Jumat, 11 Januari 2008

Faktor Hokki atau Teknik??

Kemarin malam ada seseorang yang bertandang ke rumah. Kami berdiskusi panjang lebar mengenai walet dan rumah walet.
Ada satu pertanyaan menarik yang diajukan rekan tersebut ke saya. Pak Hen, apakah pak Hen percaya bahwa faktor hokki berperan penting dalam budidaya walet ini? Saya tidak percaya ada faktor hokki dalam bidang perwaletan, dan saya hanya modal nekad saja budidaya walet. Demikian kata-kata yang ditujukan saya.

Saya katakan kepada rekan tersebut bahwa kita tidak tahu kapan hokki kita akan datang, dan kita tidak pernah tahu kapan keberuntungan itu akan tiba. Sebagai manusia kita memang harus berusaha, dalam budidaya walet tentunya kita harus menguasai teknik-teknik perwaletan dan hal teknik-teknik ini memegang peranan 80%.
Nah, yang 20% apa pak Hen? Faktor X, sahut saya. Kita sebagai manusia tidak boleh arogan, tidak boleh mendahului Yang Maha Kuasa. Tanpa yang 20% ini, kita bukan apa-apa. Kalau kita punya uang Rp. 99.- apakah layak disbut Rp. 100.-, hanya kurang Rp. 1.- pun kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mempunyai uang Rp. 100.-

Wah... kalau saya tetap nggak percaya ada faktor X dalam bidang perwaletan, semuanya harus mengandalkan teknik.
Saya memberikan contoh fakta kepada rekan tersebut bahwa ada satu rumah walet yang berada di pasar Serpong di mana beberapa tahun lalu terbakar habis dan burung waletnya pun pergi atau kabur entah ke mana. 2 bulan setelah kebakaran, pemilik rumah tersebut membangun kembali ruko nya dan lantai atasnya dipergunakan untuk rumah walet. Ruko tersebut selesai dibangun 6 bulan kemudian. Setelah bangunan selesai, dalam waktu kurang dari 2 bulan burung - burung walet mulai kembali berdatangan ke rumah tersebut dan membangun sarangnya. Tanpa pakai apa-apa, dan tanpa suara walet untuk memikat... Aneh bukan? Pada hal rumah tersebut sudah berubah total, baik bangunan maupun lubang masuk burung. Bagaimana menjelaskan secara teori dan logika?
Ada contoh lain, rumah burung walet di kota Batang, juga demikian terbakar habis, setelah 1 tahun RBW jadi, burung-burung walet berdatangan dan beranak pinak di RBW tersebut. Apa nggak aneh??
Contoh lain lagi, di pinggiran kota Cirebon, kakak beradik membangun RBW dengan desain yang sama, lokasi sama & bersebelahan, ukuran sama dan dibangun dalam waktu yang bersamaan serta selesai pada waktu yang sama.
Gedung milik sang kakak dilengkapi dengan peralatan yang serba canggih sebagaimana layaknya RBW bintang 5, ada kolam air, menggunakan sprayer, menggunakan thermohygrostat, audio player yang memainkan suara walet tiruan yang dimainkan sepanjang hari. Sedangkan RBW milik sang adik tidak menggunakan apa-apa, hanya ada kolam air saja.

Setelah 3 bulan berlalu, RBW sang adik "diserbu" ratusan burung walet dan dalam waktu sekejap menjadi ribuan burung yang bersarang. Sedangkan RBW sang kakak yang berada di sebelahnya kosong melompong, tidak ada satupun burung yang masuk apalagi bersarang. Tahun pertama, kosong... tahun kedua juga kosong.... tahun ketiga ada isi sarang laba-laba dan kampret.. akhirnya karena sudah putus asa dibiarkanlah RBW tersebut, tidak terurus sama sekali, audio playerpun sudah tidak mengumandangkan suara walet, sprayerpun sudah pada karatan nozzel nya dan buntu, kolam air pun sudah kering. RBW itupun tidak pernah ditengoknya.
Pada tahun ke empat, sang kakak berkeinginan untuk menjual RBW nya dan pada saat dia membawa calon pembeli ke RBW nya ternyata di RBWnya yang tak terurus itu sudah ada 10 sarang walet dan banyak burung yang keluar masuk.... dan akhirnya sang kakak tidak jadi menjual RBWnya dan sekarang sudah menghasilkan 10 kg setiap kali panen.
Apa yang menyebabkan RBW yang kosong tersebut?? apakah karena bersarang laba-laba atau ada kampretnya?? Atau faktor keberuntungan yang mempengaruhinya?? Ataukah sang bintang kejora baru saja tiba???
Yang jelas kalau tidak ada rumah dan lubang masuk burung atau lubang untuk burung masuk ya rumah tersebut tidak dapat dimasuki burung walet, jadi kalau kita mau berusaha budidaya walet ya tentunya harus menyediakan bangunan ataurumah untuk burung walet dan tentunya kita harus menerapkan teknik-teknik yang memadai untuk memikat walet dan agar walet betah serta beranak pinak di rumah tersebut. Faktor X??? Abaikan dulu saja, tetaplah fokus, kemauan dan dedikasi serta positive thinking.... ini adalah kunci kesuksesan, Hokki?? tidak ada yang tahu kapan datangnya.... siapkanlah saja dulu prasarana dan sarananya, dan yang tak kalah penting DOA, doa orang benar & percaya akan dikabulkan. Amien.

Tidak ada komentar: