Sabtu, 13 Desember 2008

Walet di Negeri Tango

Walet di Negeri Tango
Oleh trubusid, sumber: trubus online
Senin, Desember 01, 2008 02:40:22


Argentina tak hanya gudang pemain sepakbola andal. Negeri Tango itu juga gudang walet. Di Taman Nasional Iguazu, misalnya, terdapat puluhan ribu walet menghuni tebing-tebing di dekat air terjun. Burung berbulu hitam-putih itu dijadikan lambang iguazu.

Terkuaknya Argentina memiliki gudang walet berawal dari lawatan Dr Michael Rands, presiden direktur Birdlife International ke Indonesia pada Februari 2008. Setelah melihat rumah-rumah walet milik penulis, orang nomor 1 di dunia konservasi perburungan itu sangat tertarik pada kemajuan budidaya walet di Indonesia. 'Ini sumbangan nyata terhadap perkembangan populasi walet yang pada 1990-an dianggap terancam punah,' ujarnya. Ujung-ujungnya, ia mengundang penulis ke konferensi Birdlife International di Buenos Aires, Argentina, pada September 2008 untuk membeberkan seluk-beluk budidaya walet dan perdagangannya. Konferensi ini dihadiri hampir 1.000 delegasi dari lebih 100 negara.

Diwakili penulis dan 9 delegasi Birdlife Indonesia lainnya, berangkatlah kami menuju negara yang terkenal tarian tango-nya itu. Perjalanan udara ditempuh selama 30 jam dari Bandara Soekarno-Hatta. Buenos Aires penuh dengan gedung-gedung tua dengan corak Eropa. Hampir sebagian besar wilayah Argentina merupakan tanah pertanian yang subur dengan peternakannya yang maju. Negara yang berbatasan dengan Brazil itu sangat memperhatikan lingkungan, sehingga di sudut-sudut kota terlihat asri dengan vegetasi tanaman terpelihara.

Great dusky swift
Menyampaikan makalah walet di hadapan para delegasi adalah kehormatan bagi Indonesia, khususnya penulis. Kesempatan itulah yang dipergunakan untuk memperkenalkan mereka pada produk dan budidaya walet. Hasilnya mereka menyadari bahwa budidaya walet adalah bagian dari aktivitas konservasi yang harus dilindungi dan didukung bersama. Banyak peserta aktif terlibat diskusi dan menyatakan kekagumannya, bahkan beberapa peserta berminat untuk mencicipi dan mengetahui lebih jauh khasiat sarang burung walet.

Yang mengagetkan, dalam diskusi terlontar di Argentina bagian utara terdapat populasi walet yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Burung yang mirip walet itu hidup liar, tidak ada yang membudidayakan. Informasi inilah yang membuat penasaran penulis untuk mengunjungi habitatnya. Sayangnya panitia tidak mengagendakan kunjungan ke sana, meski burung ini termasuk yang sangat ketat dilindungi pemerintah Argentina.

Terdorong keinginan kuat untuk mengetahui keberadaan sang walet, keesokan harinya setelah selesai kongres, delegasi dari Indonesia terbang ke Iguazu, tepatnya Taman Nasional Iguazu. Di taman inilah walet-walet kabanggaan Argentina membangun kerajaan. Perjalanan yang melelahkan selama 2 jam seolah terbayar lunas kala melihat walet-walet berseliweran di atas air terjun. 'Pemandangan yang indah,' ucap salah seorang anggota delegasi. Air terjun Iguazu memang satu dari 3 air terjun terbesar di dunia, selain Niagara di Amerika Serikat dan Victoria di Zimbabwe.

Bagi pengusaha walet, tentu bukan air terjun setinggi 80 m yang mengagumkan, tapi waletnya. Walet-walet yang jumlahnya mencapai puluhan ribu memperlihatkan gerak-gerik menarik. Dengan kepakan sayap yang kuat mereka menerobos derasnya kucuran air terjun. Mereka tidak takut air, tapi justru bermain di antara cipratan-cipratan air. Perilaku itu sama seperti kebiasaan walet di tanahair yang senang dengan semprotan air dari sepuyer di samping pintu keluar-masuk.

Sosok walet yang konon ada sejak ratusan tahun lalu itu lebih besar dari walet Collocalia fuciphaga. Panjang tubuhnya 18 cm, tapi rentang sayap relatif pendek, sekitar 24 cm. Oleh karena itu, walet yang sama-sama famili Apodidae itu terbangnya tidak seelegan saudaranya C. fuciphaga. Kepala agak besar berwarna abu-abu keputihan dengan mata cukup lebar. Tubuhnya yang sedikit membulat diselimuti bulu kecokelatan. Jenisnya Cypseloides senex, di Argentina dikenal dengan sebutan great dusky swift.

Sarang lumut
Tak seperti C. fuciphaga, sarang great dusky terbuat dari lumut atau rumput-rumputan yang tumbuh di tebing-tebing basah. Sepintas mirip sarang sriti yang tersusun dari rumput laut atau daun cemara yang direkat air liur. Sarang berukuran 2-3 kali sarang mangkuk collocalia itu tidak mempunyai nilai ekonomis. Bentuk sarang agak membulat sehingga terlihat cekung. Sang burung memanfaatkannya untuk beristirahat dan menyimpan telur kala musim berbiak tiba.

Sarang-sarang great dusky banyak ditemukan di dekat air terjun, bahkan di balik air terjun. Karena tidak dilakukan pemanenan, sarang-sarang itu terlihat berderet-deret. Itu mengindikasikan dusky juga hidup berkelompok. Anak-anaknya membangun sarang tidak jauh dari sarang sang induk. Berdasarkan jumlah sarang yang teramati, setiap kelompok bisa mencapai ratusan ekor. Menurut staf pengelola taman nasional, burung-burung yang posisi istirahatnya menggantung-tidak bisa berdiri tegak-itu mengeluarkan bunyi nyaring waktu terbang bermain atau menjelang keluar untuk mencari pakan dan saat pulang akan tidur.

Di habitatnya, di antara 150 jenis burung penghuni taman, kehidupan dusky terlihat 'sejahtera'. Sebab, ia berada di lingkungan yang aman dengan pakan berlimpah. Maklum dusky burung terkenal yang jadi perhatian pemerintah Argentina, itu, tak ada yang mengganggu sama sekali meski pengunjung taman mencapai 1,5-juta orang per tahun. Apalagi daya adaptasinya cukup baik, dusky bisa hidup di bawah suhu 20-33oC. Tak aneh kalau populasinya terus meningkat, diperkirakan mencapai 10% per tahun. Namun jenis walet ini masih sulit dan kemungkinannya kecil bisa dibudidayakan seperti sejenis C. fuciphaga. Sebab, di Argentina terbentur iklim yang terlalu dingin.

Andai bisa dibudidayakan pun, Indonesia yang selama ini menjadi penghasil sarang walet terbesar di dunia tak perlu takut tersaingi. Justru dengan semakin dikenalnya walet di berbagai benua, diharapkan konsumen sarang walet pun mendunia, tidak sebatas Asia. Asal, kreativitas para peternak untuk mengembangkan teknologi budidaya walet terus dipacu dan pihak pemerintah mendukungnya, Indonesia akan tetap menjadi produsen nomor 1. Penulis yakin kunjungan ke Taman Nasional Iguazu sangat bermanfaat untuk mendapatkan ide-ide baru demi kemajuan perwaletan di masa mendatang. (Dr Boedi Mranata, praktikus walet, patron Birdlife Indonesia)

Tidak ada komentar:

GRAND OPENING CHICKEN CRUSH VILLA MELATI MAS, SERPONG

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, pada tanggal 17 Oktober 2019 dilakukan pemberkatan tempat usaha resto Chicken Crush yang terletak di Ru...