Sabtu, 14 Februari 2009

Dibalik Buku Biografi Laksamana Muda John Lie (I)

John Lie:
"Berdagang Itu Cara Membantu Orang"

Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan kepada Bung Tomo, tokoh pertempuran Surabaya, 10 Novemper 1945. Pemberian gelar pahlawan nasional disampiakan Presiden SBY pada hari peringatan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2008. Sudah sejak lama berbagai kalangan mengusulkan gelar tersebut untuk Bung Tomo. Menurut aturan, usulan agar seseprang memperoleh hgelar pahlawan nasional harus datang dari sekelompok orang disertao alasan dan bukti otentik. Usulan tadi diserahkan kepada pemerintah propinsi dari mana si calon berasal. Oleh pemerintah provinsi usulan dikirim ke Departemen Sosial yang kemudian meneliti. Bila oke, usualn diteruskan ke presiden.

Panjang nian proses memperoleh gelar pahlawan nasional. Pada hal si calon penerima gelar belum tentu menghendakinya. Karena ketika yang bersangkutan melakukan tindakan kongkrit yang menunjukkan kepahlawanannya, ia tidak pernah berpikir untuk nanti disebut sebagai pahlawan nasional.

Sampai saat ini belum ada satu pun warga negara Indonesia keturunan Tionghoa berstatus gelar Pahlawan Nasional. Apakah memang tidak ada yang pantas mendapatkan status ini? Atau ada yang pantas, cuma warga Tionghoa berpendapat urusan bisnis lebih penting dari pada repot-repot menempuh jalan panjang mencari dan mengusulkan nama.

Pada tanggal 21 - 23 September 2007 berlangsung Konferensi ISSCO di Beijing. Sejarahwan Asvi Warman Adam menyampaikan makalah berjudul "Why Is There No Chinese National Hero in Indonesia?" Beberapa artikel dan berita di media massa pernah menyebut-nyebut nama seorang Tionghoa yang sekiranya pantas menjadi pahlawan nasioanal. Meski demikian, wacana ini cepat redup.

Tokoh yang disebut-sebut layak menerima gelar pahlawan nasional adalah John Lie, seorang Laksamana Muda TNI AL. John Lie mematuhi anjuran pemerintah untuk mengganti nama Tionghoa menjadi Jahja Daniel Dharma. Namun nama aslinya lebih populer hingga sekarang. John dilahirkan di Manado, 9 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Maryam Oei Tseng Nie. Leluhur John berasal dari daerah Fuzhou dan Xiamen yang pada abad ke 18 berlayar sampai ke tanah Minahasa.

Sosok nama John Lie relatif kurang dikenal juga di kalangan warga Tionghoa khususnya generasi mudanya. Buku-buku sejarah resmi terbitan pemerintah yang dipakai di sekolah, tidak menyebut nama dan peran Lie. Penulis buku - Solichin Salam membuat buku buku berjudul "John Lie Penembus Blokade Kapal-Kapal Kerajaan Belanda" yang terbit pada tahun 1988. Kisah perjuanga Lie berjudul "Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya kepada Wartawan" dimuat dalam buku "Memoar Pejuang Republik Seputar 'Zaman Singapura' 1945 - 1950" yang ditulis Kustiniyati Mochtar, Gramedia Pustaka Utama (2002).

Karena sedikitnya pustaka mengenai Lie, tidak mengherankan namanya semakin redup dimakan lupa. Oleh karena itu usaha M. Nursam menulis buku "Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie" (2008) yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil, Jakarta, patut diberi penghargaan.

Buku ini dibangun dari berbagai sumber antara lain wawancara dengan keluarga, kerabat dan teman-teman Lie antara lain Laksamana Sudomo, bawahannya semasa di TNI AL. Sealin itu berasal dari wawancara John Lie dengan wartawan dan berita tentangnya yang dimuat di media masa seperti Majalah Life (26 Oktober 1949), Majalah Star Weekly (1956), Majalah Masa dan Dunia (1955), dan Harian Suara Pembaruan (1988).

Artikel berjudul "Guns and Bibles are Smuggled to Indonesia" ditulis oleh wartawan Life bernama Roy Rowan. Oleh M. Nursam artikel ini dimuat seutuhnya. Artikel tersebut ditulis berdasarkan wawancara dengan Lie. Pada 1949 Lie masih menjalankan tugasnya sebagai penyelundup. Dari Sumatera sebagai nahkoda kapal PBB 58 LB ia menembus bl;okade Belanda menuju Singapura, Malaysia dan Thailand membawa hasil bumi Indonesia untuk ditukar dengan senjata yang diperlukan untuk perjuangan melawan Belanda. Lie dicari-cari belanda untuk ditangkap meski lolos. Kapal yang dinahkodainya sering juga disebut The Outlaw.

Memang nama Lie menjadi tersohor karena keberhasilannya menembus blokade Belanda yang jelas peralatannya jauh lebih hebat dari pada milik Angkatan Laut Indonesia. Berkali-kali ia berhasil mengelabui Belanda. Berulang kali Lie selamat dari kejaran kapal-kapal musuh. Orang mengatakan ia tetap selamat dan musuhh tidak bisa menangkapnya karena imannya yang tebal pada Tuhan Yesus Kristus.

Lie hampir setiap hari memegang injil. Pers asing menyebutnya "The Great Smuggler with The Bible". Ia adalah tentara yang taat beribadah. Dilahirkan dari keluarga beragam Budha. Perkenalannya dengan Yesus saat ia bersekolah di iChristelijke Lagere School di Manado. Pada usia 17 tahun Lie maninggalkan tanah kelahirannya menuju Batavia dan kemudian menjadi buruh di pelabuhan Tanjung Priok. (bersambung)



PELUNCURAN BUKU BIOGRAFI LAKSAMANA MUDA JOHN LIE
05 Feb 2009

DISPENAL (5/2),- Kepala Staf Angkatan laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, SH yang diwakili Inspektur Jenderal dan Perbendaharaan Angkatan Laut (Irjenal) Laksamana Muda TNI Moch. Sunarto, SE menjadi pembicara pada Peluncuran Buku Biografi Laksamana Muda John Lie, Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi dan Seminar bertema Nilai-Nilai Kepahlawanan John Lie, dengan Makalah berjudul: “Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma/John Lie Berjuang Dengan Keyakinan” yang diselenggarakan di Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (4/2).

Kasal, sebagaimana disampaikan oleh Irjenal, menyampaikan bahwa Bangsa dan Negara Indonesia memerlukan para pejuang, entah dari mana dia berasal, dari golongan apa, dari agama apa dan dari etnis apa. Bangsa ini telah berikrar bahwa dengan “Bhinneka Tunggal Ika”, bangsa Indonesia akan mampu keluar dari segala kesulitan, mampu menghadapi segala tantangan serta mampu menjunjung tinggi kehormatannya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan menuju masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Laksda TNI John Lie merupakan salah satu dari pejuang-pejuang TNI AL yang telah turut memberikan sumbangsihnya secara ikhlas, penuh dedikasi dan tanpa mengharap pamrih apapun demi tetap tegaknya kedaulatan NKRI sejak masa Perang Kemerdekaan 1945-1949 hingga masa mempertahankan keutuhan NKRI 1950-1959.

Di masa Perang Kemerdekaan, John Lie, mantan pelaut Maskapai Pelayaran Kolonial Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), dengan menggunakan kapal motor cepat bernama “The Outlaw” telah dengan gagah berani menembus blokade laut yang dilakukan AL Belanda di sekitar perairan Selat Malaka. Antara kurun waktu 1947 hingga 1949, John Lie berhasil memasok sejumlah besar senjata, amunisi dan obat-obatan ke para pejuang dan rakyat di Sumatera. Berkat keberaniannya tersebut, “The Outlaw” dijuluki Radio BBC Inggris “The Black Speedboat” karena kemampuannya beroperasi di malam hari tanpa penerangan dan tidak pernah tertangkap Belanda. Kiprah John Lie tidak sebatas masa Perang Kemerdekaan, namun hingga masa konsolidasi pun tetap melaksanakan tugasnya sebagai prajurit TNI AL yang Pancasilais dan Saptamargais dengan turut mengatasi sejumlah pemberontakan di beberapa daerah, seperti RMS di Maluku, Darul Islam di Jawa barat, PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi.

Pengabdian dan kepahlawanan John Lie atau dikenal juga Jahja Daniel Dharma itulah yang diangkat dalam buku biografi yang ditulis oleh M. Nursam dan dalam seminar tentang nilai-nilai kepahlawanannya tersebut. Harapannya, buku biografi Laksda John Lie dapat kian memperkaya khasanah referensi mengenai jasa dan pengabdian luar biasa dari para pahlawan bangsa, khususnya pejuang TNI AL, sehingga dapat menjadi pembangkit semangat bagi generasi muda untuk meneruskan jejak langkah mereka dalam memberikan darma-bhakti yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia.

“Kegiatan Peluncuran Buku dan Seminar terselenggara atas kerjasama Universitas Paramadina dengan Yayasan Nation Building (Nabil). Acara dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI AL, mantan Kasal Laksamana TNI (Purn) Waloeyo Soegito dan Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh, tokoh-tokoh masyarakat, Ketua Legiun Veteran RI Letjen TNI (Purn) Rais Abin dan beberapa anggota LVRI, staf Departemen Sosial RI dan LSM,” demikian dikatakan lebih lanjut oleh Kadispenal Laksma TNI Iskandar Sitompul.

Tidak ada komentar: