Selasa, 06 Juli 2010

Atur Pintu Masuk

Atur Pintu Masuk
Thursday, 01 April 2010 00:04 administrator
Sumber: Trubus online

SEMUA SYARAT IDEAL RUMAH WALET SUDAH DIPENUHI SAIFULLAH. SUHU RUANG 26—280C, KELEMBAPAN 80—90% DAN MEMASANG CD PEMANGGIL WALET. NAMUN APA LACUR, MESKI SUDAH BERDIRI 9 TAHUN, BANGUNAN WALET BERUKURAN 20 M X 8 M ITU BARU MEMPRODUKSI 20 SARANG. APA YANG SALAH?

Peternak di Pekanbaru, Riau, itu bak kehabisan akal. Setiap kali memutar CD memang berbondong-bondong Collocalia fuciphaga itu memasuki rumah. Saat diamati walet-walet itu hanya tertarik masuk, tapi tidak mau bermalam. Apalagi membuat sarang, bagai api jauh dari panggang. Pantas produksi sarang sangat minim.

Titik terang permasalahan muncul setelah Saifullah mengirim informasi detail rumah waletnya melalui surat elektronik kepada seorang konsultan di Jawa Tengah. Setelah dicermati terdapat kekeliruan yang membuat burung enggan bersarang. “Jumlah pintu masuk burung terlalu banyak,” ujar Saifullah yang menggunakan rumah monyet atau rumah majemuk berukuran 4 m x 6 m sebagai ruangan tambahan untuk akses keluar-masuk walet. Di rumah itu memang terdapat 4 pintu masuk burung yang menghadap ke segala penjuru.

Tutup pintu

Dari hasil konsultasi, diputuskan 3 pintu ditutup. Hanya 1 pintu difungsikan sebagai lubang keluar-masuk walet. Pintu itu dipilih yang menghadap arah pulang burung saat sore hari. Terbukti cara itu mampu menaikkan populasi walet. Hanya berselang 3 hari, Saifullah melihat populasi walet sudah melonjak. Bahkan setelah 14 hari pascaperubahan itu dijumpai walet yang membuat sarang.

Perubahan yang terjadi dimonitor Saifullah melalui 3 closed circuit television (CCTV). Satu kamera diarahkan ke lubang void, sedangkan 2 kamera lain diletakkan di nesting room atau ruang bersarang. Dari balik layar itu tampak populasi walet bertambah. Walet-walet baru itu tak langsung bersarang. Awalnya mereka bolak-balik melintasi void. Namun setelah 1—2 hari, walet-walet itu baru terlihat mau bersarang.

Kasus Saifullah sebetulnya banyak terjadi terutama pada bagunan baru. Menurut Arief Budiman, konsultan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 80—90% walet yang masuk ke rumah baru adalah walet baru lepas sapih. “Ingatan burung muda belum kuat sehingga mudah menyesuaikan dengan kondisi rumah baru,” ujar Arief. Artinya cukup dibuatkan 1 pintu keluar-masuk agar walet tidak bingung.

Lebih jauh Arief mengungkapkan walet malas bersarang saat pintu masuk terlalu banyak. Selain membuat walet bingung, juga cahaya matahari terlalu banyak masuk ruangan. Padahal, walet menyukai kondisi remang-remang dan selalu menghindari ruangan yang terlalu terang. “Burung yang keluar-masuk tanpa bermalam dan bersarang ini mengindikasikan kondisi ruangan kurang nyaman,” kata Arief.


Pintu majemuk


Lokasi rumah walet Saifullah sebetulnya dekat sentra walet dan menjadi lintasan walet. “Bila rumah berada di sentra dan menjadi lintasan sebaiknya memakai satu pintu keluar-masuk saja,” kata Arief. Tujuannya, membuat walet lebih fokus memasuki setiap ruangan. Pada setiap ruang itu dipasang tweeter sebagai pemandu bagi walet menuju ruang bersarang.

Arah pintu tidak boleh sembarangan. Menurut Ir Lazuardi Normansah, praktikus walet di Jakarta Barat, posisi pintu tidak harus mengarah utara atau selatan. “Boleh timur, barat, utara, atau selatan. Yang penting searah datangnya burung pada sore sekitar pukul 17.00—18.00,” ucap Lazuardi. Hal itu diamini Arief. Dengan cara itu, “Dijamin, dalam 3 hari populasi walet akan bertambah,” katanya.

Menurut Arief yang bergelut di dunia walet lebih dari 10 tahun, rumah monyet memakai 4 pintu masuk efektif jika rumah walet berada dekat sumber pakan. Sebab, di sana walet-walet itu terus berputar-putar mengelilingi sumber pakan. Ia bisa datang mendekati rumah dari berbagai arah.


Model dan ukuran


Model dan ukuran pintu keluar-masuk perlu dicermati. Berdasarkan pengamatan Arief di daerah Keling, Medan, Sumatera Utara, pintu masuk walet di bangunan berupa ruko rata-rata berukuran 2 m x 25 cm. Ukuran itu umumnya dipakai di daerah dekat sentra. Lubang persegi panjang memudahkan walet ketika secara bersama-sama—terutama pada sore hari—masuk ke dalam rumah.

Lain lagi rumah walet di dekat stasiun kereta api peninggalan Belanda di Pulau Jawa. Rata-rata lubang ventilasi yang berbentuk bulat berdiameter sekitar 60 cm menjadi jalan masuk walet. Fenomena ini kemudian diaplikasikan di rumah-rumah walet baru. Di Jambi bahkan ukuran diperbarui menjadi lebih besar, berdiameter 80—100 cm.

Yang tak kalah penting ukuran void. Void, lubang yang menghubungkan ruangan produksi (resting room) antarlantai harus besar. Maklum, gara-gara membuat void seukuran pintu masuk manusia, sekitar 80 cm x 180 cm, walet enggan masuk ke rumah berukuran 20 m x 50 m milik Jerry di Sulawesi Selatan. Void antar-rooving area—ruangan tempat favorit walet berputarputar—pun dibuat dengan ukuran besar.

Mulyadi, praktikus walet di Tangerang, Provinsi Banten, pernah mengalami masalah dengan ukuran void antar-rooving area yang terlalu kecil. “Walet hanya datang dan pergi,” katanya. Ketika ukuran void diperbesar 2 kali lipat, walet datang lebih banyak dan membuat sarang. Itu lantaran dengan semakin besar void, seolah rooving area menjadi lebih luas.

Makanya para pemilik rumah walet banyak yang tidak menyekat rooving area antarlantai. Artinya dari lantai bawah sampai atas dibuat terbuka. Dengan teknik pengaturan pintu dan memperhatikan ukuran void, kini Saifullah dan Jerry bisa memetik puluhan kg sarang. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

Tidak ada komentar: