Selasa, 06 Juli 2010

Tweeter Magnet: 8 Bulan 270 Sarang

Tweeter Magnet: 8 Bulan 270 Sarang
Sumber: Trubus online

Dengan tweeter biasa rumah walet Faisal Imbron sudah memproduksi 25 sarang dalam waktu 2 bulan. Sayang angka itu tak pernah meningkat. setelah menggunakan tweeter bermagnet, selang 8 bulan produksi sarang melesat 100 kali lipat.

Rumah walet berukuran 12 m x 10 m berlantai 7 itu baru dibangun Fasial pada pertengahan 2008 di Kecamatan Jenamah, Kabupaten Bountok, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Awal 2010, total produksi mencapai 270 sarang. Artinya rumah itu telah dihuni 1.080 Collocalia fuciphaga dalam hitungan 1,5 tahun. Biasanya butuh waktu rata-rata 2 tahun.

Bukan tanpa alasan Faisal menggunakan tweeter bermagnet. ‘Produksi suara tweeter lama kerap melengking sehingga tidak mirip suara walet,’ ujar Faisal. Suara juga bias sehingga walet tidak bisa fokus menyusuri setiap lantai rumah. Ujung-ujungnya populasi stagnan. ‘Jumlah sarang tetap 25 keping,’ ujar Faisal.

Tweeter magnet yang dipesan Faisal dari konsultan di Jakarta, suara mengeluarkan lebih jernih. ‘Suara cericit yang keluar seperti walet,’ kata pengusaha kayu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu. Selain itu, suara fokus memandu walet masuk sampai ke lantai dasar.


Tweeter luar


Sejatinya ada 2 jenis tweeter yang biasanya dipasang dalam rumah walet: dalam dan luar. Tweeter dalam dipasang di sirip, untuk merangsang walet bersarang. Tweeter luar ditaruh di bagian luar atas rumah untuk memanggil sekaligus menarik walet masuk ke rumah.

Yang diganti Faisal adalah tweeter luar; tweeter dalam tetap memakai nonmagnet. Ada 4 tweeter magnet yang dipasang. Dua di antaranya ditaruh di bagian luar lantai teratas. Sisanya berada dekat void dengan corong menghadap pintu masuk burung.

Kedua tweeter luar panjang corongnya 60 cm. Hal itu membuat jangkauan suara mencapai 500 - 1.000 m. Corong itu dapat diarahkan ke sumber populasi walet. Faisal mengarahkan corong ke timur dan arah lintasan pulang burung. Corong diarahkan ke timur karena berjarak 500 m terdapat sebuah rumah yang sudah dibuat walet.

Cara itu cukup berhasil menarik burung tetangga. ‘Yang tertarik biasanya walet muda. Walet dewasa umumnya setia bersarang di tempat lama,’ kata Lazuardi Normansyah, konsultan walet di Jakarta Barat. Meski jangkauan suara luas, tapi kedua tweeter tidak berisik. Maklum, dari bawah rumah suara tweeter tidak terdengar sehingga tidak mengganggu tetangga.

Si liur emas yang tertarik masuk akan dipandu 2 tweeter dekat void. Posisi keduanya berada di lantai 4 dan dasar. ‘Di lantai dasar juga dihuni, sehingga semua lantai rata terisi walet,’ kata Faisal. Berbeda dengan kebanyakan rumah walet yang terisi hanya 2 - 3 lantai teratas.

Frekuensi medium

Duduk perkara tweeter magnet mampu meningkatkan sarang terletak pada kestabilan frekuensi. Menurut Peter John, konsultan audiosuara rumah walet di Taman Palem, Jakarta Barat, bahan perangkat tweeter dibedakan 2 jenis: magnet dan keramik. ‘Pemilik rumah walet banyak memakai tweeter keramik seperti piezo dan audax. Alasannya, selain kemunculannya lebih dulu daripada magnet, tweeter ini juga mudah dipasang dan dapat diparalel,’ kata Peter.

Tweeter magnet sulit diparalel karena harus disesuaikan dengan kekuatan amplifer. Kalaupun bisa diparalelkan, jumlahnya terbatas. Harap mafhum, tweeter magnet seperti basoka butuh watt besar, sekitar 2 - 3 watt/buah. Dengan volume maksimal, kebutuhannya 14 watt. Sedangkan keramik hanya menghabiskan 0,0075 watt/buah.

Menurut Peter suara bersifat dinamis: kuat-rendah dan naik-turun. Pun suara walet. Tweeter keramik mampu menghasilkan suara dengan baik dari frekuensi 3 - 20 khz. Di bawah itu suara tidak masuk ke tweeter. Harap mafhum, ‘Keramik dirancang menolak frekuensi rendah karena sifatnya kapasitif,’ tambah Peter. Suara melengking, misalnya, jika dipasang ke bass tentu tidak tertangkap. Walhasil suara itu dianggap hilang.

Tweeter magnet terdiri dari elemen seperti magnet, cone, dan coil (kumparan). Menurut Dr Djoko Triyono, dosen jurusan Fisika Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, jumlah kumparan menentukan luas jangkauan frekuensi. ‘Artinya semakin banyak kumparan, frekuensi yang dapat diterima lebih luas,’ imbuh Djoko.

Tweeter magnet yang dipakai Faisal mampu mereproduksi suara berfrekuensi medium sekitar 800 hz - 3 khz sampai di atasnya. ‘Echolocation walet biasanya berada di kisaran 1,5 - 2,5 khz,’ ujar Peter. Frekuensi itu stabil dan terdengar jernih karena saat arus AC dari mesin pemutar lagu masuk akan diterima voice coil. Kemudian diteruskan oleh magnet coil sehingga mengumpan cone untuk bergerak. Begitu seterusnya. Gerakan cone ini yang membuat frekuensi medium lebih terdengar alami dan stabil.

Sumber pakan

Tweeter bukan satu-satunya yang membuat walet datang dan betah bersarang. Kedekatan dengan sumber pakan juga menjadi syarat keberhasilan. Lokasi rumah Faisal hanya berjarak 1 - 2 km dari hutan yang vegetasinya masih rapat, sehingga ketersediaan serangga sebagai pakan walet melimpah.

Pun kondisi mikro rumah harus diatur sesuai yang diinginkan walet. Faisal mengatur kelembapan 80 - 90%. Itu dengan memasang mesin kabut di setiap lantai serta membuat kolam air berukuran 8 m x 2 m di lantai dasar. Kombinasi harmonis tweeter magnet, sumber pakan, dan kondisi iklim mikro rumah, membuat populasi walet meningkat seperti dialami Faisal. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tidak ada komentar: