Sabtu, 25 Oktober 2008

Belajar Membuat Sarang Burung



Pada jaman dulu ada seekor burung Manyar yang sangat pandai membuat sarangnya. Sarangnya terbuat dari rerumputan. Rumput-rumput tersebut dianyam sedemikian rupa hingga rapi dan kuat.
Melihat kepandaian burung manyar membuat sarangnya, maka banyak burung-burung jenis lainnya tertarik untuk belajar membuat sarang dengan sang burung manyar.

Suatu hari burung walet, burung elang, burung gereja, burung kenari dan burung hantu tertarik untuk belajar membuat sarang dengan sang burung manyar. Mereka minta burung manyar untuk mengajarkan rahasia-rahasia bagaimana membuat sarang burung yang baik dan kuat. Setelah dibujuk oleh burung-burung tersebut akhirnya sang burung manyar bersedia membagikan rahasia membuat sarang burung yang baik, rapi dan kuat.

"Sebelum membuat sarang, yang perlu diperhatikan dan yang terpenting adalah lokasi. Pilihlah lokasi di pohon atau tempat yang bagus" demikian awal sang burung manyar memulai penjelasannya.

"Waka kak kak kak ha ha ha .. kalau yang seperti ini nih aku sudah tau... ini mah bukan rahasia" kata burung elang sambil tertawa mengejek. Lalu dia terbang meninggalkan burung manyar. Huh... ternyata apa yang diajarkan sang burung manyar biasa-biasa saja... nothing secret .... gerutu burung elang.

"Setelah itu pilihlah dahan yang kuat. Agar sarang tidak mudah lepas carilah rumput dan ranting kayu yang bagus serta kering untuk membuat sarang agar sarang tahan lama" lanjut sang burung manyar.

"Sarang yang aku buat juga selalu menggunakan rumput dan ranting kayu yang bagus... wekk wekk .... semua orang juga sudah tahu kalau harus pakai ranting kayu yang bagus dan pakai kayu bagus" kata burung hantu, lalu dia pun terbang meninggalkan burung manyar.

"Pada saat menganyam sarang, kita harus lakukan dengan telaten, agar setiap rumput dan ranting teranyam dengan baik sehingga air tidak menembus ke dalam sarang serta hembusan angin tidak masuk ke dalam sarang" lanjut burung manyar.

"Wehhh....ternyata cuma begitu, aku mah sudah tau semuanya" pikir burung gereja, lalu dia terbang meninggalkan sang burung manyar.

"Demikian juga lubang masuk untuk kita juga harus ditentukan pada posisi yang benar, agar kita bisa masuk dan keluar dengan leluasa. Dan yang perlu kita perhatikan adalah lubang masuk itu kita buat bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk anak-anak kita" lanjut sang burung manyar.

"Weleh-weleh... cuma gitu doang ya... aku juga sudah tahu, huh... gampang" gerutu burung kenari sambil terbang meninggalkan tempat.

Yang tersisa hanya burung walet, dia dengan seksama dari awal mendengarkan apa yang diajarkan oleh sang burung manyar.
"tapi syarat-syarat yang saya sebutkan tadi belumlah cukup untuk membuat sarang yang bagus, yang PALING PENTING adalah usahakan membuat sarang yang tidak kena hujan atau sinar matahari langsung, carilah tempat yang teduh seperti dibawah atap rumah, kemudian usahakan agar sarang tersebut hangat, alasi dengan air liur mu atau rumput, buat bantalan agar anakmu hangat dan nyaman tinggal di sarang."

Akhirnya walet yang mendengarkan sampai selesai penjelasan sang burung manyar dan mengerti cara membuat sarang yang bagus.

Cerita tersebut di atas hanya sekedar cerita untuk anak-anak, tapi ada pelajaran yang sangat dalam yang bisa kita petik.

Kadang kita sesudah mempelajari sesuatu hal, merasa sudah menguasainya dengan sempurna. Sehingga memandang remeh jika ada orang lain yang menjelaskannya kepada kita, menganggap diri sudah tau.
Sehingga kita menutup diri dari ilmu atau cara baru, padahal mungkin saja penjelasan orang lain, meskipun kita sudah tahu, terkadang ada hal-hal kecil yang disampaikan orang lain yang dapat menambah pengetahuan kita.

Jadilah seperti sebuah gelas kosong yang mampu menerima apa pun, belajar tidak ada habisnya selalu ada hal baru yang bisa kita pelajari, yang terpenting selalu perhatikan apa yang diajarkan oleh orang lain, meski itu adalah yang sangat sederhana.

Tidak ada komentar: