Kamis, 31 Desember 2009

Saat Walet Bersarang di Dataran Tinggi

Oleh trubusid_admindb
Jumat, Januari 01, 2010 00:01:07

Pemandangan tak lazim terlihat di Desa Kopo, Kecamatan Kopo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ratusan sriti keluar-masuk dari lubang di lantai atas sebuah bangunan walet seluas 700 m2 di pinggir jalan raya menuju Puncak Pas. Di antara kumpulan sriti itu terlihat puluhan Collocalia fuciphaga. 'Dalam waktu 2 tahun sudah ada 100 sarang walet,' ujar Budiman, pengelola rumah itu.

Sebelum dikelola oleh Budi, rumah di ketinggian 700 m dpl itu sudah dihuni sriti. Namun, sampai berpindah tangan bangunan itu tak kunjung dimasuki walet. 'Di dataran tinggi seperti Puncak (di Bogor, Jawa Barat, red) mayoritas rumah walet dihuni sriti yang lebih tahan dingin. Di sana sriti berkembang dengan produksi sarang bagus karena banyak pohon pinus,' kata Hary K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara.

Berdasarkan pantauan Hary pembangunan rumah walet di sepanjang Puncak, Bogor, Jawa Barat, berlangsung sejak 1990-an. Namun, tak berkembang lantaran lingkungan makro tak mendukung. Daerah ini terlalu dingin dan sehari-hari diselimuti kabut sehingga mengganggu pandangan walet saat mencari pakan. Walet lebih memilih daerah lebih rendah yang agak panas seperti Cianjur dan Sukabumi. 'Produksi sarang walet di daerah itu hampir menyamai pantura yang akhir-akhir ini merosot hingga 50%,' ucap pemilik Eka Walet di Kelapagading, Jakarta Utara, itu.

Putar telur
Sukses budidaya walet di dataran tinggi sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Pada 2003-an di Desa Panglejar, Cikalongwetan, Purwakarta, Jawa Barat, dengan ketinggian tempat 1.000 m dpl, Syafrian Ali berhasil mengelola rumah walet. Rumah berukuran 6 m x 8 m setinggi 2 lantai itu dihuni puluhan walet dengan jumlah sarang 20 buah. Kuncinya, Ali hanya memasang pemanas untuk mengatrol suhu malam yang terlalu rendah, 16oC.

Bahkan di rumah itu juga Ali berhasil membudidayakan walet layaknya beternak ayam. Ia meloloh piyik-piyik walet yang baru menetas dari mesin, hingga siap terbang umur 45 hari. Walet-walet yang dipelihara di jaring nilon tertutup itu tumbuh sehat sampai dewasa. Sayang, ketika ia mencoba meliarkan walet-walet ternakan itu, hanya 10% yang kembali ke rumah. Menurut Ali walet akan beradaptasi dengan lingkungan. 'Walet yang lahir dan dibesarkan di dataran tinggi, pasti akan tahan dingin,' ungkapnya.

Prinsip itu pula yang diterapkan Budi. Ia rajin menukar telur sriti dengan telur walet untuk menciptakan koloni walet yang bisa hidup di daerah dingin. Putar telur pertama ia lakukan dengan jumlah 1.000 butir. Setiap sarang berisi telur sriti diisi 2 telur walet. Telur sriti lalu dibuang. 'Keberhasilannya memang rendah, hanya 10% yang menetas. Sisanya telur dibuang oleh sriti yang curiga karena telur-telurnya berukuran lebih besar,' tutur Budi. Putar telur kedua - berselang 2 bulan - berujung sama: tidak ada peningkatan persentase penetasan.

Pada putar telur ketiga diduga induk sriti sudah familiar dengan telur walet, keberhasilan penetasan mencapai 50%. Dari piyik-piyik itulah komunitas walet terbentuk. Selang 5 - 6 bulan, sarang-sarang sriti mulai dilapisi liur walet. Itu artinya walet-walet muda telah mengisi sarang-sarang sriti. 'Sarang campuran sriti dan walet tidak kami jual, tapi dibuat larutan untuk disemprotkan ke lagur-lagur dan dinding rumah walet. Maksudnya dengan aroma yang ditimbulkan larutan itu, walet bisa betah tinggal di rumah,' ujar Budi.

Atur kelembapan
Menurut Budi selain putar telur, pengaturan iklim mikro mesti dilakukan, terutama suhu dan kelembapan. Dinding bangunan dari beton setebal 30 cm sengaja dibuat untuk menahan udara dingin dari luar. Harap mafhum walet menghendaki suhu 28 - 29oC dan kelembapan di atas 75%. Di sentra walet di dataran rendah, biasanya ketebalan tembok maksimal 20 cm. 'Tembok tebal membuat pelepasan panas juga lebih lama sehingga ruangan tetap hangat,' imbuh Budi.

Untuk menyiasati agar rumah walet memerangkap sinar matahari lebih banyak, dibuat 2 lubang keluar-masuk lebih besar masing-masing berukuran 1 m x 1 m serta menghadap ke timur dan barat. Lazimnya lubang rumah walet 14 cm x 60 cm dan menghadap utara atau selatan. Konsekuensinya Budi menambah kanopi di atas lubang masuk di bagian timur untuk meredam sinar matahari langsung yang bisa menyilaukan walet saat keluar rumah.

Lubang masuk yang besar sekaligus berfungsi untuk memperlancar sirkulasi udara. Kecuali itu, angin juga masuk melalui bagian samping atap berbentuk piggy back berukuran 10 m x 1 m terbuat dari plastik UV. Jadi Budi tidak membuat lubang angin di sekeliling dinding bangunan yang menjadi ciri khas rumah walet. 'Jika ditambahkan lubang angin, justru akan menurunkan kelembapan dan ujung-ujungnya sarang mudah patah karena terlalu kering,' kata ayah 2 anak itu.

Void atau lubang antarlantai pun dibuat besar, 8 m x 10 m, dan lurus supaya sinar matahari bisa tembus ke lantai paling bawah. Di bawah void terlihat kolam 8 m x 6 m x 40 cm, yang bisa sewaktu-waktu diisi air jika suhu dan kelembapan turun.

Budi yakin dalam 5 tahun ke depan rumah walet yang kini masih didominasi sriti itu akan berubah 180 derajat. 'Nanti paling tidak 99% penghuninya walet. Populasi sriti hanya sebagai pelengkap,' katanya. Toh harapan Budi bukan tanpa alasan. Di Puncak hampir tidak ada rumah walet lain sehingga kemungkinan walet kabur sangat kecil. Sementara ketersediaan pakan berlimpah karena vegetasi tanaman terjaga dengan baik: kebun teh dan sayur-sayuran terhampar luas di sekeliling rumah walet. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tidak ada komentar: