Oleh trubusid_admindb
Selasa, Februari 03, 2009 10:44:19 Klik: 16
Bangunan di Ampenan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu serupa rumah walet lain yang mengapitnya. Dinding tebal dan terdiri atas 3 lantai. Umur bangunan bekas ruko itu diperkirakan 18 tahun. Yang berbeda, 'Produksi sarang rumah itu paling banyak, bisa sekuintal setiap panen,' bisik Sugeng Praminto, peternak walet di Mataram membuka rahasia.
Malam di penghujung November 2008 Trubus dan Sugeng menyusuri setiap jalan di Ampenan, sekitar 5 km dari Mataram, ibukota NTB. Di sepanjang jalan kawasan pecinan itu bangunan-bangunan walet mudah dijumpai. Selain ada yang mempertahankan sebagai bagian ruko, banyak pula yang merombaknya menjadi bangunan walet modern. Suara CD pemikat walet dari tweeter sahut-menyahut. Singkat kata suasana di sana seperti sentra walet di kota Metro, Lampung.
Bangunan penghasil sarang walet terbesar itu salah satu yang juga direnovasi pemiliknya. Dua dari tujuh lubang masuk si liur emas itu diperbesar 3 kali lipat dari ukuran sebelumnya, 90 cm x 30 cm. Lubang-lubang itu diplester semen. 'Kalau sore walet-walet itu terlihat masuk ke lubang besar itu,' ujar Sugeng yang memiliki rumah walet 2 lantai di Switha, Mataram, itu.
Tidak berkamar
Untuk membuktikan bangunan itu istimewa, 2 hari kemudian Trubus datang tepat sore hari saat walet mulai masuk. Selama 1 jam mengamati dari ruko di seberang bangunan itu, tak terhitung jumlah walet masuk ke dalamnya. Langit di sekitar rumah itu menghitam oleh walet-walet yang terbang. Kontras bila dibandingkan bangunan walet berjarak sekitar 25 m ke arah pelabuhan Ampenan. Yang terbang dan masuk puluhan walet saja.
Sulit mengungkap rahasia walet betah bersarang di sana. Yanto - nama samaran - penanggung jawab rumah itu lebih suka menjawab tidak tahu saat ditanya Trubus. Namun, isi bangunan sedikit tersingkap. Tidak ada kamar seperti rumah-rumah walet di Jawa. Ruangan model hall itu membuat walet lebih leluasa bergerak di roving area, sebelum beristirahat di sirip-sirip kayu di lantai bawah. 'Tanpa kamar juga membuat sirkulasi udara dan sinar matahari lebih merata di dalamnya. Ini disukai walet dan mulai banyak dipakai di rumah walet modern,' kata Harry K Nugroho, praktisi walet di Jakarta Utara.
Sejatinya tak hanya Ampenan yang penuh sesak oleh bangunan walet di Lombok. Di bilangan Cakranegara, di pusat kota, terlihat pemandangan serupa. Menurut Tjie, pengusaha emas yang 2 lantai tokonya disulap menjadi rumah walet, di Cakranegara bangunan walet marak berdiri sejak 1990-an. Saat itu jumlahnya belasan. 'Tapi tidak sehebat sekarang yang tiap ruko ada rumah waletnya,' kata Tjie yang sudah memetik 8 kg sarang Collocalia fuciphaga dari rumah yang dibangun 3 tahun silam itu. Panjang jalan Cakranegara sekitar 2 km dengan puluhan rumah walet 'berkedok' ruko.
Rumah tertua
Tjie mengungkapkan Cakranegara memiliki rumah walet istimewa. 'Jika di Ampenan ada yang panen sampai puluhan kilo sarang, di sini ada rumah walet tertua,' katanya. Bangunan walet yang dimaksud, terletak di perempatan Jalan Selaparang - nama lain Lombok. Bangunan 1 lantai itu berdinding semen. Atapnya seng yang sudah berkarat digerogoti umur. Hanya ada 2 lubang masuk walet di situ. Lubang itu sebenarnya ventilasi dari pintu. 'Saya tidak tahu produksinya, tapi bangunan itu sudah ada sejak saya kecil,' ujar Tjie yang menginjak usia 70 tahun.
Di luar kedua sentra itu, bangunan walet mulai menjamur pula di Swithe. Lokasinya di Kecamatan Sendobaya, sekitar 5 km dari pusat kota itu semula hanya kompleks pertokoan. Namun, kini belasan rumah walet berdiri tegak di sana. 'Bangunan-bangunan itu mulai ada sejak 3 tahun lalu,' kata Sugeng yang berinvestasi Rp125-juta untuk membangun rumah walet 9 m x 13 m setinggi 2 lantai. Seperti di Ampenan dan Cakranegara, walet langsung masuk, tidak didahului oleh sriti. 'Dalam setahun saja sudah bisa panen 1,6 kg sarang,' kata pegawai Departemen Pekerjaan Umum NTB itu.
Pakan melimpah
Populernya walet di Lombok tak lepas dari melimpahnya sumber pakan. Sawah dan hutan yang menjadi sumber serangga masih tersedia. Di Ampenan menuju objek wisata Pantai Senggigi, sekitar 3 km menghampar sawah dan kebun kelapa. Beberapa bukit menghijau tak jauh dari kebun-kebun kelapa itu. Demikian pula di Swithe dan Cakranegara. Di kedua tempat itu walet mencari pakan ke arah selatan yang masih disesaki sawah dan ladang.
Menurut Sugeng, polusi udara yang kecil juga turut mendukung walet betah tinggal. Rumah walet di Lombok pun tidak fanatik memakai CD pemikat walet. Di Cakranegara nyaris tidak terdengar suara pemikat walet dari tweeter. Pengabutan dalam rumah untuk mencapai kelembapan 80 - 90% yang diinginkan walet jarang dipakai. Maklum berdasarkan pengukuran Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi kelembapan harian di NTB berkisar 70 - 90% dengan curah hujan 1.500 - 2.000 mm/tahun. Kondisi itu cukup nyaman bagi walet. Sebagai ganti pengabutan, peternak hanya memperbanyak lubang ventilasi dari PVC. Untuk bidang dinding seluas daun pintu dibuat 6 - 8 lubang berdiameter 10 cm.
Soal pasar? Sejauh ini tak sulit menjual produksi sarang walet dari Lombok. Banyak penampung setempat berebut sarang. Itu belum termasuk pengepul dari Surabaya. Agustus 2008 dari 2,4 kg sarang Sugeng menangguk pendapatan Rp13,5-juta. Harga normal sekilo sarang Rp10-juta - Rp11-juta. 'Agak rendah karena sarang yang dijual masih kotor, banyak bulunya,' ujar Sugeng. Toh pendapatan itu sudah dianggap besar oleh Sugeng yang baru mencicipi manisnya rupiah dari si liur emas. (Dian Adijaya S)
Emangnya gampang memikat walet?? Memang benar enak jadi trilliuner, tapi emangnya gampang???
Rabu, 04 Februari 2009
MESIN PEMANGGIL WALET PORTABLE
.JPG)
Piro MESIN PANCING WALET PORTABLE diciptakan untuk memenuhi permintaan pasar akan Mesin Pancing Walet berkualitas dan canggih, simple instalasi, gampang dibawa-bawa dan tentunya Harga yang Hemat dengan Fitur Hebat.
Piro MESIN WALET PORTABLE adalah produk terbaru "Sound Maker / Penghasil SUARA" untuk mengundang walet datang dan membuat sarang yang sudah dilengkapi dengan Amplifier.
Dikemas dalam chasis yang kompak, praktis dan bermutu serta mudah dalam pengoperasian. Fasilitas lengkap yang meminimalkan rasa khawatir.
Piro MESIN WALET PORTABLE (MWP) ini menggunakan Solid State CD Player (SSCD) yang terkenal paling handal, berteknologi paling efisien, paling maju saat ini serta didesain untuk dapat memainkan lagu dalam format CD Quality
Produk bermutu, SOLUSI INNOVATIF untuk Audio Sistem Rumah Walet ANDA
FASILITAS-FASILITAS MESIN WALET PORTABLE (MWP) :
- Desain yang Praktis, Kompak dan mudah dibawa-bawa
- Power Amplifier Mosfet Class AB yang terkenal "bandel"
- Bisa diprogram untuk menyanyikan lagu tertentu ( Fungsi Repeat )
- Dilengkapi dengan Tone Control untuk mengubah Frekuensi Suara tinggi burung walet
- Automatic Switch Supply AC 220 ke DC 12V tanpa putus suara
- Didesain untuk bekerja 24 jam 365 hari NON STOP
- Dilengkapi SSCD Player yang bebas masalah mekanik, optic dll sehingga bebas khawatir
- Dual Independent Channel dengan volume kontrol masing-masing
- Koneksi Tweeter per Channel :
- Untuk Tweeter Suara Luar Max 50
- Untuk Tweeter Suara Dalam Max 400
- Dirancang khusus untuk Rumah Walet
SSCD Player KHUSUS RUMAH WALET
paint.JPG)
Piro SSCD Player khusus untuk rumah walet - penghasil SUARA NATURAL seperti suara koloninya sendiri sehingga walet menjadi betah dan membuat sarang. Solid State CD Player ini berbasis Micro-controller yang mengontrol langsung dengan menggunakan teknologi, DSP (Digital Signal Processing) terintegrasi di dalam chip Audio Decoder, serta dilengkapi dengan DAC Converter (Digital to Analog Converter). SSCD player dirancang dapat dioperasikan 24 jam 365 hari NON STOP tanpa rasa khawatir apapun karena di dukung oleh GARANSI 3 tahun
Piro SSCD Player sangat layak menjadi TOTAL SOLUSI INNOVATIF sistem audio rumah walet ANDA.
Pernahkah ANDA mengalami masalah dengan CD-ROM mesin walet ANDA?
Optik rusak, karet rusak, gear rusak, barang terbanting rusak, motor ngadat, cdrom panas? Semua ini adalah masalah-masalah klasik yang PASTI akan dialami oleh pemilik rumah walet yang menggunakan CD-ROM / DVD-ROM yang dimodifikasi sebagai player. Belum lagi sekarang ini bukan hal gampang untuk dapat membeli CD-ROM autoplay, karena semua pabrik di dunia SUDAH TIDAK MEMPRODUKSI CD-ROM lagi, dan DVD-ROM yang ada dipasaran hampir semuanya sudah tidak bisa dimodifikasi Auto Play. CD-ROM yang Anda jumpai dan masih dijual saat ini adalah CD-ROM refurbish / daur ulang (CD-ROM bekas diganti dengan kotak baru)
Kenapa saat ini banyak orang tidak mau beralih ke MP3 Player yang banyak dijumpai di pasaran? Ada beberapa alasan fatal, antara lain :
- Kualitas. MP3 hanya bisa memainkan lagu dalam format kompresi ( 128 KBps, 32 Khz ) karena alasan penghematan memory, sehingga suara yang dihasilkan TIDAK NATURAL. Player seperti ini tidak dirancang untuk rumah walet.
- Kompatibilitas. Banyak MP3 player yang pilih-pilih jenis memory, dan tidak mendukung jenis memory dengan kapasitas besar (type HC-High Capacity), maksimal hanya 2GB
- Perlu modifikasi, tidak bisa beli langsung dipakai
- Dll
KHAWATIR.....??
Piro SSCD Player juga didesign untuk dapat bekerja secara otomatis ( Auto Play, Auto Repeat ), serta dirancang untuk dapat dipakai tanpa perlu modifikasi dan instruksi yang berbelit-belit.
Fitur-fitur yang ada pada Piro SSCD Player :
- Input : DC 6V sampai DC 15V
- Satu-satunya Player yang bisa memainkan lagu dengan kualitas CD (WAV) : Windows PCM 16 bit, 44.100 KHz, 1411 Kbps, stereo
- Satu-satunya Player yang bisa mendukung semua format MP3 (dari 24Kbps/12KHz sampai 320Kbps/44KHz, MPEG 1 Layer III, MPEG 2 Layer III dan MPEG 2.5 Layer III)
- Satu-satunya Player yang bisa membaca semua type memory ( dari 16 MB sampai jenis High Capacity HC 32 GB ) dalam format SD, MiniSD, MicroSD, MMC, RSMMC, MiniMMC dan MicroMMC
- Didesain untuk JALAN NON-STOP 365 hari 24 jam
- Auto Play dan Auto Repeat
- Suara Hi-Fi, Total Harmonic Distortion THD.
Dengan SSCD Player ANDA bebas khawatir dan hanya ada satu ucapan : "Bye-bye CDROM...!!!"
Bagi yang berminat untuk membeli alat tersebut di atas dapat menghubungi saya melalui email henmulia@yahoo.com
Piro MESIN PANCING WALET PORTABLE diciptakan untuk memenuhi permintaan pasar akan Mesin Pancing Walet berkualitas dan canggih, simple instalasi, gampang dibawa-bawa dan tentunya Harga yang Hemat dengan Fitur Hebat.
Piro MESIN WALET PORTABLE adalah produk terbaru "Sound Maker / Penghasil SUARA" untuk mengundang walet datang dan membuat sarang yang sudah dilengkapi dengan Amplifier.
Dikemas dalam chasis yang kompak, praktis dan bermutu serta mudah dalam pengoperasian. Fasilitas lengkap yang meminimalkan rasa khawatir.
Piro MESIN WALET PORTABLE (MWP) ini menggunakan Solid State CD Player (SSCD) yang terkenal paling handal, berteknologi paling efisien, paling maju saat ini serta didesain untuk dapat memainkan lagu dalam format CD Quality
Produk bermutu, SOLUSI INNOVATIF untuk Audio Sistem Rumah Walet ANDA
FASILITAS-FASILITAS MESIN WALET PORTABLE (MWP) :
- Desain yang Praktis, Kompak dan mudah dibawa-bawa
- Power Amplifier Mosfet Class AB yang terkenal "bandel"
- Bisa diprogram untuk menyanyikan lagu tertentu ( Fungsi Repeat )
- Dilengkapi dengan Tone Control untuk mengubah Frekuensi Suara tinggi burung walet
- Automatic Switch Supply AC 220 ke DC 12V tanpa putus suara
- Didesain untuk bekerja 24 jam 365 hari NON STOP
- Dilengkapi SSCD Player yang bebas masalah mekanik, optic dll sehingga bebas khawatir
- Dual Independent Channel dengan volume kontrol masing-masing
- Koneksi Tweeter per Channel :
- Untuk Tweeter Suara Luar Max 50
- Untuk Tweeter Suara Dalam Max 400
- Dirancang khusus untuk Rumah Walet
SSCD Player KHUSUS RUMAH WALET
Piro SSCD Player khusus untuk rumah walet - penghasil SUARA NATURAL seperti suara koloninya sendiri sehingga walet menjadi betah dan membuat sarang. Solid State CD Player ini berbasis Micro-controller yang mengontrol langsung dengan menggunakan teknologi, DSP (Digital Signal Processing) terintegrasi di dalam chip Audio Decoder, serta dilengkapi dengan DAC Converter (Digital to Analog Converter). SSCD player dirancang dapat dioperasikan 24 jam 365 hari NON STOP tanpa rasa khawatir apapun karena di dukung oleh GARANSI 3 tahun
Piro SSCD Player sangat layak menjadi TOTAL SOLUSI INNOVATIF sistem audio rumah walet ANDA.
Pernahkah ANDA mengalami masalah dengan CD-ROM mesin walet ANDA?
Optik rusak, karet rusak, gear rusak, barang terbanting rusak, motor ngadat, cdrom panas? Semua ini adalah masalah-masalah klasik yang PASTI akan dialami oleh pemilik rumah walet yang menggunakan CD-ROM / DVD-ROM yang dimodifikasi sebagai player. Belum lagi sekarang ini bukan hal gampang untuk dapat membeli CD-ROM autoplay, karena semua pabrik di dunia SUDAH TIDAK MEMPRODUKSI CD-ROM lagi, dan DVD-ROM yang ada dipasaran hampir semuanya sudah tidak bisa dimodifikasi Auto Play. CD-ROM yang Anda jumpai dan masih dijual saat ini adalah CD-ROM refurbish / daur ulang (CD-ROM bekas diganti dengan kotak baru)
Kenapa saat ini banyak orang tidak mau beralih ke MP3 Player yang banyak dijumpai di pasaran? Ada beberapa alasan fatal, antara lain :
- Kualitas. MP3 hanya bisa memainkan lagu dalam format kompresi ( 128 KBps, 32 Khz ) karena alasan penghematan memory, sehingga suara yang dihasilkan TIDAK NATURAL. Player seperti ini tidak dirancang untuk rumah walet.
- Kompatibilitas. Banyak MP3 player yang pilih-pilih jenis memory, dan tidak mendukung jenis memory dengan kapasitas besar (type HC-High Capacity), maksimal hanya 2GB
- Perlu modifikasi, tidak bisa beli langsung dipakai
- Dll
KHAWATIR.....??
Piro SSCD Player juga didesign untuk dapat bekerja secara otomatis ( Auto Play, Auto Repeat ), serta dirancang untuk dapat dipakai tanpa perlu modifikasi dan instruksi yang berbelit-belit.
Fitur-fitur yang ada pada Piro SSCD Player :
- Input : DC 6V sampai DC 15V
- Satu-satunya Player yang bisa memainkan lagu dengan kualitas CD (WAV) : Windows PCM 16 bit, 44.100 KHz, 1411 Kbps, stereo
- Satu-satunya Player yang bisa mendukung semua format MP3 (dari 24Kbps/12KHz sampai 320Kbps/44KHz, MPEG 1 Layer III, MPEG 2 Layer III dan MPEG 2.5 Layer III)
- Satu-satunya Player yang bisa membaca semua type memory ( dari 16 MB sampai jenis High Capacity HC 32 GB ) dalam format SD, MiniSD, MicroSD, MMC, RSMMC, MiniMMC dan MicroMMC
- Didesain untuk JALAN NON-STOP 365 hari 24 jam
- Auto Play dan Auto Repeat
- Suara Hi-Fi, Total Harmonic Distortion THD.
Dengan SSCD Player ANDA bebas khawatir dan hanya ada satu ucapan : "Bye-bye CDROM...!!!"
Bagi yang berminat untuk membeli alat tersebut di atas dapat menghubungi saya melalui email henmulia@yahoo.com
Selasa, 03 Februari 2009
Pancing Walet Bersarang
Pancing Walet Bersarang
Oleh trubusid
Rabu, Oktober 08, 2008 11:12:22 Klik: 546
Saya baru membangun satu lantai tambahan di atas rumah walet. Bangunan dasar berukuran 9 m x 4 m x 4 m dan lantai kedua berukuran 9 m x 4 m x 2,5 m. Untuk menurunkan suhu dan menambah kelembapan, di lantai kedua dibuat aliran air melalui pipa PVC berlubang setiap 1,5 m yang dipasang setinggi 1,5 m. Sprinkle kabut dipasang di beberapa tempat: depan pintu keluar-masuk, atap, dan kolam air di luar bangunan. Bagian plafon dicor plat besi setebal 12 cm. Lantai pertama dan kedua dihubungkan voil berukuran 1 m2. Lubang keluar-masuk walet di lantai dasar menghadap timur dan utara. Di lantai kedua, lubang menghadap utara dan selatan. Suhu dan kelembapan dalam rumah pada siang hari berkisar 27-28oC dan 85%. Saat ini sriti sudah mau menetap di lantai dasar sebanyak 86 sarang. Walet pun mau keluar-masuk ruangan melalui lubang atas dan bawah, meski belum mau menetap. Yang ingin ditanyakan:
Apakah dapat dilakukan putar telur sriti dengan walet? Jika ya, berapa jumlah telur yang diganti agar populasi walet dapat berkembang?
Bagaimana mengubah lubang keluar-masuk walet di lantai dasar yang menghadap timur yang selama ini menjadi jalan masuk sriti?
Apakah iklim mikro dalam rumah walet sesuai?
M. Nasuki, SH
Jl. Ngagel Tama 14
Surabaya 60283
Boedi Mranata,
Sulit memancing walet masuk dan bersarang tanpa dilakukan putar telur. Namun, teknik putar telur sebaiknya dilakukan bila sarang sriti mencapai 100 buah. Jika kondisi itu belum tercapai, dikhawatirkan populasi sriti menurun drastis, sementara populasi walet belum berkembang. Idealnya, perkembangan populasi walet dan sriti terjadi bersamaan sehingga saat populasi walet banyak, populasi sriti terhambat dengan sendirinya. Sebab bila jumlahnya seimbang, walet yang bertubuh lebih besar bisa mendesak keberadaan sriti yang sosoknya lebih kecil.
Selain teknik putar telur, penggunaan CD pemancing pun dapat mengundang walet masuk. Suara-suara dari CD itu dapat mengecoh walet, sehingga mengira di dalam rumah sudah banyak populasi walet.
Lubang keluar-masuk walet sebaiknya diletakkan pada lebar tembok terpendek, 4 m. Dengan demikian meskipun tembok itu menghadap ke timur, cahaya matahari menembus ke dalam ruangan lebih sedikit sehingga kondisi ruangan menjadi remang-remang. Jika masih terlalu terang, bagian luar lubang masuk dapat diberi overstack yang menjorok ke depan dengan ukuran panjang dan lebar: 1,5 m dan 4 m. Lubang keluar-masuk walet yang tidak diinginkan dapat ditutup perlahan-lahan selama 2 bulan.
Misalnya, lubang berukuran 80 cm x 15 cm, dapat ditutup bertahap 20 cm mulai dari bagian tepi. Selang 2 minggu ditutup kembali selebar 20 cm. Begitu seterusnya hingga lubang itu dapat tertutup rapat.
Iklim mikro rumah walet Anda sudah ideal. Namun, sebaiknya cahaya yang masuk ke rumah diperkecil agar kondisi dalam rumah walet tidak terlalu terang.***
Oleh trubusid
Rabu, Oktober 08, 2008 11:12:22 Klik: 546
Saya baru membangun satu lantai tambahan di atas rumah walet. Bangunan dasar berukuran 9 m x 4 m x 4 m dan lantai kedua berukuran 9 m x 4 m x 2,5 m. Untuk menurunkan suhu dan menambah kelembapan, di lantai kedua dibuat aliran air melalui pipa PVC berlubang setiap 1,5 m yang dipasang setinggi 1,5 m. Sprinkle kabut dipasang di beberapa tempat: depan pintu keluar-masuk, atap, dan kolam air di luar bangunan. Bagian plafon dicor plat besi setebal 12 cm. Lantai pertama dan kedua dihubungkan voil berukuran 1 m2. Lubang keluar-masuk walet di lantai dasar menghadap timur dan utara. Di lantai kedua, lubang menghadap utara dan selatan. Suhu dan kelembapan dalam rumah pada siang hari berkisar 27-28oC dan 85%. Saat ini sriti sudah mau menetap di lantai dasar sebanyak 86 sarang. Walet pun mau keluar-masuk ruangan melalui lubang atas dan bawah, meski belum mau menetap. Yang ingin ditanyakan:
Apakah dapat dilakukan putar telur sriti dengan walet? Jika ya, berapa jumlah telur yang diganti agar populasi walet dapat berkembang?
Bagaimana mengubah lubang keluar-masuk walet di lantai dasar yang menghadap timur yang selama ini menjadi jalan masuk sriti?
Apakah iklim mikro dalam rumah walet sesuai?
M. Nasuki, SH
Jl. Ngagel Tama 14
Surabaya 60283
Boedi Mranata,
Sulit memancing walet masuk dan bersarang tanpa dilakukan putar telur. Namun, teknik putar telur sebaiknya dilakukan bila sarang sriti mencapai 100 buah. Jika kondisi itu belum tercapai, dikhawatirkan populasi sriti menurun drastis, sementara populasi walet belum berkembang. Idealnya, perkembangan populasi walet dan sriti terjadi bersamaan sehingga saat populasi walet banyak, populasi sriti terhambat dengan sendirinya. Sebab bila jumlahnya seimbang, walet yang bertubuh lebih besar bisa mendesak keberadaan sriti yang sosoknya lebih kecil.
Selain teknik putar telur, penggunaan CD pemancing pun dapat mengundang walet masuk. Suara-suara dari CD itu dapat mengecoh walet, sehingga mengira di dalam rumah sudah banyak populasi walet.
Lubang keluar-masuk walet sebaiknya diletakkan pada lebar tembok terpendek, 4 m. Dengan demikian meskipun tembok itu menghadap ke timur, cahaya matahari menembus ke dalam ruangan lebih sedikit sehingga kondisi ruangan menjadi remang-remang. Jika masih terlalu terang, bagian luar lubang masuk dapat diberi overstack yang menjorok ke depan dengan ukuran panjang dan lebar: 1,5 m dan 4 m. Lubang keluar-masuk walet yang tidak diinginkan dapat ditutup perlahan-lahan selama 2 bulan.
Misalnya, lubang berukuran 80 cm x 15 cm, dapat ditutup bertahap 20 cm mulai dari bagian tepi. Selang 2 minggu ditutup kembali selebar 20 cm. Begitu seterusnya hingga lubang itu dapat tertutup rapat.
Iklim mikro rumah walet Anda sudah ideal. Namun, sebaiknya cahaya yang masuk ke rumah diperkecil agar kondisi dalam rumah walet tidak terlalu terang.***
Sarang Sriti Versus Walet
Sarang Sriti Versus Walet
Oleh trubusid_admindb
Senin, Februari 02, 2009 15:51:22 Klik: 45
Saya memiliki rumah walet yang mulai dihuni sriti. Yang ingin ditanyakan:
Bagaimana cara mengubah sarang sriti menjadi sarang walet?
Apa perbedaan sarang sriti dan walet?
Bagaimana cara memperoleh sarang walet berkualitas tinggi?
Ke mana saya menjual sarang walet? Adakah katalog harga penjualan sarang itu?
Supriyanto
Jl. Daan Mogot Km. 17
Kalideres, Jakarta Barat 11850
Boedi Mranata
Teknik mengubah sarang sriti menjadi sarang walet dilakukan dengan putar telur. Setiap kali sarang sriti berisi telur langsung diganti dengan telur walet. Telur yang ditukar sebaiknya memiliki umur sama agar sriti tidak merasa dibohongi. Di rumah sriti yang belum banyak walet, keberhasilan penetasan 10%. Artinya dari 100 telur menetas, yang hidup sampai dewasa 10 ekor. Namun, begitu populasi walet mencapai 100 sarang, sukses penetasan mencapai 30%. Pergantian telur harus sesering mungkin karena populasi terlalu sedikit menyebabkan walet merasa tidak aman di tengah-tengah koloni sriti. Ruangan sebaiknya dibuat lebih gelap agar anak walet betah dan sriti yang suka terang pindah ke tempat lain.
Sarang sriti Collocalia esculenta dibangun dari material seperti daun cemara, rumput, dan lumut laut yang direkatkan oleh air liur burung. Sedangkan sarang walet Collocalia fuciphaga murni terbuat dari liur walet. Harga sarang sriti lebih murah, berkisar Rp500.000/kg; sarang walet Rp 10-juta/kg tergantung kualitas.
Ada dua kriteria untuk menentukan kualitas sarang walet.
Yang pertama bentuk sarang.
Sarang utuh seperti balkon, tidak pecah, dan punggung mulus bernilai jual tinggi. Bentuk sarang sempurna seperti itu dihasilkan dari rumah walet yang memiliki kelembapan optimal 80-90% dan dipanen tepat waktu. Bila kelembapan terlalu tinggi, sarang akan lembek dan berjamur. Sebaliknya bila udara terlalu kering, sarang rapuh dan mudah remuk.
Berikutnya warna sarang.
Warna asli sarang walet putih. Namun, warna itu dapat berubah kekuningan hingga merah darah. Apabila sirkulasi udara dalam rumah tidak optimal, misalnya udara terlalu basah, sarang akan berjamur, kusam, dan berubah kecokelatan. Sarang kusam sulit dijual karena standar yang diminta berwarna putih, kuning, atau merah cerah.
Anda dapat menjual sarang sriti dan walet ke pengepul atau langsung ke eksportir. Harga sarang fluktuatif tergantung kualitas dan permintaan konsumen. Sampai saat ini belum ada katalog standar harga sarang walet. Namun, bila Anda sudah berhasil memproduksi dan menjual sarang ke beberapa pengepul, otomatis harga standar sarang dapat ditentukan.***
Oleh trubusid_admindb
Senin, Februari 02, 2009 15:51:22 Klik: 45
Saya memiliki rumah walet yang mulai dihuni sriti. Yang ingin ditanyakan:
Bagaimana cara mengubah sarang sriti menjadi sarang walet?
Apa perbedaan sarang sriti dan walet?
Bagaimana cara memperoleh sarang walet berkualitas tinggi?
Ke mana saya menjual sarang walet? Adakah katalog harga penjualan sarang itu?
Supriyanto
Jl. Daan Mogot Km. 17
Kalideres, Jakarta Barat 11850
Boedi Mranata
Teknik mengubah sarang sriti menjadi sarang walet dilakukan dengan putar telur. Setiap kali sarang sriti berisi telur langsung diganti dengan telur walet. Telur yang ditukar sebaiknya memiliki umur sama agar sriti tidak merasa dibohongi. Di rumah sriti yang belum banyak walet, keberhasilan penetasan 10%. Artinya dari 100 telur menetas, yang hidup sampai dewasa 10 ekor. Namun, begitu populasi walet mencapai 100 sarang, sukses penetasan mencapai 30%. Pergantian telur harus sesering mungkin karena populasi terlalu sedikit menyebabkan walet merasa tidak aman di tengah-tengah koloni sriti. Ruangan sebaiknya dibuat lebih gelap agar anak walet betah dan sriti yang suka terang pindah ke tempat lain.
Sarang sriti Collocalia esculenta dibangun dari material seperti daun cemara, rumput, dan lumut laut yang direkatkan oleh air liur burung. Sedangkan sarang walet Collocalia fuciphaga murni terbuat dari liur walet. Harga sarang sriti lebih murah, berkisar Rp500.000/kg; sarang walet Rp 10-juta/kg tergantung kualitas.
Ada dua kriteria untuk menentukan kualitas sarang walet.
Yang pertama bentuk sarang.
Sarang utuh seperti balkon, tidak pecah, dan punggung mulus bernilai jual tinggi. Bentuk sarang sempurna seperti itu dihasilkan dari rumah walet yang memiliki kelembapan optimal 80-90% dan dipanen tepat waktu. Bila kelembapan terlalu tinggi, sarang akan lembek dan berjamur. Sebaliknya bila udara terlalu kering, sarang rapuh dan mudah remuk.
Berikutnya warna sarang.
Warna asli sarang walet putih. Namun, warna itu dapat berubah kekuningan hingga merah darah. Apabila sirkulasi udara dalam rumah tidak optimal, misalnya udara terlalu basah, sarang akan berjamur, kusam, dan berubah kecokelatan. Sarang kusam sulit dijual karena standar yang diminta berwarna putih, kuning, atau merah cerah.
Anda dapat menjual sarang sriti dan walet ke pengepul atau langsung ke eksportir. Harga sarang fluktuatif tergantung kualitas dan permintaan konsumen. Sampai saat ini belum ada katalog standar harga sarang walet. Namun, bila Anda sudah berhasil memproduksi dan menjual sarang ke beberapa pengepul, otomatis harga standar sarang dapat ditentukan.***
Rabu, 28 Januari 2009
Swiftlet birds House is ASSET?
Many peoples think that swiftlet birds house is asset and can generate cash for them. May be yes may be no.
The birds house as asset if the BH can produce bird nests more than what we spend. If your BH can not produce nests and the income less than your expenses, your BH is liability.
Three years ago, my friend's BH already have +/- 200 nests and he not daring to harvest it. Every time he said that his expenses for BH Rp. 1.500.000.- per month and his BH until now not generate cash yet.
I said to him that his BH can be as Asset, if he want. You must harvest the BN. He said that he not daring to harvest it and not much money can get because many birds built their nest in fake nests or imitation nests. Also, if not harvest, the total nests will be double in 1 year. So, 1 year later the total nests will become 400 nests, within 3 years the total nest will be 1,200 nests. Woww... very very good...
But I told him that if that is happen is good, but if not happen how? We must think economically. If you harvest every 4 months, let say you get 100 nests (900 grams)and assuming the price Rp. 10,000,000.- per kg, you will get Rp. 9,000,0000.- every 4 months, or Rp. 2,250,000.- per month. With this income you can cover your BH expenses and you no need to spend money from your own pocket.
I joke with him, Ask your birds to make money for you, they must pay rent to you. Every month you spend Rp. 1.500.000,- for electricity, insecticide, tukang jaga, transportation, etc. And now, your BH already have nests but you are not daring to harvest, so your BH become liability.
Your BH now become your liability if it is not produce birds nests or you are not daring to harvest the nests. In this case, the BH is your Liability instead of ASSET.
My Singaporean friend is more smarter. He bought the 3 storey shoplot in Johor Baru. He bought this shoplot and financing by bank. 1st floor he rented to people for shop. From rent income he can pay the bank loan installment.
2nd and 3rd floor he converted to birds house. Eventhought his BH not produce the nests yet or still empty, his BH is an ASSET because he is not spend money for his BH / shoplot.
So, BH will become your Liability if your BH is not make or producing money and will become ASSET once your income from BH is higher than your BH exenpeses.
SMART WORK and HARD WORK.
The birds house as asset if the BH can produce bird nests more than what we spend. If your BH can not produce nests and the income less than your expenses, your BH is liability.
Three years ago, my friend's BH already have +/- 200 nests and he not daring to harvest it. Every time he said that his expenses for BH Rp. 1.500.000.- per month and his BH until now not generate cash yet.
I said to him that his BH can be as Asset, if he want. You must harvest the BN. He said that he not daring to harvest it and not much money can get because many birds built their nest in fake nests or imitation nests. Also, if not harvest, the total nests will be double in 1 year. So, 1 year later the total nests will become 400 nests, within 3 years the total nest will be 1,200 nests. Woww... very very good...
But I told him that if that is happen is good, but if not happen how? We must think economically. If you harvest every 4 months, let say you get 100 nests (900 grams)and assuming the price Rp. 10,000,000.- per kg, you will get Rp. 9,000,0000.- every 4 months, or Rp. 2,250,000.- per month. With this income you can cover your BH expenses and you no need to spend money from your own pocket.
I joke with him, Ask your birds to make money for you, they must pay rent to you. Every month you spend Rp. 1.500.000,- for electricity, insecticide, tukang jaga, transportation, etc. And now, your BH already have nests but you are not daring to harvest, so your BH become liability.
Your BH now become your liability if it is not produce birds nests or you are not daring to harvest the nests. In this case, the BH is your Liability instead of ASSET.
My Singaporean friend is more smarter. He bought the 3 storey shoplot in Johor Baru. He bought this shoplot and financing by bank. 1st floor he rented to people for shop. From rent income he can pay the bank loan installment.
2nd and 3rd floor he converted to birds house. Eventhought his BH not produce the nests yet or still empty, his BH is an ASSET because he is not spend money for his BH / shoplot.
So, BH will become your Liability if your BH is not make or producing money and will become ASSET once your income from BH is higher than your BH exenpeses.
SMART WORK and HARD WORK.
Minggu, 25 Januari 2009
7 Tahun Rumah Burung Walet Kosong
Pagi hari ini saya masih ada di Pontianak. Hand phone saya berdering saat saya masih tidur. Saya melihat di layar HP ada "Missed Call", nomor telpon tersebut tidak saya kenal, namun dari kode area 031 saya mengetahui bahwa telpon tersebut berasal dari Surabaya - Jawa Timur.
Kemudian saya telpon kembali ke nomor telpon tersebut. Yang mengangkat telpon adalah seorang wanita, kemudian diberikan ke seorang pria.
"Pak Hen, masih ingat saya? Saya Pak M yang ikut seminar bapak di Jakarta." Demikian sapa beliau ke saya.
"Pasti pak, saya masih ingat Pak M, yang rambutnya putih dan berasal dari kota XXX - Jawa Timur". Apa kabar pak? dan bagaimana rumah burung waletnya? Jawab dan tanya saya ke beliau.
"Saya ini terharu dan gembira pak. Setelah saya pulang dari seminar di Jakarta, saya terapkan apa yang pak Hen sarankan terhadap RBW saya. Semua saya lakukan dan terapkan. Setelah saya renovasi sesuai dengan anjuran pak Hen, ternyata banyak burung yang mulai masuk dan menginap. Dan yang luar biasa pak, pada tanggal 23 Januari 2009, banyak sekali sampai tak terhitung jumlah burung yang masuk dan tinggal di dalam RBW dari jam 15.00 sampai jam 18.20, terus menerus burung berdatangan dan masuk ke dalam RBW saya. Saya sungguh berterima kasih kepada pak Hen, dan saya tadi telpon ingin menyampaikan kegembiraan saya. Penantian selama 7 tahun, RBW saya yang kosong kini telah berisi burung walet dan jumlahnya banyak sekali. Semua ini berkat bantuan pak Hen yang membantu saya dengan hati. Lebih lanjut saya mohon doa pak Hen untuk kesuksesan RBW saya. Dan jangan bosan ya pak, kalau saya terus menerus minta bantuan pak Hen."
Demikian yang disampaikan pak M kepada saya pagi ini. Pak M adalah salah satu peserta seminar Strategi Jitu Memikat Walet di Jakarta yang mempunyai masalah dengan RBW nya. Di sesi Study Kasus, pak M mengajukan kasus RBW nya kepada saya di depan seluruh peserta seminar. Peserta seminar menjadi saksi apa yang saya sarankan kepada beliau. Dan saya minta pak M untuk segera melakukan renovasi RBW nya sesuai dengan saran saya.
Tujuh tahun.... Penantian yang panjang, kini senyum pak M telah kembali. Pesan saya kepada pak M per telpon tadi adalah jangan karena gembira sehingga setiap hari masuk ke RBW. Sebaiknya 1 bulan sekali saja masuk ke RBW, bila tidak ada masalah.
Selamat pak M, semoga burung walet yang masuk dan tinggal di RBW pak M beranak pinak dan populasinya meningkat dengan cepat.
Kemudian saya telpon kembali ke nomor telpon tersebut. Yang mengangkat telpon adalah seorang wanita, kemudian diberikan ke seorang pria.
"Pak Hen, masih ingat saya? Saya Pak M yang ikut seminar bapak di Jakarta." Demikian sapa beliau ke saya.
"Pasti pak, saya masih ingat Pak M, yang rambutnya putih dan berasal dari kota XXX - Jawa Timur". Apa kabar pak? dan bagaimana rumah burung waletnya? Jawab dan tanya saya ke beliau.
"Saya ini terharu dan gembira pak. Setelah saya pulang dari seminar di Jakarta, saya terapkan apa yang pak Hen sarankan terhadap RBW saya. Semua saya lakukan dan terapkan. Setelah saya renovasi sesuai dengan anjuran pak Hen, ternyata banyak burung yang mulai masuk dan menginap. Dan yang luar biasa pak, pada tanggal 23 Januari 2009, banyak sekali sampai tak terhitung jumlah burung yang masuk dan tinggal di dalam RBW dari jam 15.00 sampai jam 18.20, terus menerus burung berdatangan dan masuk ke dalam RBW saya. Saya sungguh berterima kasih kepada pak Hen, dan saya tadi telpon ingin menyampaikan kegembiraan saya. Penantian selama 7 tahun, RBW saya yang kosong kini telah berisi burung walet dan jumlahnya banyak sekali. Semua ini berkat bantuan pak Hen yang membantu saya dengan hati. Lebih lanjut saya mohon doa pak Hen untuk kesuksesan RBW saya. Dan jangan bosan ya pak, kalau saya terus menerus minta bantuan pak Hen."
Demikian yang disampaikan pak M kepada saya pagi ini. Pak M adalah salah satu peserta seminar Strategi Jitu Memikat Walet di Jakarta yang mempunyai masalah dengan RBW nya. Di sesi Study Kasus, pak M mengajukan kasus RBW nya kepada saya di depan seluruh peserta seminar. Peserta seminar menjadi saksi apa yang saya sarankan kepada beliau. Dan saya minta pak M untuk segera melakukan renovasi RBW nya sesuai dengan saran saya.
Tujuh tahun.... Penantian yang panjang, kini senyum pak M telah kembali. Pesan saya kepada pak M per telpon tadi adalah jangan karena gembira sehingga setiap hari masuk ke RBW. Sebaiknya 1 bulan sekali saja masuk ke RBW, bila tidak ada masalah.
Selamat pak M, semoga burung walet yang masuk dan tinggal di RBW pak M beranak pinak dan populasinya meningkat dengan cepat.
Senin, 05 Januari 2009
Yang Tak Biasa dari Makassar
Seri Walet (139): Yang Tak Biasa dari Makassar
Sumber: Trubus Online
Kamis, Januari 01, 2009
Ini pemandangan tak lazim di sebuah rumah walet di Bonerate, Makassar, Sulawesi Selatan. Aroma amonia menguar tajam begitu melangkah masuk ke dalam. Maklum, lantai bangunan itu becek oleh kotoran si liur emas. Si empunya tetap mempertahankan kondisi itu karena di sana setiap 2 minggu dipetik 5 kg sarang Collocalia fuciphaga.
Bangunan walet berlantai 4 di daerah Pecinan, Kota Angin Mamari, itu tampak seperti rumah biasa. Tak terlihat lubang-lubang udara dari pipa PVC di tembok yang menjadi ciri khas rumah walet. Pantas sirkulasi udara di dalamnya macet sehingga amonia yang muncul dari kotoran walet tercium tajam. 'Ini aroma rupiah,' ujar Boy Susandi, si empunya.
Rumah berumur 5 tahun itu justru menghasilkan sarang setelah ventilasi ditutup. Sebelumnya pada tahun pertama ketika ada lubang udara, sulit memancing walet masuk. Setelah ditelisik kehadiran lubang udara membuat kelembapan rendah, hanya 70%. Sebaliknya ketika ventilasi ditutup, kelembapan stabil di angka 85-90%. Buntutnya setahun berselang pada 2005 mulai dijumpai walet bersarang. Jumlahnya sedikit, baru hitungan jari. 'Namun jumlah itu terus meningkat. Kenaikannya mencapai 125% pada 2007,' kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana, Malang, Jawa Timur, itu.
Pintu besar
Menurut Mulyadi, praktikus walet di Serpong, Tangerang, rumah walet tanpa lubang angin sah-sah saja. 'Di Lampung banyak rumah walet yang berhasil tanpa lubang angin. Yang terpenting kelembapan tinggi dan suhu stabil,' ujarnya. Tanpa lubang angin berarti tidak ada uap air yang terbawa keluar oleh angin, sehingga kelembapan ruangan dapat dipertahankan.
Kelembapan tinggi di rumah walet itu bukan semata-mata tanpa ventilasi, tapi diciptakan Boy dengan pengabutan. Mesin yang digunakan Boy mampu mengabutkan ruangan seluas 30 m². Mesin itu dinyalakan 24 jam nonstop dengan durasi 5 menit/jam. Pada musim hujan mesin kabut tidak dioperasikan.
Sejatinya kelembapan dan suhu ideal harus diimbangi dengan sirkulasi udara yang lancar. Tersendatnya sirkulasi udara membuat amonia tertahan dan terus menumpuk. Pada konsentrasi yang tinggi dapat meracuni walet. Sebab itu menurut Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan, bangunan yang sirkulasi udaranya jelek produksi sarang biasanya tidak optimal. 'Bahkan lama-kelamaan walet tidak berkembang,' kata Boedi. Kondisi seperti itu mulai tampak di lantai dasar dan kedua yang hanya terdapat 300-400 sarang.
Walet lebih memilih menghuni lantai ke-3 dan ke-4 yang aroma amonianya tercium samar-samar. Sirkulasi udara di kedua tempat itu bagus karena berada di dekat lubang masuk burung di pojok kanan lantai 4. Pintu masuk berukuran 5 m x 1,5 m itu cukup mengalirkan udara segar. Itu diperkuat lagi oleh jarak antarlantai setinggi 4 m yang memudahkan pergerakan udara di dalamnya.
Konsekuensinya, ukuran pintu masuk yang besar membuat sinar matahari terlalu kuat menerangi ruangan tempat walet bersarang atau resting room. Padahal, Collocalia fuciphaga itu menghendaki kondisi remang-remang. Untuk mengatasinya Boy memasang layar terbuat dari bahan selebar 12 m x 8 m yang sekaligus menjadi pembatas lobi-tempat walet bermain-dan bersarang.
Di depan pintu masuk, Boy juga menambahkan dak air berukuran 13 m x 8 m yang menyerupai bak. Dak itu berisi air setinggi 7 cm beratap langit. Tujuannya, 'Selain mengurangi paparan sinar matahari, juga sebagai penahan panas,' kata Boy. Dak terbuat dari beton berlapis membran agar tidak bocor. Pada setiap tepi dak diberi pipa sepanjang 15 cm yang dibuat menyerupai orang-orangan sawah. Itu untuk mengelabui walet. Menurut pria kelahiran Makassar 37 tahun lalu itu walet akan mengira sedang berada di sawah, tempatnya mencari serangga.
Pecinan
Semua teknik itu dipakai Boy pada seluruh rumah waletnya yang berjumlah 5 buah. Contohnya rumah di dekat pelabuhan Soekarno-Hatta setinggi 3 lantai dengan luas bangunan 375 m². Rumah yang baru berumur sebulan itu langsung didatangi walet. Itu terlihat di dinding setebal 40 cm terdapat kotoran walet berwarna putih. Supaya walet tertarik masuk, Boy memasang 300 tweeter dengan volume maksimal. Lantaran walet senang air di antara dinding gedung dibuat kolam 8 m x 5 m yang dilengkapi selang berlubang. Dari sanalah air nantinya menyemprot seperti kabut.
Menurut Boy selain teknik, kunci sukses memancing walet masuk adalah memilih lokasi rumah yang tepat. Dari banyak tempat di Makassar, Boy menyukai daerah Pecinan yang meliputi 16 jalan utama seperti jalan Sulawesi, Bonarate, Flores, dan Biak. Alasannya, 'Daerah itu sudah lama jadi lintasan walet dan salah satu sentra walet terbesar di Sulawesi Selatan,' ucap Boy yang minimal mengamati selama 2 minggu untuk menentukan lokasi yang cocok. Jarak ke sumber pakan di Takalar juga dekat. 'Walet lebih mudah mencari serangga,' tambahnya.
Trubus menyaksikan keberadaan si liur emas di daerah yang dihuni mayoritas etnis Tianghoa itu saat senja tiba. Saat itu suara tweeter terdengar riuh-rendah dari setiap rumah walet. Gerombolan walet pun memenuhi langit di Pecinan. Bahkan langit di atas salah satu rumah walet tertua yang umurnya ditaksir 25 tahun itu tampak lebih hitam tertutup walet. Setiap 25 menit sekitar 600.000 walet masuk rumah itu. Dari informasi yang diperoleh, rumah 3 lantai berukuran 14 m x 27 m itu produksinya mencapai 1.000 kg/panen.
Desain bangunan rumah walet itu seperti normalnya rumah walet, banyak lubang angin. Untuk menarik walet, rumah itu juga memakai pintu yang lebar. Lantai atas bangunan terdapat bumbungan tempat walet bermain sebelum masuk ke rumah. 'Tapi bumbungan itu tidak diberi kolam,' tutur Boy.
Tertua di Sulawesi
Di luar Pecinan, di Makassar masih ada lokasi walet lain seperti di Sam Ratulangi, selatan Makassar. Namun, produksi jumlah sarang di sentra itu kalah dibandingkan di Pecinan. Maklum, bangunan-bangunannya relatif baru. Misal rumah 3 lantai milik Agung, baru dibangun pada 2005 sehingga produksinya tidak lebih daripada 5 kg. Meski demikian rumah-rumah walet di Makassar menjadi bukti pesatnya pertumbuhan si liur emas di Sulawesi Selatan. Berdasarkan pengamatan Boy saat ini sekitar 300 bangunan walet ada di Makassar.
Para investor tertarik membangun rumah walet di Makassar karena tingkat keberhasilan memancing walet cukup tinggi. 'Yang masuk ke dalam rumah mayoritas langsung walet,' kata Boy. Makassar salah satu sentra walet tertua di Pulau Sulawesi. 'Dahulu para pemilik rumah walet di Makassar seperti Manado banyak yang putar telur,' ujar Boedi. Nah, karena itu populasi walet di Makassar terus berkembang. Tak aneh kalau penampung sarang pun banyak berkeliaran di sana. Mereka membeli sarang, sarang dicuci, lalu langsung dibawa ke Surabaya. (Lastioro Anmi Tambunan)
Sumber: Trubus Online
Kamis, Januari 01, 2009
Ini pemandangan tak lazim di sebuah rumah walet di Bonerate, Makassar, Sulawesi Selatan. Aroma amonia menguar tajam begitu melangkah masuk ke dalam. Maklum, lantai bangunan itu becek oleh kotoran si liur emas. Si empunya tetap mempertahankan kondisi itu karena di sana setiap 2 minggu dipetik 5 kg sarang Collocalia fuciphaga.
Bangunan walet berlantai 4 di daerah Pecinan, Kota Angin Mamari, itu tampak seperti rumah biasa. Tak terlihat lubang-lubang udara dari pipa PVC di tembok yang menjadi ciri khas rumah walet. Pantas sirkulasi udara di dalamnya macet sehingga amonia yang muncul dari kotoran walet tercium tajam. 'Ini aroma rupiah,' ujar Boy Susandi, si empunya.
Rumah berumur 5 tahun itu justru menghasilkan sarang setelah ventilasi ditutup. Sebelumnya pada tahun pertama ketika ada lubang udara, sulit memancing walet masuk. Setelah ditelisik kehadiran lubang udara membuat kelembapan rendah, hanya 70%. Sebaliknya ketika ventilasi ditutup, kelembapan stabil di angka 85-90%. Buntutnya setahun berselang pada 2005 mulai dijumpai walet bersarang. Jumlahnya sedikit, baru hitungan jari. 'Namun jumlah itu terus meningkat. Kenaikannya mencapai 125% pada 2007,' kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana, Malang, Jawa Timur, itu.
Pintu besar
Menurut Mulyadi, praktikus walet di Serpong, Tangerang, rumah walet tanpa lubang angin sah-sah saja. 'Di Lampung banyak rumah walet yang berhasil tanpa lubang angin. Yang terpenting kelembapan tinggi dan suhu stabil,' ujarnya. Tanpa lubang angin berarti tidak ada uap air yang terbawa keluar oleh angin, sehingga kelembapan ruangan dapat dipertahankan.
Kelembapan tinggi di rumah walet itu bukan semata-mata tanpa ventilasi, tapi diciptakan Boy dengan pengabutan. Mesin yang digunakan Boy mampu mengabutkan ruangan seluas 30 m². Mesin itu dinyalakan 24 jam nonstop dengan durasi 5 menit/jam. Pada musim hujan mesin kabut tidak dioperasikan.
Sejatinya kelembapan dan suhu ideal harus diimbangi dengan sirkulasi udara yang lancar. Tersendatnya sirkulasi udara membuat amonia tertahan dan terus menumpuk. Pada konsentrasi yang tinggi dapat meracuni walet. Sebab itu menurut Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan, bangunan yang sirkulasi udaranya jelek produksi sarang biasanya tidak optimal. 'Bahkan lama-kelamaan walet tidak berkembang,' kata Boedi. Kondisi seperti itu mulai tampak di lantai dasar dan kedua yang hanya terdapat 300-400 sarang.
Walet lebih memilih menghuni lantai ke-3 dan ke-4 yang aroma amonianya tercium samar-samar. Sirkulasi udara di kedua tempat itu bagus karena berada di dekat lubang masuk burung di pojok kanan lantai 4. Pintu masuk berukuran 5 m x 1,5 m itu cukup mengalirkan udara segar. Itu diperkuat lagi oleh jarak antarlantai setinggi 4 m yang memudahkan pergerakan udara di dalamnya.
Konsekuensinya, ukuran pintu masuk yang besar membuat sinar matahari terlalu kuat menerangi ruangan tempat walet bersarang atau resting room. Padahal, Collocalia fuciphaga itu menghendaki kondisi remang-remang. Untuk mengatasinya Boy memasang layar terbuat dari bahan selebar 12 m x 8 m yang sekaligus menjadi pembatas lobi-tempat walet bermain-dan bersarang.
Di depan pintu masuk, Boy juga menambahkan dak air berukuran 13 m x 8 m yang menyerupai bak. Dak itu berisi air setinggi 7 cm beratap langit. Tujuannya, 'Selain mengurangi paparan sinar matahari, juga sebagai penahan panas,' kata Boy. Dak terbuat dari beton berlapis membran agar tidak bocor. Pada setiap tepi dak diberi pipa sepanjang 15 cm yang dibuat menyerupai orang-orangan sawah. Itu untuk mengelabui walet. Menurut pria kelahiran Makassar 37 tahun lalu itu walet akan mengira sedang berada di sawah, tempatnya mencari serangga.
Pecinan
Semua teknik itu dipakai Boy pada seluruh rumah waletnya yang berjumlah 5 buah. Contohnya rumah di dekat pelabuhan Soekarno-Hatta setinggi 3 lantai dengan luas bangunan 375 m². Rumah yang baru berumur sebulan itu langsung didatangi walet. Itu terlihat di dinding setebal 40 cm terdapat kotoran walet berwarna putih. Supaya walet tertarik masuk, Boy memasang 300 tweeter dengan volume maksimal. Lantaran walet senang air di antara dinding gedung dibuat kolam 8 m x 5 m yang dilengkapi selang berlubang. Dari sanalah air nantinya menyemprot seperti kabut.
Menurut Boy selain teknik, kunci sukses memancing walet masuk adalah memilih lokasi rumah yang tepat. Dari banyak tempat di Makassar, Boy menyukai daerah Pecinan yang meliputi 16 jalan utama seperti jalan Sulawesi, Bonarate, Flores, dan Biak. Alasannya, 'Daerah itu sudah lama jadi lintasan walet dan salah satu sentra walet terbesar di Sulawesi Selatan,' ucap Boy yang minimal mengamati selama 2 minggu untuk menentukan lokasi yang cocok. Jarak ke sumber pakan di Takalar juga dekat. 'Walet lebih mudah mencari serangga,' tambahnya.
Trubus menyaksikan keberadaan si liur emas di daerah yang dihuni mayoritas etnis Tianghoa itu saat senja tiba. Saat itu suara tweeter terdengar riuh-rendah dari setiap rumah walet. Gerombolan walet pun memenuhi langit di Pecinan. Bahkan langit di atas salah satu rumah walet tertua yang umurnya ditaksir 25 tahun itu tampak lebih hitam tertutup walet. Setiap 25 menit sekitar 600.000 walet masuk rumah itu. Dari informasi yang diperoleh, rumah 3 lantai berukuran 14 m x 27 m itu produksinya mencapai 1.000 kg/panen.
Desain bangunan rumah walet itu seperti normalnya rumah walet, banyak lubang angin. Untuk menarik walet, rumah itu juga memakai pintu yang lebar. Lantai atas bangunan terdapat bumbungan tempat walet bermain sebelum masuk ke rumah. 'Tapi bumbungan itu tidak diberi kolam,' tutur Boy.
Tertua di Sulawesi
Di luar Pecinan, di Makassar masih ada lokasi walet lain seperti di Sam Ratulangi, selatan Makassar. Namun, produksi jumlah sarang di sentra itu kalah dibandingkan di Pecinan. Maklum, bangunan-bangunannya relatif baru. Misal rumah 3 lantai milik Agung, baru dibangun pada 2005 sehingga produksinya tidak lebih daripada 5 kg. Meski demikian rumah-rumah walet di Makassar menjadi bukti pesatnya pertumbuhan si liur emas di Sulawesi Selatan. Berdasarkan pengamatan Boy saat ini sekitar 300 bangunan walet ada di Makassar.
Para investor tertarik membangun rumah walet di Makassar karena tingkat keberhasilan memancing walet cukup tinggi. 'Yang masuk ke dalam rumah mayoritas langsung walet,' kata Boy. Makassar salah satu sentra walet tertua di Pulau Sulawesi. 'Dahulu para pemilik rumah walet di Makassar seperti Manado banyak yang putar telur,' ujar Boedi. Nah, karena itu populasi walet di Makassar terus berkembang. Tak aneh kalau penampung sarang pun banyak berkeliaran di sana. Mereka membeli sarang, sarang dicuci, lalu langsung dibawa ke Surabaya. (Lastioro Anmi Tambunan)
Langganan:
Postingan (Atom)
GRAND OPENING CHICKEN CRUSH VILLA MELATI MAS, SERPONG
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, pada tanggal 17 Oktober 2019 dilakukan pemberkatan tempat usaha resto Chicken Crush yang terletak di Ru...
-
HM You Ji Yan Wo now available at Plaza Bali - Soekarno Hatta International Airport (SHIA). Plaza Bali is Duty Free shop conveniently...
-
H4N1® Bio Aroma dibuat dari bahan-bahan alami dengan mengadopsi teknologi Jepang untuk menghasilkan mikroba yang dapat menghancurkan stru...
-
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, pada tanggal 17 Oktober 2019 dilakukan pemberkatan tempat usaha resto Chicken Crush yang terletak di Ru...