Sabtu, 13 Desember 2008

Belahan Jiwa Dua Dokter Jiwa

Sumber: Trubus Online

Oleh trubusid

Jumat, Oktober 17, 2008 10:54:56
Klik untuk melihat foto lainnya...

Bom yang menghancurkan tanah Lebanon baru saja meledak. Desing peluru sesekali terdengar di tengah linangan air mata pengungsi. Dari balik duka itu muncul pria berompi cokelat masuk ke sebuah rumah yang selamat. Setelah meminta izin dari si empunya, dr H Fuadi Yatim SpKj, relawan kesehatan asal Indonesia, menggunting cabang pohon tin yang tumbuh di pekarangan. Dari negeri yang tengah diamuk perang, dokter jiwa itu memboyong 50 cabang Ficus carica ukuran 20-30 cm untuk diperbanyak di tanahair.

Menjadi relawan kemanusiaan ke berbagai negeri memang menjadi bagian hidup Fuadi. Namun, di tengah kesibukannya, mata dokter jiwa di RS Islam Bunga Rampai itu selalu mencari hal yang sama. 'Di setiap negeri yang saya kunjungi, mencari bibit buah menjadi sebuah kewajiban,' kata aktivis Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) itu. Saat masih aktif di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) misalnya. Fuadi memilih berburu cabang jambu air ketimbang belanja di sela-sela acara IDI di Taiwan.

Cinta Fuadi pada buah-buahan memang sudah 'akut'. 'Tak menyiram tanaman sehari, pikiran menjadi kurang tenang,' ujar spesialis kejiwaan jebolan Universitas Indonesia itu. Itu bermula saat Fuadi menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada 1980. Di saat kelelahan karena terik matahari yang menyengat ia tertarik pada sebuah rumah yang pekarangannya menghijau. Di sana hamparan rumput dan pohon buah tumbuh subur. Pemilik rumah rutin menyiram tanaman yang tumbuh di tanah pasir itu.

Hobi pemilik rumah di Mekkah itulah yang menular pada Fuadi. Sepulang dari tanah suci ayah 4 anak itu kerap nongkrong di penjual bibit buah-buahan di Pasarminggu dan Ragunan, Jakarta Selatan. 'Pulang memberi kuliah di universitas, saya belajar mengokulasi belimbing pada tukang kebun,' kata mantan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Pengalaman praktek menggunakan pisau di dunia kedokteran membuat Fuadi gampang melepas kulit batang tanaman dari kambium. Setahun berselang, pada 1981, kediaman Fuadi sudah penuh dengan bibit belimbing.

Terapi

Menurut Fuadi bukan tanpa alasan hobi itu digeluti secara serius di tengah aktivitas berpraktek, mengajar, dan menjadi relawan. 'Dari segi ilmu kejiwaan hobi memelihara tanaman bagian dari sebuah terapi regresi,' katanya. Secara teori, regresi ialah menarik kehidupan ke masa lampau yang indah. Saat menyiram tanaman kita seperti kembali pada masa kanak-kanak yang gemar bermain air dengan bebas. Fuadi pun seperti tertarik pada masa lampau di Batusangkar, Sumatera Barat, yang sering pergi ke ladang menanam terung dan memelihara bebek.

Karena pijakan teori itulah, Fuadi kerap menyarankan pada keluarga pasien yang datang agar penderita gangguan jiwa menggeluti hobi bercocok tanam. 'Mereka tak bisa bekerja keras. Menyiram tanaman bisa menjadi aktivitas positif yang gampang dilakukan,' tuturnya. Ia merujuk pada banyaknya penderita gangguan jiwa yang sering berlama-lama di kamar mandi. Itu karena mereka senang bermain dengan air seperti bocah kecil. Menyiram tanaman mengalihkan bermain air tanpa guna menjadi hal yang bermanfaat.

Kini, 27 tahun berselang, hobi Fuadi mengoleksi buah-buahan semakin 'kronis'. Terutama setelah mangga lazis djiddan yang diperoleh dari Cirebon 15 tahun silam dinobatkan sebagai pemenang buah unggul 2003. Kemenangan itu menjadi sebuah tonggak sejarah baru. Bibit lazis djiddan menjadi laris manis. Buah lain seperti mangga tsunami, jambu pihinwai, dan tin ikut laris. 'Tadinya hanya hobi, sekarang bisa menambah pendapatan yang lumayan,' kata kakek 4 cucu itu. Pantas papan nama praktek dokter jiwa di bilangan Cipinang, Jakarta Timur, itu kini bersanding dengan papan nama kebun bibit buah.

Buah langka

Psikiater yang juga hobi mengoleksi buah-buahan ialah dr M Hendrarko SpKj di Malang, Jawa Timur. Spesialis kejiwaan jebolan Universitas Airlangga itu mengoleksi buah-buahan di sebuah kebun seluas 400 m2. Kebun itu terletak di belakang Panti Cacat dan Rehabilitasi Mutiara Bunda di Lawang, Malang, yang dihuni 30 pasien penderita gangguan jiwa. 'Sebelum mengunjungi pasien, saya lihat kebun dulu. Begitu pula ketika mau pulang,' kata mantan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu.

Hendrarko pun sependapat dengan Fuadi. 'Bertanam buah mendatangkan kepuasan batin, apalagi saat memetik buah yang matang,' kata ayah 4 anak itu. Yang membedakan, Hendrarko cenderung mengoleksi buah langka dan belum populer di tanahair. Misal, pineaple guava, brazilian cherry, black sapote, dan white sapote. Dua yang disebut pertama berasal dari Australia dan Selandia Baru. Menurut Hendrarko, menjadi suatu kebanggaan bila tercatat sebagai orang yang mengintroduksi tanaman luar ke tanahair. Memang dari tangan Hendrarko buah-buahan itu lalu beredar ke Jakarta, Blitar, Bali, hingga Medan dan Bulungan.

Dua tahun bertanam di kebun koleksi tak membuat konsultan medis perusahaan rokok itu puas. 'Setelah melihatnya, banyak kenalan yang memesan bibit, sementara lahan sempit,' katanya. Hendrarko pun membuka lahan bekas sawah seluas 2 ha di Bunton, Malang, sebagai kebun produksi bibit dan tabulampot sejak 3,5 tahun silam. Pembukaan kebun dilakukan bertahap dimulai dengan luasan 4.000 m2. Ia pun menggandeng seorang sarjana pertanian untuk mengelola kebun. Kini dari kebun di ketinggian 400 m dpl itu setiap bulan diproduksi ratusan bibit buah-buahan.

Perban induk

Yang menarik, ilmu kedokteran Hendrarko ternyata berguna untuk memproduksi bibit. Sebut saja saat alumnus Fakultas Kedokteran UGM itu mengatasi hama pengerek batang yang menyerang induk tanaman. 'Disemprot pestisida tak mempan. Cairan langsung kering, hama kembali menyerang,' ujarnya.

Penangkar lain banyak mengatasi penggerek dengan menggunakan kuas untuk mengoles pestisida. Hendrarko membasahi kapas dengan larutan pestisida. Lalu batang yang terserang dibungkus kapas dan diikat dengan plastik transparan. Mirip perban pada pasien yang luka. Dengan cara itu hama di dalam batang mati, luka pun berangsur pulih.

Menurut Hendrarko dasar ilmu kimia dan biokimia di Fakultas Kedokteran yang dipelajarinya memudahkan mempelajari tanaman. 'Prinsip dasarnya sama, hanya objek yang berbeda,' katanya. Lantaran itu tak heran kedua dokter jiwa itu dengan mudah menjiwai hobi mengkoleksi tanaman buah. (Destika Cahyana)

Tidak ada komentar: