Jumat, 31 Juli 2009

Jambi di Titik Puncak

Sabtu, Agustus 01, 2009

Sumber: Trubus Online


PEPOHONAN RIMBUN NAN ASRI MENGHIASI PUSAT KOTA JAMBI, PROVINSI JAMBI. NAMUN, ITU DULU PADA 1998. TERPAUT WAKTU 8 TAHUN, RERIMBUNAN POHON SUDAH BERUBAH MENJADI 400-500 BANGUNAN WALET. ANDAI TIAP-TIAP RUMAH WALET ITU MENGHASILKAN 2-3 KG SARANG COLLOCALIA FUCIPHAGA SETIAP PANEN, TOTAL JENDERAL PUSAT KOTA MENYUMBANG 3,2-4 TON SARANG/TAHUN.

Itulah yang disaksikan Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan, saat berkunjung pada November 2008. Penghasil sarang walet di pusat kota Jambi terkonsentrasi di Kumpai dan Talangbajar yang mayoritas dihuni etnis Tionghoa. 'Rumah-rumah beragam ukuran dijadikan hunian walet, seperti rumah walet di Medan,' kata Boedi.

Suara cericit walet dari tweeter-pemancing walet-terdengar nyaring mulai dari Bandara Sultan Thaha. Ia mengalahkan deru kendaraan bermotor. Menjelang petang, ribuan Collocalia fuchiphaga beterbangan memenuhi langit-langit kota. Populasi walet di sini berkembang sangat cepat, karena sumber pakan tersedia sepanjang tahun dari hutan dan kebun karet. Pemilik ruko hingga saat ini terus berlomba mengubah lantai teratas ruko menjadi rumah walet. Mereka seolah bersaing dengan para investor dari Medan dan Lampung yang telah membenamkan modalnya untuk membangun rumah walet sejak 1998.

Titik puncak
Meski tergolong sentra baru, Kota Jambi yang memiliki 8 kecamatan itu sudah mengadopsi teknik budidaya walet modern. Peternak melengkapi sarana dan prasarana rumah walet, mulai dari penggunaan CD pemancing walet hingga mesin pengabut untuk menjaga kelembapan. Semuanya ditujukan untuk peningkatan produksi sarang.

Namun menurut pengamatan Boedi, produksi sarang di pusat Kota Jambi sudah mencapai titik puncak, di angka 4 ton/tahun. 'Biasanya puncak produksi berada di titik itu, sebagaimana terjadi di sentra-sentra walet di Jawa seperti di Sedayu (Jawa Timur, red) dan Pekalongan (Jawa Tengah, red), Rata-rata produksinya dahulu bisa mencapai 4 ton per tahun,' ujar Boedi.

Kondisi serupa terjadi di Kualatungkal, Kabupaten Tanjungjabung Barat, yang berjarak 125 km dari Kota Jambi. 'Di sini juga bangunan walet terlalu padat,' ujar Hary K Nugroho, praktikus walet di Jakarta Barat. Perkembangan di daerah yang bersisian laut itu sama pesatnya dengan pusat kota sejak beberapa tahun terakhir. Semua ruko dialihfungsikan untuk budidaya walet. 'Lantai atas tempat walet dan di bawahnya untuk usaha,' kata Hary.

Kualatungkal yang dekat dengan laut, menguntungkan untuk budidaya walet. Tanpa dipancing walet dengan mudah masuk ke rumah. Itu seperti yang dialami Ali Kusno pada 2001 saat membangun ruko 3 lantai seluas 12 m x 20 m. Sebelum bangunan rampung, sudah banyak walet keluar-masuk. Hasilnya, dalam waktu 3 tahun didapati 100 sarang. Hary mencatat di sana sudah berdiri sekitar 400-500 rumah walet. Produksinya diperkirakan sama seperti di pusat Kota Jambi.

Kompetisi
Berada di titik puncak populasi berarti peluang untuk menggenjot produksi atau jumlah rumah walet kian hilang. Sebab, 'Kurva produksi sarang biasanya berbentuk seperti gunung dan lembah. Setelah mencapai puncak akan stagnan dan akhirnya turun. Jumlahnya tidak akan lagi mencapai posisi puncak seperti di awal,' ungkap Boedi. Contohnya di Gresik dan Sedayu, Jawa Timur, yang kini mengalami penurunan produksi hingga tinggal 20%. Di sentra-sentra lain di Jawa juga sama. Kini produksi berkurang sekitar 50% dari semula 80 ton/tahun pada 1998.

Salah satu penyebab penurunan itu lantaran daya dukung lingkungan yang tidak seimbang dengan populasi walet. 'Kini bukan walet yang mencari rumah, tapi sebaliknya. Rumah walet di Jawa sudah terlalu banyak,' ungkap Hary. Makanya banyak ditemui rumah kosong. Hasil survei kecil-kecilan Boedi, di Kota Jambi hanya 5% dari total rumah walet yang produksinya mencapai lebih dari 10 kg/panen. 'Itu pun dari rumah-rumah lama. Selebihnya paling hanya 3-5 kg atau malah tidak terisi,' kata alumnus Biologi dari Universiteit Hamburg Jerman itu.

Semua tak lepas dari sumber pakan. Semakin besar populasi walet, kompetisi pakan semakin besar karena dari waktu ke waktu ketersediaan pakan berkurang. Untuk memperoleh pakan, walet harus terbang ke daerah lain yang lebih jauh. Padahal idealnya walet terbang mencari pakan pulang-pergi tidak lebih dari 25 km. Lebih dari itu energi untuk menghasilkan liur terkuras sehingga produksi sarang menjadi kecil.

Kondisi semakin sulit saat musim kering yang panjang tiba. Dalam sekejap produksi sarang turun drastis. Kondisi itu dapat berujung kematian pada walet-walet yang belum mampu mencari pakan ke tempat jauh. 'Dalam kondisi sulit pakan, walet remaja akan pindah ke daerah lain yang masih melimpah,' kata Lazuardi Normansyah, konsultan walet di Jakarta Barat.

Hutan Harapan
Oleh karena itu sebaiknya menurut Boedi pengembangan walet sudah waktunya diarahkan ke bagian tengah Jambi. Daerah itu dipilih karena memiliki persyaratan: dekat sentra, pakan melimpah, dan aman. Sebut saja pinggiran Kumpai alias Kumpeh yang berjarak 75 km dari pusat kota. Di sana Boedi melihat rumah walet tradisional yang masih berdinding kayu dan dilapisi styrofoam untuk menahan panas dihuni walet. Berdasarkan informasi dari penduduk setempat rumah-rumah itu sudah dihuni walet sejak 3 tahun lalu.

Lantaran berada dekat sungai, rumah-rumah itu tidak dilengkapi mesin pengabut untuk menjaga kelembapan. Toh kelembapan mencapai 70-75%, mendekati habitat ideal walet. Dengan kelembapan seperti itu sarang memang agak kecil dan tipis. Namun, hasil panen rata-rata mencapai 2-3 kg untuk setiap rumah.

Lokasi lain? Hutan Harapan. Hutan seluas 100.000 ha di Kabupaten Sarolangun berjarak 3 jam perjalanan darat dari pusat Kota Jambi itu menyediakan sumber pakan sepanjang tahun. 'Ini lokasi ideal untuk walet,' kata Boedi. Sayang, saat berkunjung ke sana menemani Pangeran Charles dari kerajaan Inggris meninjau lokasi, Boedi tidak melihat populasi walet banyak. 'Kelihatannya ada sriti,' imbuhnya.

Pemilik rumah perlu melakukan putar telur-mengganti telur sriti dengan telur walet. Jika berhasil, tidak mustahil Hutan Harapan dan pinggiran Kumpai jadi lokasi potensial pembudidayaan walet. Artinya, menjadi penyumbang devisa terbesar dari sarang walet untuk Pulau Sumatera yang kini menghasilkan 100 ton sarang/tahun atau senilai Rp1-triliun/tahun. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tidak ada komentar: