Jumat, 02 Oktober 2009

Polewalimandar, Pundi-pundi Walet Anyar

Polewalimandar, Pundi-pundi Walet Anyar
Oleh trubusid_admindb
Kamis, Oktober 01, 2009

LAYAKNYA RAMBO, JAGOAN FILM PERANG AMERIKA, HAJI AMIRUDDIN MENYANDANG SENJATA LARAS PANJANG DI TANGAN. IA MEMBERONDONG SEKAWANAN BURUNG YANG MENYERBU RUKO TEMPAT TINGGALNYA. 'SAYA MERASA TERGANGGU. BURUNG-BURUNG ITU KELUAR-MASUK RUKO DAN JUMLAHNYA RATUSAN,' UJAR WARGA SIDODADI, KECAMATAN WONOMULYO, KABUPATEN POLEWALIMANDAR, SULAWESI BARAT.

Beruntung tak satu pun peluru yang Amiruddin tembakkan mengenai sasaran. Sebab, andai saat itu tahu kawanan burung itu sumber pundi-pundi emas, ia tak bakal mengusiknya. Kebetulan setelah sebulan Amiruddin berperang melawan kawanan burung itu, seorang pedagang Bali singgah ke tempatnya. Begitu melihat burung-burung itu ditembaki buru-buru ia menghentikan aksi Amiruddin. 'Itu walet! Sarangnya laku dijual mahal,' ujar Amiruddin menirukan sang pedagang.

Awalnya, 6 bulan sejak kedatangan walet-walet itu Amiruddin hanya membagi-bagikan gratis sarang-sarang walet itu kepada para tetangga. Namun, sejak 2001 silam, setahun setelah walet-walet itu masuk, ia mulai memanen dan menjual sarang si liur emas itu. 'Panen pertama dapat 1 kg dari 120 sarang. Harga sarang waktu itu Rp6-juta per kg,' ujar Amiruddin.

Kini, ruko 2 lantai seluas 80 m2 yang telah direnovasi dan tak lagi ditinggali itu menghasilkan 10 kg/bulan sarang mangkok. Dengan harga sarang saat ini Rp12,5-juta per kg, kawanan burung itu sudah menjadi pundi-pundi penghasil rupiah. Populasi waletnya kini mencapai ribuan ekor.

Lintasan baru
Ketidaktahuan warga Wonomulyo soal walet tidak saja menimpa Amiruddin. 'Sebelumnya tidak ada walet di daerah ini, sehingga banyak yang tidak tahu soal walet,' ujar Muchlis Selo, peternak baru walet di Wonomulyo. Walet baru datang sekitar 10 tahun silam ketika ada rumah bekas terbakar yang dibiarkan terbengkalai selama hampir 2 tahun.

Ketika walet berdatangan ke rumah itu, penduduk di kecamatan seluas 26.726 km2 itu belum menggubris. Setahun berselang, pada 2000, ketika ruko Amiruddin yang berselisih satu rumah dengan rumah bekas terbakar itu dijadikan sarang walet, barulah mereka tahu tentang si liur emas. Rumah-rumah walet lain pun mulai bermunculan. Saat ini di pusat kelurahan Sidodadi, dalam radius 500 m2 telah berdiri 70 rumah walet.

'Kemungkinan walet-walet itu datang dari daerah lain seperti Samarinda, Kalimantan Timur, atau Makassar, Sulawesi Selatan,' ujar Mulyadi, konsultan rumah walet di Tangerang, Banten. Menurut Drs Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, walet-walet itu bisa jadi datang dari daerah lain, tapi tidak menutup kemungkinan di daerah sekitar Wonomulyo. Polewalimandar mungkin sudah menyimpan potensi walet gua yang tidak diketahui banyak orang.

'Jika walet itu datang dari daerah lain, berarti sumber pakan di tempat asalnya menipis sehingga mereka datang ke tempat yang masih tersedia banyak pakan,' ujar Arief. Wonomulyo memang ideal sebagai tempat tinggal sekaligus mencari pakan walet karena banyak terdapat kebun kakao dan areal pesawahan yang menjadi sumber mata pencaharian penduduk.

Selain itu, jarak kecamatan berpenduduk 30.279 jiwa pada 2008 itu hanya sekitar 5 km dari laut dan 10 km dari perbukitan yang hutannya masih hijau. Areal pesawahan, perkebunan, dan hutan biasanya dihuni berbagai jenis serangga yang menjadi pakan walet. Dan karena dekat dengan laut, banyak walet betah bersarang. 'Rumah-rumah walet di sini bisa panen 100% sarang walet, tidak ada campuran seriti,' ujar Muchlis.

Di Kabupaten Polewalimandar, Wonomulyo menjadi sentra walet satu-satunya. 'Di daerah lain mungkin sudah mulai berkembang, tapi Wonomulyo perintisnya dan yang terbesar,' ujar Muchlis. Bahkan, di Sulawesi Barat, belum ada daerah lain yang seperti Wonomulyo. 'Baru Mamuju yang mulai ada satu-dua rumah walet,' lanjut peternak yang baru 2 tahun membudidayakan si liur emas itu.

Melek teknologi
Meski peternak di Wonomulyo rata-rata masih baru, tapi soal teknologi walet mereka tak kalah dengan sentra lain di Indonesia. Twitter menjadi alat wajib pengundang walet di rumah-rumah itu. Amiruddin, misalnya, menaruh sekitar 30 twitter di tiap lantai rumah walet miliknya. Untuk alat pemutar suara pun CPU dengan memori yang disimpan dalam USB sudah lazim digunakan.

Sementara untuk menjaga kelembapan bangunan walet, pemilik toko kelontong itu membangun sebuah kolam di dalam rumah walet. Ukuran kolamnya 4 m x 1,5 m dengan ketinggian air sekitar 30 cm. Beberapa peternak bahkan mulai menggunakan humidifier atau mesin pengabut yang lebih praktis digunakan.

Rumah walet yang dimiliki warga Wonomulyo rata-rata berukuran 4 m x 16 m dengan 3 atau 4 lantai. Lantai dasar masih ada yang difungsikan sebagai toko dan lantai kedua sebagai tempat tinggal. Namun, jajaran ruko di kompleks Anditapermai ratarata sudah berubah menjadi rumah walet sepenuhnya. Dengan kehadiran pendatang dari penjuru Sulawesi Barat, rumah walet baru bergaya minimalis pun makin banyak.

Meski hanya lantai atas yang digunakan sebagai rumah walet, tetapi cukup produktif. Walet di rumah 4 lantai seperti milik Muchlis yang baru berumur 10 bulan, sudah menghasilkan 80 sarang walet. 'Rumah umur 5 tahunan di sini bahkan ada yang bisa panen 2 kali dalam sebulan. Tiap panen 7 kg sarang,' ujarnya. Pantas Wonomulyo di Polewalimandar siap mencuat menjadi sentra walet anyar. (Tri Susanti)

Tidak ada komentar: