Jumat, 07 November 2008

Surga Walet di Sulawesi Utara

Sumber: Trubus Online

Sepuluh tahun lalu jumlah rumah walet di Sulawesi Utara dapat dihitung jari. Lokasinya pun terbatas di pinggir pantai dan pulau-pulau dekat gua. Kini rumah si liur emas Collocalia fuciphaga itu hingga ke Manado, ibukota Sulawesi Utara. 'Di sana bunyi tweeter pemikat walet bersaing dengan suara speaker dari angkutan umum,' ujar Hary K Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara.

Saat pertama kali melacak walet di Manado pada 1998, Hary lebih banyak menjumpai sriti. Sriti-sriti itu keluar-masuk dari puluhan rumah yang tengah disulap menjadi bangunan walet. 'Rumah itu milik penduduk setempat yang dimasuki sriti,' kata pemilik Eka Walet Center itu.

Secara geografis kondisi Manado yang dibelah garis Wallacea itu mirip kondisi awal sentra walet di Pulau Mindanao Selatan di Filipina. Sebelum menjadi sentra, belasan rumah penduduk dimasuki sriti. Lalu telur-telur sriti diganti telur walet, maka berkembanglah populasi walet di sana, disusul berdirinya rumah-rumah walet. Menurut Jimmy di Distrik Samal, Mindanao, yang rumahnya sudah beralih fungsi jadi rumah sriti, materi sarang sama dengan di Manado. Sarang berwarna hijau karena mengandung rumput laut.

Sarang gua
Untuk menemukan sentra walet di Sulawesi Utara tidak mudah. Jejak si liur emas baru terendus bila sudah sampai di Malalayang, sebuah daerah pantai berjarak 1 jam berkendaraan dari kota Manado. Di daerah itu banyak tumbuh pohon kelapa. Di sanalah walet dan sriti tinggal. Sebetulnya sentra walet di Sulawesi Utara tidak hanya di Malalayang, tapi juga di pulau-pulau lain seperti Pulau Sangihe, Pulau Kalama, dan Pulau Siau. Kondisi lingkungan di sentra-sentra itu mirip Malalayang yang didominasi pohon kelapa. Yang berbeda di ketiga tempat itu banyak terdapat gua-gua kecil.

Namun, lantaran terpaku pada gua, pengembangan rumah walet tersendat. Kini di Pulau Sangihe, Kalama, dan Siau terdapat sekitar 50 rumah walet. Padahal, di ketiga pulau itu ada rumah walet sejak 1997. 'Para pengusaha rumah walet yang umumnya dari Jawa kurang melirik Sulawesi Utara karena kendala pengawasan,' ujar Hary.

Perkembangan rumah walet mulai terlihat pada 2000. Sejak itu banyak investor dari Manado, Makassar, dan Surabaya, membangun rumah walet di daerah pesisir hingga tengah kota. Pada April 2008, Dr Boedi Mranata menghitung setidaknya terdapat 50 rumah walet di Malalayang. Ukurannya beragam dengan ketinggian rata-rata 4 lantai.

Salah satu rumah walet seluas kurang lebih 1.000 m2 terlihat tidak kalah megah dibandingkan rumah walet di sentra-sentra di Pulau Jawa. 'Rumah itu kemungkinan telah menghasilkan ratusan kilogram sarang walet,' kata praktikus walet di Jakarta Selatan itu.

Curah hujan tinggi
Kini sentra walet di Sulawesi Utara semakin luas. Lihatlah, sepanjang Manado-Bitung-berjarak ratusan kilometer-rumah-rumah walet bermunculan bagai jamur di musim hujan. Hary memperkirakan jumlahnya sekitar 100 rumah. 'Suasana sentra walet sangat kental. Sampai-sampai suara tweeter rumah walet menyaingi dentuman musik dari angkutan umum,' tutur Hary. Meski begitu, rupanya tak semua rumah berisi walet. Pengamatan Boedi menunjukkan hanya 10% rumah yang sudah memproduksi sarang. Sisanya masih kosong. Boedi dan Hary sepakat hal itu disebabkan desain bangunan yang salah, antara lain lubang udara sedikit dan peletakan tweeter tidak tepat.

Sejatinya agroklimat di Sulawesi Utara, khususnya Manado, cocok untuk walet. Suhu di kota Nyiur Melambai itu berkisar 28-30oC dan kelembapan 80-90%. Curah hujan tinggi, sebesar 3.187 mm/tahun (Manado) dengan panjang musim hujan 11 bulan sehingga lebih basah dibanding Jawa Timur, sentra walet di Jawa. Ketersediaan pakan melimpah karena Manado dikelilingi perkebunan kelapa, sawah, dan hutan.

Menurut Boedi, Sulawesi Utara sangat ideal menjadi sentra walet. Keberhasilan putar telur di Manado sangat tinggi, hampir 50%. Padahal di Jawa atau Sumatera hanya 20%. 'Bisa mencapai 50%, angka yang bagus,' kata alumnus Biologi di Universiteit Hamburg Jerman itu. Artinya bila 10.000 telur sriti ditukar dengan telur walet, bisa diperoleh 5.000 walet. Tingginya keberhasilan itu karena tingkat persaingan memperebutkan pakan rendah.

Telur-telur walet untuk putar telur itu sebagain besar didatangkan dari Jawa, Lampung, dan Bali. Permintaan telur walet di Sulawesi Utara dari tahun ke tahun terus meningkat. Sebagai gambaran Hary rutin mengirim 10.000-15.000 telur/tahun untuk sebuah rumah walet. 'Pembelinya para pemilik rumah sriti maupun walet. Mereka berhasil melakukan putar telur dengan bukti sudah memproduksi sarang banci,' kata Hary yang memiliki lebih dari 10 langganan pembeli di Manado itu. Sarang banci adalah sarang sriti yang dilapisi sarang walet yang terjadi seiring pergantian penghuni dari sriti menjadi walet. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tidak ada komentar: