Jumat, 10 Oktober 2008

Laskar Pelangi

Pengantar
Mungkin pembaca catatan saya heran mengapa saya memuat "Laskar Pelangi" dan tidak ada kaitannya dengan budidaya walet. Yang ingin saya sampaikan dengan memuat artikel-artikel ini adalah untuk mengingatkan rekan-rekan bahwa dalam budidaya walet perlu ketekunan, kesabaran, jangan pernah menyerah. Dan harapan saya "Laskar Pelangi" dapat memberi inspirasi dan memotivasi kita dalam segala bidang termasuk bidang budidaya walet.

Trailer Laskar Pelangi the Movie
video

Laskar Pelangi
Ini kisah nyata tentang sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris rubuh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal. Pada hari pendaftaran murid baru, kepala sekolah dan ibu guru satu-satunya yang mengajar di SD itu tegang. Sebab sampai siang jumlah murid baru sembilan. Kepala sekolah bahkan sudah menyiapkan naskah pidato penutupan SD tersebut. Namun pada saat kritis, seorang ibu mendaftarkan anaknya yang mengalami keterbelakangan mental. "Mohon agar anak saya bisa diterima. Sebab Sekolah Luar Biasa hanya ada di Bangka," mohon sang ibu. Semua gembira. Harun, nama anak itu, menyelamatkan SD tersebut. Sekolah pun tak jadi ditutup walau sepanjang beroperasi muridnya cuma sebelas. Kisah luar biasa tentang anak-anak Pulau Belitong itu diangkat dalam novel dengan judul Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata, salah satu dari sepuluh anak itu. Di buku tersebut Andrea mengangkat cerita bagaimana semangat anak-anak kampung miskin itu belajar dalam segala keterbatasan. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang hingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama.
Kisah yang tadinya bukan untuk diterbitkan itu ternyata mampu menginspirasi banyak orang. Seorang ibu di Bandung, misalnya, mengirim surat ke Kick Andy. Isinya minta agar kisah tersebut diangkat di Kick Andy karena anaknya yang membaca buku Laskar Pelangi kini bertobat dan keluar dari jerat narkoba. "Setiap malam saya mendengar suara tangis dari kamar Niko anak saya. Setelah saya intip, dia sedang membaca sebuah novel. Setelah itu, Niko berubah. Dia jadi semangat untuk ikut rehabilitasi. Kini Niko berhasil berhenti sebagai pecandu narkoba setelah membaca buku Laskar Pelangi," ungkap Windarti Kosasih, sang ibu. Sementara Sisca yang hadir di Kick Andy mengaku setelah membaca novel itu, terdorong untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah yang selama ini rusak. Begitu juga Febi, salah satu pembaca, langsung terinspirasi untuk membantu menyumbangkan buku untuk sekolah-sekolah miskin di beberapa tempat. "Saya kagum karena anak-anak yang diceritakan di buku itu penuh semangat walau fasilitas di sekolah itu jauh dari memadai," ujar Febi yang juga datang ke Kick Andy untuk bersaksi. Andrea sendiri mengaku novel itu awalnya hanya merupakan catatan kenangannya terhadap masa kecilnya di Belitong. Dia selalu teringat sahabat-sahabatnya di masa kecil, terutama Lintang. Sebab tokoh Lintang merupakan murid yang cerdas dan penuh semangat walau hidup dalam kemiskinan. Setiap hari Lintang harus mengayuh sepeda tua yang saering putus rantainya ke sekolah. Pulang pergi sejauh 80 km. Bahkan harus melewati sungai yang banyak buayanya. Sayang, cita-cita Lintang untuk bisa sekolah ke luar negeri, seperti yang sering didorong oleh guru mereka, terpaksa kandas. Lintang bahkan tak tamat SMP karena orangtuanya yang nelayan tidak mampu membiayai. "Lintang adalah sosok yang menginspirasi saya. Karena itu, saya bertekad meneruskan cita-cita Lintang," ujar Andrea, yang sekian puluh tahun kemudian berhasil mendapat beasiswa sekolah ke Sorbonne, Prancis. Tim Kick Andy yang mendatangi kampung tempat SD itu berdiri, di Belitong, berhasil menemukan beberapa dari tokoh anak-anak di dalam novel tersebut. Mereka kini sudah dewasa. Namun kenangan tentang masa kecil itu sangat kuat membekas. Terutama pada ibu guru Muslimah yang sangat mereka cintai. "Buku Laskar Pelangi memang saya persembahkan untuk Ibu Mus yang sangat tabah dan pantang menyerah dalam mendidik kami," ujar Andrea. Maka sungguh menarik menyaksikan bagaimana Kick Andy mempertemukan Andrea dengan Ibu Guru Muslimah di studio Metro TV. Apalagi ketika Bu Mus membawa barang-barang yang mempunyai kenangan tersendiri bagi Andrea dan teman-teman kecilnya dulu di kampung. Kenangan yang diceritakan kembali oleh Andrea dengan jenaka. Juga termasuk darimana Andrea mengambil nama yang dipakainya hingga sekarang ini. Sungguh sebuah novel -- yang diangkat dari kisah nyata -- yang sangat menggugah. Novel yang membuat siapa pun yang membaca akan merasa bersalah dan berdosa jika tidak mensyukuri hidup. Itu pula sebabnya sutradara Riri Reza dan Produser Mira Lesmana tertarik untuk mengangkat kisah ini ke layar film.

Komentar Handito Joewono
President Branding Indonesia dan Chief Strategy Consultant ARRBEY

Yang harus kalian ingat, anak-anakku: Jangan cepat menyerah. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya”, begitu kira-kira pesan Pak Cik sebelum meninggal di ruang kelas SD Muhammadiyah di Pulau Belitong yang dipimpinnya. Lengkaplah tugas Pak Cik sebagai ’pahlawan’ dan guru bagi Laskar Pelangi. Pahlawan memang harus mati, tetapi cita-citanya abadi. Bahkan semasa hidupnya, Pak Cik pernah berucap kepada ibu guru Muslimah ”Tugas kita adalah meyakini anak-anak agar mereka berani punya cita-cita.” Saya tersentak, tertegun, terharu, tersenyum dan tertawa sekaligus saat menonton film layar lebar Laskar Pelangi bersama dengan tepat sepuluh orang anggota keluarga kami seperti jumlah anggota Laskar Pelangi. Film hebat ini diangkat dari novel karya Andrea Herata yang ’dibesarkan’ oleh Kick Andy. Disana ada sosok ibu guru Muslimah yang penuh dedikasi. ”Mimpi aku bukan jadi istri saudagar. Mimpi aku jadi guru.” Disana ada guru kepala Pak Cik yang punya pandangan jauh ke depan dengan pesan moral yang jelas. Disitu ada Ikal ’Andrea Herata’ yang ketika masih anak picisan sudah ’bermain cinta’ dengan A Ling saudara sepupu A Kiong sahabat Ikal. Dengan prestasi sekolah biasa-biasa saja, kini hadir Andrea Herata yang fenomenal. Benar kata Pak Cik bahwa ”Kecerdasan diukur bukan dengan angka, tapi dengan hati.” Bisa jadi Ikal tidak menjadi Andrea Hirata yang sekarang kalau tidak terusik hatinya saat mengambil orderan kapur tulis untuk sekolahnya di toko tempat kerja A Ling. Romantisme diperlukan ditengah kepedihan. Di Laskar Pelangi kita bisa saksikan seorang ’jenius alami’ Lintang yang semangatnya tidak pernah luntur. Dengan tindakan nyata tanpa banyak cerita, Lintang yang datang sekolah lebih awal dan bertemu buaya ketika menuju sekolah, berhasil mengantarkan sekolahnya menjadi juara Cerdas Cermat. ’Sayang’ dia yang datang ke sekolah lebih awal terpaksa harus meninggalkan sekolah lebih awal karena tidak bisa melanjutkan sekolah ketika orang tuanya meninggal. Tetapi mungkin itu juga yang melecut hati Ikal belajar lebih jauh. Seringkali kita perlu contoh tragis agar terinspirasi. Termasuk dalam memajukan Indonesia. Tentu saja memajukan Indonesia tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan pengelolaan sekolah dasar kecil di Belitong. Banyak warga Indonesia yang kaya dan bahkan sangat kaya, meskipun sebagian besar belum kaya dan masih miskin. Banyak anak Indonesia yang sudah sekolah S-2 atau S-3, tetapi banyak juga atau bahkan banyak banget yang tidak termotivasi untuk berprestasi. Indonesia perlu banyak ’Pak Cik’, banyak ’ibu guru Muslimah’ dan banyak ’Lintang’. Indonesia perlu lebih banyak orang yang berprinsip lebih baik memberi daripada menerima. Indonesia perlu lebih banyak anak muda yang bisa memberi inspirasi atau terinspirasi. Sekarang kita ada di bulan Oktober yang sekaligus peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Inilah saat yang tepat untuk kembali mencanangkan cita-cita ‘pelangi’ Indonesia sesuai dengan Sumpah Pemuda 2008 yaitu: 1) Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia, 2) Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia, 3) Kami putera dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Mengomentari Pak Cik yang meninggal di tempat tugas, keponakan saya –Rachel- yang kelas dua SD dan waktu nonton duduk di sebelah saya nyeletuk ”Siapa yang jadi guru setelah Pak Cik meninggal? Dan saya tersadar bahwa film Laskar Pelangi sudah usai diputar. Sekarang kita kembali ke realita, memajukan Indonesia. Bisa jadi kita sedang menunggu siapa yang jadi ’Pak Cik’ untuk memajukan Indonesia. Tentu kita perlu banyak ’Pak Cik’. Pak Cik di Laskar Pelangi sudah mati dan jadi pahlawan, dan biarkan beliau menikmati kepahlawanannya. Kita lanjutkan cita-citanya sebagai inspirasi untuk memajukan Indonesia. Siapa yang seharusnya menjadi Pak Cik-Pak Cik baru? Mengapa bukan kita saja yang menjadi Pak Cik yang baru? Betul nggak?

Jakarta, 1 Oktober 2008
Handito Joewono
President Branding Indonesia dan Chief Strategy Consultant ARRBEY

Tidak ada komentar: