Jumat, 19 September 2008

Carilah Sembuh ke Negeri China



Oleh trubusid
Jumat, Juni 13, 2008


Jo Meng Tie kini kerap datang ke Guangzhou, minimal setahun 2 kali. 'Selain mengambil ramuan obat, juga untuk melepas kangen dengan para dokter dan perawat di sini,' kata Jo Meng, warga Tanjungpinang, Riau, itu. Pada 2004, lelaki 46 tahun itu membawa 2 saudaranya, Meng Keng dan Kasim ke sebuah rumahsakit di kota surga bagi para kuliner itu. Keduanya sakit kanker nasofaring yang sudah menjalar ke getah bening. Selama 3 bulan mereka dirawat dan tinggal di sana. Saking lamanya menjalani perawatan itulah mereka begitu dekat dengan para dokter dan perawat sehingga memunculkan kerinduan.

Guangzhou dipilih Jo Meng Tie untuk kedua saudaranya bukan tanpa alasan. Rumahsakit-rumahsakit di Jakarta, bahkan Singapura sudah disambanginya, tapi tidak memberikan kesembuhan. Atas informasi dari karib-kerabat, ia pergi ke Guangzhou. 'Saudara dan keluarga maunya diobati secara tradisional untuk menghindari efek tidak baik dari obat-obat sintetis,' kata Jo, saat diwawancarai Trubus di sebuah restoran di Guangzhou.

Menurut Jo mencari rumahsakit di provinsi terbesar kedua di China setelah Beijing itu sangat mudah. Musababnya hampir di setiap sudut kota berdiri rumahsakit yang menawarkan pengobatan modern dan tradisional. 'Jumlahnya ada ratusan,' kata Mochamad Yusuf, sinse asal Sukabumi, Jawa Barat, yang menjadi tenaga ahli pengobatan di rumahsakit-rumahsakit China. Masing-masing rumahsakit bersaing keras untuk mendapatkan pasien. Itulah sebabnya, saat Jo menjajakan kaki di bandara Baiyun sudah ada penjemput dari pihak rumahsakit. Bahkan banyak rumahsakit yang menempatkan calo-calonya di negara-negara potensial seperti Indonesia untuk menggaet pasien.

'Hati-hati saja, karena rumahsakit yang dijanjikan kadang tidak sesuai harapan. Banyak pasien dari Indonesia yang telantar di sana karena salah mendapatkan rumahsakit,' kata Yusuf. Sinse ahli kanker itu menggambarkan, jika masuk rumahsakit yang asal-asalan kesembuhan pasien semakin lama dan biaya membengkak. Akhirnya, untuk pulang saja mereka tidak punya biaya. Sementara penyakitnya belum selesai diobati. 'Makanya, lebih baik tanya dulu sedetail-detailnya kepada yang berpengalaman sebelum memutuskan pergi,' saran Yusuf

Rumahsakit pemerintah
Meng Keng dan Kasim menurut Yusuf dibawa ke rumahsakit yang tepat. Rumahsakit itu milik pemerintah. Di China rumahsakit milik pemerintah peralatannya lengkap dan pelayanannya lebih baik dibanding milik swasta. Guangzhou Military Hospital, misalnya, merupakan rumahsakit besar dengan para dokter berpengalaman. 'Rumahsakit ini berdiri sejak 1954 khusus untuk militer. Tapi 20 tahun kemudian dibuka untuk umum menangani penyakit umum dan khusus kanker,' kata dr Mai Hengseng, direktur Guangzhou Region Military Hospital bagian penyakit tumor dan kanker.

Selama dibuka sudah ribuan penderita kanker dan tumor dari berbagai negara seperti Vietnam, Taiwan, Birma, Thailand, Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Indonesia berobat ke rumahsakit yang berlokasi di Yudongxi Road 22, Shahe, Guangzhou itu. Angka statistik menunjukkan, 'Dari 965 pasien yang saya tangani sebanyak 483 atau 50,05%, sembuh,' kata Prof Chao Wu Jun, tenaga ahli kanker di rumahsakit itu. Angka itu memang kecil, tapi wajar karena pasien yang ditangani pria 72 tahun itu hampir semuanya sudah setadium akhir. 'Secara total persentase kesembuhan mencapai 84%,' kata Mai.

Kalau hanya sebatas kanker nasofaring menurut Chao mudah disembuhkan. Kanker di hidung itu umum diderita masyarakat Provinsi Guangzhou lantaran kondisi udara buruk. Tidak hanya yang berusia di atas 30 tahun, tapi juga yang belasan tahun. Meski begitu untuk penyembuhannya butuh waktu lama, minimal 2 bulan. Itu karena penyembuhan kanker harus menyeluruh. Organ-organ yang terkait seperti lambung, jantung, atau ginjal harus diperbaiki. Itu pula yang terjadi pada Meng Keng dan Kasim.

Setelah berobat ke Guangzhou Kasim dan Meng Keng memang dinyatakan sembuh, meski untuk mengantisipasi berkembangnya sel-sel tumor hingga sekarang mereka rutin mengkonsumsi ramuan dari rumahsakit. Kesembuhan itu dibuktikan hasil pemeriksaan yang dilakukan rumahsakit di Singapura setiap 4 bulan. 'Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda sel kanker itu tumbuh kembali,' ujar Meng Keng. Sebelum berobat di bagian dalam hidung pria 34 tahun itu ada benjolan sebesar telur puyuh. Benjolan itulah yang hampir merenggut jiwa Meng Keng. Ia divonis hanya bisa bertahan dalam hitungan bulan karena kankernya sudah stadium akhir.

Terpadu
Tak hanya Meng Keng dan Kasim yang terbebas dari vonis mati akibat kanker yang menggerogoti. Beberapa pasien dari mancanegara tertolong jiwanya berkat pengobatan rumahsakit setinggi 9 lantai itu. Sebut saja Mr Huang dari Vietnam yang mengalami kanker hati. Pria 69 tahun itu mengenaskan karena kurus-kering, hanya tulang berbalut kulit. Setelah dirawat selama 6 bulan, ia sembuh. 'Ia berterima kasih kepada kami dengan banyak mengirim tenaga-tenaga medis dari negaranya belajar di sini,' ucap Mai.

Miss Lian dari Hongkong dibawa ke rumahsakit dalam keadaan koma. Wanita itu menderita kanker otak stadium 4. Selama setahun dokter-dokter ahli menanganinya hingga kini ia terlihat segar-bugar dan bisa bekerja kembali. 'Akhir Desember 2007 ia bergembira dan mengabarkan kesehatannya lewat telepon,' kata Chao, dokter yang menangani. Chao menuturkan dalam pengobatannya ia menggabungkan antara ramuan tradisional China dan psikis. Itu berlaku ke setiap pasien. Sebab menurut dia banyak penderita kanker meninggal karena putus asa, tidak mau berjuang untuk hidup.

Bahkan Chao menyimpulkan 30% kesembuhan pasien-pasien kanker ditentukan oleh factor psikis. Makanya setiap ada pasien baru, dokter yang pernah bertugas di Amerika Serikat dan Beijing itu langsung menyodorkan album-album foto. Album itu berisi foto-foto pasien yang memperlihatkan kondisi sebelum dan sesudah pengobatan. Dengan begitu pasien baru, tahu bahwa banyak penderita kanker bisa sembuh, sehingga ia pun termotivasi untuk sembuh. 'Selama ini pasien-pasien kanker selalu memvonis dirinya sendiri akan segera meninggal. Akibatnya, ia ogah-ogahan menjalani pengobatan. Obatnya banyak yang dibuang,' papar Chao panjang lebar.

Setelah itu barulah pasien diberikan ramuan yang sifatnya memperlancar peredaran darah, memperkuat pencernaan lambung, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memperbaiki organ-organ pendukung. Tak heran selain ada beragam kunyit, tapak dara, juga aneka jus seperti alpukat, tomat, dan wortel sebagai minuman terapi. Kankernya 'ditembak' belakangan dengan campuran berbagai herbal di China. Chao tidak menyebut secara khusus jenis herbalnya lantaran kecocokan masing-masing pasien berbeda. Namun yang jelas, ling zhi Ganoderma lucidum, temuputih Curcuma zedoaria, pegagan Cantela asiatica, disebut dalam komposisi ramuan.

Ia pun menyarankan agar pasien rutin berolahraga pagi untuk memperbaiki peredaran darah, menambah stamina, dan melatih pernapasan. Sebaiknya semua itu dilakukan di tempat berudara bersih dan di atas rumput tanpa menggunakan alas kaki. Sebab, pada telapak kaki banyak pori-pori yang bila bersentuhan dengan rerumputan sangat berguna untuk menjaga kesehatan mata, ginjal, jantung, dan usus. Waktunya jangan berlebihan, cukup setengah jam. Usai berolahraga gunakan otak kiri untuk berkonsentrasi memerintahkan mengeluarkan kotoran atau penyakit yang ada dalam tubuh.

Yang disebut terakhir, membuang penyakit lewat pemusatan pikiran Chao mengatakan boleh percaya boleh tidak. Di China sendiri ada yang setuju, ada juga yang membantah. Di Indonesia? Merta Ade, ketua perguruan meditasi kesehatan Bali Usada di Bali menjelaskan. 'Pikiran mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat untuk mempengaruhi kondisi tubuh. Manusia merasa sehat kalau tidak memikirkan keluhan akibat rasa sakitnya,' kata Merta. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan memang olahpikir harus dilatih minimal 3 kali dalam seminggu.

NK-cell
China memang selalu terdepan dalam urusan kesehatan. Koyo Guangzhou Hong Yang Biotech yang mengembangkan. Kantornya terletak di kawasan Guangzhou Business Incubator, Science Park of Guangzhou High-Tech. Ia mengatasi beragam penyakit, termasuk kanker, bukan dengan obat-obat tradisional peninggalan nenek moyangnya. Dengan mengadopsi lisensi dari Jepang, perusahaan yang dinakhodai William Chong itu mengembangbiakkan sel untuk melawan beragam penyakit. Pria yang fasih berbahasa Inggris itu menyebutnya natural killing cell alias NK-cell.

Manusia punya antibodi sebagai pertahanan tubuh. Antibodi itu dikultur selama 2 pekan hingga jumlahnya beribu-ribu kali lipat. Sel hasil kultur itu dimasukkan kembali ke dalam tubuh. 'Prosesnya sederhana, tapi saat mengembangbiakkan sel perlu kehati-hatian sangat tinggi agar tidak terkontaminasi,' ucap Chong. Pantas ruangan tempat pengembangbiakan seluas 10 m x 12 m tertutup rapat. Di dalamnya hanya tampak lemari besi berisi tabung-tabung reaksi, tanpa peralatan kantor seperti meja dan kursi karena tidak boleh ada orang yang tinggal di situ.

'Sebenarnya kami mengembangkannya di China sejak 2000. Tapi karena mungkin alasan biaya yang cukup besar peningkatan jumlah pasiennya kurang menggembirakan,' lanjut pria humoris itu. Bayangkan biaya 8 kali penyuntikan Rp200-juta. Wajarlah kalau pasiennya adalah kalangan orang-orang berduit. Mochamad Yusuf yang mendampingi Trubus ke China mengatakan, 'NK-cell efektif mengatasi berbagai penyakit dan tidak menimbulkan efek samping. Pemanfaatannya kini justru untuk solusi ingin awet muda.'

Sinse Yusuf yang menjabat sebagai pemimpin klinik Citra Insani di Sukabumi, Jawa Barat, itu, memprediksi teknologi NK-cell banyak dibutuhkan masyarakat. Apalagi jika biayanya bisa ditekan. Oleh karena itu ia dan Koyo akan bekerja sama membuka cabang di kota-kota besar di Indonesia. Dengan begitu, apakah masyarakat Indonesia masih mencari kesembuhan ke China? China kadung populer sebagai negeri kaya ahli-ahli pengobatan, meski untuk ke sana tidak sedikit biaya yang dikeluarkan. (Karjono)

Tidak ada komentar: