Selasa, 06 Juli 2010

Cegah si Pungguk Masuk

Cegah si Pungguk Masuk
Saturday, 01 May 2010 08:33 administrator
Sumber: Trubus online

Baru 1 tahun rumah waletnya dihuni si liur emas, muncul kendala baru. Burung hantu yang menerobos melalui lubang masuk, menyantap Collocalia fuciphaga yang bersarang.

Kondisi itu terjadi di rumah walet milik H Tarmidi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sebelumnya, bangunan berukuran 10 m x 11 m berlantai 3 itu kosong melompong selama 3 tahun sejak 2005. ”Setelah berkonsultasi dengan konsultan, walet mulai masuk dan bersarang,” ujar Tarmidi. Dalam jangka setahun, pada 2008, didapati 35 sarang walet. Sayang, keberhasilan besar itu tak berlangsung lama lantaran walet semuanya kabur.

Tak disangka Tarmidi menjumpai burung hantu masuk ke dalam rumah walet pada malam hari. Itulah yang diyakini Tarmidi sebagai penyebab walet kabur. ”Burung hantu mungkin tertarik masuk karena mendengar suara walet dari CD yang diputar terus-menerus,” kata Tarmidi yang berupaya mengusir si pungguk dengan senapan angin, tetapi sia-sia. Setiap kali masuk ke dalam rumah walet, Tarmidi selalu menemukan kepala walet di lantai, sisa makan burung hantu. Rumah itu kini menjadi hunian burung hantu yang jumlahnya terus bertambah menjadi 6 ekor.

Predator

Burung hantu memang menjadi salah satu ancaman bagi peternak walet. Celakanya, sebaran burung pemakan daging dan ikan itu merata di tanahair mulai dari Sumatera, Jawa, sampai Papua. Namun, burung hantu sebenarnya lebih sering mengganggu rumah walet yang dekat areal persawahan dan perkebunan lantaran di sana banyak tersedia sumber pakan utamanya: tikus. Rumah walet milik Tarmidi misalnya, berada dekat kebun mangga dan aneka tanaman lain seperti randu. Sementara di perkotaan, gangguan lebih jarang.

Ada beberapa asumsi yang mendorong bangsa Strigiformes itu masuk ke dalam rumah walet. ”Kemungkinan ia ingin mencari tempat tinggal nyaman - antara lain kondisinya gelap, atau memang burung hantu itu mencari pakan,” ujar Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan.

Menurut Boedi bila ada burung hantu di dalam rumah walet, biasanya dijumpai gumpalan putih seukuran kelereng di bawah tempatnya bertengger. Gumpalan itu merupakan sisa-sisa pakan yang dimuntahkan. Hal itu diamini Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah. ”Burung hantu biasanya masuk ke rumah walet karena mencari tempat tinggal. Jadi bukan karena tertarik suara walet,” ujarnya.

Sejatinya, tingkat serangan burung hantu di rumah walet tidak separah hama tikus. Dengan kata lain posisinya sebagai hama rumah walet berada di urutan kedua setelah hewan pengerat itu. Bila tikus memangsa walet, si liur emas itu akan mengeluarkan suara yang membuat seluruh walet kabur. Meskipun begitu, serangan burung hantu

tidak bisa dianggap sepele. ”Bila dibiarkan, rumah walet yang dimasuki burung hantu tidak akan berkembang,” ujar Boedi.

Serangan burung hantu juga pernah dialami Arief pada 1990 di gedung walet 4 lantai miliknya. Upaya memasang lampu sorot untuk mengusir burung itu tak membuahkan hasil. Namun, begitu Arief mengganti lampu berdaya 100 watt itu memakai lampu bohlam 10 watt, si pungguk tak mau lagi masuk bangunan. ”Lampu bohlam memberikan penerangan di dekat lubang masuk secara merata. Sementara cahaya lampu sorot hanya mengarah ke dinding gedung walet dari jauh sehingga burung hantu masih berani bertengger di lubang masuk dan masuk ke rumah,” ujar pemilik duniawalet.com itu.

Ide Arief memasang lampu bohlam itu setelah ia bereksperimen dengan berbagai model lampu. Lampu dipasang 30 cm dari bibir atas pintu. Arief menambahkan sensor cahaya seperti yang ada di lampu jalanan agar lampu itu otomatis menyala saat di sekelilingnya mulai gelap.

Buka-tutup

Menurut Boedi masih ada beberapa cara lain untuk mencegah si pungguk masuk. Burung hantu biasanya datang pada jam-jam tertentu sesuai kebiasaannya lalu bertengger di lubang masuk sambil mengamati keadaan sekeliling sebelum benar-benar masuk. Bila penjaga rumah walet mengetahui waktu kehadiran burung hantu, ia bisa mencegah burung itu masuk. Cara lain, dengan memodifikasi bentuk lubang masuk sehingga burung hantu sulit bertengger di pintu.

Menurut Arief sistem buka-tutup lubang masuk juga bisa menjadi alternatif. Cara ini antara lain diterapkan para peternak di Kecamatan Jebus, Bangka. Caranya, di bagian luar pintu - sekitar 50 cm di atas bibir lubang masuk, dipasang rel sepanjang 2 kali ukuran panjang pintu walet. Bila panjang pintu 1 m, maka panjang rel (seperti rel untuk gorden) adalah 2 m. Daun pintu dibuat lebih lebar daripada lubang pintunya. Pada sisi kanan kiri di pasang tali hingga ke bawah.

Pagi hari, pukul 05.00 waktu setempat atau sebelum walet keluar gedung, penjaga gedung menarik tali itu ke samping sehingga daun pintu bergeser. Lubang keluar-masuk walet pun terbuka. Malam hari sekitar pukul 20.00, penjaga tinggal menarik tali ke sisi berlawanan, sehingga daun pintu bergeser menutup lubang masuk. Daun pintu itu terbuat dari aluminium, supaya ringan. Dengan cara ini, gedung aman dari burung hantu.

Cara buka-tutup pintu manual cukup efektif mencegah burung hantu masuk. Sayang, cara ini kurang praktis. ”Agar praktis bisa dimodifikasi dengan sistem otomatis,” ujar Arief. Menurut Philip Yamin, konsultan walet di Cengkareng, Jakarta Barat, teknologi pintu otomatis sudah mulai dipakai peternak walet di Sumatera sejak 2000-an. Dengan teknologi itu pintu dapat bergerak naik turun secara otomatis dengan timer sehingga peternak tak repot.

Misal, timer diatur pada pukul 04.30, maka pintu otomatis terbuka di jam walet terbang ke luar mencari makan. Begitu pula sebaliknya di malam hari. Pada bagian tengah daun pintu yang terbuat dari plat baja ukuran 40 cm x 80 cm itu, sengaja dibuat lubang berukuran 13,5 cm x 70 cm yang masih bisa berfungsi sebagai jalan keluar-masuk walet meski pintu telah ditutup. Selain itu fungsinya juga sebagai pintu darurat untuk antisipasi bila timer tidak bekerja sehingga pintu tak mau terbuka. Dengan beragam teknik itu kini peternak bisa menghindari gangguan burung hantu. (Tri Susanti)

Tidak ada komentar: