Minggu, 24 Mei 2009

SSDCT (Solid State Dual Core Technology)



SSDCT (Solid State Dual Core Technology) merupakan Satu-satunya Sound System WALET ALL IN ONE yang PORTABLE.

Solid State Technology Design : tidak gampang AUS/Rusak, tahan 24 jam non STOP
Satu-satunya Dual Processor & Dual Core Techonology Design : Menghasilkan Kualitas Audio yang Paling Sempurna dan Prima di Kelasnya.
REAL STEREO dengan Mode RANDOM ALL Auto Reverse.
AC/DC dengan built in Battery Charger.
Built in Amplifier 4 CHN, Equalizer 2 band, GAIN, Volume Independent.
Support Audio File type WAV (Windows PCM & IMA-ADPCM) maximum 44.1 kHz dan MP3 maximum 320kbps 44.1 kHz.
Support SD Card up to 32 GB.
GREEN Technology Design : Hemat Listrik

Untuk pemesanan hubungi : HP No.: +6281932346435; email: henmulia@yahoo.com

Product Features & Specification :

1. DCT (Dual Core Technology), untuk menghasilkan Audio Analog yang Sempurna dan berkualitas tinggi, File Audio Digital perlu dikonvert dengan kecepatan yang sangat tinggi. Oleh sebab itu Player didesain menggunakan Double Processor Mini dengan Dual Core Technology sehingga Kualitas AUDIO yang dihasilkan Jernih & Sempurna setara dengan kualitas CD (WAV 44.1 KHz) dari CD PLAYER BRANDED.

2. Solid State Design, 24 Jam NON STOP, Player maupun Amplifier menggunakan Solid State IC sehingga sangat kuat dan tahan Play 24 jam NON STOP.

3. REAL STEREO, satu Player bisa menghasilkan 2 jenis lagu yang berbeda dalam waktu yang bersamaan (bilamana File Audio yang di Play merupakan Hasil Convert Stereo) Sebagai Contoh hasil konvert File Audio dengan menggunakan komputer, “LEFT: tersimpan Lagu POP dan “RIGHT”: tersimpan Lagu JAZZ. Maka bila di-Play di Player, untuk kriteria REAL STEREO seharusnya keluaran “LEFT” adalah lagu POP dan “RIGHT” adalah lagu JAZZ. Implementasi di rumah Walet “LEFT” bisa diisi suara LUAR dan “RIGHT” bisa diisi suara DALAM.

4.RANDOM ALL Auto Reverse PLAY, bilamana SD Card tersimpan Lagu/Audio Walet lebih dari satu, maka Player akan mem-Play semua Lagu/Audio Walet yang tersimpan tersebut secara Acak, TANPA berhenti PLAY, hal ini bertujuan agar walet-walet tidak cepat bosan. Bilamana pemakai tidak menginginkan fasilitas RANDOM PLAY ini, maka isilah SD CARD dengan hanya satu Lagu/Audio Walet, maka SD Player akan mem-Play Lagu/Audio Walet tersebut saja secara berulang-ulang.

5. AC 220 Volt / DC 12 Volt, dan Built in CHARGER, Supply Power Player bisa menggunakan AC 220 Volt saja.
Supply Power Player bisa menggunakan DC 12Volt (ACCU) saja. (Bisa dipakai di daerah yang tidak terdapat sumber PLN dengan menggunakan Accu, tanpa genset). Supply Power Player bisa menggunakan AC 220Volt dan DC 12 Volt (Colokan kabel Power dan ACCU terpasang ke Player secara bersamaan). Saat PLN ON, Accu akan diCharge dan Supply Power Player diambil dari PLN. Saat PLN OFF, Supply Power Player diambil dari Accu 12V.

6. Error/Hang Protection, Player sangat stabil dipakai di rumah walet dengan minimum Maintanance.

7. Media penyimpanan Suara/Lagu menggunakan SD atau MMC Card, support up to 32GB.

8. Support Audio File type WAV (Windows PCM & IMA-ADPCM) maximum 44.1 kHz dan MP3 maximum 320kbps 44.1 kHz, Tipe Wav adalah Format Audio File tanpa kompresi, KELEBIHAN Tipe ini: KUALITAS audio sama seperti aslinya. Tipe MP3 adalah Format Audio File dengan kompresi, KELEBIHAN Tipe ini: Lagu/ Audio File Walet KECIL, sehingga dalam satu SD/MMC Card bisa muat lebih banyak Audio File/Lagu Walet.

9. PORTABLE DESIGN, dengan Casing Minimalis, sehingga bisa dibawa-bawa ke lapangan.

10.Built in IC AMPLIFIER 4 Chn (Bukan Amplifier Umumnya) sehingga Noise dan THD yang dihasilkan <0.1%. 2 chn untuk LEFT (SPK1 & 2) dan 2 chn untuk RIGHT (SPK 3 & 4), dimana per channel mampu Men-Drive 20-30 tweeter.

11.Built in Equalizer 2 band, MIDDLE (Frekuensi Tengah/3kHz) dan TREBLE (Frekuensi Tinggi/12kHz), masing-masing terpisah untuk LEFT dan RIGHT.

12.Built in GAIN dan Volume Independent

13.HEMAT LISTRIK, Player didesign dengan teknologi “GREEN”, sangat Hemat listrik dan ramah lingkungan tanpa mengorbankan Performance. Sangat cocok untuk dipkai di daerah tanpa listrik seperti rumah walet di HUTAN. Uji coba dengan Accu 12V 100AH tanpa perlu dicharge, Player bisa bertahan lebih dari 4 x 24 jam Non Stop.

Selasa, 19 Mei 2009

SEMINAR BUDIDAYA DAN BISNIS WALET, JAKARTA 8 - 9 AUGUST 2009



http://www.ibishotel.com/gb/hotel-1736-hotel-ibis-slipi/index.shtml

Room rate Ibis Hotel - Slipi, Jl. S. Parman, Jakarta: Rp. 500.000.- (NET) per night including breakfast.

To all of seminar participants, if you need to book the hotel room, please email to seminarwalet@gmail.com

Jumat, 08 Mei 2009

Pak Ben's New BH

I just received pak Ben's email this morning. He will do grand opening of his BH by mid of May 2009.

Pak Ben deceided to build his new stand alone BH in somewhere in Sarawak, of course before he decide to build BH, he did test location. Good location.
He proved to us that he can completed the BH in 29 days and with very cheap cost.

CONGRATULATION TO PAK BEN. SALAM WINNER!!!

Below is Pak Ben's email to me and our friends.

Hi Friend and my sifu,

Proud to show you Pak Hen endorsed design BH completed in 29 days. at cost of RM 23.30 per sq. Ft.

Now cleaning up and installing NP and Hanging partition. Kuching Farmer will fly in from Kuching to install sound system on 11 may . Hope to on the music on 15th May.

Kalvin Chai and Professor Yap will fly in from Kuching to do final inspection. All I need now is home made aroma and Birds.

Ben



ng>









NEW BOOK

New book from AGROMEDIA.



AGROMEDIA ==Sarang walet laksana emas di kalangan pebisnis walet. Nilai harganya sampai menembus angka 20 juta rupiah per kilogram. Membuat banyak orang, terutama mereka yang memiliki modal cukup untuk terjun di bisnis walet. Sebab, nilai keuntungan investasinya sangat besar jika berhasil dan sukses di bisnis si burung berkaki kecil ini.

Indonesia merupakan daerah yang cocok untuk perkembangbiakan dan pertumbuhan walet. Alam tropis yang lembab adalah tempat tinggal yang disukai walet, terutama di daerah-daerah pesisir pantai dan dataran rendah. Bahkan, sebelum walet dibudidayakan, sarang walet hanya bisa didapati dari tebing-tebing dan gua pesisir pantai.

Namun sekarang, atas kerja keras para pembudi daya walet, walet bisa dibudidayakan dan dikembangkan di mana saja jika sarang yang dibuat sesuai dengan karakteristiknya dan disukai walet. Yakni demi keberlangsungan perkembangbiakan walet agar bisa produktif dan menghasilkan sarang yang baik.

Sebelum membangun gedung sarang walet, kita mesti memperhatikan lokasi yang potensial. Artinya, lokasi gedung harus merupakan jalur terbang walet dan memiliki beberapa penunjang, misalnya ketersediaan pakan alami di sekitarnya, ketinggian tempat, tingkat kebisingan, dan tidak adanya predator alami.

Selain itu, konstruksi bangunan gedung walet harus memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, misalnya kelembapan, suhu, dan pencahayaan. Oleh sebab itu, gedung walet harus didesain sedemikian rupa secara apik, misalnya bagaimana mengatur ruang bangunan utama, ruang perlengkapan, memilih bahan bangunan, plafon, papan sirip, lantai bangunan, atap, lubang masuk, ventilasi, dan bak air.

Dengan demikian, sekalipun menguntungkan, namun berbudi daya dan bisnis walet tidaklah mudah. Kita mesti memiliki pengetahuan yang memadai mengenai walet, mulai dari hal kecil sampai detailnya. Sebab, pakta di lapangan, 70% gedung walet yang dibangun tidak menghasilkan sarang. Ini dikarenakan, pembudi daya walet tidak memiliki pengetahuan yang cukup sehingga tidak memperhatikan aspek potensial, karakteristik, dan segala kebutuhan walet untuk bersarang di suatu tempat atau gedung yang diharapkan.

Buku “Buku Pintar Budi Daya dan Bisnis Walet” yang disusun oleh Redaksi AgroMedia ini memberikan jalan dan petunjuk bagaimana membudidayakan dan berbisnis sarang walet secara mudah. Anda akan menemukan semua kebutuhan informasi tentang budi daya walet yang sesuai dengan tujuan kesuksesan di bidang usaha ini.

Di dalam buku yang diterbitkan AgroMedia Pustaka ini membahas mulai dari prospek bisnis walet, mengenal walet dan berbagai karakteristiknya, menentukan lokasi dan teknik membangun gedung, teknik membeli gedung, teknik memikat dan merumahkan walet, penanggulangan hama, penanganan pascapanen, teknik penetasan, mekanisme pemasaran, sampai kepada hal-hal terkait dengan bisnis sarang walet.

Buku ini sangat membantu Anda membuka jalan bagi kelancaran usaha Anda di bidang budi daya walet. Membantu Anda menemukan rahasia-rahasia kesuksesan dan kegagalan budi daya dan bisnis walet. Dengannya, Anda bisa menjadi peternak dan pebisnis yang bijak.

Semoga sukses!

===================

Spesifikasi Buku:

Judul : Buku Pintar Budi Daya dan Bisnis Walet
Penulis : Redaksi AgroMedia
Ukuran : 17.5 x 24 cm
Tebal : vi + 168 hlm.
Penerbit : AgroMedia Pustaka ( http://www.agromedia.net )
ISBN : 979-006-232-x
Harga : Rp 45.000,-



Bisnis sarang walet merupakan bisnis yang memerlukan modal tidak sedikit. Namun, jika usaha ini berjalan lancar, keuntungan besar bakal menanti Anda. Sebagai gambaran, jika harga satu kilogram sarang walet enam juta rupiah, sedangkan biaya operasionalnya hingga panen hanya 1--2 juta rupiah, berarti Anda sudah mendapatkan untung 4--5 juta rupiah. Itu baru satu kilogram. Jika pembudidayaan dilakukan dengan tepat, kemungkinan besar hasil panen yang diperoleh mencapai 25--30 kilogram. Artinya, berapa angka rupiah yang siap Anda kantongi?

Sayangnya, untuk mendapatkan angka tersebut bukan perkara mudah. Fakta di lapangan menunjukkan, tidak sedikit pengusaha sarang walet yang "gulung tikar" akibat gedung walet yang dimilikinya kosong. Kesalahan teknis konstruksi gedung, pemilihan lokasi yang tidak tepat, kegagalan memancing walet dengan suara tiruan, dan keliru menciptakan habitat mikro di dalam gedung walet merupakan pemicu gagalnya usaha ini.
Buku ini sengaja dihadirkan untuk menjawab semua hal tersebut. Informasi yang diperoleh berasal dari sejumlah pakar dan pembudidaya walet. Dengan harapan, buku ini bisa dijadikan pedoman para pengusaha walet dan Anda yang ingin memulai usaha ini. Selamat berinvestasi!

Selengkapnya: http://www.agromedia.net

Visit to Kuching Farmer's BH



Last day in Sarawak, we reached Kuching at 12.20 pm. Kuching Farmer and Professor Yap pick us up to have lunch. After lunch we go to his BH.
His BH designed by himself with the guidance what he learn from SJMW seminar in Jakarta.

I have tuned his sound system, little bit correction and give him some advise what he must do for his BH.
His BH just on sound 10 days ago, and already have 5 birds stay.

Afternoon we back to Kuching but on the way back Professor Yap asking to have Minyak M, he give me 1 big bottle of G. Stout, aiya..... I must finish it by myself he he he...
After finish our drink, we go to restaurant to have dinner with our friend, Oswald, Mr. Loh and Mr. Wong, President and Vice President of Sarawak Bird's Nest Merchants Association.
We have small discussion and only few minutes since I must rush to catch my flight back to Jakarta.
I hope one day we can continue discussion either in Jakarta or Kuching.

For Kuching Farmer and T2020, congratulate for your new BH, I am sure you will success. GOOD LUCK!!

Thank's to all of my Sarawak friends, thanks for your hospitality and I hope we can meet again in Jakarta this year.

Kamis, 07 Mei 2009

Good Location



As I always mentioned that the bird houses will be very fast occupy by swiftlets if build at the good location.
If we have good location for swiftlet farming, eventhough the BH design is not suitable for swiftlet and without sound to lure,the swiftlet still come in and stay very very fast.

The above BH just turn on the sound for few weeks, but more than 60 swiftlets have been stay.
This BH has 6 entrance holes. Every holes playing different sound.

Look at the video below, this BH made from woood, but 1 year already have more than 500 nests. What the secret? No secret. How about sound? The owner just use ordinary sound which we can found easily in Indonesia or Malaysia.
How about the temperature, humidity and wind blow?
This BH facing South China sea, and entrance holes facing to the sea. Ventilation holes so many and all open. So, we can imagine the temperature and humidity fluctuation. Temperature and humidity will not stable. But why the birds like to stay in this BH? LUCK????? X Factor??? or GOOD LOCATION?




If we have good location, proper design and good sound, what happen??



If we can build standalone BH and swiftlets very fast stay and build their nests, should we build BH in the Shoplots, swiftlet center or Eco Park?

Rabu, 06 Mei 2009

Seri Walet Cisadane Dulu & Kini

Oleh trubusid_admindb
Jumat, Mei 01, 2009 07:53:49


Lima abad silam di sepanjang bantaran Sungai Cisadane dipenuhi bangunan langgam China. Kini di pinggiran sungai sepanjang 140 km itu berserak rumah-rumah walet.

Tidak ada keterangan pasti kapan bangunan-bangunan walet itu mengubah wajah bantaran Sungai Cisadane. Namun, berdasarkan penuturan Sai Hu Iy, pengusaha walet di Serpong, Tangerang, pada 1990 mulai banyak terlihat rumah walet di hilir sungai seperti di Serpong dan Cisauk.

Kedua tempat yang masuk dalam wilayah Tangerang, Provinsi Banten, itu memiliki agroklimat sesuai habitat walet: hangat dan lembap. Berdasarkan data dari para pedagang pengumpul setempat, diperkirakan pada 1997 produksi sarang walet di Tangerang mencapai 240 kg/tahun.

Sejalan dengan pemanasan global, suhu lingkungan di hulu Sungai Cisadane pun terkena imbas. Daerah-daerah yang semula bersuhu dingin-siang hari kurang dari 23oC-menjadi 25-26oC. 'Walet menghendaki suhu tidak terlalu dingin. Ia nyaman di kisaran 28-29oC,' kata Mulyadi Latief, pemilik realestate walet di Cisauk, Tangerang.

Wajar kalau belakangan di daerah hulu sungai banyak berdiri rumah walet. Di Desa Cibeber, Leuwiliang, Bogor, misalnya, terdapat minimal 10 rumah walet berukuran besar. Areal sawah yang membentang luas dan vegetasi tanaman menghijau di perbukitan sangat mendukung perkembangan populasi walet.

Bergeser ke dingin
Sai Hu mengamini, di daerah aliran Sungai Cisadane habitat walet mulai bergeser ke hulu. Ia mengalami sendiri. 'Pada 2002 Desa Cibeber masih dingin, makanya tidak ada walet. Yang masuk pertama kali ke dalam rumah adalah seriti,' kata Sai Hu.

Di rumah berukuran 20 m x 9 m setinggi 3 lantai ia harus melakukan putar telur-telur seriti diganti telur walet-untuk mendapatkan populasi walet. Selama 3 tahun Sai Hu melakukan putar telur, walau hasilnya jeblok. Setiap piyik walet yang ditetaskan mati sebelum berumur 1 minggu. 'Semuanya mati,' imbuhnya.

Titik terang keberhasilan baru terlihat kala biang kerok kematian piyik diketahui. 'Kelembapan di dalam gedung terlalu rendah, kurang dari 60%' katanya. Penyebabnya angin yang masuk ke dalam ruangan terlalu kencang. Maklum saja, lubang keluar-masuk burung dibuat sangat lebar, 1 m x 1 m. Setelah ditutup separuh, menjadi 60 cm x 80 cm, barulah tiupan angin agak mengendur. Terbukti kelembapan pun meningkat sampai 75%. Apalagi Sai Hu melengkapi ruangan dengan pengabut yang membuat kelembapan ruangan di atas 80%.

Hasilnya? Sejak 2005 suami Yetti Sumarjatty itu bisa mendengar piyik-piyik walet bercericit hingga belajar terbang dan membentuk koloni baru di sudut-sudut lagur. Menurut Sai Hu, dari 200 butir yang ditetaskan hampir semuanya berhasil menetas dan tumbuh hingga besar. 'Soal persentase jumlah walet yang kembali dan tetap menjadi penghuni setia rumah, saya tidak tahu secara pasti. Tapi yang jelas populasi walet terus bertambah,' tuturnya. Produksi sarang pun melambung. Setiap panen, 3-4 bulan, Sai Hu memetik minimal 10 kg sarang.

Selain Cibeber, daerah aliran Sungai Cisadane yang menjadi sentra walet baru adalah Desa Cibodas, Leuwiliang, Bogor. Di sanalah rumah walet Mulyadi seluas 300 m2 setinggi 3 lantai dibangun. Sama seperti Sai Hu, ia merintis kerajaan walet dengan putar telur.

Dalam 3 tahun, terhitung 2003, usahanya berhasil. 'Populasi cepat banyak. Mungkin karena selain dari putar telur, banyak walet gua yang kebandang masuk,' ujar Mulyadi. Sekitar 15 km dari lokasi terdapat 3 gua walet yang terus terusik karena pengelolaan serampangan.

Terbuka
Berdasarkan survei kecil-kecilan yang dilakukan Mulyadi, kini terdapat sekitar 50 rumah walet berbagai ukuran, mulai 6 m x 8 m sampai 20 m x 25 m setinggi 2-4 lantai di sepanjang Sungai Cisadane. Tingkat produksi setiap rumah berbeda-beda. 'Rumah kecil bukan berarti produksi sedikit. Sebaliknya rumah besar, tidak menjamin produksi tinggi. Itu tergantung teknik yang diterapkan,' lanjut Mulyadi. Ia menyebut sebuah rumah walet berukuran 8 m x 12 m setinggi 2 lantai di bilangan Cisauk menghasilkan 20 kg sarang setiap panen.

Teknologi dibutuhkan karena ada persaingan sesama rumah walet. Misal bangunan rumah walet minimal 2 tingkat, tidak ada yang 1 lantai. Kelengkapan suara pemanggil walet dicari yang paling canggih. Panen diatur 2 kali per tahun agar populasi cepat meningkat dan tidak menyebabkan walet stres yang berujung pada minggat dari rumah.

Soal pakan tidak perlu khawatir. Di daerah aliran Sungai Cisadane ketersediaan pakan masih melimpah. Selain perbukitan dan sawah yang luas, semak, rawa-rawa, serta kubangan-kubangan air bekas penggalian pasir menjadi sumber perburuan pakan. Yang menjadi masalah adalah kerusakan lingkungan di hilir yang membuat produktivitas sarang sejak 5 tahun terakhir diklaim beberapa peternak menurun hingga 60%.

Berdasarkan pengamatan Ir Lazuardi, konsultan walet di Jakarta Barat, ketersediaan pakan walet di Jawa Barat sejak 2000 secara umum terus menurun. Produktivitas sarang di berbagai sentra terkena imbasnya. Toh bukan berarti usaha pengembangan walet harus terhenti.

Kini sudah waktunya pengusaha walet mulai diterapkan sistem pemeliharaan intensif seperti beternak ayam. Atau menyediakan pakan tambahan buatan di ruang walet. Jadi, peluang untuk mengembangkan rumah walet di sepanjang aliran Sungai Cisadane tetap terbuka. (Lastioro Anmi Tambunan)