Rabu, 10 Juni 2009

Cericit Walet Hadir di Parepare

Oleh trubusid_admindb
Senin, Juni 01, 2009 06:59:50

'TANGGAL 9, BULAN 9, TAHUN 2007,' UJAR JERRY ANGKAWIJAYA, PETERNAK WALETDI PAREPARE, SULAWESI SELATAN. ANGKA ITU TEREKAM BAIK DI BENAK JERRY. MAKLUM, ITULAH SAATPERTAMA KALI SI LIUR EMAS MASUK KE BANGUNAN WALET 20 M X 50 M BERLANTAI 1 MILIKNYA YANG 5 TAHUN KOSONG. POPULASI WALET KINI MENCAPAI 5.200 EKOR DENGAN 1.300 SARANG.

Awalnya bangunan rumah bertembok beton yang berdiri pada 2000 adalah gudang keramik. Maklum, Jerry adalah pengusaha keramik dan penyedia bahan bangunan. Di sana setiap pagi dan sore ratusan Collocalia fuciphaga berseliweran di atas atap bangunan yang terbuat dari seng. Melihat kenyataan itu, 2 tahun kemudian Jerry mengubah gudang menjadi rumah walet. Apadaya, 'Walet hanya terbang di atas atap, tetapi tidak masuk,' ujar pemilik UDArtha Prima itu.

Padahal ruangan sudah dirombak demi kenyamanan walet. Jerry menambahkan lagur, menyekat ruangan menjadi 17 kamar berukuran 4 m x 8 m, dan membuat 60 lubang ventilasi berdiamater 10 cm. Pintu gudang diubah menjadi pintu masuk walet dengan menambahkan bata sehingga ukurannya menjadi 50 cm x 60 cm.
Atur kelembapan

Baru setelah berkonsultasi dengan pakar walet di Serpong, Tangerang, Banten, biang kerok sulitnya walet masuk rumah terungkap. Rumah walet milik Jerry kurang sesuai dengan habitat walet. Perlengkapan pendukung kenyamanan rumah walet seperti bak berisi air atau mesin pengabut peningkat kelembapan tak terpikirkan oleh Jerry.

Suhu dan kelembapan dalam rumah sekitar 29 - 30oCdan 75 - 80% sebetulnya bisa ditolerir walet. Namun, pada malam hari suhu menjadi sangat dingin dan lembap. Belum lagi siang hari, sinar matahari yang masuk terlalu terang sehingga mengganggu kenyamanan walet.

Nah, untuk mencegah perubahan drastis itu Jerry mengubah lingkungan mikro dengan menambahkan 5 mesin pengabut yang dihidupkan setiap pukul 11.00 - 15.00 WITA. Agar panas sinar matahari siang tidak leluasa masuk, di bawah atap seng dicor beton setebal 1 bata atau 5 cm. Lainnya, ia menanam pohon sukun dengan jarak

300 m mengitari bangunan itu. Selain itu, di salah satu pojok ruangan dibuat kolam air yang ditutup kawat kasa. 'Supaya kelembapan terjaga. Sementara kasa menghindari perkembangbiakan nyamuk,' kata pria 50 tahun itu.

Perubahan itu awalnya belum cukup mengundang walet masuk. Sebab itu pula Jerry memasang CD pemanggil walet yang dihidupkan selama 24 jam. 'Walet akan mengikuti sumber suara untuk masuk,' katanya. Sebelum masuk walet biasanya terbang mengitari rumah karena itu Jerry membuat roofing area (tempat bermain, red) seluas 300 m2 yang mengelilingi bangunan. Hanya dalam hitungan bulan, pada pertengahan 2007 puluhan walet masuk dan mulai bersarang.
Migrasi

Jerry termasuk beruntung karena rumahnya langsung dimasuki walet, meski perlu menanti selama 5 tahun. Menurut Hary K. Nugroho, pakar walet di Kelapagading, Jakarta Utara, Pulau Sulawesi didominasi sriti, populasi walet sangat sedikit. 'Untuk menghadirkan walet biasanya perlu dilakukan putar telur,' ujar Hary yang setiap tahun menyuplai 100.000 telur walet ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari Makassar itulah biasanya telur walet menyebar ke Parepare dan sekitarnya. Di Parepare sendiri sampai 1996 belum ada populasi walet. Bangunan-bangunan rumah walet mulai berkembang pada 2000, diawali dengan beberapa rumah di pusat kota. Berdasarkan pengamatan Mulyadi, praktikus walet di Serpong, Tangerang, penambahan populasi walet di Parepare demikian cepat karena limpahan walet migrasi dari daerah Balikpapan dan Samarinda, Kalimantan Timur.

Terbukti sebuah bioskop tua di tengah kota yang kebetulan dimasuki walet sudah menghasilkan 10 - 12 kg sarang sekali panen. Tentu saja setelah bioskop dirombak total menjadi rumah walet bertembok beton dengan 3 lantai. Jarak bekas bioskop tua itu hanya 4 km dari rumah walet milik Jerry. Itulah yang membuat berkah bagi Jerry. 'Walet-walet di sana pasti ada yang tertarik ke sini,' ucapnya.

Perkembangan walet di Parepare memang belum semaju sentra-sentra lain. Itu lantaran belum banyak investor yang masuk ke sana. 'Agak malas kalau harus putar telur (mengganti telur sriti dengan telur walet, red), karena butuh waktu lama,' tutur Hary yang sering berburu lokasi-lokasi potensial untuk walet.

Padahal, menurut Hary Parepare yang memiliki luas wilayah 99,33 km2 itu cocok untuk pengembangan walet. Bayangkan dari utara sampai selatan kota dikelilingi hutan yang menyediakan serangga sebagai sumber pakan. Pun letak Parepare yang dekat pantai dan banyak dikelilingi sungai. 'Walet tidak akan kekurangan pakan,' timpal Jerry. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tidak ada komentar: