Rabu, 28 Januari 2009

Swiftlet birds House is ASSET?

Many peoples think that swiftlet birds house is asset and can generate cash for them. May be yes may be no.
The birds house as asset if the BH can produce bird nests more than what we spend. If your BH can not produce nests and the income less than your expenses, your BH is liability.

Three years ago, my friend's BH already have +/- 200 nests and he not daring to harvest it. Every time he said that his expenses for BH Rp. 1.500.000.- per month and his BH until now not generate cash yet.

I said to him that his BH can be as Asset, if he want. You must harvest the BN. He said that he not daring to harvest it and not much money can get because many birds built their nest in fake nests or imitation nests. Also, if not harvest, the total nests will be double in 1 year. So, 1 year later the total nests will become 400 nests, within 3 years the total nest will be 1,200 nests. Woww... very very good...
But I told him that if that is happen is good, but if not happen how? We must think economically. If you harvest every 4 months, let say you get 100 nests (900 grams)and assuming the price Rp. 10,000,000.- per kg, you will get Rp. 9,000,0000.- every 4 months, or Rp. 2,250,000.- per month. With this income you can cover your BH expenses and you no need to spend money from your own pocket.
I joke with him, Ask your birds to make money for you, they must pay rent to you. Every month you spend Rp. 1.500.000,- for electricity, insecticide, tukang jaga, transportation, etc. And now, your BH already have nests but you are not daring to harvest, so your BH become liability.
Your BH now become your liability if it is not produce birds nests or you are not daring to harvest the nests. In this case, the BH is your Liability instead of ASSET.

My Singaporean friend is more smarter. He bought the 3 storey shoplot in Johor Baru. He bought this shoplot and financing by bank. 1st floor he rented to people for shop. From rent income he can pay the bank loan installment.
2nd and 3rd floor he converted to birds house. Eventhought his BH not produce the nests yet or still empty, his BH is an ASSET because he is not spend money for his BH / shoplot.

So, BH will become your Liability if your BH is not make or producing money and will become ASSET once your income from BH is higher than your BH exenpeses.
SMART WORK and HARD WORK.

Minggu, 25 Januari 2009

7 Tahun Rumah Burung Walet Kosong

Pagi hari ini saya masih ada di Pontianak. Hand phone saya berdering saat saya masih tidur. Saya melihat di layar HP ada "Missed Call", nomor telpon tersebut tidak saya kenal, namun dari kode area 031 saya mengetahui bahwa telpon tersebut berasal dari Surabaya - Jawa Timur.
Kemudian saya telpon kembali ke nomor telpon tersebut. Yang mengangkat telpon adalah seorang wanita, kemudian diberikan ke seorang pria.
"Pak Hen, masih ingat saya? Saya Pak M yang ikut seminar bapak di Jakarta." Demikian sapa beliau ke saya.
"Pasti pak, saya masih ingat Pak M, yang rambutnya putih dan berasal dari kota XXX - Jawa Timur". Apa kabar pak? dan bagaimana rumah burung waletnya? Jawab dan tanya saya ke beliau.
"Saya ini terharu dan gembira pak. Setelah saya pulang dari seminar di Jakarta, saya terapkan apa yang pak Hen sarankan terhadap RBW saya. Semua saya lakukan dan terapkan. Setelah saya renovasi sesuai dengan anjuran pak Hen, ternyata banyak burung yang mulai masuk dan menginap. Dan yang luar biasa pak, pada tanggal 23 Januari 2009, banyak sekali sampai tak terhitung jumlah burung yang masuk dan tinggal di dalam RBW dari jam 15.00 sampai jam 18.20, terus menerus burung berdatangan dan masuk ke dalam RBW saya. Saya sungguh berterima kasih kepada pak Hen, dan saya tadi telpon ingin menyampaikan kegembiraan saya. Penantian selama 7 tahun, RBW saya yang kosong kini telah berisi burung walet dan jumlahnya banyak sekali. Semua ini berkat bantuan pak Hen yang membantu saya dengan hati. Lebih lanjut saya mohon doa pak Hen untuk kesuksesan RBW saya. Dan jangan bosan ya pak, kalau saya terus menerus minta bantuan pak Hen."

Demikian yang disampaikan pak M kepada saya pagi ini. Pak M adalah salah satu peserta seminar Strategi Jitu Memikat Walet di Jakarta yang mempunyai masalah dengan RBW nya. Di sesi Study Kasus, pak M mengajukan kasus RBW nya kepada saya di depan seluruh peserta seminar. Peserta seminar menjadi saksi apa yang saya sarankan kepada beliau. Dan saya minta pak M untuk segera melakukan renovasi RBW nya sesuai dengan saran saya.

Tujuh tahun.... Penantian yang panjang, kini senyum pak M telah kembali. Pesan saya kepada pak M per telpon tadi adalah jangan karena gembira sehingga setiap hari masuk ke RBW. Sebaiknya 1 bulan sekali saja masuk ke RBW, bila tidak ada masalah.

Selamat pak M, semoga burung walet yang masuk dan tinggal di RBW pak M beranak pinak dan populasinya meningkat dengan cepat.

Senin, 05 Januari 2009

Yang Tak Biasa dari Makassar

Seri Walet (139): Yang Tak Biasa dari Makassar
Sumber: Trubus Online
Kamis, Januari 01, 2009


Ini pemandangan tak lazim di sebuah rumah walet di Bonerate, Makassar, Sulawesi Selatan. Aroma amonia menguar tajam begitu melangkah masuk ke dalam. Maklum, lantai bangunan itu becek oleh kotoran si liur emas. Si empunya tetap mempertahankan kondisi itu karena di sana setiap 2 minggu dipetik 5 kg sarang Collocalia fuciphaga.

Bangunan walet berlantai 4 di daerah Pecinan, Kota Angin Mamari, itu tampak seperti rumah biasa. Tak terlihat lubang-lubang udara dari pipa PVC di tembok yang menjadi ciri khas rumah walet. Pantas sirkulasi udara di dalamnya macet sehingga amonia yang muncul dari kotoran walet tercium tajam. 'Ini aroma rupiah,' ujar Boy Susandi, si empunya.

Rumah berumur 5 tahun itu justru menghasilkan sarang setelah ventilasi ditutup. Sebelumnya pada tahun pertama ketika ada lubang udara, sulit memancing walet masuk. Setelah ditelisik kehadiran lubang udara membuat kelembapan rendah, hanya 70%. Sebaliknya ketika ventilasi ditutup, kelembapan stabil di angka 85-90%. Buntutnya setahun berselang pada 2005 mulai dijumpai walet bersarang. Jumlahnya sedikit, baru hitungan jari. 'Namun jumlah itu terus meningkat. Kenaikannya mencapai 125% pada 2007,' kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana, Malang, Jawa Timur, itu.

Pintu besar
Menurut Mulyadi, praktikus walet di Serpong, Tangerang, rumah walet tanpa lubang angin sah-sah saja. 'Di Lampung banyak rumah walet yang berhasil tanpa lubang angin. Yang terpenting kelembapan tinggi dan suhu stabil,' ujarnya. Tanpa lubang angin berarti tidak ada uap air yang terbawa keluar oleh angin, sehingga kelembapan ruangan dapat dipertahankan.

Kelembapan tinggi di rumah walet itu bukan semata-mata tanpa ventilasi, tapi diciptakan Boy dengan pengabutan. Mesin yang digunakan Boy mampu mengabutkan ruangan seluas 30 m². Mesin itu dinyalakan 24 jam nonstop dengan durasi 5 menit/jam. Pada musim hujan mesin kabut tidak dioperasikan.

Sejatinya kelembapan dan suhu ideal harus diimbangi dengan sirkulasi udara yang lancar. Tersendatnya sirkulasi udara membuat amonia tertahan dan terus menumpuk. Pada konsentrasi yang tinggi dapat meracuni walet. Sebab itu menurut Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan, bangunan yang sirkulasi udaranya jelek produksi sarang biasanya tidak optimal. 'Bahkan lama-kelamaan walet tidak berkembang,' kata Boedi. Kondisi seperti itu mulai tampak di lantai dasar dan kedua yang hanya terdapat 300-400 sarang.

Walet lebih memilih menghuni lantai ke-3 dan ke-4 yang aroma amonianya tercium samar-samar. Sirkulasi udara di kedua tempat itu bagus karena berada di dekat lubang masuk burung di pojok kanan lantai 4. Pintu masuk berukuran 5 m x 1,5 m itu cukup mengalirkan udara segar. Itu diperkuat lagi oleh jarak antarlantai setinggi 4 m yang memudahkan pergerakan udara di dalamnya.

Konsekuensinya, ukuran pintu masuk yang besar membuat sinar matahari terlalu kuat menerangi ruangan tempat walet bersarang atau resting room. Padahal, Collocalia fuciphaga itu menghendaki kondisi remang-remang. Untuk mengatasinya Boy memasang layar terbuat dari bahan selebar 12 m x 8 m yang sekaligus menjadi pembatas lobi-tempat walet bermain-dan bersarang.

Di depan pintu masuk, Boy juga menambahkan dak air berukuran 13 m x 8 m yang menyerupai bak. Dak itu berisi air setinggi 7 cm beratap langit. Tujuannya, 'Selain mengurangi paparan sinar matahari, juga sebagai penahan panas,' kata Boy. Dak terbuat dari beton berlapis membran agar tidak bocor. Pada setiap tepi dak diberi pipa sepanjang 15 cm yang dibuat menyerupai orang-orangan sawah. Itu untuk mengelabui walet. Menurut pria kelahiran Makassar 37 tahun lalu itu walet akan mengira sedang berada di sawah, tempatnya mencari serangga.

Pecinan
Semua teknik itu dipakai Boy pada seluruh rumah waletnya yang berjumlah 5 buah. Contohnya rumah di dekat pelabuhan Soekarno-Hatta setinggi 3 lantai dengan luas bangunan 375 m². Rumah yang baru berumur sebulan itu langsung didatangi walet. Itu terlihat di dinding setebal 40 cm terdapat kotoran walet berwarna putih. Supaya walet tertarik masuk, Boy memasang 300 tweeter dengan volume maksimal. Lantaran walet senang air di antara dinding gedung dibuat kolam 8 m x 5 m yang dilengkapi selang berlubang. Dari sanalah air nantinya menyemprot seperti kabut.

Menurut Boy selain teknik, kunci sukses memancing walet masuk adalah memilih lokasi rumah yang tepat. Dari banyak tempat di Makassar, Boy menyukai daerah Pecinan yang meliputi 16 jalan utama seperti jalan Sulawesi, Bonarate, Flores, dan Biak. Alasannya, 'Daerah itu sudah lama jadi lintasan walet dan salah satu sentra walet terbesar di Sulawesi Selatan,' ucap Boy yang minimal mengamati selama 2 minggu untuk menentukan lokasi yang cocok. Jarak ke sumber pakan di Takalar juga dekat. 'Walet lebih mudah mencari serangga,' tambahnya.

Trubus menyaksikan keberadaan si liur emas di daerah yang dihuni mayoritas etnis Tianghoa itu saat senja tiba. Saat itu suara tweeter terdengar riuh-rendah dari setiap rumah walet. Gerombolan walet pun memenuhi langit di Pecinan. Bahkan langit di atas salah satu rumah walet tertua yang umurnya ditaksir 25 tahun itu tampak lebih hitam tertutup walet. Setiap 25 menit sekitar 600.000 walet masuk rumah itu. Dari informasi yang diperoleh, rumah 3 lantai berukuran 14 m x 27 m itu produksinya mencapai 1.000 kg/panen.

Desain bangunan rumah walet itu seperti normalnya rumah walet, banyak lubang angin. Untuk menarik walet, rumah itu juga memakai pintu yang lebar. Lantai atas bangunan terdapat bumbungan tempat walet bermain sebelum masuk ke rumah. 'Tapi bumbungan itu tidak diberi kolam,' tutur Boy.

Tertua di Sulawesi
Di luar Pecinan, di Makassar masih ada lokasi walet lain seperti di Sam Ratulangi, selatan Makassar. Namun, produksi jumlah sarang di sentra itu kalah dibandingkan di Pecinan. Maklum, bangunan-bangunannya relatif baru. Misal rumah 3 lantai milik Agung, baru dibangun pada 2005 sehingga produksinya tidak lebih daripada 5 kg. Meski demikian rumah-rumah walet di Makassar menjadi bukti pesatnya pertumbuhan si liur emas di Sulawesi Selatan. Berdasarkan pengamatan Boy saat ini sekitar 300 bangunan walet ada di Makassar.

Para investor tertarik membangun rumah walet di Makassar karena tingkat keberhasilan memancing walet cukup tinggi. 'Yang masuk ke dalam rumah mayoritas langsung walet,' kata Boy. Makassar salah satu sentra walet tertua di Pulau Sulawesi. 'Dahulu para pemilik rumah walet di Makassar seperti Manado banyak yang putar telur,' ujar Boedi. Nah, karena itu populasi walet di Makassar terus berkembang. Tak aneh kalau penampung sarang pun banyak berkeliaran di sana. Mereka membeli sarang, sarang dicuci, lalu langsung dibawa ke Surabaya. (Lastioro Anmi Tambunan)