Senin, 21 Januari 2008

Rumah Walet Yang Sukses



Tanggal 18 Januari 2008 saya melakukan kunjungan ke Singapore dalam kaitannya dengan pekerjaan utama saya sebagai pegawai di perusahaan swasta.

Setelah meeting, malam harinya saya bertemu rekan-rekan yang ada di Singapore dan Johore - Malaysia. Kami berbincang banyak mengenai rumah walet dan tidak ketinggalan juga mengenai suara walet yang dapat dipergunakan untuk memikat walet.

Tanggal 19 Januari 2008, dini hari saya bersiap-siap untuk berangkat ke Segamat- Johore, Malaysia. Jam 05.15, rekan saya, Lingsw menjemput saya lalu menjemput rekan sejawat saya yang tinggal di Singapore menuju Malaysia dengan mobil pribadi Lingsw. Karena terburu-buru, rekan sejawat saya lupa membawa pasport.... wah... cilaka, kami sudah sampai di Singapore Immigration dan dalam antrian sehingga kami tidak dapat memutar arah.... Pasport kami dan ID card Malaysian rekan kami ditahan dan diproses di kantor imigrasi.... tapi inilah Singapore.... mereka memperlakukan kami dengan baik dan memperbolehkan kami untuk putar arah....untung... pasport kami berdua belum di chop, kalau tidak rekan sejawat saya harus pulang sendiri dan harus menyusul kami dengan menggunakan bus.... wah... karena dia too excited untuk melihat RUMAH BURUNG WALET yang SUKSES sehingga dia lupa segala-galanya ha ha ha James....

Kami sampai di Segamat jam 08.30, dan menuju rumah rekan kami, WL1SGT, salah satu peternak walet yang sukses di Malaysia, dan peternak walet pionner di Segamat, Johor.

Kami makan pagi bersama, dan setelah selesai makan pagi kami menuju ke RBW milik pak WL1SGT..... benar-benar hebat....

Saya sempat berbincang panjang lebar dengan Pak WL1SGT, dan saya sempat menanyakan kepada beliau apa kunci keberhasilannya. Beliau mengatakan bahwa kunci keberhasilannya dalam beternak walet adalah penguasaan teknik dengan benar, dedikasi dan tekun serta tidak pernah menyerah. Bagaimana dengan Hokki?? Secara implisit beliau mengatakan bahwa ada faktor tersebut. Hokki karena memiliki lokasi atau gedung yang berada di tempat yang benar, hokki karena masuk ke bidang ini tepat pada waktunya (right time), hokki karena ada kesempatan (opportunity).

Hasil panen dari RBW ini setahun 400 kg, berapa penghasilan yang diperolehnya dalam setahun?

Impian


Kapan bisa punya private jet plane seperti ini?? Sayapun belum punya lho...
Ini adalah pesawat pribadi milik Dr. Lyon, pemilik Alltech.
Mimpi kali ya punya pesawat pribadi? Mungkin dulu Dr. Lyon juga mimpi dan mungkin juga tidak pernah membayangkan atau mimpi akan mempunyai perusahaan besar dan memiliki private jet plane, tapi kemauan dan dedikasinya mengembangkan biotechnology telah membuatnya menjadi kaya raya...
Photo tersebut di atas diambil pada saat Dr. Lyon berkunjung ke Jakarta - Indonesia dengan menggunakan private jet plane nya yang mendarat di Halim Perdana Kusuma airpot - Jakarta, Indonesia.
Saya ikut mejeng tuh... yang pakai jas yang warnanya berbeda dengan yang lain .... he he he.... asyik ya punya private jet plane...

Jumat, 11 Januari 2008

Faktor Hokki atau Teknik??

Kemarin malam ada seseorang yang bertandang ke rumah. Kami berdiskusi panjang lebar mengenai walet dan rumah walet.
Ada satu pertanyaan menarik yang diajukan rekan tersebut ke saya. Pak Hen, apakah pak Hen percaya bahwa faktor hokki berperan penting dalam budidaya walet ini? Saya tidak percaya ada faktor hokki dalam bidang perwaletan, dan saya hanya modal nekad saja budidaya walet. Demikian kata-kata yang ditujukan saya.

Saya katakan kepada rekan tersebut bahwa kita tidak tahu kapan hokki kita akan datang, dan kita tidak pernah tahu kapan keberuntungan itu akan tiba. Sebagai manusia kita memang harus berusaha, dalam budidaya walet tentunya kita harus menguasai teknik-teknik perwaletan dan hal teknik-teknik ini memegang peranan 80%.
Nah, yang 20% apa pak Hen? Faktor X, sahut saya. Kita sebagai manusia tidak boleh arogan, tidak boleh mendahului Yang Maha Kuasa. Tanpa yang 20% ini, kita bukan apa-apa. Kalau kita punya uang Rp. 99.- apakah layak disbut Rp. 100.-, hanya kurang Rp. 1.- pun kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mempunyai uang Rp. 100.-

Wah... kalau saya tetap nggak percaya ada faktor X dalam bidang perwaletan, semuanya harus mengandalkan teknik.
Saya memberikan contoh fakta kepada rekan tersebut bahwa ada satu rumah walet yang berada di pasar Serpong di mana beberapa tahun lalu terbakar habis dan burung waletnya pun pergi atau kabur entah ke mana. 2 bulan setelah kebakaran, pemilik rumah tersebut membangun kembali ruko nya dan lantai atasnya dipergunakan untuk rumah walet. Ruko tersebut selesai dibangun 6 bulan kemudian. Setelah bangunan selesai, dalam waktu kurang dari 2 bulan burung - burung walet mulai kembali berdatangan ke rumah tersebut dan membangun sarangnya. Tanpa pakai apa-apa, dan tanpa suara walet untuk memikat... Aneh bukan? Pada hal rumah tersebut sudah berubah total, baik bangunan maupun lubang masuk burung. Bagaimana menjelaskan secara teori dan logika?
Ada contoh lain, rumah burung walet di kota Batang, juga demikian terbakar habis, setelah 1 tahun RBW jadi, burung-burung walet berdatangan dan beranak pinak di RBW tersebut. Apa nggak aneh??
Contoh lain lagi, di pinggiran kota Cirebon, kakak beradik membangun RBW dengan desain yang sama, lokasi sama & bersebelahan, ukuran sama dan dibangun dalam waktu yang bersamaan serta selesai pada waktu yang sama.
Gedung milik sang kakak dilengkapi dengan peralatan yang serba canggih sebagaimana layaknya RBW bintang 5, ada kolam air, menggunakan sprayer, menggunakan thermohygrostat, audio player yang memainkan suara walet tiruan yang dimainkan sepanjang hari. Sedangkan RBW milik sang adik tidak menggunakan apa-apa, hanya ada kolam air saja.

Setelah 3 bulan berlalu, RBW sang adik "diserbu" ratusan burung walet dan dalam waktu sekejap menjadi ribuan burung yang bersarang. Sedangkan RBW sang kakak yang berada di sebelahnya kosong melompong, tidak ada satupun burung yang masuk apalagi bersarang. Tahun pertama, kosong... tahun kedua juga kosong.... tahun ketiga ada isi sarang laba-laba dan kampret.. akhirnya karena sudah putus asa dibiarkanlah RBW tersebut, tidak terurus sama sekali, audio playerpun sudah tidak mengumandangkan suara walet, sprayerpun sudah pada karatan nozzel nya dan buntu, kolam air pun sudah kering. RBW itupun tidak pernah ditengoknya.
Pada tahun ke empat, sang kakak berkeinginan untuk menjual RBW nya dan pada saat dia membawa calon pembeli ke RBW nya ternyata di RBWnya yang tak terurus itu sudah ada 10 sarang walet dan banyak burung yang keluar masuk.... dan akhirnya sang kakak tidak jadi menjual RBWnya dan sekarang sudah menghasilkan 10 kg setiap kali panen.
Apa yang menyebabkan RBW yang kosong tersebut?? apakah karena bersarang laba-laba atau ada kampretnya?? Atau faktor keberuntungan yang mempengaruhinya?? Ataukah sang bintang kejora baru saja tiba???
Yang jelas kalau tidak ada rumah dan lubang masuk burung atau lubang untuk burung masuk ya rumah tersebut tidak dapat dimasuki burung walet, jadi kalau kita mau berusaha budidaya walet ya tentunya harus menyediakan bangunan ataurumah untuk burung walet dan tentunya kita harus menerapkan teknik-teknik yang memadai untuk memikat walet dan agar walet betah serta beranak pinak di rumah tersebut. Faktor X??? Abaikan dulu saja, tetaplah fokus, kemauan dan dedikasi serta positive thinking.... ini adalah kunci kesuksesan, Hokki?? tidak ada yang tahu kapan datangnya.... siapkanlah saja dulu prasarana dan sarananya, dan yang tak kalah penting DOA, doa orang benar & percaya akan dikabulkan. Amien.

Hati hati dengan "Konsultan"

Beberapa hari yang lalu rekan saya yang baru saya kenal 3 bulan lalu menghubungi saya melalui hand phone.

Dia bercerita bahwa pada tahun lalu ditengah keputus-asaannya, dia diperkenalkan oleh temannya dengan seorang yang mengaku konsultan walet, yang dapat memasukkan burung walet ke rumah burung walet (RBW) nya.
RBW miliknya sudah 3 tahun lebih tidak dihuni oleh sang burung penghasil "emas putih", berbagai cara ditempuhnya, berbagai konsultan burung walet telah dipanggilnya untuk menangani RBW nya, namun hasilnya NIHIL. Akhirnya dia diperkenalkan oleh temannya dengan seorang konsultan tersebut di atas.

Kondisi yang ditawarkan oleh konsultan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jangka waktu kontrak pengelolaan 1 (satu) tahun.
2. Biaya perjalanan dan akomodasi ke RBW tersebut ditanggung oleh pemilik RBW.
3. Biaya peralatan dan perlengkapan RBW disediakan oleh konsultan dan pemilik RBW harus membayar biaya tersebut ke konsultan.
4. Biaya renovasi dan perbaikan (bilamana perlu) ditanggung oleh pemilik RBW.
5. Kunci RBW dipegang dan disimpan oleh konsultan selama pengelolaan dan penanganannya.
6. Bila dalam jangka waktu 1 tahun ada sarang burung (SB) utuh sebanyak 30 sarang, maka pemilik RBW harus membayar sebesar Rp. 25.000.000.- ke konsultan. Bila jumlah SB kurang dari 30 sarang tapi lebih dari 10 sarang maka dihitung secara prorata.
Bila kurang dari 10 sarang, maka tidak usah bayar alias gratis atau FREE.

Melihat kondisi seperti di atas, maka tertariklah sang pemilik RBW ini karena sudah putus asa, dan tidak ada salahnya tawaran ini diterima... demikian pikirnya... dan akhirnya DEAL.

Setiap bulan konsultan dan pemilik pergi ke RBW yang terletak di luar pulau, 1 bulan berlalu.... tidak ada perubahan, hanya peralatan dan perlengkapan serta renovasi yang dilakukan konsultan dan pemilik membayar seluruh biayanya. Bulan kedua, tiada juga burung yang singgah. Bulan ketiga, mulailah konsultan berusaha menghindar untuk meninjau RBW. Bulan keempat, tidak ada juga burung yang bersarang.... burung hanya satu dua yang berputar-putar di luar RBW.
Bulan kelima, mulailah konsultan "menghilang", tidak dapat dihubungi per telpon, disambangi ke rumahnya juga tidak ada.
Bulan keenam, pemilik RBW akhirnya bertemu dengan konsultan dan akhirnya terjadilah "perang" di antara mereka dan berakhir disobek-sobeknya kontrak mereka. GAGAL!!! RBW nya tetap kosong.
Siapakah yang diuntungkan? Konsultan lah yang diuntungkan karena dia jadi PREMAN.... pre makan, untung dari biaya renovasi dan dari peralatan & perlengkapan RBW. Kalau berhasil dia akan lebih untung, kalau tidak berhasilpun dia juga sudah untung. Untung karena ada yang mengajak jalan-jalan gratis, untung ada yang memberi tempat tingggal dan makan gratis, untung dari pembelian peralatan dan perlengkapan RBW.

Untuk itu kita harus hati-hati dengan Konsultan apalagi dengan Paranormal atau DuKun (ada uDu ya ruKun).

Rabu, 09 Januari 2008

Rumah Walet

Pada saat sekarang ini banyak orang yang keblinger dengan suara walet. Pemilik rumah burung walet, consultant rumah walet, pengelola rumah walet, mengejar dan mencari suara-suara walet yang diperdagangkan atau diperjualbelikan oleh tentunya yang jual suara walet. Harga relatif, ada yang murah dan ada yang sangat mahal.

Setelah mereka memiliki suara walet tersebut, mereka mencoba suara walet yang dibelinya. Dan pada saat suara walet tersebut dibunyikan, banyak burung walet yang berdatangan pada hari pertama.... hari kedua burung walet yang datang mulai berkurang... hari ketiga hanya beberpa ekor yang berkunjung, namun hari-hari berikutnya tidak ada burung yang datang.
Masalah ini sering dan banyak kita jumpai terutama di sepanjang Pantura (Pantai Utara) Jawa. Burung tidak lagi terpikat dengan suara walet, apakah waletnya sudah bosan dengan suara walet? Apakah suara walet tersebut tidak effektif untuk memikat burung? Ataukah burung waletnya yang sudah tuli??
Pada hal suara yang sama juga digunakan di daerah lain, hasilnya effektif untuk memikat burung walet, setiap hari burung yang datang dan pergi silih berganti dan bahkan dalam hitungan hari ada burung yang menginap dan membuat landasan sarang.
Apakah benar suara waletnya yang bermasalah? Ataukah ada hal lain yang bermasalah???

Suhu dan kelembaban tidak bermasalah, sekat ... tidak ada sekat dan tidak bermasalah untuk manuver burung, cahaya tidak bermasalah, aroma juga tidak ada masalah, sarang imitasi ... juga sudah dipasang ribuan, suara... sudah berkali-kali ganti dari yang murah sampai harganya yang jutaan rupiah, dukun/supranatural atau paranormal juga sudah didatangkan dari berbagai daerah... apa yang kurang?? DOA nya... juga sudah dilakukan setiap jam. Kurang apa???