Kamis, 03 Desember 2009

Earl of Cranbrook: Perkembangan Walet Indonesia Mengejutkan

Oleh trubusid_admindb
Selasa, Desember 01, 2009 16:23:46 Klik: 53


BENARKAH WALET SETIA? UNTUK MEMBUKTIKAN HAL ITU EARL OF CRANBROOK, MA , PHD, DSC BESERTA REKANNYA, DR LIM CHAN KOON MELAKUKAN PERCOBAAN SEDERHANA DI SEBUAH GUA DI BARAM, MALAYSIA, PADA 1997. PENELITI ASAL INGGRIS ITU MENGOLESKAN SETITIK CAT PUTIH SEBELUM SARANGNYA DIAMBIL. KEESOKAN HARI SETELAH SARANG DIPANEN WALET YANG SAMA BERADA DI TEMPAT SARANGNYA YANG LAMA.

Kesetiaan itu tak lepas dari kondisi mikro dan makro ideal di sekitar rumah walet seperti suhu, kelembapan, dan curah hujan sehingga walet betah tinggal. Kondisi mikro dan makro itu disesuaikan dengan keadaan gua-habitat asli walet.

Rumah walet menjamur sejak 1990-an, terutama di Pulau Jawa, sebab sarangnya bernilai ekonomi tinggi. Jenis yang banyak 'dirumahkan' adalah walet sarang putih Collocalia fuciphaga. Maklum harga jualnya mencapai Rp10-juta-Rp13-juta/kg. Jenis lain adalah sriti C. esulenta yang harga sarangnya berkisar Rp1-juta-Rp1,5-juta/kg.

Pembangunan rumah walet itu lalu merambah ke Sumatera dan Kalimantan. Namun, walet bukan monopoli Indonesia. Sejatinya ada 26 jenis walet menghuni wilayah Indopasifik dari Madagascar melalui Indo-Malaya, Filipina, Himalaya Timur, Hawaii, danKaledonia baru. Masing-masing terbagi dalam 3 kelompok: waterfall swift alias giant swiftlet (1 spesies dari keluarga Hydrocous), glossy swift (3 spesies dari Hydrochous), dan black-brown swiftlet (22 spesies dari jenis Aerodramus).

Sembilan di antaranya berada di subwilayah Sunda: H. gigas, C. esculenta, C. linchi, A. brevirostris, A. maximus, A. vulcanorum, A. salanganus, A. germani, dan A. fuciphagus atau Collocalia fuciphaga. Bagaimana pandangan Lord Cranbrook tentang walet terutama di Indonesia? Berikut petikan wawancara wartawan Trubus, Lastioro Anmi Tambunan, dengan penggiat lingkungan itu.

Menurut Anda bagaimana perkembangan walet di Indonesia?

Pembangunan rumah walet pertama kali tercatat di Pulau Jawa sekitar pertengahan abad ke-19. Selanjutnya berkembang ke Kalimantan khususnya Banjarmasin. Berikutnya marak di Pulau Sumatera. Yang mengejutkan populasi C. fuciphaga kini ditemukan di Sulawesi. Misal di Polewalimandar, Sulawesi Barat, yang ditulis di majalah Anda (Trubus edisi Oktober 2009, red). Padahal Sulawesi bukan daerah lintasan C. fuciphaga. Pulau itu mayoritas dihuni C. esculenta.

Bagaimana hal itu dapat terjadi?

Berdasarkan pengamatan teman saya, Boedi Mranata (pemain walet senior Indonesia, red), burung-burung itu bermigrasi dari Kalimantan karena terjadi kebakaran hutan besar di sana. Kemungkinan lain, walet bermigrasi dari Pulau Jawa yang populasinya mulai jenuh.

Negara mana yang juga mengembangkan rumah walet?

Malaysia salah satu yang demam membangun rumah walet. Di Penang, Malaysia, rumah walet di atas ruko pertama kali dicatat pada 1947. Pada 1950-an terlihat di rumah tradisional di Taiping. Berikutnya di Terengganu sebelum 1974. Selain Malaysia, pembangunan rumah walet mulai marak di Vietnam sejak 1970-an. Bahkan di Thailand Selatan berdiri kondominium walet yang menjadi salah satu tempat wisata. Namun, jumlahnya lebih kecil ketimbang Indonesia. Karena itu wajar Indonesia menjadi eksportir terbesar sarang khususnya sarang walet putih.

Selain C. fuciphaga, spesies apa yang menghasilkan sarang untuk konsumsi dan bernilai jual tinggi?

Ada 3 spesies lain, yakni Aerodramus maximus, A. germani, dan A. linchi. Ketiganya tersebar di Indopasifik. A. germani yang bersarang putih, misalnya, banyak ditemukan di Pulau Condore, Vietnam. Selain itu di kepulauan pantai Thailand, Myanmar, dan Filipina.

Seorang peternak di Mojokerto, Jawa Timur, berhasil menernakkan walet dari telur hingga dewasa di dalam rumah. Selama itu walet tidak keluar untuk mencari pakan karena disediakan di dalam rumah. Bagaimana pendapat Anda tentang hal tersebut?

Hal itu dapat dilakukan. Namun, butuh lahan luas dan ketersediaan pakan yang besar. Yang terpenting walet-walet hasil tangkaran itu mampu menghasilkan sarang berkualitas baik. Menurut saya masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut soal itu.

Bila pakan mesti disediakan, serangga jenis apa yang lazim dikonsumsi walet?

Walet termasuk pemilih. Ia hanya mengkonsumsi serangga tertentu. Lazimnya serangga itu berasal dari keluarga Arthropoda. Collocalia esculenta cyanoptila, misalnya, menyukai Chalicidoide, Brachycera, Formicoidea, Homoptera, Coleoptera, dan Nematocera. Pencarian pakan di alam biasanya dimulai pagi dan walet kembali ke rumah sore harinya. Jumlah pakan melimpah terutama saat musim hujan. Saat itu walet tidak perlu jauh mencari pakan sehingga bobot sarang yang dihasilkan maksimal, yakni 5-10 g. Jumlah itu 50-80% dari bobot tubuhnya.

Apakah ada pengaruh pemasangan speaker dan tweeter untuk memancing walet masuk ke rumah?

Setiap rumah walet saat ini menggunakan bunyi-bunyian untuk mengundang walet. Sejatinya walet hidup berkoloni. Mereka tertarik masuk saat mendengar suara teman-temannya di dalam rumah. Berdasarkan penelitian Sonografi pada 1958, setiap 2 detik A. maximus mengeluarkan suara berkekuatan 5-20 Khz.

Berdasarkan penelitian Anda apakah walet sarang putih penghuni gua sama dengan walet rumahan?

Belum ada bukti koloni walet rumahan ditemukan juga dalam gua. Sebuah penelitian di Malaysia menyebutkan adanya perbedaan genetik antara A. fuciphagus vestitus rumahan dengan gua. Tingkah laku walet rumahan juga berbeda. Mereka mencari rumah bangunan walet untuk bersarang, bukan gua. Karena itu walet rumahan dapat dikatakan sebagai Aerodramus 'domesticus'.

Sejatinya betina menghasilkan maksimal 2 telur per musim kawin. Mengapa dalam sebuah sarang kerap ditemukan 3 telur?

Kemungkinan itu karena ada betina yang salah meletakkan telurnya. Bila pun betina memproduksi 3 telur tapi yang tumbuh dewasa hanya 2 ekor. Yang seekor mati karena tubuhnya lemah.

Apa yang harus dilakukan untuk memajukan perwaletan?

Industri sarang walet semakin meningkat dengan harga jual sarang yang tinggi. Sayangnya belum ada sekolah khusus yang mendalami perwaletan. Padahal penelitian berperan penting untuk mengetahui keragaman, suara, dan aktivitas pembuatan liur terhadap waktu pijah. Sementara riset genetik dapat menghasilkan walet berkarakter sesuai dengan yang diinginkan peternak. Dengan memahami aturan garis keturunan kita dapat membuat walet resisten secara genetik terhadap suatu penyakit sehingga berdampak positif pada perekonomian. ***

Tidak ada komentar: