Sabtu, 31 Juli 2010

Jaran Edan o1 - Swiftlet Sound Test



Ini merupakan suara sedot septic tank or whatever they called my sound...the most important we can get birds and make birds like to stay and build their nests in my bh. No doubt.

Perlu Tidaknya Lubang Ventilasi di RBW

Sering menjadi pertanyaan bagi para budidayawan atau peternak walet mengenai perlu atau tidaknya lubang ventilasi (Ventilation Hole) untuk Rumah Burung Walet (RBW), atau perlu ventilasi atas dan bawah; atau hanya satu ventilasi saja di tengah-tengah dan lain sebagainya.

Mengingat bahwa kestabilan suhu dan kelembaban di RBW diperlukan agar burung walet dapat tinggal dan berkembang biak dengan baik, maka perlu dan tidaknya lubang ventilasi dan seberapa banyak lubang ventilasi yang diperlukan harus disesuaikan berdasarkan data suhu dan curah hujan daerah atau lokasi RBW serta kondisi di dalam RBW.
Kita tidak bisa men-generalizer bahwa RBW harus mempunyai lubang ventilasi atas dan bawah atau tidak diperlukan lubang ventilasi sama sekali. Perlu kita ingat bahwa yang dimaksudkan suhu dan kelembaban harus stabil adalah RELATIVE STABLE dalam kaitannya dengan SUHU dan KELEMBABAN.

Banyak orang dan bahkan blogger atau konsultan "menciptakan" ide yang bertentangan dengan teori fisika dan hanya berdasarkan logika saja yang katanya inteligent, dan mengabaikan teori fisika yang sampai sekarang tidak terbantahkan dan belum terbantahkan oleh siapapun. Are You Smarter Than 5th Grader??

Ini adalah pelajaran anak Sekolah Dasar yang bahasa sononya disebut Primary School, disebutkan bahwa: Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah.

Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamakan konveksi.


Teori ini yang dikatakannya teori tradisional??? dan diajarkan sejak Sekolah Dasar, masih digunakan sampai di tingkat Universitas dan dipergunakan oleh NASA USA untuk membuat pesawat luar angkasanya serta digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang membuat pesawat. Coba saja kalau mereka mengabaikan teori ini dalam membuat pesawat, apa yang terjadi?

Pesan saya, perlu tidaknya lubang ventilasi atau Ventilation Holes, seberapa banyak ventilation holes dan penempatannya harus disesuaikan dengan kondisi sekitar RBW dan kondisi di dalam RBW.... then jangan terkecoh dengan racun yang ditulis oleh seseorang yang tidak mengerti teori fisika tingkat Sekolah Dasar dan lucunya menganggap teori fisika ini sebagai teori tradisional...gunakan inteligent anda sebelum jadi RACUN bagi peternak walet.... rasanya yang menulis artikel tersebut harus kembali belajar di Sekolah Dasar atau baca buku lagi or ikut Seminar saya ya ..... Are You Smarter Than 5th Grader???

Selasa, 20 Juli 2010

Komentar Pengguna Aroma H3N1

Saya menerima beberapa komentar dari pengguna aroma H3N1 dari berbagai daerah mengenai aroma H3N1, di antaranya sebagai berikut:

Dari Jambi dan Kuala Tungkal:
1. Pak Hen, aroma H3N1 luar biasa, semua produk bapak memang hebat. Setelah memakai aroma H3N1 selama 6 bulan, RBW saya yang semula berisi 180 sarang sekarang menjadi 430 sarang.Tq. - W...... -

2. Mantap pak H3N1 nya, 3 bulan saya pakai H3N1, RBW saya yang semula kosong sekarang sudah ada 30 sarang. Burung tidak ada hentinya keluar masuk terutama pada saat aroma dispenser nyala. Trims - G...... -

3. Bau aroma H3N1 memang beda dengan parfum walet lainnya, hasilnya? Luar biasa. Mantap. Thanks pak Hen.. Hp No. : 0816366XXXX

Dari Karawang:
1. Pak Hen, aroma H3N1 memang sangat bagus. Saya pakai di roving room, RBW yang semula sepi sekarang ramai. Hampir setiap hari ada burung yang main.
- W.... -

2. Wah pak, dengan H3N1 sekarang saya berani kontrak mengelola RBW dengan target 60 sarang setahun. Terima kasih pakk . - Lu... - Pengelola RBW di Karawang

Dari Lombok:
1. Pertama kali saya pakai H3N1 saya meragukan kehebatannya, tetapi setelah saya coba selama 1 bulan, ternyata banyak sarang tambahan di sarang palsu yang saya semprot dengan H3N1. Semua sarang palsu yang saya semprot ditempati walet. tq. Hp. No.: 081235xxxxx

2. Saya menggunakan aroma dispenser untuk H3N1, tetapi pada waktu dispenser on jam 15.00 banyak walet yang keluar dari RBW. Saya kaget dan takut burung saya kabur. Saya buru-buru masuk ke rumah walet, tapi sebelumnya saya liat TV CCTV ternyata di dalam banyak burung yang beterbangan mendekati aroma dispenser. Saya urungkan niat saya masuk ke rumah walet. Dan saya perhatikan dari CCTV, banyak burung yang berdatangan dan keluar masuk. Berkejaran di dalam ruang inap.
Setelah 1 bulan pakai H3N1, ternyata banyak pondasi sarang di styrofoam.
Thanks pak Hen, sukses selalu. - Haji J.... -

Dari Kalimantan dan Pekanbaru:
1. Aroma H3N1 baunya wangi, saya sempat ragu karena pemikiran saya selama ini aroma walet kan bau busuk dan bau amoniak oleh karena itu saya tidak langsung pakai. Saya semprotkan H3N1 di tissue dan setelah 3 hari saya cium tissue tersebut ternyata bau wanginya hilang dan berubah menjadi bau khas walet. setelah itu saya coba aplikasikan di sarang karton, dan memasangnya di rumah walet saya. 3 minggu kemudian ternyata sudah ada walet yang tinggal di sarang karton tersebut.
-. H..... S..... - Kalimantan

2. H3N1 memang mantap pak Hen. Populasi walet di rumah walet saya meningkat luar biasa dalam 3 bulan. Terima kasih dan saya tunggu inovasi berikutnya - Alu.. - Pekan baru.

Masih banyak sekali komentar-komentar mengenai Aroma H3N1, sekarang ini H3N1 telah dipakai di Seluruh Indonesia dan Malaysia, dari Aceh sampai Manado dan Lombok sampai Sarawak.
Silakan buktikan sendiri hebatnya aroma H3N1. Kalau tidak pernah kenal maka tidak akan sayang, tidak pernah coba tidak akan pernah tahu hasilnya.
Kalau tidak pernah pakai tapi berkomentar negatif, itu namanya sirik.

Minggu, 18 Juli 2010

Jalan Air

Air mencari tempat yang paling rendah, sedangkan manusia mencari tempat yang paling tinggi.
Air bersifat mengalah, namun tidak pernah kalah.
Air mematikan api dan membersihkan lumpur.
Kalau merasa sekiranya dikalahkan, air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun.

Air merapuhkan besi hingga hancur menjadi besi.
Bila bertemu dengan batu karang, akan berbelok untuk meneruskan perjalanannya kembali.

Air membuat jenuh udara sehingga angim menjadi mati.
Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati karena sadar bahwa tidak ada sesuatu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju ke lautan.

Air menang dengan mengalah.
Air tidak pernah menyerang, namun selalu menang pada akhir perjuangannya.

Selasa, 06 Juli 2010

Birdhouse Revamp in Kelantan and Birds Response to Aroma H3N1

Effectiveness of a Good Location, Design, Sound and Aroma

Cegah si Pungguk Masuk

Cegah si Pungguk Masuk
Saturday, 01 May 2010 08:33 administrator
Sumber: Trubus online

Baru 1 tahun rumah waletnya dihuni si liur emas, muncul kendala baru. Burung hantu yang menerobos melalui lubang masuk, menyantap Collocalia fuciphaga yang bersarang.

Kondisi itu terjadi di rumah walet milik H Tarmidi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sebelumnya, bangunan berukuran 10 m x 11 m berlantai 3 itu kosong melompong selama 3 tahun sejak 2005. ”Setelah berkonsultasi dengan konsultan, walet mulai masuk dan bersarang,” ujar Tarmidi. Dalam jangka setahun, pada 2008, didapati 35 sarang walet. Sayang, keberhasilan besar itu tak berlangsung lama lantaran walet semuanya kabur.

Tak disangka Tarmidi menjumpai burung hantu masuk ke dalam rumah walet pada malam hari. Itulah yang diyakini Tarmidi sebagai penyebab walet kabur. ”Burung hantu mungkin tertarik masuk karena mendengar suara walet dari CD yang diputar terus-menerus,” kata Tarmidi yang berupaya mengusir si pungguk dengan senapan angin, tetapi sia-sia. Setiap kali masuk ke dalam rumah walet, Tarmidi selalu menemukan kepala walet di lantai, sisa makan burung hantu. Rumah itu kini menjadi hunian burung hantu yang jumlahnya terus bertambah menjadi 6 ekor.

Predator

Burung hantu memang menjadi salah satu ancaman bagi peternak walet. Celakanya, sebaran burung pemakan daging dan ikan itu merata di tanahair mulai dari Sumatera, Jawa, sampai Papua. Namun, burung hantu sebenarnya lebih sering mengganggu rumah walet yang dekat areal persawahan dan perkebunan lantaran di sana banyak tersedia sumber pakan utamanya: tikus. Rumah walet milik Tarmidi misalnya, berada dekat kebun mangga dan aneka tanaman lain seperti randu. Sementara di perkotaan, gangguan lebih jarang.

Ada beberapa asumsi yang mendorong bangsa Strigiformes itu masuk ke dalam rumah walet. ”Kemungkinan ia ingin mencari tempat tinggal nyaman - antara lain kondisinya gelap, atau memang burung hantu itu mencari pakan,” ujar Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan.

Menurut Boedi bila ada burung hantu di dalam rumah walet, biasanya dijumpai gumpalan putih seukuran kelereng di bawah tempatnya bertengger. Gumpalan itu merupakan sisa-sisa pakan yang dimuntahkan. Hal itu diamini Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah. ”Burung hantu biasanya masuk ke rumah walet karena mencari tempat tinggal. Jadi bukan karena tertarik suara walet,” ujarnya.

Sejatinya, tingkat serangan burung hantu di rumah walet tidak separah hama tikus. Dengan kata lain posisinya sebagai hama rumah walet berada di urutan kedua setelah hewan pengerat itu. Bila tikus memangsa walet, si liur emas itu akan mengeluarkan suara yang membuat seluruh walet kabur. Meskipun begitu, serangan burung hantu

tidak bisa dianggap sepele. ”Bila dibiarkan, rumah walet yang dimasuki burung hantu tidak akan berkembang,” ujar Boedi.

Serangan burung hantu juga pernah dialami Arief pada 1990 di gedung walet 4 lantai miliknya. Upaya memasang lampu sorot untuk mengusir burung itu tak membuahkan hasil. Namun, begitu Arief mengganti lampu berdaya 100 watt itu memakai lampu bohlam 10 watt, si pungguk tak mau lagi masuk bangunan. ”Lampu bohlam memberikan penerangan di dekat lubang masuk secara merata. Sementara cahaya lampu sorot hanya mengarah ke dinding gedung walet dari jauh sehingga burung hantu masih berani bertengger di lubang masuk dan masuk ke rumah,” ujar pemilik duniawalet.com itu.

Ide Arief memasang lampu bohlam itu setelah ia bereksperimen dengan berbagai model lampu. Lampu dipasang 30 cm dari bibir atas pintu. Arief menambahkan sensor cahaya seperti yang ada di lampu jalanan agar lampu itu otomatis menyala saat di sekelilingnya mulai gelap.

Buka-tutup

Menurut Boedi masih ada beberapa cara lain untuk mencegah si pungguk masuk. Burung hantu biasanya datang pada jam-jam tertentu sesuai kebiasaannya lalu bertengger di lubang masuk sambil mengamati keadaan sekeliling sebelum benar-benar masuk. Bila penjaga rumah walet mengetahui waktu kehadiran burung hantu, ia bisa mencegah burung itu masuk. Cara lain, dengan memodifikasi bentuk lubang masuk sehingga burung hantu sulit bertengger di pintu.

Menurut Arief sistem buka-tutup lubang masuk juga bisa menjadi alternatif. Cara ini antara lain diterapkan para peternak di Kecamatan Jebus, Bangka. Caranya, di bagian luar pintu - sekitar 50 cm di atas bibir lubang masuk, dipasang rel sepanjang 2 kali ukuran panjang pintu walet. Bila panjang pintu 1 m, maka panjang rel (seperti rel untuk gorden) adalah 2 m. Daun pintu dibuat lebih lebar daripada lubang pintunya. Pada sisi kanan kiri di pasang tali hingga ke bawah.

Pagi hari, pukul 05.00 waktu setempat atau sebelum walet keluar gedung, penjaga gedung menarik tali itu ke samping sehingga daun pintu bergeser. Lubang keluar-masuk walet pun terbuka. Malam hari sekitar pukul 20.00, penjaga tinggal menarik tali ke sisi berlawanan, sehingga daun pintu bergeser menutup lubang masuk. Daun pintu itu terbuat dari aluminium, supaya ringan. Dengan cara ini, gedung aman dari burung hantu.

Cara buka-tutup pintu manual cukup efektif mencegah burung hantu masuk. Sayang, cara ini kurang praktis. ”Agar praktis bisa dimodifikasi dengan sistem otomatis,” ujar Arief. Menurut Philip Yamin, konsultan walet di Cengkareng, Jakarta Barat, teknologi pintu otomatis sudah mulai dipakai peternak walet di Sumatera sejak 2000-an. Dengan teknologi itu pintu dapat bergerak naik turun secara otomatis dengan timer sehingga peternak tak repot.

Misal, timer diatur pada pukul 04.30, maka pintu otomatis terbuka di jam walet terbang ke luar mencari makan. Begitu pula sebaliknya di malam hari. Pada bagian tengah daun pintu yang terbuat dari plat baja ukuran 40 cm x 80 cm itu, sengaja dibuat lubang berukuran 13,5 cm x 70 cm yang masih bisa berfungsi sebagai jalan keluar-masuk walet meski pintu telah ditutup. Selain itu fungsinya juga sebagai pintu darurat untuk antisipasi bila timer tidak bekerja sehingga pintu tak mau terbuka. Dengan beragam teknik itu kini peternak bisa menghindari gangguan burung hantu. (Tri Susanti)

Atur Pintu Masuk

Atur Pintu Masuk
Thursday, 01 April 2010 00:04 administrator
Sumber: Trubus online

SEMUA SYARAT IDEAL RUMAH WALET SUDAH DIPENUHI SAIFULLAH. SUHU RUANG 26—280C, KELEMBAPAN 80—90% DAN MEMASANG CD PEMANGGIL WALET. NAMUN APA LACUR, MESKI SUDAH BERDIRI 9 TAHUN, BANGUNAN WALET BERUKURAN 20 M X 8 M ITU BARU MEMPRODUKSI 20 SARANG. APA YANG SALAH?

Peternak di Pekanbaru, Riau, itu bak kehabisan akal. Setiap kali memutar CD memang berbondong-bondong Collocalia fuciphaga itu memasuki rumah. Saat diamati walet-walet itu hanya tertarik masuk, tapi tidak mau bermalam. Apalagi membuat sarang, bagai api jauh dari panggang. Pantas produksi sarang sangat minim.

Titik terang permasalahan muncul setelah Saifullah mengirim informasi detail rumah waletnya melalui surat elektronik kepada seorang konsultan di Jawa Tengah. Setelah dicermati terdapat kekeliruan yang membuat burung enggan bersarang. “Jumlah pintu masuk burung terlalu banyak,” ujar Saifullah yang menggunakan rumah monyet atau rumah majemuk berukuran 4 m x 6 m sebagai ruangan tambahan untuk akses keluar-masuk walet. Di rumah itu memang terdapat 4 pintu masuk burung yang menghadap ke segala penjuru.

Tutup pintu

Dari hasil konsultasi, diputuskan 3 pintu ditutup. Hanya 1 pintu difungsikan sebagai lubang keluar-masuk walet. Pintu itu dipilih yang menghadap arah pulang burung saat sore hari. Terbukti cara itu mampu menaikkan populasi walet. Hanya berselang 3 hari, Saifullah melihat populasi walet sudah melonjak. Bahkan setelah 14 hari pascaperubahan itu dijumpai walet yang membuat sarang.

Perubahan yang terjadi dimonitor Saifullah melalui 3 closed circuit television (CCTV). Satu kamera diarahkan ke lubang void, sedangkan 2 kamera lain diletakkan di nesting room atau ruang bersarang. Dari balik layar itu tampak populasi walet bertambah. Walet-walet baru itu tak langsung bersarang. Awalnya mereka bolak-balik melintasi void. Namun setelah 1—2 hari, walet-walet itu baru terlihat mau bersarang.

Kasus Saifullah sebetulnya banyak terjadi terutama pada bagunan baru. Menurut Arief Budiman, konsultan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 80—90% walet yang masuk ke rumah baru adalah walet baru lepas sapih. “Ingatan burung muda belum kuat sehingga mudah menyesuaikan dengan kondisi rumah baru,” ujar Arief. Artinya cukup dibuatkan 1 pintu keluar-masuk agar walet tidak bingung.

Lebih jauh Arief mengungkapkan walet malas bersarang saat pintu masuk terlalu banyak. Selain membuat walet bingung, juga cahaya matahari terlalu banyak masuk ruangan. Padahal, walet menyukai kondisi remang-remang dan selalu menghindari ruangan yang terlalu terang. “Burung yang keluar-masuk tanpa bermalam dan bersarang ini mengindikasikan kondisi ruangan kurang nyaman,” kata Arief.


Pintu majemuk


Lokasi rumah walet Saifullah sebetulnya dekat sentra walet dan menjadi lintasan walet. “Bila rumah berada di sentra dan menjadi lintasan sebaiknya memakai satu pintu keluar-masuk saja,” kata Arief. Tujuannya, membuat walet lebih fokus memasuki setiap ruangan. Pada setiap ruang itu dipasang tweeter sebagai pemandu bagi walet menuju ruang bersarang.

Arah pintu tidak boleh sembarangan. Menurut Ir Lazuardi Normansah, praktikus walet di Jakarta Barat, posisi pintu tidak harus mengarah utara atau selatan. “Boleh timur, barat, utara, atau selatan. Yang penting searah datangnya burung pada sore sekitar pukul 17.00—18.00,” ucap Lazuardi. Hal itu diamini Arief. Dengan cara itu, “Dijamin, dalam 3 hari populasi walet akan bertambah,” katanya.

Menurut Arief yang bergelut di dunia walet lebih dari 10 tahun, rumah monyet memakai 4 pintu masuk efektif jika rumah walet berada dekat sumber pakan. Sebab, di sana walet-walet itu terus berputar-putar mengelilingi sumber pakan. Ia bisa datang mendekati rumah dari berbagai arah.


Model dan ukuran


Model dan ukuran pintu keluar-masuk perlu dicermati. Berdasarkan pengamatan Arief di daerah Keling, Medan, Sumatera Utara, pintu masuk walet di bangunan berupa ruko rata-rata berukuran 2 m x 25 cm. Ukuran itu umumnya dipakai di daerah dekat sentra. Lubang persegi panjang memudahkan walet ketika secara bersama-sama—terutama pada sore hari—masuk ke dalam rumah.

Lain lagi rumah walet di dekat stasiun kereta api peninggalan Belanda di Pulau Jawa. Rata-rata lubang ventilasi yang berbentuk bulat berdiameter sekitar 60 cm menjadi jalan masuk walet. Fenomena ini kemudian diaplikasikan di rumah-rumah walet baru. Di Jambi bahkan ukuran diperbarui menjadi lebih besar, berdiameter 80—100 cm.

Yang tak kalah penting ukuran void. Void, lubang yang menghubungkan ruangan produksi (resting room) antarlantai harus besar. Maklum, gara-gara membuat void seukuran pintu masuk manusia, sekitar 80 cm x 180 cm, walet enggan masuk ke rumah berukuran 20 m x 50 m milik Jerry di Sulawesi Selatan. Void antar-rooving area—ruangan tempat favorit walet berputarputar—pun dibuat dengan ukuran besar.

Mulyadi, praktikus walet di Tangerang, Provinsi Banten, pernah mengalami masalah dengan ukuran void antar-rooving area yang terlalu kecil. “Walet hanya datang dan pergi,” katanya. Ketika ukuran void diperbesar 2 kali lipat, walet datang lebih banyak dan membuat sarang. Itu lantaran dengan semakin besar void, seolah rooving area menjadi lebih luas.

Makanya para pemilik rumah walet banyak yang tidak menyekat rooving area antarlantai. Artinya dari lantai bawah sampai atas dibuat terbuka. Dengan teknik pengaturan pintu dan memperhatikan ukuran void, kini Saifullah dan Jerry bisa memetik puluhan kg sarang. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

Tweeter Magnet: 8 Bulan 270 Sarang

Tweeter Magnet: 8 Bulan 270 Sarang
Sumber: Trubus online

Dengan tweeter biasa rumah walet Faisal Imbron sudah memproduksi 25 sarang dalam waktu 2 bulan. Sayang angka itu tak pernah meningkat. setelah menggunakan tweeter bermagnet, selang 8 bulan produksi sarang melesat 100 kali lipat.

Rumah walet berukuran 12 m x 10 m berlantai 7 itu baru dibangun Fasial pada pertengahan 2008 di Kecamatan Jenamah, Kabupaten Bountok, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Awal 2010, total produksi mencapai 270 sarang. Artinya rumah itu telah dihuni 1.080 Collocalia fuciphaga dalam hitungan 1,5 tahun. Biasanya butuh waktu rata-rata 2 tahun.

Bukan tanpa alasan Faisal menggunakan tweeter bermagnet. ‘Produksi suara tweeter lama kerap melengking sehingga tidak mirip suara walet,’ ujar Faisal. Suara juga bias sehingga walet tidak bisa fokus menyusuri setiap lantai rumah. Ujung-ujungnya populasi stagnan. ‘Jumlah sarang tetap 25 keping,’ ujar Faisal.

Tweeter magnet yang dipesan Faisal dari konsultan di Jakarta, suara mengeluarkan lebih jernih. ‘Suara cericit yang keluar seperti walet,’ kata pengusaha kayu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu. Selain itu, suara fokus memandu walet masuk sampai ke lantai dasar.


Tweeter luar


Sejatinya ada 2 jenis tweeter yang biasanya dipasang dalam rumah walet: dalam dan luar. Tweeter dalam dipasang di sirip, untuk merangsang walet bersarang. Tweeter luar ditaruh di bagian luar atas rumah untuk memanggil sekaligus menarik walet masuk ke rumah.

Yang diganti Faisal adalah tweeter luar; tweeter dalam tetap memakai nonmagnet. Ada 4 tweeter magnet yang dipasang. Dua di antaranya ditaruh di bagian luar lantai teratas. Sisanya berada dekat void dengan corong menghadap pintu masuk burung.

Kedua tweeter luar panjang corongnya 60 cm. Hal itu membuat jangkauan suara mencapai 500 - 1.000 m. Corong itu dapat diarahkan ke sumber populasi walet. Faisal mengarahkan corong ke timur dan arah lintasan pulang burung. Corong diarahkan ke timur karena berjarak 500 m terdapat sebuah rumah yang sudah dibuat walet.

Cara itu cukup berhasil menarik burung tetangga. ‘Yang tertarik biasanya walet muda. Walet dewasa umumnya setia bersarang di tempat lama,’ kata Lazuardi Normansyah, konsultan walet di Jakarta Barat. Meski jangkauan suara luas, tapi kedua tweeter tidak berisik. Maklum, dari bawah rumah suara tweeter tidak terdengar sehingga tidak mengganggu tetangga.

Si liur emas yang tertarik masuk akan dipandu 2 tweeter dekat void. Posisi keduanya berada di lantai 4 dan dasar. ‘Di lantai dasar juga dihuni, sehingga semua lantai rata terisi walet,’ kata Faisal. Berbeda dengan kebanyakan rumah walet yang terisi hanya 2 - 3 lantai teratas.

Frekuensi medium

Duduk perkara tweeter magnet mampu meningkatkan sarang terletak pada kestabilan frekuensi. Menurut Peter John, konsultan audiosuara rumah walet di Taman Palem, Jakarta Barat, bahan perangkat tweeter dibedakan 2 jenis: magnet dan keramik. ‘Pemilik rumah walet banyak memakai tweeter keramik seperti piezo dan audax. Alasannya, selain kemunculannya lebih dulu daripada magnet, tweeter ini juga mudah dipasang dan dapat diparalel,’ kata Peter.

Tweeter magnet sulit diparalel karena harus disesuaikan dengan kekuatan amplifer. Kalaupun bisa diparalelkan, jumlahnya terbatas. Harap mafhum, tweeter magnet seperti basoka butuh watt besar, sekitar 2 - 3 watt/buah. Dengan volume maksimal, kebutuhannya 14 watt. Sedangkan keramik hanya menghabiskan 0,0075 watt/buah.

Menurut Peter suara bersifat dinamis: kuat-rendah dan naik-turun. Pun suara walet. Tweeter keramik mampu menghasilkan suara dengan baik dari frekuensi 3 - 20 khz. Di bawah itu suara tidak masuk ke tweeter. Harap mafhum, ‘Keramik dirancang menolak frekuensi rendah karena sifatnya kapasitif,’ tambah Peter. Suara melengking, misalnya, jika dipasang ke bass tentu tidak tertangkap. Walhasil suara itu dianggap hilang.

Tweeter magnet terdiri dari elemen seperti magnet, cone, dan coil (kumparan). Menurut Dr Djoko Triyono, dosen jurusan Fisika Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, jumlah kumparan menentukan luas jangkauan frekuensi. ‘Artinya semakin banyak kumparan, frekuensi yang dapat diterima lebih luas,’ imbuh Djoko.

Tweeter magnet yang dipakai Faisal mampu mereproduksi suara berfrekuensi medium sekitar 800 hz - 3 khz sampai di atasnya. ‘Echolocation walet biasanya berada di kisaran 1,5 - 2,5 khz,’ ujar Peter. Frekuensi itu stabil dan terdengar jernih karena saat arus AC dari mesin pemutar lagu masuk akan diterima voice coil. Kemudian diteruskan oleh magnet coil sehingga mengumpan cone untuk bergerak. Begitu seterusnya. Gerakan cone ini yang membuat frekuensi medium lebih terdengar alami dan stabil.

Sumber pakan

Tweeter bukan satu-satunya yang membuat walet datang dan betah bersarang. Kedekatan dengan sumber pakan juga menjadi syarat keberhasilan. Lokasi rumah Faisal hanya berjarak 1 - 2 km dari hutan yang vegetasinya masih rapat, sehingga ketersediaan serangga sebagai pakan walet melimpah.

Pun kondisi mikro rumah harus diatur sesuai yang diinginkan walet. Faisal mengatur kelembapan 80 - 90%. Itu dengan memasang mesin kabut di setiap lantai serta membuat kolam air berukuran 8 m x 2 m di lantai dasar. Kombinasi harmonis tweeter magnet, sumber pakan, dan kondisi iklim mikro rumah, membuat populasi walet meningkat seperti dialami Faisal. (Lastioro Anmi Tambunan)