Sabtu, 14 Februari 2009

Dibalik Buku Biografi Laksamana Muda John Lie (II)

Pada tahun 1929 sampai 1942, Lie bekerja di perusahaan pelayaran Belanda "KPM". Ia berlayar hingga berbagai negara. Proklamasi kemerdekaan memangginya pulang ke Tanah Air dan bergabung dengan Angkatan Laut.

Banyak informasi mengenai Lie di dapat dari sang istri, seorang pendeta dari Manado bernama Margaretha Dharma Angkuw. Meski April tahun lalu ketika wawancara untuk buku tersebut berlangsung, istri Lie sudah berusia 83 tahun, ingatannya masih bagus. Wawancara dengan sumber lain pada umumnya juga berlangsung April 2008.

Pada tahun 1969, Lie pensiun dari dinas militer dan memilih menjadi pengusaha selain aktif di pelayanan sosial dan agama. Buku setebal 327 halaman ini memuat kesaksian mereka yang kenal dengan Lie. Para nara sumber memberikan kesaksian betapa Lie memiliki kepekaan sosial yang dalam dan banyak membantu kaum miskin.

Bisnis yang dijalankannya di masa pensiun, bukan hanya untuk mendatangkan kekayaan bagi diri sendiri. Kepada seorang rekan ia menjawab tujuannya bergerak dalam bisnis hanya satu yakni to reach the Kingdom of God. Rita Tuwasey kepada penulis buku ini menceritakan dalam berdagang John Lie itu etis. "Berdagang itu hanya cara untuk membantu orang lain." kata Tuwasey.

Setelah sakit beberapa lama, sang penyelundup berhati mulia ini dipanggil Tuhan, Sabtu malam 27 Agustus 1988 di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta. Jenasahnya disemayamkan di Panti Perwira, gedung milik TNI AL. Presiden Soeharto datang memberikan penghormatan terakhir.

Masih memerlukan pengkajian apakah kalau memang benar John Lie akan diusulkan menjadi pahlawan nasional, itu memang sudah sungguh-sungguh memenuhi kriteria persyaratan. Kalaupun nantinya entah Lie atau tokoh Tionghoa lainnya mendapatkan gelar terhormat itu, bukan hanya WNI keturanan Tionghoa saja yang patut berbahagiamelainkan seluruh WNI tanpa memandang asal dan suku apa. Dan jangan berburuk sangka tak adanya WNI keturunan Tionghoa dalam deretan [ahlawan nasional yang setiap tahun bertambah, bukan karena masih berlakunya politik diskriminasi. Bisa jadi pemerintah masih sibuk dengan urusan lain. Yang paling penting adalah menyadari kenyataan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah buah manis perjuangan semua komponen dan elemen bangsa.

Di bagian pendahuluan buku karya M. Nursam ini ada pernyataan Lie yang menunjukkan siapa dia sesungguhnya.
Siapakah orang pribumi dan non pribumi? Berikut jawaban John Lie:
"Orang pribumi adalah orang-orang yang Pancasilais, Saptamargais, yang jelas-jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan non pribumi adalah mereka yang suka korupsi, suka pungli, suka memeras, dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan sebagai orang non-pribumi, karena pada hakekatnya mereka tidak mementingkan apalagi membela nasib bangsa kita. Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa. Jadi soal pribuni dan non-pribumi tidak boleh dilihat dari suku bangsa dan keturunan melainkan dari sudut kepentingan siapa yang mereka bela".

Masuk golongan apa kita? Hanya naruni Anda yang bisa berbisik.

Tidak ada komentar: