Sabtu, 05 Mei 2012

Sarang Walet Bisa Diekspor Langsung


Sarang Walet Bisa Diekspor Langsung 
Rabu, 02/05/2012 | 10:27 WIB
Hapus rute pihak ketiga, potensi ekspor mencapai 400 ton/tahun 
JAKARTA– Para eksportir sarang burung walet sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, Pemerintah sudah menyepakati perjanjian bilateral dengan China agar ekspor sarang burung walet dilakukan secara langsung tanpa melalui pihak ketiga. Tanggal 24 April 2012 kemarin, ada MoU Kementrian Pertanian RI denganChina

Kesepakatan itu direspon langsung oleh Kementrian Pertanian dengan menyelesaikan standardisasi produk ekspor sarang burung walet. Kemungkinan, akhir Juni mendatang sarang burung walet dari Indonesia sudah bisa langsung diekspor ke China. 

China merupakan negara tujuan ekspor utama walet dari Indonesia. Akan tetapi, selama 2 tahun lebih ekspor sarang burung walet dari Indonesia tidak bisa langsung ke China, melainkan harus melalui pihak ketiga seperti Malaysia, Singapura, Kanada, Amerika Serikat, dan Hongkong. 
Kondisi itu dipengaruhi oleh boikot yang dilakukan oleh China akibat merebaknya flu burung. Sehingga, China mengkhawatirkan sarang burung walet yang diimpor dari Indonesia tersuspect flu burung. Selain itu, boikot dilakukan lantaran kualitas sarang burung walet dari Indonesia di bawah standar internasional.

Menteri Pertanian RI, Suswono mengatakan, saat ini Kementerian Pertanian sedang menyelesaikan proses regulasi teknis ekspor sarang burung walet ke China. Regulasi tersebut akan dibentuk supaya ekspor bisa transparan dan tidak ada yang dirugikan, baik dari konsumen di China maupun produsen di Indonesia. “Akhir Juni kita sudah bisa ekspor langsung. Sekarang kita sedang menuntaskan teknis tentang standardisasinya,”kata Menteri kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini di kantornya, Selasa (01/5).

Dengan disepakatinya ekspor sarang burung walet secara langsung dari Indonesia ke China, maka menurut Suswono black market perdagangan sarang burung walet yang selama ini dilakukan oleh eksportir bisa diminimalisir. Menurut dia, diboikotnya ekspor sarang burung walet ke China berdampak pada merebaknya ekspor melalui black market.
Sehingga negara mengalami kerugian karena ekspornya banyak yang tidak terdata dan negara tidak memperoleh devisa. Di sisi lain black market mengakibatkan harga sarang burung walet anjlok. Menurut Suswono akibat larangan impor tersebut, harga pasar sarang burung walet jatuh level terendah. Harga sedang dititk nadir, Rp 5 juta per kilo padahal harga normal Rp 37 juta per kilo.

Setiap tahunnya Indonesia mampu mengekspor sarang burung walet sebanyak 200 ton. Padahal, potensi ekspor sarang burung walet di Indonesia mencapai 400 ton per tahun yang nilainya sebesar Rp7,4 triliun. “Idealnya tiap tahun potensi penjualan sarang burung walet bisa menyentuh angka Rp6 triliun,”ujarnya.

RI terbesar

Terpisah, Ketua Asosiasi Peternak Pengusaha Sarang Burung Walet Indonesia (APPSWI), Wahyudi Huesin menambahkan, Indonesia merupakan produsen sarang burung walet terbesar di dunia. Sekitar 80% dari total produksi sarang burung walet dunia berasal dari Indonesia. Sementara, sekitar 60% dari total ekspor sarang burung walet dari Indonesia berasal dari Jatim. “Selebihnya dari Jakarta dan Semarang masing-masing 20% dan 10%,”jelasnya.

Saat ini sebanyak 50 perusahaan tergabung dalam APPSWI sudah mendaftarkan diri untuk bisa melakukan ekspor sarang burung walet secara langsung ke China. Dari jumlah itu, yang sudah siap dan memenuhi standardisasi sebanyak 10 perusahaan. “Saya harap eksportir lainnya mempersiapkan diri agar produknya bisa memenuhi standardisasi. Misalnya dengan sertifikat ISO,”imbuhnya.
Sementara, Kepala Badan Pusat Karantina Banun Harpini menambahkan, nantinya pemerintah akan memberlakukan prosedur registrasi eksporter untuk memantau kualitas produknya.

Sebab, Indonesia pernah dituduh oleh China mencampurkan zat pewarna terhadap olahan sarang burung walet yang diekspornya. Padahal, ekspor sarang burung walet dari Indonesia ke China tidak secara langsung.did

Sumber: Surabaya Post Online

Tidak ada komentar: