Rabu, 06 Mei 2009

Seri Walet Cisadane Dulu & Kini

Oleh trubusid_admindb
Jumat, Mei 01, 2009 07:53:49


Lima abad silam di sepanjang bantaran Sungai Cisadane dipenuhi bangunan langgam China. Kini di pinggiran sungai sepanjang 140 km itu berserak rumah-rumah walet.

Tidak ada keterangan pasti kapan bangunan-bangunan walet itu mengubah wajah bantaran Sungai Cisadane. Namun, berdasarkan penuturan Sai Hu Iy, pengusaha walet di Serpong, Tangerang, pada 1990 mulai banyak terlihat rumah walet di hilir sungai seperti di Serpong dan Cisauk.

Kedua tempat yang masuk dalam wilayah Tangerang, Provinsi Banten, itu memiliki agroklimat sesuai habitat walet: hangat dan lembap. Berdasarkan data dari para pedagang pengumpul setempat, diperkirakan pada 1997 produksi sarang walet di Tangerang mencapai 240 kg/tahun.

Sejalan dengan pemanasan global, suhu lingkungan di hulu Sungai Cisadane pun terkena imbas. Daerah-daerah yang semula bersuhu dingin-siang hari kurang dari 23oC-menjadi 25-26oC. 'Walet menghendaki suhu tidak terlalu dingin. Ia nyaman di kisaran 28-29oC,' kata Mulyadi Latief, pemilik realestate walet di Cisauk, Tangerang.

Wajar kalau belakangan di daerah hulu sungai banyak berdiri rumah walet. Di Desa Cibeber, Leuwiliang, Bogor, misalnya, terdapat minimal 10 rumah walet berukuran besar. Areal sawah yang membentang luas dan vegetasi tanaman menghijau di perbukitan sangat mendukung perkembangan populasi walet.

Bergeser ke dingin
Sai Hu mengamini, di daerah aliran Sungai Cisadane habitat walet mulai bergeser ke hulu. Ia mengalami sendiri. 'Pada 2002 Desa Cibeber masih dingin, makanya tidak ada walet. Yang masuk pertama kali ke dalam rumah adalah seriti,' kata Sai Hu.

Di rumah berukuran 20 m x 9 m setinggi 3 lantai ia harus melakukan putar telur-telur seriti diganti telur walet-untuk mendapatkan populasi walet. Selama 3 tahun Sai Hu melakukan putar telur, walau hasilnya jeblok. Setiap piyik walet yang ditetaskan mati sebelum berumur 1 minggu. 'Semuanya mati,' imbuhnya.

Titik terang keberhasilan baru terlihat kala biang kerok kematian piyik diketahui. 'Kelembapan di dalam gedung terlalu rendah, kurang dari 60%' katanya. Penyebabnya angin yang masuk ke dalam ruangan terlalu kencang. Maklum saja, lubang keluar-masuk burung dibuat sangat lebar, 1 m x 1 m. Setelah ditutup separuh, menjadi 60 cm x 80 cm, barulah tiupan angin agak mengendur. Terbukti kelembapan pun meningkat sampai 75%. Apalagi Sai Hu melengkapi ruangan dengan pengabut yang membuat kelembapan ruangan di atas 80%.

Hasilnya? Sejak 2005 suami Yetti Sumarjatty itu bisa mendengar piyik-piyik walet bercericit hingga belajar terbang dan membentuk koloni baru di sudut-sudut lagur. Menurut Sai Hu, dari 200 butir yang ditetaskan hampir semuanya berhasil menetas dan tumbuh hingga besar. 'Soal persentase jumlah walet yang kembali dan tetap menjadi penghuni setia rumah, saya tidak tahu secara pasti. Tapi yang jelas populasi walet terus bertambah,' tuturnya. Produksi sarang pun melambung. Setiap panen, 3-4 bulan, Sai Hu memetik minimal 10 kg sarang.

Selain Cibeber, daerah aliran Sungai Cisadane yang menjadi sentra walet baru adalah Desa Cibodas, Leuwiliang, Bogor. Di sanalah rumah walet Mulyadi seluas 300 m2 setinggi 3 lantai dibangun. Sama seperti Sai Hu, ia merintis kerajaan walet dengan putar telur.

Dalam 3 tahun, terhitung 2003, usahanya berhasil. 'Populasi cepat banyak. Mungkin karena selain dari putar telur, banyak walet gua yang kebandang masuk,' ujar Mulyadi. Sekitar 15 km dari lokasi terdapat 3 gua walet yang terus terusik karena pengelolaan serampangan.

Terbuka
Berdasarkan survei kecil-kecilan yang dilakukan Mulyadi, kini terdapat sekitar 50 rumah walet berbagai ukuran, mulai 6 m x 8 m sampai 20 m x 25 m setinggi 2-4 lantai di sepanjang Sungai Cisadane. Tingkat produksi setiap rumah berbeda-beda. 'Rumah kecil bukan berarti produksi sedikit. Sebaliknya rumah besar, tidak menjamin produksi tinggi. Itu tergantung teknik yang diterapkan,' lanjut Mulyadi. Ia menyebut sebuah rumah walet berukuran 8 m x 12 m setinggi 2 lantai di bilangan Cisauk menghasilkan 20 kg sarang setiap panen.

Teknologi dibutuhkan karena ada persaingan sesama rumah walet. Misal bangunan rumah walet minimal 2 tingkat, tidak ada yang 1 lantai. Kelengkapan suara pemanggil walet dicari yang paling canggih. Panen diatur 2 kali per tahun agar populasi cepat meningkat dan tidak menyebabkan walet stres yang berujung pada minggat dari rumah.

Soal pakan tidak perlu khawatir. Di daerah aliran Sungai Cisadane ketersediaan pakan masih melimpah. Selain perbukitan dan sawah yang luas, semak, rawa-rawa, serta kubangan-kubangan air bekas penggalian pasir menjadi sumber perburuan pakan. Yang menjadi masalah adalah kerusakan lingkungan di hilir yang membuat produktivitas sarang sejak 5 tahun terakhir diklaim beberapa peternak menurun hingga 60%.

Berdasarkan pengamatan Ir Lazuardi, konsultan walet di Jakarta Barat, ketersediaan pakan walet di Jawa Barat sejak 2000 secara umum terus menurun. Produktivitas sarang di berbagai sentra terkena imbasnya. Toh bukan berarti usaha pengembangan walet harus terhenti.

Kini sudah waktunya pengusaha walet mulai diterapkan sistem pemeliharaan intensif seperti beternak ayam. Atau menyediakan pakan tambahan buatan di ruang walet. Jadi, peluang untuk mengembangkan rumah walet di sepanjang aliran Sungai Cisadane tetap terbuka. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tidak ada komentar: