Jumat, 19 September 2008

Pengagum Sejati Guci


Boedi Mranata Pengagum Sejati Guci

Ini tawaran langka. Baru kali ini Trubus diperkenankan untuk melihat koleksi guci yang sangat lengkap. Sang pemilik, Dr Boedi Mranata, memang tak sembarangan mengizinkan orang untuk masuk ke tempat guci itu disimpan. Sebagai kolektor guci china, Boedi tidak saja dikenal di tanahair, tapi juga dimancanegara. Pantaslah kalau kesempatan itu dimanfaatkan oleh Destika Cahyana, Karjono, dan Lastioro Anmi, wartawan Trubus, untuk menyaksikan keindahan guci dari dekat.

Dengan rasa penasaran ketiga wartawan Trubus, meniti belasan anak tangga, akses menuju guci-guci ditempatkan. 'Wow?!' pekik Lastioro ketika saklar lampu dinyalakan. Ia tidak bisa menyimpan kekagumannya begitu melihat aneka bentuk, ukuran, dan warna guci. 'Berbeda sekali dengan guci-guci yang biasa kita lihat,' imbuhnya. Guci-guci yang dikumpulkan sejak 20 tahun lalu itu terhampar di lantai keramik yang cukup luas. Sebagian lagi merapat ke dinding, menempati 'kamar-kamar' kecil sesuai ukuran guci.

Selain ditempatkan di ruang khusus, pengusaha walet itu memajang guci di sudut-sudut ruang rumah pribadinya. Total jenderal ada 500 guci berbagai umur dari 100-1.200 tahun. 'Saya hanya mengoleksi guci-guci tua. Karena di situlah letak kebanggaan sebagai kolektor,' ungkap Boedi. Mafhum kalau koleksi-koleksi doktor biologi lulusan Universiteit Hamburg Jerman 1984 dengan predikat summa cum laude itu sangat langka. Ada yang cuma satu-satunya di dunia, ada juga yang hanya dipunyai 2 kolektor.

Sebut saja guci berbentuk bulat setinggi kurang lebih 80 cm yang ada di museum Victoria, Jerman, kembarannya dikoleksi Boedi. Atau guci dengan gambar killin-binatang mirip naga yang dipercaya pembawa keberuntungan oleh masyarakat Tionghoa-yang kembarannya dimiliki oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, terpajang di kanan kiri ruang tamu.

Guci-guci yang mempunyai nilai sejarah tinggi dari berbagai pelosok tanahair juga terkoleksi. Misal guci perdamaian, guci pasangan laki-perempuan, dan guci peninggalan Laksamana Cheng Ho yang 'temannya' ada di depan hotel Marriot di Singapura menjadi pusat perhatian turis.

Guci perdamaian yang khas dengan gambar kepala di sisi sebelah dan gambar tangan di sisi lainnya sudah dikoleksi sejak belasan tahun lalu. 'Tanpa ada guci perdamaian orang Dayak yang bermusuhan tidak bisa berdamai,' tutur pria yang terkenal sebagai raja walet merah itu. Kala suku Dayak hendak berdamai, guci perdamaian harus ada di tengah-tengah mereka sebagai syarat. Barulah mereka berpestapora, menari, makan dan minum sambil mengelilingi guci.

Untuk mendapat guci-guci itu memang tidak mudah. 'Bisa menunggu 1 tahun, 2 tahun, hingga belasan tahun,' ujar pria kelahiran Banyuwangi 56 tahun silam yang berburu guci hingga mancanegara itu. Musababnya banyak pemilik guci yang menjadikannya barang bertuah, sehingga transaksi jual-beli pun harus patuh pada adat istiadat. Boedi pernah gagal membawa sebuah guci yang sudah dibayar gara-gara keluarga si pemilik tidak menyetujui. Cerita lain, guci baru bisa dibeli setelah si pemilik meninggal dan tidak punya ahli waris.

Boedi menuturkan koleksi-koleksinya banyak didapat dari Kalimantan, terutama dari suku Dayak yang begitu fanatik. Bagi suku Dayak zaman dahulu guci adalah segala-galanya. Mereka lebih memilih berperang atau bersedia menjadi budak daripada kehilangan guci kesayangan. Namun kini, setelah orang-orang dari kota-kota besar banyak masuk ke Kalimantan pada 1970-an, guci-guci mereka berpindah ke tangan kolektor. 'Di sana sekarang hampir tidak ada lagi guci-guci berumur tua. Kalau guci-guci modern banyak, karena di Singkawang ada industrinya,' lanjut Boedi.

Pengagum Sejati Guci
Menurut Boedi guci-guci modern mungkin terlihat lebih mencolok lantaran warna lebih ngejreng, model dan bentuknya pun lebih bervariasi. Namun, dari segi historis tidak ada nilainya, sehingga harga pun jauh lebih rendah. Boedi mengilustrasikan sebuah guci yang mempunyai nilai historis penting, sangat mahal. Oleh karena itulah usaha-usaha untuk menduplikasi guci-guci 'berkualitas' selalu dilakukan. Bahan, bentuk, warna, dan ukuran sepintas sama, hanya kolektor ahli yang bisa membedakannya.

Dulu waktu masih pemula, pehobi tenis meja itu juga sering tertipu. Kini tidak lagi. Apalagi ia mempunyai jalan pintas untuk menguji 'keaslian' guci bila kemiripannya sangat sempurna. 'Ya, saya datangkan ahlinya dari Oxford Authentication Ltd, Inggris. Lembaga itu diakui dunia. Tingkat kebenarannya mencapai 99,99%,' kata Boedi. Dengan alat termoluminescence sebuah guci dapat diketahui umur pembuatannya hanya dengan mengebor sedikit bagian bawah. Meski untuk mengujinya butuh biaya cukup besar, Rp6-juta per guci, belum termasuk ongkos pesawat dan biaya akomodasi.

Memang mahal untuk sebuah kesenangan. Namun, 'Kalau tidak 'diamankan', guci-guci bersejarah dari tanahair banyak terbang ke luar negeri,' alasan Boedi mengumpulkan guci. Menurut Boedi di dunia ada ribuan kolektor guci, terutama di Asia Tenggara, dan beberapa museum yang mengoleksi guci seperti Leeuwarden di Belanda, di Kucing, Sarawak, serta Shanghai, China. Di Indonesia sendiri, selain Boedi tercatat beberapa kolektor guci di antaranya Presiden Soekarno, Megawati Soekarno Putri, Fauzi Bowo, Miranda Gultom, dan Pia Alisyabana.

Terlepas dari tujuan mulia itu Boedi mengaku, 'Ada kerinduan terhadap sejarah saat melihat dan mengelus guci-guci itu,' ucap Boedi. Kini sebagai upaya untuk mendokumentasikan guci-gucinya, Boedi bersama kolektor lain sedang giat menyusun buku mengenai guci-guci tua di Indonesia. 'Direncanakan terbit pada 2008,' tambahnya. (Karjono)

Sumber: Trubus On Line

Tidak ada komentar: