Selasa, 16 September 2008

Halmahera, Sentra Baru Cericit Walet


Boedi Mranata



Peta dalam buku Swifts A Guide to The Swifts and Treeswifts of The World karangan Phil Chantler dan Gerald Driessens pada 2000 tentang lokasi lintasan walet di kawasan Timur Indonesia perlu perbaikan. Keduanya tidak memasukkan Pulau Halmahera di Maluku Utara sebagai habitat si liur emas Collocalia fuciphaga. Padahal, 'Sejak lama di sana banyak sekali walet,' ujar Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan.

Boedi membuktikan itu saat berkunjung ke pulau seluas 17.780 km2 itu untuk mengikuti undangan Lokakarya Awal Program Kemitraan untuk Pengelolaan Konservasi di Taman Nasional Aketajawe Lolobata, di Lolobata, Halmahera, Maluku Utara, pada April 2008. Kedatangan pengusaha sarang walet yang menjabat sebagai patron bird life Indonesia beserta rombongan itu bertujuan memperkenalkan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. Selama perjalanan ke sana Boedi mengamati keberadaan si liur emas.

Pengamatan dimulai sejak meninggalkan Manado menuju Bandara Sultan Baabullah di Ternate. Di ibukota Maluku Utara itu Boedi menyaksikan puluhan sriti terbang mencari pakan. 'Tapi tidak ada satu pun rumah walet di sana,' tuturnya. Pemandangan serupa terlihat saat menuju Pulau Tidore. Sriti beterbangan, tapi tidak ditemukan satu pun burung walet.

Sarang gua

Setelah bermalam di Ternate, perjalanan dilanjutkan menuju Halmahera menggunakan speed boat 40 PK. Sejam berlayar tibalah Boedi di Payahe. Dari sana alumnus Biologi di Universiteit Hamburg Jerman itu melanjutkan perjalanan ke Sidagoli sampai Jailolo. Sepanjang perjalanan Boedi melihat puluhan sriti terbang mencari pakan.

'Di sana ukuran sriti lebih besar dan gempal daripada saudaranya di Pulau Jawa,' kata pelindung dari pengelolaan Hutan Harapan di Jambi itu. Sekilas tubuh bongsor itu menyerupai walet. Harap mafhum, ukuran tubuh sriti hanya 10% lebih kecil dari walet. Di Pulau Jawa perbedaan itu sangat mencolok, mencapai 30%. Tak hanya itu, warna bulu sriti di sana lebih gelap. 'Bulu putih di dada yang menjadi penanda sriti tak terlihat secara kasat mata,' tutur Boedi.

Kehadiran walet di tanah Halmahera sangat mungkin. Musababnya, iklim di pulau itu cocok untuk walet. Suhu berkisar 28°C dan kelembapan 80-90%, misalnya. Selain itu 'Dari selatan sampai utara Halmahera terdapat bukit yang hutannya alami dan pohon-pohon kelapa di pinggir pantai,' tambah Boedi yang terbang dengan helikopter untuk melihat kondisi lingkungan Halmahera dari udara. Dengan kondisi itu dapat dipastikan: serangga, sumber pakan walet, melimpah.

Keyakinan Boedi terjawab setelah Basri Amal, sekretaris daerah (Sekda) Halmahera Tengah yang bertemu rombongan, menyebut kan Halmahera punya 2 sentra penghasil sarang walet: Loloda dan Wasile. 'Loloda yang terbesar,' ujar Basri. Sarang berasal dari gua-gua. Sayangnya, belum ada data volume produksi. Namun, berdasarkan pengamatan Basri produksi sarang bisa mencapai 200 kg/tahun.

Kualitas sarang yang dihasilkan tak jauh berbeda dengan sarang walet rumahan asal Pantura dan Sumatera. 'Tebal dan berbentuk mangkuk,' kata Basri. Penampilan sarang seperti itu terjadi karena musim hujan di Halmahera sangat panjang, rata-rata 10 bulan per tahun. Itu artinya walet tak perlu terbang jauh untuk mendapatkan serangga yang berkembangbiak di musim penghujan. Imbasnya energi yang ada lebih banyak dipakai untuk memproduksi liur.

Potensial

Lantaran berada di Indonesia Timur, kemungkinan besar tingkat keberhasilan putar telur di Halmahera sama seperti di Sulawesi Utara yang mencapai lebih dari 50%. Itu artinya bila 10.000 telur sriti ditukar dengan telur walet akan ada lebih dari 5.000 walet. Di Pulau Jawa hampir semua telur yang ditukar menetas, tapi yang kembali untuk bersarang hanya 10%.

Meski begitu bukan perkara mudah membuat walet berkembang di lokasi ini. Harap mafhum, banyak jalan antarkota dan daerah yang belum dibenahi sehingga akses menuju lokasi sangat sulit. Menurut Boedi bila kendala itu teratasi Halmahera potensial menjadi sentra walet di timur Indonesia. 'Semoga banyak investor yang melirik ke sana,' harap Boedi yang menutup perjalanan dengan melihat burung-burung endemik di Wedabe. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sumber: Trubus On Line

Tidak ada komentar: