Rabu, 08 Oktober 2008

Duet Mrutu dan Pelet Dongkrak Produksi

Oleh trubusid
Rabu, Oktober 08, 2008 10:59:01

Ratusan walet beterbangan di depan rumah berukuran 8 m x 12 m di Jakarta Barat. Mereka saling beradu cepat menyambar pakan yang disemburkan sebuah blower bergaris tengah 5 m. Memang ada sesuatu yang istimewa di sana: pakan kombinasi mrutu dan pelet.

Pemandangan fenomenal itu sudah berlangsung sejak 6 bulan lalu. Padahal sang empunya rumah walet menyebut bangunannya tak lagi menjanjikan. Dibeli awal 1998 produksi liurnya saat itu 18 kg/panen. Setelah itu produksi berangsur-angsur menukik sampai 3,5 kg. Namun, 6 bulan lalu produksi meningkat lagi, 6 kg/panen. 'Akhir September 2008 diperkirakan dipanen 9 kg,' kata Anthonius, sang empunya.

Anthonius menggunakan alternatif pakan mrutu untuk memancing walet datang atas saran praktikus walet di Mojokerto, Jawa Timur. 'Dia (konsultan, red) bilang agar dicoba memakai serangga yang disukai walet di alam,' ujar Anthon. Mrutu dipilih karena selain mudah dibudidayakan, kelompok diptera itu sangat disukai Collocalia fuchipaga.

Kombinasi pakan
Selama 6 bulan menggunakan mrutu, populasi walet di rumah Anthon mulai meningkat. Awalnya ada sekitar 1.000 ekor, tapi kini mencapai lebih dari 2.000 ekor. Sepanjang hari tak kurang 200 walet bermain di area bangunan itu. 'Paling tidak sekarang ada 800 sarang utuh dan 300 sarang setengah jadi,' ujar kontraktor itu. Jumlah itu melebihi target pertambahan 20-30% sarang per 2 bulan yang diperkirakan sang konsultan.

Dari pengalaman Anthon kombinasi mrutu dan pelet mujarab mendongkrak populasi walet. Setiap hari 4,5 kg pelet dan 10-20 kg media budidaya mrutu per bulan disediakan Anthon. Sebelum dikombinasikan dengan pelet, Anton menyediakan 50-60 kg media budidaya mrutu per bulan.

Pelet yang diberikan berbeda dengan pelet ikan atau burung kicauan. Pelet itu berwarna hitam dengan bentuk bulat berdiameter kurang dari 5 mm. Sepintas mirip serangga. Pelet temuan Agung Santoso, di Mojokerto, Jawa Timur, itu berbahan baku kacang kedelai dan tepung terigu. Tambahannya mineral dan asam amino. Kombinasi bahan baku itu menghasilkan kadar protein pelet 55,58%.

Kadar protein sebesar itu cukup untuk walet bertelur dan bersarang. Apalagi ditambah mrutu yang kadar proteinnya 59,74%. Jumlah kalori yang dihasilkan kombinasi mrutu dan pelet itu mencapai 3.600 kalori. Itu artinya 90% dari kebutuhan walet sebesar 4.100 kalori/hari sudah terpenuhi. 'Pemberian pakan dengan nutrisi tinggi dapat memacu produksi sarang sampai 2 kali lebih cepat. Bila teknik itu diterapkan pada budidaya konvensional, sarang dapat dipanen 5-6 kali/tahun,' kata Agung.

Agung menuturkan walet dewasa membutuhkan 0,5-1 g pelet per hari. Jika diternak intensif-dikurung-perlu 2,5 g/ekor/hari. Untuk piyik cukup diberi 0,2-0,3 g/ekor/hari. Pelet harus diberikan dalam keadaan lembap supaya terlihat seperti serangga hidup.

Berdasarkan pengamatan Anthon setelah diberi pelet, walet tampak lebih gemuk. Rentang sayapnya yang semula 26 cm, menjadi 30 cm. Bulu-bulu panjang yang kerap rontok saat pergantian musim dan menempel di sarang semakin sedikit. Pun, angka kematian piyik yang sebelumnya mencapai 60%, turun hingga 5%. 'Kini rumah walet tak hanya diisi walet dewasa, tapi juga banyak walet muda dan piyik,' kata Anthon. Yang menggembirakan, sarang lebih putih dan tebal.

Pakai blower
Mrutu yang sudah dibekukan (mati) dan pelet diberikan dengan cara dilontarkan menggunakan blower yang dipasang di depan pintu keluar-masuk. Blower dinyalakan selama 12 jam sejak pukul 05.00 WIB sampai semua walet masuk ke rumah. Selepas pukul 10.00 WIB tambahkan pelet selang 1 jam.

Jangan lupa semprotkan air berkabut di sekitar areal pakan untuk menjaga kelembapan dan menambah gairah si liur emas. Biasanya sekitar 3% pakan jatuh ke tanah. Pakan yang berjatuhan itu tidak boleh dipakai lagi karena dikhawatirkan tercemar sehingga dapat menimbulkan penyakit.

Menyediakan pakan buatan memang lazim dilakukan di rumah-rumah walet di perkotaan untuk meningkatkan populasi dan mempertahankan produksi sarang. 'Kepergian burung sulit dihindari bila hanya mengandalkan pakan dari alam. Begitu juga bila sepenuhnya bergantung pada pakan buatan,' kata Ir Lazuardy Noormansyah, konsultan walet di Jakarta Barat. Pasalnya, walet tetap butuh berbagai macam serangga untuk kecukupan nutrisi dan pakan buatan agar ketersediaan pakan terjamin. .

Lazuardy pun mengingatkan agar para pemilik rumah walet mempertimbangkan risiko akibat burung-burung 'tetangga' yang menumpang makan. Maksudnya supaya tidak terjadi pemborosan. 'Sejam dua jam, dia (walet tetangga, red) datang bermain dan menyambar pakan buatan, lalu menghilang,' katanya. Agar efektif, pemilik biro konsultan Multi Walet itu menyarankan blower dinyalakan hanya pada waktu walet akan pergi dan pulang mencari pakan.

Hal senada diamini Viany Cin Hiong. Menurut praktikus walet di Jakarta itu meski ada walet tetangga singgah karena tertarik pelet, tapi bukan berarti akan bersarang. Walet yang datang belum tentu tertarik menetap bila kondisi mikro dalam rumah walet tidak nyaman. Sebab itu pula selain memberi mrutu dan pelet, Anthon melakukan renovasi tata ruang rumah walet agar nyaman ditinggali sang penghasil liur emas. (Andretha Helmina)

Tidak ada komentar: