Senin, 29 Juni 2009

Clove and Tobacco

This evening I received call from my blog reader. He asking why beside of Aroma in mineral water bottle has Kretek Cigarettes "GG"? Are you promoting GG or your aroma sponsored by GG?
I said to him that GG is my favorite cigarettes.

Is your aroma containing tobacco smell?? Ha ha ha ha ha.... not only tobacco, I also using clove, that's why I ever told to my friend that my aroma is Herbal Aroma Therapy for Swiftlet.





He asked me "Are you kidding?". May be no may be yes...! The concept how to make swiftlet addicted and become sales promotion girls to attract their friends to come to our birds house.

"Wah.. you will make the swiftlet run away from BH" he replied to my answer. Ha ha ha ha.... run away from whose BH???? and will they stay to our BH which use your aroma? Ha ha ha!

Aroma Pemikat dalam Kabut

Aroma Pemikat dalam Kabut
Oleh trubusid_admindb


RUMAH WALET BERUKURAN 4 M X 12 M SETINGGI 2,5 LANTAI DI CIAMPEA, BOGOR, JAWA BARAT, ITU BARU BERUMUR 1 BULAN. NAMUN, KETIKA RUMAH BARU ITU DIBUKA, KOTORAN WALET BERTEBARAN MENYELIMUTI LANTAI. PUN CERICIT WALET TERDENGAR RAMAI BAK RUMAH UMUR 1 TAHUN.

Menurut Ir Lazuardi Normansah, sang pemilik, rumah itu telah dihuni sekitar 200 walet. Normalnya, rumah baru paling banter dihuni 20 walet atau bahkan hanya seriti. Hal serupa dialami Doni - nama samaran - peternak walet di Serpong, Tangerang. Tiap sore walet yang pulang dan menginap di rumahnya bertambah banyak. 'Walet-walet itu seperti membawa serta 'teman-teman' baru,' ujarnya.

Rupanya kedua peternak itu menggunakan aroma pemikat walet untuk memancing kedatangan Collocalia fuciphaga. Namun, penggunaannya lain dari biasa. Aroma itu dicampur dengan air dalam wadah tampungan mesin kabut melalui selang. Perbandingannya 2 atau 3 bagian air dan 1 bagian aroma pemikat. Lantas mesin yang biasa digunakan pekebun tanaman hias itu diletakkan di antara roofing room dan nesting room dan dioperasikan selama 3 - 5 menit.

Tiap jam 5 pagi saat walet berangkat mencari pakan dan tiap sore saat rombongan besar walet pulang, mesin kabut itu dioperasikan. Ketika walet-walet itu beterbangan melewati nesting room dan roofing room, kabut aroma pemikat menempel di bulu-bulu mereka. Esok harinya saat mencari pakan dan kembali pulang, anggota rombongan bertambah besar. Walet liar terpikat ikut rombongan pulang. 'Diduga aroma yang menempel di tubuh walet menarik walet lain (bukan penghuni, red) ikut masuk,' kata Lazuardi. Itulah yang menyebabkan populasi waletnya berkembang sangat pesat.

Walet muda
Aroma pemikat walet memang jamak digunakan peternak untuk memancing kedatangan walet di rumah-rumah walet baru. Cara dan bahan yang digunakan beragam, mulai dari yang sederhana sampai kompleks. Ada yang melaburkan telur itik ke dinding ruangan, mengoleskan air cucian sarang pada lagur, dan merendam sarang tiruan dalam ramuan pemikat komersial. Itu karena walet memang tertarik beberapa aroma tertentu. 'Aroma ikan, udang kering, dan tembakau adalah beberapa contoh yang disukai walet,' ujar Lazuardi. Sebaliknya, aroma durian dan cumi-cumi tidak disukai.

Menurut Harry KNugroho, praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara, aroma pemikat walet selama ini hanya digunakan di dalam rumah walet. 'Fungsinya untuk menghilangkan bau semen sehingga burung merasa nyaman dan seolah-olah rumah walet sudah lama dihuni,' ujar Harry. Belum pernah terpikirkan aroma pemikat digunakan untuk memikat walet saat berada di udara bebas.

Hal itu juga diakui Lazuardi. 'Aroma pemikat walet memang tidak bisa berfungsi untuk memikat walet dari jarak jauh layaknya tweeter (pengeras suara, red),' ujarnya. Jika dioleskan ke lubang keluar-masuk, paling banter bisa tercium walet dari jarak 10 - 11 meter. Nah, jika aroma itu melekat di bulu-bulu walet, otomatis bisa terbawa ke jarak yang lebih jauh bersamaan walet pergi mencari pakan. Aroma pemikat disemprotkan 2 kali sehari untuk mengantisipasi jika lebih cepat menguap di udara bebas.

Kendati begitu, berdasarkan pengalaman pemilik jasa konsultasi Multi Walet itu, aroma pemikat tidak menarik perhatian walet yang sudah pernah bersarang atau bertelur di tempat lain. Sebab, burung-burung itu sudah mempunyai ikatan dengan telur atau anak-anaknya di rumah lama.

Kecuali jika di tempatnya bersarang ada gangguan yang menyebabkan walet harus mengungsi. Misalnya, sarang dipanen tidak beraturan atau terjadi kebakaran. 'Aroma pemikat hanya efektif untuk memancing walet-walet remaja yang belum mempunyai pasangan atau baru belajar terbang,' ungkap Lazuardi.

Baru
Kemampuan aroma walet memikat sasaran tergantung bahan yang digunakan. Lazuardi menggunakan ramuan baru yang telah diujinya selama 4 tahun. Bahan utamanya air hujan, liur walet, dan sejenis rumput-rumputan diramu dengan 4 bahan alami lain. 'Efeknya paling bagus jika ramuan sudah mengeluarkan gas,' ujarnya. Cirinya, jerigen tempat ramuan itu tampak menggembung, dan cairan berubah warna dari biru menjadi keabu-abuan.

Untuk aplikasi langsung dimasukkan ke mesin kabut, dan dioleskan pada lagur serta lubang keluar-masuk. Aroma pemikat itu baunya akan semakin kuat dan tahan lama jika dioleskan ke lagur yang porous seperti kayu sengon. Aroma itu bisa tahan 2 - 3 bulan di dalam ruangan dan sekitar 2 minggu di lubang keluar-masuk.

Pengolesan di lagur dan lubang keluar-masuk walet efektivitasnya tinggi. Dampak itu dirasakan Jayadi. Awalnya peternak di Jakarta itu hampir putus asa lantaran rumah walet yang baru dibeli ternyata sudah kosong selama 2 tahun. Iseng-iseng ia mengoleskan 2 jerigen ramuan pemikat walet ke sirip dan lubang keluar masuk. Rumah walet lantas digembok dan ditinggalkan begitu saja selama 4 bulan.

Ketika ditengok kembali, hasilnya membuat Jayadi kaget. Di dalam rumah 3 lantai seluas 200 m2 itu ia menjumpai 80 sarang walet. Kini setelah 8 bulan, sudah ada 255 sarang walet di rumah itu. Umumnya, burung walet baru bersarang di rumah baru setelah 5 - 8 bulan. Bahkan di rumah walet Jayadi terdahulu, setelah 2 tahun baru terdapat 50 sarang.

Meski begitu, para peternak sepakat: tidak boleh hanya mengandalkan aroma pemikat. Kondisi mikro rumah tetap harus diutamakan. Meski diolesi ramuan pemikat, jika rumah kotor dan kondisi lingkungan tidak sesuai, walet tidak akan merasa nyaman. Untuk itu Lazuardi menyarankan kelembapan rumah harus tetap dijaga di kisaran 80 - 90% dan suhu 28 - 30oC. Jika sudah begitu, impian peternak untuk mendengar cericit walet di rumah baru, bukan sekadar impian. (Tri Susanti)

Sour Soup Sound

Sabtu, 27 Juni 2009

AROMA

After Seminar Jakarta about aroma for swiftlet last year, we did continue develop our aroma for swiftlet.
Supporting by our friends in Indonesia and Malaysia, we did research and develop aroma which effective to attract birds to stay and encourage them to build nests.

Whateven colour you want its depend on what kind of materials or ingridient you are using.
You can make Orange Fant..... A...., Green Fant.....A.... Koka Kola, Spirite or RED FANT..... A...


(Orange Fant..... A....)
























(Green Fant..... A....)

Our team have do canning the aroma in can to make us easy to use and apply in our BH. Do you want to know more about aroma? Please come to our seminar.
Don't worry about fever because of H1N1, H1N1 can not kill you but swiftlet fever will "KILL" you...



For all of you, our friends from Malaysia, Singapore, Thailand, Brunei and Indonesia, who have registered for our seminar, see you in Jakarta on 8 August 2009.

How low can we go??

Kamis, 25 Juni 2009

Avoid to Build BH Near to Base Tranceiver Station (BTS)
























One of the reasons to avoid to build BH near base Tranceiver Station is because when the BTS transmit and/or receive signal, the frequency interference will disturb swiftlet.
Proven that some BH near BTS, swiftlets population growing slow and also in BH using tranducer mist fogger the birds population growing slow.

So, please avoid to build BH near BTS, if you stil want to build at that location, please make sure your BH should be at least 100 meters from BTS.

Selasa, 23 Juni 2009

Horn Speaker











This Horn Speaker created by my friend and has been use in his bird house. Proven that horn speaker more better than PVC bazooka.

Below is article about horn speaker:

Horn speaker
From Wikipedia, the free encyclopedia

Horn loudspeaker with a sealed box driver mounting A horn speaker is a complete loudspeaker or loudspeaker element which uses a horn to increase the overall efficiency of the driving element, typically a diaphragm driven by an electromagnet. The horn itself is a passive component and does not amplify the sound from the driving element as such, but rather improves the coupling efficiency between the speaker driver and the air. The horn can be thought of as an "acoustic transformer" that provides impedance matching between the relatively dense diaphragm material and the air of low density. The result is greater acoustic output from a given driver.

The narrow part of the horn next to the speaker driver is called the "throat" and the large part farthest away from the speaker driver is called the "mouth".

Horns have been used to extend the low frequency limit of a speaker driver—when mated to a horn, a speaker driver is able to reproduce lower tones more strongly. The flare rate and the mouth size determine the low frequency limit. The throat size is more of a design choice. Horns have been known to extend the frequency range of a driver beyond five octaves.

Horns have been used to modify the directional characteristics of the produced sound waves. Horizontal coverage angle is the primary determinant of horn width, and vertical coverage angle determines horn height. On- and off-axis performance will differ depending on the shape of the horn. Compromises in performance such as distortions of the wavefront must be balanced against the design goal.

Operation
Acoustic horns convert large pressure variations with a small displacement into a low pressure variation with a large displacement and vice versa. It does this through the gradual, often exponential increase of the cross sectional area of the horn. The small cross-sectional area of the throat restricts the passage of air thus presenting a high impedance to the driver. This allows the driver to develop a high pressure for a given displacement. Therefore the sound waves at the throat are of high pressure and low displacement. The tapered shape of the horn allows the sound waves to gradually decompress and increase in displacement until they reach the mouth where they are of a low pressure but large displacement.

A modern electrically driven horn speaker works the same way, replacing the mechanically excited diaphragm with a dynamic or piezoelectric speaker.

Modern horn designs typically feature some form of conical, exponential or tractrix taper. Roughly speaking, the slower the flare rate, the deeper and lower frequencies the horn will reproduce for a given length of horn. For example, a horn area growth rate of 30% per foot will allow reproduction down to about 30 Hz; 1000% per foot (10 times area) per foot provides midrange reproduction; 100 times area per foot is used in high frequency horns.

Modern high output horns also make the throat area of the horn smaller than the cone diaphram area. This is called the "loading" or "compression" ratio of the horn. The compression ratio is the cone area divided by the throat area. Typically for bass and midrange frequency the compression ratio is from (1.5 to 1) low compression to normal compression (2 to 1) to high compression (3.5 to 1). High frequency tweeters sometimes have compression ratios as high as 10 to 1.

The higher the compression the greater the horn's ability to properly couple the diaphragm to the air at the horn's mouth, increasing efficiency, until the compression ratio is so high that it actually begins to impede cone motion. At this point the maximum sound output power from the horn (at a given distortion) will be reduced. To demonstrate this at an extreme, place a cone woofer face down on a concrete floor. The compression ratio will be very high, however sound output from the back of the speaker will be quite low.

Senin, 22 Juni 2009

Thailand's Dessert


Last week I went to Thailand, and I take opportunity go to Bangkok - Chinatown at night to try sea food and Chinese Food which my Thai friend told me cheap and delicious.

After have diner, I walk around Chinatown. Many hawkers selling many kind of goods and food including dessert, i.e.: bird nest soup, wedang ronde, white and black mushroom, etc.
The interesting, they are selling bird's nest soup on walking street in front of their bird's nest shop, and the price between 50 Bath to 300 Bath per bowl.

















Burapa Bird's Nest selling bird's nest soup start from 100 Bath to 1,000 Bath.

This is one of strategy to increase demand on bird's nest. We should follow their strategy to increase bird's nest sales and direct serve to customer. Good and healthy dessert can find easily in Chinatown - Bangkok.
How about in Indonesia?

Minggu, 21 Juni 2009

LP AND SEMINAR

Do you want your birds house have multi layer of nests like pictures below?


(photo documentation by: WL1SGT)

Are the owner of this BH using swiftlet aroma or LP? The answer is NO.


(photo documentation by: WL1SGT)

The owner f this BH is my good friend and I ever visited his BH 2 year ago as I ever wrote in this blog.

He never using LP and not use swiftlet parfume to attract birds to stay and encourage them to build nests or become multi layer nests.
When I visited his BH I ever ask to him, are you using LUCK PORTION (LP)? He laughing.... yes, I am lucky because I have good location, I did swiftlet farming in correct time.

Is he ever attend seminar? NO NEED. He should be a speaker. One day I will invite him as speaker.

In my previous seminar, many of succesful swiftlet farmers, also son of Indonesia King of Swiftlet joined my seminar. For what they attended my seminar? Many reasons!!
They joined my seminar for gathering, sharing knowledge, to know new technic, to know problems which facing by others and how to prevent and solve the problems, and the important thing is they want to know how to make swiftlet aroma which effective to attract swiftlet, etc, etc....

Whether they get 10 score or 4 score, no problem for them, because they got many friends to sharing and after you attended my seminar you no need consultant anymore. You can become as consultant for your own BH, and you must become consultant of your own BH. Because you are every time can know your swiftlet behaviour, your BH condition, etc... so don't depend on CONSULTANT.
So, If you ask the consultant, need or no need to attend my seminar, they will say NO NEED. WHY? You think by yourself.


(photo documentation by: WL1SGT)


(photo documentation by: WL1SGT)

Rabu, 10 Juni 2009

TEKNIK MEMBUAT AROMA

Banyak teknik membuat aroma atau parfume untuk memikat walet.
Banyak formula dan ingredient yang digunakan untuk membuat aroma atau parfum walet.

Apakah dengan kotoran walet, minyak ikan, telur bebek, jus sarang burung walet dapat secara effektif digunakan untuk memikat walet?

Anda tidak puas dengan aroma atau parfume walet yang anda beli dari toko penyedia perlengkapan walet atau aroma buatan konsultan anda??

Bagaimana membuat aroma atau parfume walet yang effektif?

Bahan-bahan apa saja yang dapat digunakan untuk aroma atau parfum sebagai pemikat walet?

Bagaimana pengaplikasiannya secara effektif dan effisien di dalam rumah burung walet?

Temukan jawabannya hanya di SEMINAR BUDIDAYA DAN BISNIS WALET
di Jakarta, tanggal 8 dan 9 Agustus 2009.


Kami akan kupas tuntas, blak - blakan, tanpa BASA BASI.

Teknik Memikat Walet dengan Aroma

Teknik Memikat Walet dengan Aroma

Ditulis oleh Newsroom

Salah satu cara memancing walet agar masuk ke gedung walet yang sudah disediakan ialah dengan teknik aromatik. Yaitu, menebarkan parfum atau aroma walet pada sekitar gedung. Aroma ini akan merangsang penciuman mereka sehingga tertarik untuk masuk ke dalam gedung. Sebab, mereka mengira bahwa gedung ini telah dihuni oleh walet lain dan memiliki karakteristik yang mereka sukai dari aroma tersebut.

Aroma walet biasanya dibuat dengan cara memanfaatkan kotoran dan cairan air liur walet yang berasal dari perendaman sarang, selanjutnya campuran tersebut dioleskan ke dinding-dinding gedung. Aroma-aroma tersebut bertujuan untuk memberikan bau yang khas di gedung baru.

Jika Anda ingin membuat aroma walet, sebagaimana dijelaskan dalam buku “Buku Pintar Budi Daya dan Bisnis Walet”, Anda bisa membuatnya dari bahan-bahan dan teknik sebagai berikut.

A. Kotoran Walet
Dalam penggunaannya, kotoran walet ditebarkan secara merata pada lantai, dinding, dan ventilasi gedung. Sebelum ditebar ke lantai, sebaiknya lantai diberi pasir agar tidak terlalu lembap. Kotoran yang digunakan adalah kotoran walet yang masih baru. Biasanya, aroma yang dihasilkan akan bertahan hingga 3 minggu. Sementara, jika ingin menebarkan kotoran walet ke dinding gedung, sebaiknya tidak melemparnya langsung ke muka dinding. Namun, kotoran walet tersebut sebaiknya dicampur dulu dengan air, kemudian hasil rendamannya disemprotkan ke dinding.

Berikut ini langkah-langkah membuat larutan dari kotoran walet.
1. Siapkan 10 kg kotoran walet dan 5 liter air, campur kedua bahan tersebut hingga merata.
2. Endapkan cairan tersebut selama 5 hari. Setelah itu, endapan disaring untuk memisahkan antara bahan dengan cairan.
3. Air hasil saringan dicampur dengan minyak ikan dengan perbandingan 3 : 1, aduk hingga rata.
4. Semprotkan cairan tadi ke seluruh dinding atau tembok gedung walet. Penyemprotan dapat dilakukan sesering mungkin, paling tidak seminggu sekali.

Dalam mengaplikasikan kotoran harus dilakukan secara tepat dan tidak berlebihan. Pasalnya, kotoran walet merupakan limbah yang dapat menimbulkan berbagai gas seperti amonia (NH3), asam belerang (H2S), dan karbondioksida (CO). Akibatnya, udara di dalam gedung menjadi tercemar dan tidak sehat.

B. Jus Sarang Walet
Aroma walet juga dapat diciptakan dari air hasil rendaman sarang. Biasanya, sarang walet yang direndam adalah sarang walet yang kualitasnya tidak baik, misalnya sarang-sarang yang telat panen yang umumnya berwarna cokelat, sarang yang mulai membusuk, atau sarang yang bentuknya tidak sempurna, sehingga jika dijual pun harganya sudah menyusut.
Berikut ini cara membuat aroma walet dari rendaman sarang walet.
1. Siapkan sarang walet yang berkualitas jelek, lalu rendam selama satu jam di dalam air.
2. Blender sarang hingga hancur. Aplikasikan jus sarang walet dengan kuas ke nesting plank. Perlu diperhatikan, bagian sirip yang diberi ramuan ini adalah bagian yang terlindungi dari paparan cahaya langsung. Hal ini dimaksudkan agar bau dari ramuan ini dapat bertahan lebih lama. Sirip yang telah menyerap cairan sarang akan memudahkan walet dalam merekatkan liurnya, terutama pada walet muda yang baru pertama kali membuat sarangnya. Jadi, cairan ini berfungsi sebagai landasan yang mempermudah walet dalam membangun sarang.

C. Telur Bebek

Selain menggunakan kotoran atau air hasil rendaman sarang walet, pembudidaya walet juga bisa menggunakan telur bebek atau itik aroma walet. Cara mengaplikasikannya cukup mudah. Sediakan beberapa butir telur bebek atau itik, tergantung luas bangunan. Bagian telur yang digunakan adalah putih telurnya saja. Putih telur tersebut selanjutnya dicampur dengan air secukupnya hingga encer. Hasilnya, larutan tersebut disemprotkan ke nesting plank.

D. Aroma Jadi Hasil Pabrik

Saat ini, di toko-toko perlengkapan walet juga tersedia parfum walet yang sudah jadi sehingga pembudidaya yang baru terjun ke bisnis ini tidak perlu repot membuat parfum walet secara manual yang bahan-bahannya agak sulit didapat. Parfum walet biasanya tersedia dalam berbagai merek dan kemasan. Anda tinggal memilih parfum mana yang sesuai dengan lokasi gedung walet Anda.

Cericit Walet Hadir di Parepare

Oleh trubusid_admindb
Senin, Juni 01, 2009 06:59:50

'TANGGAL 9, BULAN 9, TAHUN 2007,' UJAR JERRY ANGKAWIJAYA, PETERNAK WALETDI PAREPARE, SULAWESI SELATAN. ANGKA ITU TEREKAM BAIK DI BENAK JERRY. MAKLUM, ITULAH SAATPERTAMA KALI SI LIUR EMAS MASUK KE BANGUNAN WALET 20 M X 50 M BERLANTAI 1 MILIKNYA YANG 5 TAHUN KOSONG. POPULASI WALET KINI MENCAPAI 5.200 EKOR DENGAN 1.300 SARANG.

Awalnya bangunan rumah bertembok beton yang berdiri pada 2000 adalah gudang keramik. Maklum, Jerry adalah pengusaha keramik dan penyedia bahan bangunan. Di sana setiap pagi dan sore ratusan Collocalia fuciphaga berseliweran di atas atap bangunan yang terbuat dari seng. Melihat kenyataan itu, 2 tahun kemudian Jerry mengubah gudang menjadi rumah walet. Apadaya, 'Walet hanya terbang di atas atap, tetapi tidak masuk,' ujar pemilik UDArtha Prima itu.

Padahal ruangan sudah dirombak demi kenyamanan walet. Jerry menambahkan lagur, menyekat ruangan menjadi 17 kamar berukuran 4 m x 8 m, dan membuat 60 lubang ventilasi berdiamater 10 cm. Pintu gudang diubah menjadi pintu masuk walet dengan menambahkan bata sehingga ukurannya menjadi 50 cm x 60 cm.
Atur kelembapan

Baru setelah berkonsultasi dengan pakar walet di Serpong, Tangerang, Banten, biang kerok sulitnya walet masuk rumah terungkap. Rumah walet milik Jerry kurang sesuai dengan habitat walet. Perlengkapan pendukung kenyamanan rumah walet seperti bak berisi air atau mesin pengabut peningkat kelembapan tak terpikirkan oleh Jerry.

Suhu dan kelembapan dalam rumah sekitar 29 - 30oCdan 75 - 80% sebetulnya bisa ditolerir walet. Namun, pada malam hari suhu menjadi sangat dingin dan lembap. Belum lagi siang hari, sinar matahari yang masuk terlalu terang sehingga mengganggu kenyamanan walet.

Nah, untuk mencegah perubahan drastis itu Jerry mengubah lingkungan mikro dengan menambahkan 5 mesin pengabut yang dihidupkan setiap pukul 11.00 - 15.00 WITA. Agar panas sinar matahari siang tidak leluasa masuk, di bawah atap seng dicor beton setebal 1 bata atau 5 cm. Lainnya, ia menanam pohon sukun dengan jarak

300 m mengitari bangunan itu. Selain itu, di salah satu pojok ruangan dibuat kolam air yang ditutup kawat kasa. 'Supaya kelembapan terjaga. Sementara kasa menghindari perkembangbiakan nyamuk,' kata pria 50 tahun itu.

Perubahan itu awalnya belum cukup mengundang walet masuk. Sebab itu pula Jerry memasang CD pemanggil walet yang dihidupkan selama 24 jam. 'Walet akan mengikuti sumber suara untuk masuk,' katanya. Sebelum masuk walet biasanya terbang mengitari rumah karena itu Jerry membuat roofing area (tempat bermain, red) seluas 300 m2 yang mengelilingi bangunan. Hanya dalam hitungan bulan, pada pertengahan 2007 puluhan walet masuk dan mulai bersarang.
Migrasi

Jerry termasuk beruntung karena rumahnya langsung dimasuki walet, meski perlu menanti selama 5 tahun. Menurut Hary K. Nugroho, pakar walet di Kelapagading, Jakarta Utara, Pulau Sulawesi didominasi sriti, populasi walet sangat sedikit. 'Untuk menghadirkan walet biasanya perlu dilakukan putar telur,' ujar Hary yang setiap tahun menyuplai 100.000 telur walet ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari Makassar itulah biasanya telur walet menyebar ke Parepare dan sekitarnya. Di Parepare sendiri sampai 1996 belum ada populasi walet. Bangunan-bangunan rumah walet mulai berkembang pada 2000, diawali dengan beberapa rumah di pusat kota. Berdasarkan pengamatan Mulyadi, praktikus walet di Serpong, Tangerang, penambahan populasi walet di Parepare demikian cepat karena limpahan walet migrasi dari daerah Balikpapan dan Samarinda, Kalimantan Timur.

Terbukti sebuah bioskop tua di tengah kota yang kebetulan dimasuki walet sudah menghasilkan 10 - 12 kg sarang sekali panen. Tentu saja setelah bioskop dirombak total menjadi rumah walet bertembok beton dengan 3 lantai. Jarak bekas bioskop tua itu hanya 4 km dari rumah walet milik Jerry. Itulah yang membuat berkah bagi Jerry. 'Walet-walet di sana pasti ada yang tertarik ke sini,' ucapnya.

Perkembangan walet di Parepare memang belum semaju sentra-sentra lain. Itu lantaran belum banyak investor yang masuk ke sana. 'Agak malas kalau harus putar telur (mengganti telur sriti dengan telur walet, red), karena butuh waktu lama,' tutur Hary yang sering berburu lokasi-lokasi potensial untuk walet.

Padahal, menurut Hary Parepare yang memiliki luas wilayah 99,33 km2 itu cocok untuk pengembangan walet. Bayangkan dari utara sampai selatan kota dikelilingi hutan yang menyediakan serangga sebagai sumber pakan. Pun letak Parepare yang dekat pantai dan banyak dikelilingi sungai. 'Walet tidak akan kekurangan pakan,' timpal Jerry. (Lastioro Anmi Tambunan)

Selasa, 09 Juni 2009

Kelelawar juga Memangsa Burung


Selama ini kita berpendapat bahwa kelelawar hanya memakan serangga dan buah-buahan dan jarang ditemukan bahwa kelelawar juga memangsa burung (termasuk juga memangsa burung seriti atau burung walet).

Tiga bulan lalu saya bersama dengan rekan saya, Aries T dan Aan W., pergi ke rumah burung walet yang berada di Banjarsari, Saketi - Banten.
Kami menemukan ada 2 ekor kelelawar di lantai 3 di dalam rumah burung walet (RBW), kami berusaha untuk membunuhnya, namun tidak satu kelelewar yang terbunuh... karena dengan sigapnya kelelawar tersebut terbang ke luar.
Aan pada waktu itu berpikir bahwa kelelawar tidak mengganggu burung walet, toh di habitat aslinya (gua) burung walet juga satu tempat tinggal dengan kelelawar.

Esok harinya kami masuk lagi ke dalam RBW, kami menemukan beberapa burung walet yang tinggal sayapnya saja dan darahnya masih segar. Kami berpikir bahwa tikus atau tokek yang memangsanya.
Namun, racun tikus yang kami pasang tidak disentuh oleh tikus. Pada hal sebulan sebelumnya kami menaruh racun tikus habis dimakan oleh tikus dan seminggu kemudian kami memasang umpan lagi, dan hanya sedikit racun tikus yang di makan. Dan kami menemukan banyak bangkai tikus baik di luar dan di dalam RBW. Sekarang racun tikus tidak dimakan, artinya populasi tikus udah jauh berkurang dan bahkan tidak ada.
Sebagai catatan: menu umpan tikus yang digunakan selalu berganti, hal ini dimaksudkan agar tikus tidak "bosan".
Kami berpikir bahwa pemangsa yang masih ada adalah tokek.
Saya meneliti ruangan yang ada di lantai 3, saya menemukan banyak bulu burung walet di lantai tepat di bawah tempat kelelawar biasanya bergelantung.
Pada waktu itu saya berpikir, apakah mungkin kelelawar memangsa burung walet? di tengah-tengah keraguan saya, saya mencoba mencari tahu / browsing di internet dan ternyata benar bahwa kelelawar memang memangsa burung.

Berikut ini adalah artikel yang saya baca, yang dimuat di Kompas Cyber Media.

Washington : Kelelawar, hewan yang dipuji karena memangsa nyamuk dan hama lain sekaligus dimaki karena suka menghisap darah dan menyebarkan rabies, sepertinya memiliki kebiasaan buruk lain. Mereka diduga doyan pula makan burung berkicau.

Beberapa peneliti Spanyol dan Swiss mengaku telah menemukan bukti kontroversial bahwa sejenis kelelawar besar sering memangsa burung-burung kecil ketika mereka bermigrasi di kegelapan malam sepanjang Mediterania.

Para peneliti mengatakan, kelelawar-kelelawar malam raksasa yang memiliki bentang sayap hingga 45 centimeter tersebut, hampir sepenuhnya makan serangga sepanjang musim semi. Tapi mereka mengubah menu utamanya menjadi daging burung-burung selama musim gugur.

Selama ini tidak ada hewan lain yang memangsa burung-burung dengan pola migrasi malam hari itu. Dan sepertinya jenis kelelawar ini pun belum lama mencoba jenis makanan baru tersebut. “Selama bebeapa juta tahun, kelelawar belajar memakan berbagai jenis makanan, termasuk serangga, sari bunga, buah-buahan, hewan-hewan kecil, bahkan darah,” ujar Ana Popa-Lisseanu dan Carlos Ibanez dari Badan Penelitian Ilmiah di Seville, Spanyol. “Bukan tidak mungkin kini mereka belajar makan burung.”

Pada mulanya para peneliti hanya menemukan bulu-bulu burung dalam kotoran kelelawar. Hal ini menimbulkan pertanyaan, di mana sebagian peneliti yakin kelelawar-kelelawar itu secara tidak sengaja menyantap bulu-bulu yang terbang di udara.

Namun untuk meyakinkan pendapat itu, para peneliti kemudian menganalisa darah kelelawar yang diduga memangsa burung. Mereka meneliti senyawa kimia dalam darah kelelawar guna mengetahui apa yang telah dimakan hewan-hewan tersebut.

Akhirnya ditemukan bukti cukup kuat bahwa mamalia-mamalia terbang itu hanya makan serangga pada musim panas, makan sedikit burung di musim semi, dan pada musim gugur, mereka lebih suka menyantap burung. ini mengikuti jadwal migrasi burung berkicau dari Afrika kembali ke Eropa yang berlangsung di musim gugur.

Burung-burung ini sebagian besar berukuran kecil, dengan rata-rata massa tubuh hanya 20 gram. Merekalah yang kemudian menjadi mangsa empuk kelelawar-kelelawar besar dari jenis Nyctalus lasiopterus. Sejauh ini tidak ada pemangsa lain yang dilaporkan menyergap kawanan penerbang malam itu.

Sumber: Reuters