Rabu, 01 April 2009

Bontang: Dua Tahun 11 Kg Sarang

Bontang: Dua Tahun 11 Kg Sarang
Oleh trubusid_admindb
Rabu, April 01, 2009 11:27:25


TUJUH TAHUN SILAM HANYA ADA SEGELINTIR RUMAH WALET DI BONTANG, KALIMANTAN TIMUR. JUMLAHNYA KINI MELESAT HINGGA 100 RUMAH. MUSABABNYA PENINGKATAN PRODUKSI SARANG SANGAT FANTASTIS. SETIAP RUMAH DALAM 2 TAHUN RATA-RATA BERPRODUKSI 1.300 SARANG ATAU SETARA 11 KG.

Pencapaian produksi itu hampir sama dengan di Metro, Lampung, ketika mulai jadi sentra. Dalam hitungan tahun, produksi sarang sudah mencapai puluhan kilo dari rumah berukuran 10 m x 12 m setinggi 2 lantai. Itu artinya peningkatan produksi jauh lebih tinggi ketimbang rumah-rumah walet di Jawa seperti di Haurgeulis (Indramayu, Jawa Barat), Cilamaya (Jawa Barat), Pekalongan (Jawa Tengah), dan Sedayu (Jawa Timur) yang rata-rata 5-7 kg untuk rumah berumur 2 tahun.

Bontang memungkinkan menjadi sentra walet potensial karena populasi walet cukup besar. Sementara jumlah rumah walet masih terbatas. Di Kota Minyak itu areal pesawahan terbentang luas dan kelestarian hutan terjaga baik sehingga menjadi tempat persinggahan nyaman bagi walet. Lihatlah saat matahari mulai meninggi, burung-burung pemakan serangga itu terbang rendah menyambar pakan dari rumpun-rumpun padi. Sebagian lagi terlihat 'bergerilya' di pinggiran hutan mengerubungi pohon akasia yang mengeluarkan kutu pakan favorit si liur emas.

Sejatinya sebelum 2000-an di Bontang tidak terdapat komunitas walet. Diduga walet datang dari wilayah Kabupaten Berau-berjarak kurang lebih 100 km dari Bontang-mereka bermigrasi lantaran lingkungannya terusik. Berau selama ini dikenal sebagai sentra walet gua. Namun, karena pemanenan sarang yang serampangan, Collocalia fuciphaga itu banyak yang meninggalkan Berau.

Salah desain
Berkah dari walet migrasi itu dirasakan seorang pemilik rumah walet di pinggiran kota Bontang. Setiap kali panen dari rumah berukuran 8 m x 10 m setinggi 3 lantai, ia memanen 3.000 sarang. Menurut perempuan yang tidak mau disebut namanya itu, rumah dibangun 4 tahun lalu. 'Ketika rumah selesai dibangun, yang masuk langsung walet,' tutur Ir Lazuardi Normansah, konsultan di Jakarta Barat yang berkunjung ke Bontang pada November 2008. Sarang yang dihasilkan pun putih, lebar, dan tebal.

Menurut Lazuardi rumah-rumah yang sudah berumur di atas 2 tahun berproduksi rata-rata 10-11 kg. Dengan sekitar 50 rumah yang berproduksi tinggi-panen tidak berbarengan-setiap minggu terkumpul tidak kurang dari 100-150 kg sarang walet di Bontang. Sarang-sarang itu kemudian dibeli oleh para pengepul dari Balikpapan, Kalimantan Timur. 'Harganya naik-turun sesuai pasaran,' katanya. Sekarang berada di posisi Rp11-juta/kg.

'Jika tata ruang rumah walet diperbaiki, hasil produksi bisa ditingkatkan,' tutur Lazuardi. Ia melihat kondisi beberapa rumah walet di Bontang salah desain. Akibatnya, produksi tidak maksimal. Bahkan sebuah rumah walet berukuran 6 m x 13 m yang terletak 20-30 km dari kota Bontang, sudah 3 tahun tidak berpenghuni. Sementara rumah-rumah walet di sekitarnya menghasilkan puluhan kilo sarang.

Berdasarkan pengamatan Lazuardi kondisi ruangan rumah walet itu terlalu gelap. Ini membuat walet kesulitan memasuki ruangan demi ruangan. Mengatasinya, 'Cukup diberi lampu 5 watt,' ujarnya. Selain itu suhu ruangan terlalu panas: 33oC karena lubang angin berdiameter 10 cm banyak yang disumbat. Idealnya suhu ruangan rumah walet 28-29oC dengan kelembaban lebih dari 80%. 'Jika sumbat dibuka, walet pasti bisa tinggal lebih nyaman,' Lazuardi meyakinkan.

5 kali lipat
Meski populasi walet di Bontang banyak, untuk memancingnya masuk rumah, para pemilik tetap menggunakan CD suara walet. Speaker pemanggil walet ditempatkan di atas atau di bawah lubang keluar-masuk dan di tengah ruangan agar bisa terdengar di semua sudut. Lubang keluar-masuk sebaiknya dibuat 2 buah, misal dari arah utara dan barat. Maksudnya agar walet bisa leluasa memilih jalan keluar-masuk yang dianggap nyaman. Idealnya ukuran lubang keluar-masuk 20 cm x 80 cm untuk yang di utara dan 30 cm x 100 cm di barat.

Lalu soal sirip, bilah papan untuk menempelnya sarang. Di Bontang banyak pemilik rumah walet menggunakan kayu meranti. Kayu ini dipilih karena lebih kuat ketimbang sengon dan ketersediaannya melimpah. Sirip selebar 20 cm itu dipasang membentuk persegi empat dengan panjang 2 m. Jarak antarsirip maksimal 30 cm. Lebih dari itu burung merasa tidak nyaman sehingga malas membuat sarang.

Selain bentuk bangunan, teknik-teknik budidaya walet di Bontang pada dasarnya sudah mengadopsi teknik modern di Jawa dan Sumatera. Maklum sebagian investor yang membangun rumah walet di sana adalah para praktisi di Pulau Jawa, seperti Cirebon dan Surabaya. Mereka menjadikan Bontang sebagai ladang bisnis setelah Pontianak dan Ketapang, di Kalimantan Barat dianggap jenuh. Berdasarkan pengamatan Harry K Nugroho, praktikus di Kelapagading, Jakarta Utara, kini di Pontianak ada sekitar 500 rumah walet dan di Ketapang 400-500 rumah.

Sebelumnya kedua kota itu menjadi sasaran pebisnis walet. 'Dulu Pontianak dan Ketapang mendapat limpahan walet dari Kalimantan Tengah yang habitatnya rusak akibat kebakaran dan penebangan hutan,' kata Harry. Sekarang giliran Bontang yang jadi sasaran pebisnis walet.

'Dibanding Samarinda dan Balikpapan, populasi walet di Bontang memang lebih tinggi. Jumlahnya mencapai 3-5 kali lebih tinggi daripada Samarinda,' papar Lazuardi. Kendati begitu, Samarinda dan Balikpapan tetap menjadi lokasi incaran bagi yang ingin membangun rumah walet di Kalimantan Timur. Buktinya, 'Pada 2008 banyak bermunculan rumah walet di Balikpapan dan Samarinda,' ujar Vianny Cin Hiong, konsultan di Jakarta Barat. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tidak ada komentar: