to 5 flood evacuations Centers in Suai,Niah ,Bakong And marudi on behalf of " People of Malaysia through Mercy Malaysia" .If you think we have problem think again !

The highly esteemed Datuk Lord Canbrook a renowned scientists who worked in Sarawak for many years and together with Dr.Lim Chan Koon co- authored Swiftlets of Borneo was the speaker on Sarawak Swiftlets organized by Sarawak Nature Society in Bintulu last year.
He stress that what he call "House Swiftlets " are either a sub species or an Hybrid species that he named " Fuciphagus Domesticus " and would categories as domestic animals like chicken and pigs.

He further stress that they cannot survive in the wild and live in towns , abandon buildings and other man made structures like bridges Ect.
Ten years ago In Bintulu, these birds started to occupied empty shop lots and on ledges of buildings. They are commonly found under ledges around MAS office and surrounding buildings till today.

Also noted that these sub species are distantly different from their caves cousins .
Although they share same food sources but have different behaviors and even the nest are of different compositions. Hopefully our Malaysian scientist will do further study and do a DNA profiling on this special gift from God to the under privilege people of Sarawak.

I further asked Lord Carnbrook on what will happen if they are forcefully evicted from the shophouses.
He feared that most will parish in bad weather conditions like now. Some will migrate like their forefathers migrated from Indonesia to Malaysia about 10 years ago during the forest fire and haze due to Logging and forest destruction' s for oil palm .
Sarawak we may be killing the goose that lay the golden eggs. This can be adverted if farmers are given license and time to build stand alone and let the swiftlets move them self to these standalone as BH in shop lots are being phase out .

Scientist say that Swiftlets cannot be force to move like chicken or pigs., but lay man who only attended a seminar in KT together with me about a year ago become an " EXPERT " . Being a good and amusing writer can talk to and convinced many people with authority who have little knowledge on Swiftlets. This is dangerous as this will destroy an industry that is the core business of many farmers whose livelihood solely depend on Swiftlets Farming. Many families and lives will be destroy just to satisfy some individuals EGO !!

The biggest lost is Sarawak as the Seed are also being destroyed as panicking farmers in Bintulu, Serikai, Miri, Sibu, Mukah and Kuching are now as I am writing are throwing away eggs and baby swiftlets by the thousands in order to harvest as many nest as possible .
To add insult to injuries they fear that if evidents of swiftlets farming are found , apparatus like amplifiers , speakers and so on they will be slap with a compound fine of RM5000.00. I hope that these rumors are unfounded.

For the record I do agree with the authorities that sustainable Swiftlets farming should be carried out in Agriculture land as I clearly stated in my earlier article.
WE beg for extension of grace period to allowed the ranchers who have shown commitment to relocate and have submitted their application to the Forestry Department to remain status quo until they have being granted the necessary licenses and a time frame to complete their stand alond BH in agriculture land before their present BH is being Closed. Its not unreasonable to ask for this small consideration. For those who refused to comply will be responsible for their own actions.

Where as the GAHP is very necessary for serious farmers ,but what shocked me is the venue was used by none other then the Secretary on the Sarawak Swiftlets Association to promote his Eco Park. How can the organizer allowed this. This Mr. Wong So and So repeated at least 6 times that he is trying to help the swiftlets farmers. HA HA is he giving us 1 unit each free of charge ?? My Foot !

Dear all readers I have traveled far and wide ot observe the best method of Swiftlets Farming . I like to ask Mr. Secretary Wong of Kuching to show us where is a successful Swiftlets ECO park in Malaysia and Indonisia except for a few units within the park. In Kuching ?? The total populations of Swiftlets in Kuching will only fill up 2 BH in Mukah ro Serikai so don't be fooled.

Any buyer should demand to only pay a deposit and the balance paid to a stake holder and only to release the balance once there are 300 nest (real ones not FAKE ones ) in the BH. If this conditions can be met I will be the first one to Book one unit. By the way with 300 nest Mr. Wong will keep for himself. SHAME SHAME!!
So please readers be careful. Wish you all good luck and god bless.

BEN

Sabtu, 14 Februari 2009

Dibalik Buku Biografi Laksamana Muda John Lie (II)

Pada tahun 1929 sampai 1942, Lie bekerja di perusahaan pelayaran Belanda "KPM". Ia berlayar hingga berbagai negara. Proklamasi kemerdekaan memangginya pulang ke Tanah Air dan bergabung dengan Angkatan Laut.

Banyak informasi mengenai Lie di dapat dari sang istri, seorang pendeta dari Manado bernama Margaretha Dharma Angkuw. Meski April tahun lalu ketika wawancara untuk buku tersebut berlangsung, istri Lie sudah berusia 83 tahun, ingatannya masih bagus. Wawancara dengan sumber lain pada umumnya juga berlangsung April 2008.

Pada tahun 1969, Lie pensiun dari dinas militer dan memilih menjadi pengusaha selain aktif di pelayanan sosial dan agama. Buku setebal 327 halaman ini memuat kesaksian mereka yang kenal dengan Lie. Para nara sumber memberikan kesaksian betapa Lie memiliki kepekaan sosial yang dalam dan banyak membantu kaum miskin.

Bisnis yang dijalankannya di masa pensiun, bukan hanya untuk mendatangkan kekayaan bagi diri sendiri. Kepada seorang rekan ia menjawab tujuannya bergerak dalam bisnis hanya satu yakni to reach the Kingdom of God. Rita Tuwasey kepada penulis buku ini menceritakan dalam berdagang John Lie itu etis. "Berdagang itu hanya cara untuk membantu orang lain." kata Tuwasey.

Setelah sakit beberapa lama, sang penyelundup berhati mulia ini dipanggil Tuhan, Sabtu malam 27 Agustus 1988 di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta. Jenasahnya disemayamkan di Panti Perwira, gedung milik TNI AL. Presiden Soeharto datang memberikan penghormatan terakhir.

Masih memerlukan pengkajian apakah kalau memang benar John Lie akan diusulkan menjadi pahlawan nasional, itu memang sudah sungguh-sungguh memenuhi kriteria persyaratan. Kalaupun nantinya entah Lie atau tokoh Tionghoa lainnya mendapatkan gelar terhormat itu, bukan hanya WNI keturanan Tionghoa saja yang patut berbahagiamelainkan seluruh WNI tanpa memandang asal dan suku apa. Dan jangan berburuk sangka tak adanya WNI keturunan Tionghoa dalam deretan [ahlawan nasional yang setiap tahun bertambah, bukan karena masih berlakunya politik diskriminasi. Bisa jadi pemerintah masih sibuk dengan urusan lain. Yang paling penting adalah menyadari kenyataan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah buah manis perjuangan semua komponen dan elemen bangsa.

Di bagian pendahuluan buku karya M. Nursam ini ada pernyataan Lie yang menunjukkan siapa dia sesungguhnya.
Siapakah orang pribumi dan non pribumi? Berikut jawaban John Lie:
"Orang pribumi adalah orang-orang yang Pancasilais, Saptamargais, yang jelas-jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan non pribumi adalah mereka yang suka korupsi, suka pungli, suka memeras, dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan sebagai orang non-pribumi, karena pada hakekatnya mereka tidak mementingkan apalagi membela nasib bangsa kita. Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa. Jadi soal pribuni dan non-pribumi tidak boleh dilihat dari suku bangsa dan keturunan melainkan dari sudut kepentingan siapa yang mereka bela".

Masuk golongan apa kita? Hanya naruni Anda yang bisa berbisik.

Dibalik Buku Biografi Laksamana Muda John Lie (I)

John Lie:
"Berdagang Itu Cara Membantu Orang"

Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan kepada Bung Tomo, tokoh pertempuran Surabaya, 10 Novemper 1945. Pemberian gelar pahlawan nasional disampiakan Presiden SBY pada hari peringatan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2008. Sudah sejak lama berbagai kalangan mengusulkan gelar tersebut untuk Bung Tomo. Menurut aturan, usulan agar seseprang memperoleh hgelar pahlawan nasional harus datang dari sekelompok orang disertao alasan dan bukti otentik. Usulan tadi diserahkan kepada pemerintah propinsi dari mana si calon berasal. Oleh pemerintah provinsi usulan dikirim ke Departemen Sosial yang kemudian meneliti. Bila oke, usualn diteruskan ke presiden.

Panjang nian proses memperoleh gelar pahlawan nasional. Pada hal si calon penerima gelar belum tentu menghendakinya. Karena ketika yang bersangkutan melakukan tindakan kongkrit yang menunjukkan kepahlawanannya, ia tidak pernah berpikir untuk nanti disebut sebagai pahlawan nasional.

Sampai saat ini belum ada satu pun warga negara Indonesia keturunan Tionghoa berstatus gelar Pahlawan Nasional. Apakah memang tidak ada yang pantas mendapatkan status ini? Atau ada yang pantas, cuma warga Tionghoa berpendapat urusan bisnis lebih penting dari pada repot-repot menempuh jalan panjang mencari dan mengusulkan nama.

Pada tanggal 21 - 23 September 2007 berlangsung Konferensi ISSCO di Beijing. Sejarahwan Asvi Warman Adam menyampaikan makalah berjudul "Why Is There No Chinese National Hero in Indonesia?" Beberapa artikel dan berita di media massa pernah menyebut-nyebut nama seorang Tionghoa yang sekiranya pantas menjadi pahlawan nasioanal. Meski demikian, wacana ini cepat redup.

Tokoh yang disebut-sebut layak menerima gelar pahlawan nasional adalah John Lie, seorang Laksamana Muda TNI AL. John Lie mematuhi anjuran pemerintah untuk mengganti nama Tionghoa menjadi Jahja Daniel Dharma. Namun nama aslinya lebih populer hingga sekarang. John dilahirkan di Manado, 9 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Maryam Oei Tseng Nie. Leluhur John berasal dari daerah Fuzhou dan Xiamen yang pada abad ke 18 berlayar sampai ke tanah Minahasa.

Sosok nama John Lie relatif kurang dikenal juga di kalangan warga Tionghoa khususnya generasi mudanya. Buku-buku sejarah resmi terbitan pemerintah yang dipakai di sekolah, tidak menyebut nama dan peran Lie. Penulis buku - Solichin Salam membuat buku buku berjudul "John Lie Penembus Blokade Kapal-Kapal Kerajaan Belanda" yang terbit pada tahun 1988. Kisah perjuanga Lie berjudul "Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya kepada Wartawan" dimuat dalam buku "Memoar Pejuang Republik Seputar 'Zaman Singapura' 1945 - 1950" yang ditulis Kustiniyati Mochtar, Gramedia Pustaka Utama (2002).

Karena sedikitnya pustaka mengenai Lie, tidak mengherankan namanya semakin redup dimakan lupa. Oleh karena itu usaha M. Nursam menulis buku "Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie" (2008) yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil, Jakarta, patut diberi penghargaan.

Buku ini dibangun dari berbagai sumber antara lain wawancara dengan keluarga, kerabat dan teman-teman Lie antara lain Laksamana Sudomo, bawahannya semasa di TNI AL. Sealin itu berasal dari wawancara John Lie dengan wartawan dan berita tentangnya yang dimuat di media masa seperti Majalah Life (26 Oktober 1949), Majalah Star Weekly (1956), Majalah Masa dan Dunia (1955), dan Harian Suara Pembaruan (1988).

Artikel berjudul "Guns and Bibles are Smuggled to Indonesia" ditulis oleh wartawan Life bernama Roy Rowan. Oleh M. Nursam artikel ini dimuat seutuhnya. Artikel tersebut ditulis berdasarkan wawancara dengan Lie. Pada 1949 Lie masih menjalankan tugasnya sebagai penyelundup. Dari Sumatera sebagai nahkoda kapal PBB 58 LB ia menembus bl;okade Belanda menuju Singapura, Malaysia dan Thailand membawa hasil bumi Indonesia untuk ditukar dengan senjata yang diperlukan untuk perjuangan melawan Belanda. Lie dicari-cari belanda untuk ditangkap meski lolos. Kapal yang dinahkodainya sering juga disebut The Outlaw.

Memang nama Lie menjadi tersohor karena keberhasilannya menembus blokade Belanda yang jelas peralatannya jauh lebih hebat dari pada milik Angkatan Laut Indonesia. Berkali-kali ia berhasil mengelabui Belanda. Berulang kali Lie selamat dari kejaran kapal-kapal musuh. Orang mengatakan ia tetap selamat dan musuhh tidak bisa menangkapnya karena imannya yang tebal pada Tuhan Yesus Kristus.

Lie hampir setiap hari memegang injil. Pers asing menyebutnya "The Great Smuggler with The Bible". Ia adalah tentara yang taat beribadah. Dilahirkan dari keluarga beragam Budha. Perkenalannya dengan Yesus saat ia bersekolah di iChristelijke Lagere School di Manado. Pada usia 17 tahun Lie maninggalkan tanah kelahirannya menuju Batavia dan kemudian menjadi buruh di pelabuhan Tanjung Priok. (bersambung)



PELUNCURAN BUKU BIOGRAFI LAKSAMANA MUDA JOHN LIE
05 Feb 2009

DISPENAL (5/2),- Kepala Staf Angkatan laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, SH yang diwakili Inspektur Jenderal dan Perbendaharaan Angkatan Laut (Irjenal) Laksamana Muda TNI Moch. Sunarto, SE menjadi pembicara pada Peluncuran Buku Biografi Laksamana Muda John Lie, Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi dan Seminar bertema Nilai-Nilai Kepahlawanan John Lie, dengan Makalah berjudul: “Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma/John Lie Berjuang Dengan Keyakinan” yang diselenggarakan di Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (4/2).

Kasal, sebagaimana disampaikan oleh Irjenal, menyampaikan bahwa Bangsa dan Negara Indonesia memerlukan para pejuang, entah dari mana dia berasal, dari golongan apa, dari agama apa dan dari etnis apa. Bangsa ini telah berikrar bahwa dengan “Bhinneka Tunggal Ika”, bangsa Indonesia akan mampu keluar dari segala kesulitan, mampu menghadapi segala tantangan serta mampu menjunjung tinggi kehormatannya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan menuju masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Laksda TNI John Lie merupakan salah satu dari pejuang-pejuang TNI AL yang telah turut memberikan sumbangsihnya secara ikhlas, penuh dedikasi dan tanpa mengharap pamrih apapun demi tetap tegaknya kedaulatan NKRI sejak masa Perang Kemerdekaan 1945-1949 hingga masa mempertahankan keutuhan NKRI 1950-1959.

Di masa Perang Kemerdekaan, John Lie, mantan pelaut Maskapai Pelayaran Kolonial Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), dengan menggunakan kapal motor cepat bernama “The Outlaw” telah dengan gagah berani menembus blokade laut yang dilakukan AL Belanda di sekitar perairan Selat Malaka. Antara kurun waktu 1947 hingga 1949, John Lie berhasil memasok sejumlah besar senjata, amunisi dan obat-obatan ke para pejuang dan rakyat di Sumatera. Berkat keberaniannya tersebut, “The Outlaw” dijuluki Radio BBC Inggris “The Black Speedboat” karena kemampuannya beroperasi di malam hari tanpa penerangan dan tidak pernah tertangkap Belanda. Kiprah John Lie tidak sebatas masa Perang Kemerdekaan, namun hingga masa konsolidasi pun tetap melaksanakan tugasnya sebagai prajurit TNI AL yang Pancasilais dan Saptamargais dengan turut mengatasi sejumlah pemberontakan di beberapa daerah, seperti RMS di Maluku, Darul Islam di Jawa barat, PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi.

Pengabdian dan kepahlawanan John Lie atau dikenal juga Jahja Daniel Dharma itulah yang diangkat dalam buku biografi yang ditulis oleh M. Nursam dan dalam seminar tentang nilai-nilai kepahlawanannya tersebut. Harapannya, buku biografi Laksda John Lie dapat kian memperkaya khasanah referensi mengenai jasa dan pengabdian luar biasa dari para pahlawan bangsa, khususnya pejuang TNI AL, sehingga dapat menjadi pembangkit semangat bagi generasi muda untuk meneruskan jejak langkah mereka dalam memberikan darma-bhakti yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia.

“Kegiatan Peluncuran Buku dan Seminar terselenggara atas kerjasama Universitas Paramadina dengan Yayasan Nation Building (Nabil). Acara dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI AL, mantan Kasal Laksamana TNI (Purn) Waloeyo Soegito dan Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh, tokoh-tokoh masyarakat, Ketua Legiun Veteran RI Letjen TNI (Purn) Rais Abin dan beberapa anggota LVRI, staf Departemen Sosial RI dan LSM,” demikian dikatakan lebih lanjut oleh Kadispenal Laksma TNI Iskandar Sitompul.

Rabu, 04 Februari 2009

Nirwana Walet di Bumi Selaparang

Oleh trubusid_admindb
Selasa, Februari 03, 2009 10:44:19 Klik: 16


Bangunan di Ampenan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu serupa rumah walet lain yang mengapitnya. Dinding tebal dan terdiri atas 3 lantai. Umur bangunan bekas ruko itu diperkirakan 18 tahun. Yang berbeda, 'Produksi sarang rumah itu paling banyak, bisa sekuintal setiap panen,' bisik Sugeng Praminto, peternak walet di Mataram membuka rahasia.

Malam di penghujung November 2008 Trubus dan Sugeng menyusuri setiap jalan di Ampenan, sekitar 5 km dari Mataram, ibukota NTB. Di sepanjang jalan kawasan pecinan itu bangunan-bangunan walet mudah dijumpai. Selain ada yang mempertahankan sebagai bagian ruko, banyak pula yang merombaknya menjadi bangunan walet modern. Suara CD pemikat walet dari tweeter sahut-menyahut. Singkat kata suasana di sana seperti sentra walet di kota Metro, Lampung.

Bangunan penghasil sarang walet terbesar itu salah satu yang juga direnovasi pemiliknya. Dua dari tujuh lubang masuk si liur emas itu diperbesar 3 kali lipat dari ukuran sebelumnya, 90 cm x 30 cm. Lubang-lubang itu diplester semen. 'Kalau sore walet-walet itu terlihat masuk ke lubang besar itu,' ujar Sugeng yang memiliki rumah walet 2 lantai di Switha, Mataram, itu.

Tidak berkamar
Untuk membuktikan bangunan itu istimewa, 2 hari kemudian Trubus datang tepat sore hari saat walet mulai masuk. Selama 1 jam mengamati dari ruko di seberang bangunan itu, tak terhitung jumlah walet masuk ke dalamnya. Langit di sekitar rumah itu menghitam oleh walet-walet yang terbang. Kontras bila dibandingkan bangunan walet berjarak sekitar 25 m ke arah pelabuhan Ampenan. Yang terbang dan masuk puluhan walet saja.

Sulit mengungkap rahasia walet betah bersarang di sana. Yanto - nama samaran - penanggung jawab rumah itu lebih suka menjawab tidak tahu saat ditanya Trubus. Namun, isi bangunan sedikit tersingkap. Tidak ada kamar seperti rumah-rumah walet di Jawa. Ruangan model hall itu membuat walet lebih leluasa bergerak di roving area, sebelum beristirahat di sirip-sirip kayu di lantai bawah. 'Tanpa kamar juga membuat sirkulasi udara dan sinar matahari lebih merata di dalamnya. Ini disukai walet dan mulai banyak dipakai di rumah walet modern,' kata Harry K Nugroho, praktisi walet di Jakarta Utara.

Sejatinya tak hanya Ampenan yang penuh sesak oleh bangunan walet di Lombok. Di bilangan Cakranegara, di pusat kota, terlihat pemandangan serupa. Menurut Tjie, pengusaha emas yang 2 lantai tokonya disulap menjadi rumah walet, di Cakranegara bangunan walet marak berdiri sejak 1990-an. Saat itu jumlahnya belasan. 'Tapi tidak sehebat sekarang yang tiap ruko ada rumah waletnya,' kata Tjie yang sudah memetik 8 kg sarang Collocalia fuciphaga dari rumah yang dibangun 3 tahun silam itu. Panjang jalan Cakranegara sekitar 2 km dengan puluhan rumah walet 'berkedok' ruko.

Rumah tertua
Tjie mengungkapkan Cakranegara memiliki rumah walet istimewa. 'Jika di Ampenan ada yang panen sampai puluhan kilo sarang, di sini ada rumah walet tertua,' katanya. Bangunan walet yang dimaksud, terletak di perempatan Jalan Selaparang - nama lain Lombok. Bangunan 1 lantai itu berdinding semen. Atapnya seng yang sudah berkarat digerogoti umur. Hanya ada 2 lubang masuk walet di situ. Lubang itu sebenarnya ventilasi dari pintu. 'Saya tidak tahu produksinya, tapi bangunan itu sudah ada sejak saya kecil,' ujar Tjie yang menginjak usia 70 tahun.

Di luar kedua sentra itu, bangunan walet mulai menjamur pula di Swithe. Lokasinya di Kecamatan Sendobaya, sekitar 5 km dari pusat kota itu semula hanya kompleks pertokoan. Namun, kini belasan rumah walet berdiri tegak di sana. 'Bangunan-bangunan itu mulai ada sejak 3 tahun lalu,' kata Sugeng yang berinvestasi Rp125-juta untuk membangun rumah walet 9 m x 13 m setinggi 2 lantai. Seperti di Ampenan dan Cakranegara, walet langsung masuk, tidak didahului oleh sriti. 'Dalam setahun saja sudah bisa panen 1,6 kg sarang,' kata pegawai Departemen Pekerjaan Umum NTB itu.

Pakan melimpah
Populernya walet di Lombok tak lepas dari melimpahnya sumber pakan. Sawah dan hutan yang menjadi sumber serangga masih tersedia. Di Ampenan menuju objek wisata Pantai Senggigi, sekitar 3 km menghampar sawah dan kebun kelapa. Beberapa bukit menghijau tak jauh dari kebun-kebun kelapa itu. Demikian pula di Swithe dan Cakranegara. Di kedua tempat itu walet mencari pakan ke arah selatan yang masih disesaki sawah dan ladang.

Menurut Sugeng, polusi udara yang kecil juga turut mendukung walet betah tinggal. Rumah walet di Lombok pun tidak fanatik memakai CD pemikat walet. Di Cakranegara nyaris tidak terdengar suara pemikat walet dari tweeter. Pengabutan dalam rumah untuk mencapai kelembapan 80 - 90% yang diinginkan walet jarang dipakai. Maklum berdasarkan pengukuran Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi kelembapan harian di NTB berkisar 70 - 90% dengan curah hujan 1.500 - 2.000 mm/tahun. Kondisi itu cukup nyaman bagi walet. Sebagai ganti pengabutan, peternak hanya memperbanyak lubang ventilasi dari PVC. Untuk bidang dinding seluas daun pintu dibuat 6 - 8 lubang berdiameter 10 cm.

Soal pasar? Sejauh ini tak sulit menjual produksi sarang walet dari Lombok. Banyak penampung setempat berebut sarang. Itu belum termasuk pengepul dari Surabaya. Agustus 2008 dari 2,4 kg sarang Sugeng menangguk pendapatan Rp13,5-juta. Harga normal sekilo sarang Rp10-juta - Rp11-juta. 'Agak rendah karena sarang yang dijual masih kotor, banyak bulunya,' ujar Sugeng. Toh pendapatan itu sudah dianggap besar oleh Sugeng yang baru mencicipi manisnya rupiah dari si liur emas. (Dian Adijaya S)
MESIN PEMANGGIL WALET PORTABLE



Piro MESIN PANCING WALET PORTABLE diciptakan untuk memenuhi permintaan pasar akan Mesin Pancing Walet berkualitas dan canggih, simple instalasi, gampang dibawa-bawa dan tentunya Harga yang Hemat dengan Fitur Hebat.

Piro MESIN WALET PORTABLE adalah produk terbaru "Sound Maker / Penghasil SUARA" untuk mengundang walet datang dan membuat sarang yang sudah dilengkapi dengan Amplifier.

Dikemas dalam chasis yang kompak, praktis dan bermutu serta mudah dalam pengoperasian. Fasilitas lengkap yang meminimalkan rasa khawatir.

Piro MESIN WALET PORTABLE (MWP) ini menggunakan Solid State CD Player (SSCD) yang terkenal paling handal, berteknologi paling efisien, paling maju saat ini serta didesain untuk dapat memainkan lagu dalam format CD Quality

Produk bermutu, SOLUSI INNOVATIF untuk Audio Sistem Rumah Walet ANDA

FASILITAS-FASILITAS MESIN WALET PORTABLE (MWP) :

- Desain yang Praktis, Kompak dan mudah dibawa-bawa
- Power Amplifier Mosfet Class AB yang terkenal "bandel"
- Bisa diprogram untuk menyanyikan lagu tertentu ( Fungsi Repeat )
- Dilengkapi dengan Tone Control untuk mengubah Frekuensi Suara tinggi burung walet
- Automatic Switch Supply AC 220 ke DC 12V tanpa putus suara
- Didesain untuk bekerja 24 jam 365 hari NON STOP
- Dilengkapi SSCD Player yang bebas masalah mekanik, optic dll sehingga bebas khawatir
- Dual Independent Channel dengan volume kontrol masing-masing
- Koneksi Tweeter per Channel :
- Untuk Tweeter Suara Luar Max 50
- Untuk Tweeter Suara Dalam Max 400
- Dirancang khusus untuk Rumah Walet


SSCD Player KHUSUS RUMAH WALET



Piro SSCD Player khusus untuk rumah walet - penghasil SUARA NATURAL seperti suara koloninya sendiri sehingga walet menjadi betah dan membuat sarang. Solid State CD Player ini berbasis Micro-controller yang mengontrol langsung dengan menggunakan teknologi, DSP (Digital Signal Processing) terintegrasi di dalam chip Audio Decoder, serta dilengkapi dengan DAC Converter (Digital to Analog Converter). SSCD player dirancang dapat dioperasikan 24 jam 365 hari NON STOP tanpa rasa khawatir apapun karena di dukung oleh GARANSI 3 tahun
Piro SSCD Player sangat layak menjadi TOTAL SOLUSI INNOVATIF sistem audio rumah walet ANDA.

Pernahkah ANDA mengalami masalah dengan CD-ROM mesin walet ANDA?

Optik rusak, karet rusak, gear rusak, barang terbanting rusak, motor ngadat, cdrom panas? Semua ini adalah masalah-masalah klasik yang PASTI akan dialami oleh pemilik rumah walet yang menggunakan CD-ROM / DVD-ROM yang dimodifikasi sebagai player. Belum lagi sekarang ini bukan hal gampang untuk dapat membeli CD-ROM autoplay, karena semua pabrik di dunia SUDAH TIDAK MEMPRODUKSI CD-ROM lagi, dan DVD-ROM yang ada dipasaran hampir semuanya sudah tidak bisa dimodifikasi Auto Play. CD-ROM yang Anda jumpai dan masih dijual saat ini adalah CD-ROM refurbish / daur ulang (CD-ROM bekas diganti dengan kotak baru)

Kenapa saat ini banyak orang tidak mau beralih ke MP3 Player yang banyak dijumpai di pasaran? Ada beberapa alasan fatal, antara lain :

- Kualitas. MP3 hanya bisa memainkan lagu dalam format kompresi ( 128 KBps, 32 Khz ) karena alasan penghematan memory, sehingga suara yang dihasilkan TIDAK NATURAL. Player seperti ini tidak dirancang untuk rumah walet.
- Kompatibilitas. Banyak MP3 player yang pilih-pilih jenis memory, dan tidak mendukung jenis memory dengan kapasitas besar (type HC-High Capacity), maksimal hanya 2GB
- Perlu modifikasi, tidak bisa beli langsung dipakai
- Dll


KHAWATIR.....??


Piro SSCD Player juga didesign untuk dapat bekerja secara otomatis ( Auto Play, Auto Repeat ), serta dirancang untuk dapat dipakai tanpa perlu modifikasi dan instruksi yang berbelit-belit.

Fitur-fitur yang ada pada Piro SSCD Player :

- Input : DC 6V sampai DC 15V
- Satu-satunya Player yang bisa memainkan lagu dengan kualitas CD (WAV) : Windows PCM 16 bit, 44.100 KHz, 1411 Kbps, stereo
- Satu-satunya Player yang bisa mendukung semua format MP3 (dari 24Kbps/12KHz sampai 320Kbps/44KHz, MPEG 1 Layer III, MPEG 2 Layer III dan MPEG 2.5 Layer III)
- Satu-satunya Player yang bisa membaca semua type memory ( dari 16 MB sampai jenis High Capacity HC 32 GB ) dalam format SD, MiniSD, MicroSD, MMC, RSMMC, MiniMMC dan MicroMMC
- Didesain untuk JALAN NON-STOP 365 hari 24 jam
- Auto Play dan Auto Repeat
- Suara Hi-Fi, Total Harmonic Distortion THD.

Dengan SSCD Player ANDA bebas khawatir dan hanya ada satu ucapan : "Bye-bye CDROM...!!!"

Bagi yang berminat untuk membeli alat tersebut di atas dapat menghubungi saya melalui email henmulia@yahoo.com

Selasa, 03 Februari 2009

Pancing Walet Bersarang

Pancing Walet Bersarang
Oleh trubusid
Rabu, Oktober 08, 2008 11:12:22 Klik: 546

Saya baru membangun satu lantai tambahan di atas rumah walet. Bangunan dasar berukuran 9 m x 4 m x 4 m dan lantai kedua berukuran 9 m x 4 m x 2,5 m. Untuk menurunkan suhu dan menambah kelembapan, di lantai kedua dibuat aliran air melalui pipa PVC berlubang setiap 1,5 m yang dipasang setinggi 1,5 m. Sprinkle kabut dipasang di beberapa tempat: depan pintu keluar-masuk, atap, dan kolam air di luar bangunan. Bagian plafon dicor plat besi setebal 12 cm. Lantai pertama dan kedua dihubungkan voil berukuran 1 m2. Lubang keluar-masuk walet di lantai dasar menghadap timur dan utara. Di lantai kedua, lubang menghadap utara dan selatan. Suhu dan kelembapan dalam rumah pada siang hari berkisar 27-28oC dan 85%. Saat ini sriti sudah mau menetap di lantai dasar sebanyak 86 sarang. Walet pun mau keluar-masuk ruangan melalui lubang atas dan bawah, meski belum mau menetap. Yang ingin ditanyakan:

Apakah dapat dilakukan putar telur sriti dengan walet? Jika ya, berapa jumlah telur yang diganti agar populasi walet dapat berkembang?
Bagaimana mengubah lubang keluar-masuk walet di lantai dasar yang menghadap timur yang selama ini menjadi jalan masuk sriti?
Apakah iklim mikro dalam rumah walet sesuai?
M. Nasuki, SH
Jl. Ngagel Tama 14
Surabaya 60283


Boedi Mranata,
Sulit memancing walet masuk dan bersarang tanpa dilakukan putar telur. Namun, teknik putar telur sebaiknya dilakukan bila sarang sriti mencapai 100 buah. Jika kondisi itu belum tercapai, dikhawatirkan populasi sriti menurun drastis, sementara populasi walet belum berkembang. Idealnya, perkembangan populasi walet dan sriti terjadi bersamaan sehingga saat populasi walet banyak, populasi sriti terhambat dengan sendirinya. Sebab bila jumlahnya seimbang, walet yang bertubuh lebih besar bisa mendesak keberadaan sriti yang sosoknya lebih kecil.
Selain teknik putar telur, penggunaan CD pemancing pun dapat mengundang walet masuk. Suara-suara dari CD itu dapat mengecoh walet, sehingga mengira di dalam rumah sudah banyak populasi walet.

Lubang keluar-masuk walet sebaiknya diletakkan pada lebar tembok terpendek, 4 m. Dengan demikian meskipun tembok itu menghadap ke timur, cahaya matahari menembus ke dalam ruangan lebih sedikit sehingga kondisi ruangan menjadi remang-remang. Jika masih terlalu terang, bagian luar lubang masuk dapat diberi overstack yang menjorok ke depan dengan ukuran panjang dan lebar: 1,5 m dan 4 m. Lubang keluar-masuk walet yang tidak diinginkan dapat ditutup perlahan-lahan selama 2 bulan.
Misalnya, lubang berukuran 80 cm x 15 cm, dapat ditutup bertahap 20 cm mulai dari bagian tepi. Selang 2 minggu ditutup kembali selebar 20 cm. Begitu seterusnya hingga lubang itu dapat tertutup rapat.
Iklim mikro rumah walet Anda sudah ideal. Namun, sebaiknya cahaya yang masuk ke rumah diperkecil agar kondisi dalam rumah walet tidak terlalu terang.***

Sarang Sriti Versus Walet

Sarang Sriti Versus Walet
Oleh trubusid_admindb
Senin, Februari 02, 2009 15:51:22 Klik: 45

Saya memiliki rumah walet yang mulai dihuni sriti. Yang ingin ditanyakan:

Bagaimana cara mengubah sarang sriti menjadi sarang walet?
Apa perbedaan sarang sriti dan walet?
Bagaimana cara memperoleh sarang walet berkualitas tinggi?
Ke mana saya menjual sarang walet? Adakah katalog harga penjualan sarang itu?
Supriyanto
Jl. Daan Mogot Km. 17
Kalideres, Jakarta Barat 11850


Boedi Mranata

Teknik mengubah sarang sriti menjadi sarang walet dilakukan dengan putar telur. Setiap kali sarang sriti berisi telur langsung diganti dengan telur walet. Telur yang ditukar sebaiknya memiliki umur sama agar sriti tidak merasa dibohongi. Di rumah sriti yang belum banyak walet, keberhasilan penetasan 10%. Artinya dari 100 telur menetas, yang hidup sampai dewasa 10 ekor. Namun, begitu populasi walet mencapai 100 sarang, sukses penetasan mencapai 30%. Pergantian telur harus sesering mungkin karena populasi terlalu sedikit menyebabkan walet merasa tidak aman di tengah-tengah koloni sriti. Ruangan sebaiknya dibuat lebih gelap agar anak walet betah dan sriti yang suka terang pindah ke tempat lain.

Sarang sriti Collocalia esculenta dibangun dari material seperti daun cemara, rumput, dan lumut laut yang direkatkan oleh air liur burung. Sedangkan sarang walet Collocalia fuciphaga murni terbuat dari liur walet. Harga sarang sriti lebih murah, berkisar Rp500.000/kg; sarang walet Rp 10-juta/kg tergantung kualitas.

Ada dua kriteria untuk menentukan kualitas sarang walet.
Yang pertama bentuk sarang.
Sarang utuh seperti balkon, tidak pecah, dan punggung mulus bernilai jual tinggi. Bentuk sarang sempurna seperti itu dihasilkan dari rumah walet yang memiliki kelembapan optimal 80-90% dan dipanen tepat waktu. Bila kelembapan terlalu tinggi, sarang akan lembek dan berjamur. Sebaliknya bila udara terlalu kering, sarang rapuh dan mudah remuk.
Berikutnya warna sarang.
Warna asli sarang walet putih. Namun, warna itu dapat berubah kekuningan hingga merah darah. Apabila sirkulasi udara dalam rumah tidak optimal, misalnya udara terlalu basah, sarang akan berjamur, kusam, dan berubah kecokelatan. Sarang kusam sulit dijual karena standar yang diminta berwarna putih, kuning, atau merah cerah.

Anda dapat menjual sarang sriti dan walet ke pengepul atau langsung ke eksportir. Harga sarang fluktuatif tergantung kualitas dan permintaan konsumen. Sampai saat ini belum ada katalog standar harga sarang walet. Namun, bila Anda sudah berhasil memproduksi dan menjual sarang ke beberapa pengepul, otomatis harga standar sarang dapat ditentukan.***