Selasa, 05 Januari 2010

BECIK KETITIK OLO KETORO

SUARA SHIHAN

BECIK KETITIK OLO KETORO


Oss.

Dalam hidup manusia ini ada dua gugus perilaku yang satu sama lain saling bertolak belakang; yaitu : Perbuatan yang dikatagorikan `Baik`(Mulia) dan Perbuatan `Jahat` (Buruk). Kandungan didalamnya hanya berupa keaneka ragaman dan jenis perbuatan manusia itu.
Umpama; berderma dengan tulus termasuk dalam gugusan perbuatan baik, mencuri berada pada gugusan perbuatan jahat dan sebagainya.
Apabila dalam hidup ini kita selalu berusaha berbuat kebaikan, besar maupun kecil kepada sesamanya, alam lingkungannya dengan tulus dan ikhlas karena kesadaran bahwa; berbuat kebaikan itu indah dan mulia untuk dilakukan sepanjang hayat karena mempertinggi nilai hidup kemanusiaan kita, maka berusahalah sebisa bisanya menabung nilai kemuliaan ini sebanyak mungkin didalam hati. Tidak untuk ditonjolkan apalagi dipamerkan. Jangan pernah terlintas dalam pikiran kita bahwa perilaku yang sudah berada pada jalur yang benar ini, sebagai imbangannya, dimenfaatkan dan dimunculkan niat dan keinginan bahwa sekali kali boleh juga berbuat hal buruk dan jahat, karena beranggapan dirinya sudah berbuat banyak kebaikan.
Baik dan buruk itu tidak mungkin dicampur aduk lalu diambil rata ratanya seolah olah hasil akhir itulah nilai kemuliaan diri kita. Yang baik tetap baik, jahat tetap jahat. Tidak ada hubungannya satu sama lain. Segala perbuatan baik kita jangan dinodai dengan lawan perbuatan ini. Sebaliknya, apabila dalam hidup ini secara sengaja maupun khilaf, banyak perbuatan jahat dan buruk yang kita lakukan, maka atas kesadaran yang tulus dan bersungguh sungguh, masih memungkinkan apa yang buruk kita peringan dengan penyesalan penuh kesadaran dan perbuatan terpuji dan baik.

Apapun, kebaikan yang kita lakukan tidak perlu ditonjolkan, dipamerkan, diekspose keluar tetapi dibaliknya terselubung tujuan sekedar untuk meninggikan derajat diri sendiri agar dikagumi, dihormati, disanjung melalui kamuflase perbuatan bersandiwara itu.
Alangkah rendah dan nistanya hasilnya apabila hal ini merupakan tujuan yang dipoles dengan lapisan kemilau tetapi didalamnya nol besar. Bisa dipastikan bahwa nilai perbuatan kita adalah sebatas `rasa puas` hati kita sendiri melihat perbuatan kita dipuji, dikagumi dan disanjung itu tadi. Tetapi nilai bathin dan kemuliaan yang harusnya kita tabung menjadi simpanan sisa hidup yang makin pendek, tidak bernilai samasekali.
Perbuatan baik yang tulus dari hati sanubari jangan dicampur aduk dengan perbuatan `Show` yang bersifat politis dan ada udang dibalik batu. Perbuatan yang memang untuk konsumsi politis, biarlah menjadi bagian politik. Sebaliknya, perilaku kemanusiaan akibat sentuhan rasa hati nurani dan pikiran yang tulus, tinggi dan mulia harus diberi wadah sendiri. Tidak dicampur aduk. Nilainya satu sama lain bertolak belakang dan bahkan bertentangan.
Banyak rakyat jelata, walau dirinya sendiri masih hidup dalam keterbatasan dan kekurangan, sanggup melakukan sesuatu demi sesamanya, lingkungannya, generasinya dalam jangka waktu bertahun tahun tanpa pamrih. Tanpa keinginan sedikitpun atau bermaksud serta bertujuan untuk dipublikasikan segala perbuatannya, dihargai atau disanjung karena apa yang dilakukan itu murni dari kesadaran bathin yang mulia demi sesama dan generasi mendatang.
Sepi ing pamrih, rame ing gawe - Tanpa pamrih tapi banyak bekerja. Semua ini membuat hati kita terenyuh dan terharu kala pada akhirnya melihat hasil pengabdiannya yang belum tentu pernah dilakukan mereka yang penuh daya kemampuan tetapi bahkan sering segala tujuan perbuatan terhadap sesamanya, lingkungannya itu hanya semata mata untuk promosi dan pamer diri. Ada maksud tertentu dibaliknya.

Ironis sekali, apabila perbuatan baik kita yang relatif kecil saja, selalu diekspose dengan meletakkan kaca pembesar didepannya agar terlihat jelas dan luas jangkauannya.
Semua perbuatan baik, besar maupun kecil tidak perlu dilakukan dalam bentuk pameran. Biarlah berjalan wajar dan tidak perlu didramatisir. Dengan berjalannya waktu, yang baik dan benar pada akhirnya akan terlihat juga.
Sebaliknya, serapat rapatnya kita membungkus, menyembunyikan, menutup nutupi perbuatan buruk dan jahat dan sepandai pandainya kita bersikap penuh kepura puraan dengan memakai topeng dan berkedok wajah pengasih, dermawan yang dramawan, berlagak paling bersih dihadapaNYA dan bahkan menempatkan dirinya sebagai `manusia` pilihanNYA. Lambat tapi pasti, jati diri kita `siapa kita` dan bagaimana kita sebenarnya akan tercium dan terbongkar.
Becik ketitik olo ketoro!
Perjalanan waktu yang terus bergerak dengan cepat akan ikut peduli untuk membongkar dan membeberkan kenyataan yang sebenarnya.
Karenanya, hidup wajar penuh kejujuran apa adanya. Jangan mengembangkan diri `Pandai Bersandiwara`dan berpura pura. Pasti hidup akan lebih aman dan tenteram.
Gambar sampul depan sedikit banyak bisa mencerminkan jiwa pelakunya dibalik ini semua. Setidaknya hatinya adalah manusia `Penuh Kasih sayang`, ada rasa kepedulian dan berperasaan halus`.
KEPADA SATWA KECIL TAK BERDAYA SAJA ADA RASA KASIH DAN PEDULI, APALAGI KEPADA SESAMA DAN ALAM LINGKUNGANNYA.

Ungkapan `Becik ketitik olo ketoro` dari leluhur dalam Bahasa Jawa sehari hari yang amat sederhana ini memiliki nilai luas dan dalam maknanya. Kata kata indah ini berlaku sepanjang masa dan perlu menjadi pegangan hidup kita agar kita selalu mawas diri, tidak menjadi manusia berkedok dihadapan sesamanya dan hipokrit dihadapanNYA. Nilai kebaikan itu akan makin mulia, apabila segala perbuatan kita lakukan dengan tulus ikhlas dan kasih sayang kepada apa dan siapapun. Dijauhkan dari sifat pamer serta menonjolkan diri. Sebaliknya, perbuatan buruk kita akan makin dalam menghunjam, menusuk dan merobek nilai nilai keluhuran budi kemanusiaan kita apabila perbuatan ini selalu ditutup tutupi dengan kepura puraan.

Tabunglah segala kebaikan yang saudara lakukan didalam hati dan persembahkan keindahan dan kemuliaan ini hanya kepada Yang Maha Kasih.
Hindari perbuatan buruk dan jahat, walau dengan cara sembunyi dan terbungkus rapat karena sepandai pandainya kita menutupinya, semua itu tetap akan tampak jelas dihadapan Yang Maha Tahu. Jadilah manusia jujur dan sederhana dalam perbuatan sehari hari betapapun perkasanya diri kita dalam berbagai bidang. Nilai manusia yang utama adalah dimukaNYA, bukan sekedar dimata sesamanya.

Kebaikan murni dan tulus tidak pernah menuntut balas ( Tanpa Pamrih). Kejahatan tidak akan memberikan pahala ( Crime doesn`t pay).

Sumber: http://www.kyokushin.or.id/artikel29.php

Tidak ada komentar: