Rabu, 06 Agustus 2008

Landasan Sarang dari Styrofoam

Berdasarkan pengalaman saya  landasan sarang dari styrofoam ukuran lebar 2 cm , panjang 8 cm dengan ketebalan 2 cm yang diolesi dengan aroma P (untuk nesting plank)  kemudian dipasangkan di nesting plank, dalam waktu kurang dari 4 bulan, landasan sarang tersebut sudah dilapisi oleh liur burung walet.

Landasan sarang dari styrofoam ini mampu meningkatkan populasi burung walet 30 - 50% setahun. Landasan sarang ini berguna sebagai penopang sarang saja, sehingga sarang yang dihasilkan penuh dan besar, tidak seperti sarang imitasi plastik yang hanya sedikt diolesi liur oleh burung walet lalu digunakan untuk bertelur. 

Landasan sarang dari styrofoam ini memaksa dan memicu burung walet untuk membuat sarang secara utuh, karena styrofoam ini tidak dapat digunakan untuk meletakkan telur, oleh karena itu fungsi styrofoam ini akan meningkatkan produksi sarang.

Selain meningkatkan produksi sarang, styrofoam juga menambah populasi si liur emas putih. Populasi walet dan sarang meningkat setelah 2 kali tetasan. Panen dilakukan 8 bulan setelah tetasan terakhir itu. Pada periode pertama tetasan, anak walet menempati sarang yang dibuat induk sehingga sarang diisi 4 walet: induk jantan, betina, dan 2 anak hasil tetasan.

Supaya anakan burung walet tidak menggunakan sarang induknya sebagai tempat berdiam, landasan sarang yang telah diolesi dengan aroma P ini ditempel di dekat sarang induk, yaitu sekitar 10 cm dari sarang induk
Pada saat anakan burung walet matang gonad, yaitu berumur sekitar 9 bulan, maka anakan ini akan mampu membuat sarang di landasan sarang styrofoam.

Supaya anakan tidak kabur, sebaiknya sarang yang ada di landasan sarang dipanen  setelah melewati 2 kali tetasan. Bila 1 kali tetasan sarang induk sudah diambil, dikhawatirkan walet muda yang sedang belajar terbang atau mencengkeram tidak bisa mengenali sarang induknya dan dapat berakibat anakan burung walet akan mudah kabur sehingga populasi tidak meningkat.
Landasan sarang styrofoam dapat rusak dan berlubang, karena anakan burung walet sering mematuk-matuk styrofoam tersebut dan membentuk lengkungan. Oleh karena itu sebaiknya gunakan styrofoam yang lebih tebal, minimal 2 cm.

Rumah Burung Walet di Dataran Tinggi

Pada kebanyakan orang berkecenderungan membuat rumah burung walet di daerah yang ketinggiannya kurang dari 400 meter di atas permukaan laut (dpl). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa mikro klimat rumah burung walet yang ideal adalah berkisar suhu udara antara 26 - 29 derajat Celcius dan kelembaban antara 80 sampai dengan 95%, sehingga lokasi yang ideal untuk rumah burung walet adalah di dataran rendah sampai dengan 400 meter dpl. 

Pada daerah dataran tinggi, misalnya  600 meter dpl, suhu udara luar berkisar antara 16 sampai dengan 22 derajat Celcius, dengan kelembaban udara antara 60% sampai dengan 70%. Melihat kondisi ini, maka daerah dataran tinggi (di atas 400 meter dpl) tidak ideal bagi perkembangan burung walet. Namun, seperti di Benteng Pendem, Ambarawa, Jawa Tengah, yang dihuni burung walet, terletak di 600 meter dpl setiap panennya menghasilkan sarang burung walet +/- 40 kg, hal ini disebabkan karena dinding Benteng Pendem ini tebalnya 80 cm sehingga suhu udara di dalam Benteng Pendem ini lebih hangat dibandingkan suhu udara luar.

Membudidayakan burung walet di dataran tinggi mempunyai keuntungan, karena di dataran tinggi masih banyak lahan pertanian dan perkebunan sehingga serangga yang merupakan pakan burung walet  lebih banyak tersedia. Dengan tersedianya pakan tersebut, maka burung walet tidak perlu terbang jauh untuk mencari makan. 

Suhu dan Kelembapan

Kendala yang dihadapi dalam membudidayakan burung walet di dataran tinggi adalah suhu dan kelembapan udara. Suhu dan kelembapan yang rendah membuat perkembangbiakan burung walet lebih lambat. Kelembapan udara dapat ditingkatkan dengan membuat kolam yang diisi air. Air di kolam ini selain berfungsi untuk meningkatkan kelembapan udara, juga berfungsi sebagai stabilisator suhu udara dan menjaga agar kelembaban udara relatif stabil.

Agar suhu udara di dalam rumah burung walet relatif stabil, maka RBW di dataran tinggi sebaiknya tidak banyak lubang ventilasi udara. Untuk setiap ukuran 4 m x 4 m, cukup 1 lubang ventilasi udara atas dan tidak diperlukan lubang ventilasi bawah. 

Dan perlu diketahui bahwa suhu udara dan kelembapan udara tidak hanya berkaitan dengan kualitas sarang walet tetapi juga berkaitan dengan daya tetas telur. Suhu dan kelembapan udara yang rendah akan mengurangi daya tetas telur. Oleh karena itu, di datran tinggi perkembangbiakan burung walet akan lebih pesat di musim kemarau dibandingkan di musim hujan, untuk itu pola panen rampasan yang biasanya dilakukan pada atau menjelang musim kemarau di dataran rendah tidak dapat diterapkan begitu saja di dataran rendah.  

Yang menjadi permasalahan, di dataran tinggi populasi walet masih sedikit, yang banyak justru burung sriti. Bila di RBW sudah ada burung sriti maka harus dilakukan putar telur dan pergunakan suara walet agar burung walet tetasan tetap kembali ke RBW kita  dan yang penting mikro klimat yaitu suhu dan kelembapan udara dibuat semirip mungkin dengan habitat burung walet. Selain itu ketersediaan pakan juga merupakan salah satu kunci agar burung walet betah tinggal di dataran tinggi yang dingin dan kering. 

Jika global warming terus terjadi dan menyempitnya lahan persawahan dan ladang, maka tidaklah mustahil bila 2 - 3 tahun mendatang kawasan dataran tinggi yang semula banyak dihuni oleh sriti akan menjadi daerah walet. 

Selasa, 05 Agustus 2008

Kemarau Datang Bobot Sarang Meningkat

Kemarau Datang Bobot Sarang Meningkat
Oleh trubus
Selasa, April 10, 2007 14:21:28



Anggapan bobot sarang turun pada musim kemarau tak berlaku di Sedayu, Gresik, Jawa Timur. Di sana bobot sarang malah naik ketimbang musim hujan. Itu terlihat dari 8 bulan pengamatan terhadap 25 sarang walet di rumah walet model piggy back. Empat bulan musim kemarau, Mei-September, bobot rata-rata 10,7882 g/sarang. Padahal musim hujan hanya 8,9085 g/sarang.

Uji bobot dengan menggunakan timbangan analitik Denver tipe AA-250 dengan ketelitian 4 digit di laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu sungguh di luar dugaan. Selama ini bobot sarang selalu lebih rendah saat musim kemarau. Suhu dan kelembapan sangat memegang peranan.

Dari penelitian didapat 88% walet setia menempati tempat asal bersarang di rumah walet 5 lantai setinggi 14 m yang dipakai tempat uji coba. Bangunan bercat putih itu dilengkapi lubang walet berukuran 100 cm x 30 cm, normalnya 40 cm x 14 cm agar walet mudah masuk. Suhu ruangan berkisar 25-27oC terasa sejuk karena ventilasi cukup banyak.

Agar kelembapan terjaga pada kisaran 95-98%, di setiap lantai yang memiliki 6-9 kamar ditaruh 2-3 kolam berisi air. Luasan kolam 3 m x 3 m dan kedalaman 30 cm. Pada musim hujan jumlah kolam dikurangi sehingga ruangan tidak terlalu lembap. Kelembapan di atas 98% dapat membuat sarang berubah warna menjadi abu-abu.
Dekat pakan

Selain lingkungan dalam rumah walet, lokasi rumah turut andil menaikkan bobot sarang. Bangunan dekat sumber pakan menjadi pilihan pas. Bangunan yang diamati penulis dikelilingi rawa dan berada 7 km dari pantai utara Jawa. Duapuluh kilometer dari tempat itu tampak jejeran hutan jati. Sungai Bengawan Solo membentang di sebelah selatan lokasi. Itulah lintasan walet saat terbang mencari serangga yang memang menyukai daerah lembap dan berair.

Memang pada musim penghujan produksi pakan melimpah. Namun, pada musim itu walet tergesa-gesa membuat sarang agar cepat bertelur. Hasilnya, bobot sarang lebih ringan dan tipis. Berbeda pada musim kemarau. Meski kecenderungan sumber pakan berkurang, tapi walet tetap aktif memproduksi liur. Itu karena persaingan memperoleh pakan berkurang. Maklum sebanyak 12% walet muda biasanya pergi mencari pakan ke tempat lain.

Saat faktor-faktor seperti suhu, kelembapan, dan kedekatan dengan sumber pakan terpenuhi, walet akan setia dan rajin membuat sarang. Oleh karena itu pada musim kemarau tak ada hambatan bagi walet untuk tinggal dan mencari pakan. Hasilnya bobot sarang terjaga.

Serangga Perbanyak Liur

Kelembapan Perbanyak Liur
Oleh trubus
Selasa, April 10, 2007 14:22:47 Klik: 923

Kemarau datang, serangga pun berkurang. Itulah yang terjadi di daerah penyebaran walet. Penyebabnya hanya satu: kelembapan turun. Menurut Stefanus Yoki, praktikus walet itu Purwokerto, Jawa Tengah, serangga yang menjadi sumber pakan utama si liur emas itu menyukai daerah lembap dan berair. Contohnya tempat sampah dan aliran sungai. Berkurangnya pakan menyebabkan walet harus terbang ke tempat lain. 'Jarak terbang bisa 40-50 km,' ujarnya.

Setelah mendapatkan pakan, keluarga Collocalia fuchipaga yang terkenal setia itu akan kembali ke rumah asal. Namun, jauhnya jarak tempuh membuat walet kehabisan energi untuk mengeluarkan liur. Imbasnya sarang pun menjadi kecil dan bobotnya ringan.

Hal senada juga diungkapkan Hary K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara. Menurutnya serangga yang kaya protein mampu memicu walet untuk memproduksi liur lebih banyak, sehingga sarang cepat terbentuk. Idealnya sarang terbentuk selama 45 hari. 'Saat pakan melimpah sarang terbentuk dalam 38 hari,' ujar pemilik Eka Walet Center itu.

Ketika pakan berkurang, produksi liur pun sedikit. Akibatnya saat sarang masih berukuran 3 jari, walet sudah bertelur. Dampak lain, sarang yang dihasilkan menjadi tipis dan berbulu, di bawah bobot ideal, 8 g/sarang. Namun, saat kelembapan stabil, niscaya populasi serangga terjaga. Walet pun leluasa memperoleh amunisi untuk membuat sarang. (Lastioro Anmi Tambunan)

Prediksi Peningkatan Sarang

Seri Walet (123):
Prediksi Peningkatan Sarang
Oleh trubus
Selasa, September 04, 2007 02:41:56


Rumus statistik untuk mengetahui jumlah penduduk pada kurun waktu tertentu ternyata dapat diterapkan pada walet. Itu dilakukan Ubaidillah Thohir di Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Melalui penelitian selama 3 tahun, kenaikan jumlah sarang dapat diprediksi.

Selama ini kenaikan jumlah sarang walet dihitung berdasarkan pengalaman empiris peternak. Pertambahan sarang sebesar 25% per tahun dianggap bagus untuk sebuah rumah walet. Artinya jika rumah walet itu semula berisi 10 sarang, tahun depan dapat diperkirakan jumlahnya meningkat mencapai 12-13 sarang. Persentase kenaikan sebesar itu lazim terjadi di lokasi-lokasi rumah walet yang memiliki sumber pakan melimpah. Seandainya sumber pakan tak mendukung, kenaikan populasi sarang sekitar 10%, bahkan bisa jadi lebih kecil lagi.

Sidayu yang dipakai Ubaidillah Thohir sebagai lokasi percobaan, menjadi sentra walet sejak zaman penjajahan Belanda. Dahulu di sekitar rumah walet terdapat banyak hutan sebagai sumber pakan walet, sehingga penambahan populasi lebih dari 25% per tahun. Namun, kini sejalan dengan maraknya penebangan liar dan pergantian musim yang tak menentu, laju pertumbuhan sarang terus menurun, bahkan negatif. Padahal, populasi rumah walet di Sidayu terus meningkat.
Laju pertumbuhan

Menurut Ubaidillah untuk memprediksi pertambahan sarang walet bisa menggunakan rumus sensus jumlah penduduk. Ada 3 parameter yang dipakai: jumlah awal sarang (simbol Po), tahun peningkatan yang dikehendaki (simbol n), dan laju pertambahan sarang (simbol r). Secara umum rumus itu adalah 1 ditambah r dipangkatkan n. Hasilnya kemudian dikalikan angka Po untuk memprediksi jumlah pertambahan sarang (Simbol Pp).

Besarnya nilai r dipengaruhi antara lain oleh kematian dan kelahiran walet, serta kemampuan tumbuh hingga dewasa yang berkisar 80%. Namun, sekarang persentase kematian bisa lebih banyak karena sumber pakan banyak yang tercemar pestisida, kata Ubaidillah. Akibatnya, banyak cangkang telur tipis dan mudah pecah, sehingga tak membuahkan anak.

Faktor lain yang mempengaruhi nilai r adalah sumber pakan yang menipis. Hal itu memaksa walet terbang lebih jauh mencari pakan. Bahkan seringkali walet pindah ke rumah lain yang lebih dekat sumber pakan untuk menghemat energi saat perjalanan pulang dari perburuan. Dari pengamatan alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu sejak 1980 di Sidayu, nilai r berkisar 0,25-0,6. Artinya laju kenaikan penambahan sarang di suatu rumah rata-rata berkisar 25-60% per tahun. Tapi kenyataannya saat sekarang mencapai kenaikan 30% saja sudah sangat sulit, tambahnya.

Contoh perhitungan, awal di tempat pengamatan 10 keping. Nilai r yang digunakan 0,25. Berapa penambahan pada tahun pertama? Perhitungannya, 0,25 ditambah 1 lalu dipangkatkan 1. Setelah itu dikalikan jumlah sarang awal, 10 sarang. Hasil akhir diperoleh 12,5 sarang, dibulatkan menjadi 13 sarang. Dengan perhitungan sama pada tahun kedua, akan diperoleh jumlah 16 sarang.
Tergantung pakan

Menurut Philip Yamin, konsultan walet di Cengkareng, Jakarta Barat, cara yang ditempuh Ubaidillah itu bisa digunakan. Tapi karakteristik setiap daerah berbeda sehingga nilai laju pertumbuhan berbeda dengan di Sidayu, ujarnya. Karena sulitnya menentukan laju pertumbuhan (r)-perlu pengamatan lama supaya akurat-Philip memilih menghitung secara manual.

Caranya, hitung jumlah sarang walet yang ada di sebuah rumah, misal 5.000 keping. Sarang-sarang itu masing-masing ditempati oleh sepasang induk. Sepasang induk mampu berbiak 2 kali dalam setahun. Andai tingkat keberhasilan penetasan 80% maka ada sekitar 16.000 anak walet yang dihasilkan dalam setahun. Dari jumlah itu anak walet yang kembali ke rumah hanya 20%. Artinya tahun depan ada penambahan sebanyak 1.600 sarang. Penambahan sebanyak itu menurut Philip berlaku untuk daerah-daerah pengembangan.

Di daerah-daerah padat rumah walet seperti Sumatera Utara dan Pulau Jawa, berdasarkan pengalaman Philip selama puluhan tahun, hanya 10% walet akan kembali ke rumah asal. Sisanya bisa hinggap ke rumah lain dan migrasi ke daerah yang kaya pakan, katanya. Itu artinya, sebanyak 8.000 walet yang akan kembali ke tempat semula dan membuat sarang.

Boedi Mranata, praktisi walet di Jakarta, menggarisbawahi perlunya menjaga lingkungan agar laju pertumbuhan sarang terus meningkat. Ia menggambarkan untuk 1.000 walet setiap harinya butuh 6-7 kg pakan. Jika kebutuhan pakan tercukupi, walet bisa 3-4 kali membuat sarang dalam setahun. Akibatnya, tanpa ada penambahan populasi walet baru, jumlah produksi sarang menjadi 1,5-2 kali lipat. (Lastioro Anmi Tambunan)

Effektifitas Aroma Walet (Seri 1)

Hampir 2 bulan belakangan ini saya banyak menerima pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan mengenai effektifitas aroma walet untuk memikat walet. Mereka sangat heran dengan effektifitas aroma yang digunakan sebagaimana dimuat dalam suatu blog. Begitu banyak burung walet yang menempel di tempat yang disemprot dengan aroma walet.

Kegunaan aroma walet telah saya bahas di buku saya Strategi Jitu Memikat Walet termasuk satu formula yang saya berikan, demikian pula banyak formula aroma saya berikan di seminar baik di P. Kapas maupun di Pontianak yang berlangsung baru-baru ini. Kenapa saya menekankan KACASUSU (Kelembaban Cahaya Aroma Suhu dan Suara)? Semua ini sangat berkaitan, tanpa mikro habitat yang memadai burung akan lebih lama untuk masuk atau tinggal di RBW... tanpa suara, burung walet yang berada di kejauhan tidak akan mendekat ke lubang masuk burung.

Aroma walet sudah lama dikenal dan dipergunakan di Indonesia, dan sejak tahun 1990 saya pun sudah menggunakan aroma walet. Pada waktu itu saya membeli di toko perlengkapan budidaya walet, dan tiap 2 minggu sekali saya semprotkan aroma tersebut di RBW. Setelah disemprot dengan aroma tersebut (walau tidak memakai suara panggil), banyak burung walet berdatangan dan masuk ke area yang disemprot dengan aroma tersebut. Memang menakjubkan efek dari aroma tersebut.... namun pada saat aroma tersebut hilang maka burung-burung walet pun tidak banyak yang datang, sehingga aroma walet terus menerus digunakan walau burung walet telah menginap agar populasi burung walet meningkat dengan pesat. 
Namun aroma tersebut lama kelamaan tidak effektif lagi, maka pada tahun 1996 saya mulai melakukan berbagai percobaan untuk membuat aroma walet baik untuk dinding maupun untuk nesting plank.

Bagaimana mengetahui bahwa aroma tersebut effektif?
Sebagaimana saya jelaskan di post sebelumnya bahwa aroma terdiri dari 2 yaitu untuk dinding dan untuk nesting plank.
Aroma untuk dinding dikuaskan atau disemprotkan di dinding dan atau lantai nesting room. Effektifitasnya bisa dilihat dari reaksi burung walet yang memasuki ruangan setelah ruangan tersebut disemprot dan biasanya burung akan bereaksi "ganas" seperti menyambar dinding yang disemprot dengan aroma dinding.
Sedangkan effektifitas aroma nesting plank dapat dilihat dari reaksi burung yang mendekat, menempel dan tinggal di nesting plank yang diolesi aroma dalam waktu yang relatif singkat.

Effektifitas aroma juga ditentukan oleh cara aplikasinya. Banyak orang tidak memperhatikan cara pengunaan atau aplikasinya sehingga hal ini akan mengurangi effektifitas aroma tersebut. Sebagai contoh, aroma tersebut seharusnya disemprotkan ke dinding dan tidak boleh disemprotkan di nesting plank, tapi karena ingin tahu efeknya, disemprotkan juga ke nesting plank. Atau seharusnya disemprotkan di dinding nesting room disemprotkan di lubang masuk burung dan roving room.
Hal seperti ini akan mengurangi effektifitas aroma tersebut. Burung akan lebih banyak memutar-mutar di roving room atau tidak masuk ke roving room dan nesting room karena LMB nya disemprot dengan aroma.
Oleh karena itu, sebaiknya perhatikan cara penggunaannya dan ikuti ... jangan melakukan cara-cara lain dengan maksud trial... kalau hal ini kita lakukan mungkin kita hanya dapat error nya saja.

Mengingat bahwa banyak aroma walet yang dijual di pasar, maka sebaiknya berhati-hati memilih aroma walet. Di pasaran ada juga aroma walet yang malah membuat burung walet kabur atau burung walet tidak berani masuk ke RBW , dan bahkan ada yang ngawur membuat aroma untuk nesting plank dengan menggunakan ammonia!

Ramuan Baru Pemikat Walet

Seri Walet (127):
Ramuan Baru Pemikat Walet
Oleh trubuson
Minggu, Januari 06, 2008 03:36:19 Kirim-kirim Print version

Selama 2 tahun rumah walet di Mojokerto, Jawa Timur, itu kosong melompong. Padahal, persyaratan lingkungan makro dan mikro-kelembapan, suhu, pencahayaan-dipenuhi. 'Sudah dipancing pakai air bekas cucian sarang, tapi nihil,' ujar BM Wawan. Namun, baru seminggu memakai ramuan pemikat walet dengan campuran rumput laut, suara cericit si liur emas itu mulai terdengar di dalam rumah.

Air cucian sarang hanya satu dari sekian cara yang pernah diupayakan BM Wawan untuk memikat walet. Pengusaha kelontong di Surabaya itu pernah pula mengoleskan telur bebek ke dinding. Bahkan menebar air kotoran walet ke lantai rumah walet. 'Itu sudah dikombinasi dengan CD player untuk mengundang walet,' ujarnya. Namun, segala upaya itu belum menuai hasil.

Titik terang muncul setelah Wawan menggunakan ramuan campuran sarang walet dan rumput laut. Kombinasi bau amis keduanya mujarab memancing walet masuk. Tak perlu disemprotkan ke dinding, ramuan itu hanya dioleskan memakai kuas pada lagur. 'Seminggu setelah dioleskan ada walet yang masuk,' katanya. Bahkan saat dicoba pada bangunan walet lain miliknya, walet masuk dalam tempo 3 hari.

Rumput laut

Menurut Agung Santoso, peternak di Mojokerto, rumput laut dapat menghasilkan bau amis yang tidak membuat walet pergi. 'Bau amisnya tidak keras, tapi bisa tahan lama sampai berbulan-bulan karena menyerap di pori-pori kayu,' kata Agung yang sudah meneliti formula itu sejak 1995. Begitu aroma amis di lagur hilang, walet tetap bertahan di sarangnya.

Sarang walet dan rumput laut memang bahan baku utama ramuan itu. Sekitar 100 g sarang dicuci bersih sebanyak 3 kali selanjutnya sarang itu direndam air selama semalam. Sarang kemudian dihancurkan hingga lembut dengan blender. Selanjutnya tambahkan 50 g rumput laut dan campuran itu direndam air sebanyak 5 liter.

'Perendaman dilakukan selama kira-kira sebulan,' ujar pengusaha yang sukses menernakkan walet itu. Hasil terbaik bila didapat air rendaman menjadi keruh dan berwarna kekuningan. Bau amisnya tercium lembut. Air rendaman itu kemudian disaring untuk membuang ampas sarang dan rumput laut. 'Yang dipakai hanya air rendaman saja,' katanya.

Cairan pemikat walet itu harus segera dioleskan pada lagur. Musababnya bila didiamkan terlalu lama, lebih dari 2 minggu, bau amisnya berubah, tidak tercium segar. 'Ini dapat terjadi pula bila perendaman dilakukan sampai 2 bulan,' ujar Agung. Bila cairan itu dipaksa untuk digunakan, walet tidak akan terpikat. Untuk itu perlu takaran yang pas agar ramuan tidak terbuang percuma. Dari pengalaman Agung cairan pemikat sebanyak 5 liter cukup untuk dioleskan pada 2 rumah walet berukuran 10 m x 20 m.

Pemakaian sarang utuh untuk bahan campuran memang mahal. Untuk itu Agung menyarankan sarang remukan yang harganya Rp1-juta-Rp1,5-juta/kg 'Bisa juga dipakai sarang sriti,' kata Agung. Rumput laut dapat dibeli di pasar tradisional. Harganya cukup murah sekitar Rp60.000-Rp70.000/kg.

Tenang

Ramuan pemikat walet sebetulnya mudah ditemui di pasaran. Namun, tidak semua ramuan itu efektif menjerat walet untuk masuk. Selain sarang sebagai bahan utama, campuran lain yang dipakai adalah kombinasi air kotoran walet dan minyak ikan. Itu yang dilakukan oleh Ade H. Yamani di Karawang. Namun, cairan pemikat itu harus disemprotkan ke seluruh permukaan dinding agar bekerja efektif.

Menurut Hary K Nugroho memancing walet memang gampang-gampang susah. 'Tanpa dipancing walet dapat datang asalkan kondisi lingkungan rumah walet tenang,' ujar pemilik Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara, itu. Tenang berarti jauh dari hiruk-pikuk kegiatan manusia. Itu pula yang terjadi pada walet-walet yang menetap di gua tepi pantai.

Pendapat senada disampaikan Agung. 'Hasilnya akan lebih bagus jika lingkungan tidak ada gangguan,' katanya. Apalagi jika peternak memperhatikan arah masuk dan keluar burung. 'Posisi lubang keluar dan masuk harus searah terbang walet,' ujar Agung. Harap mahfhum itu akan membuat walet merasa aman sehingga saat cairan pemikat dioleskan, Collocalia fuciphaga itu lekas masuk. (A. Arie Raharjo)

GRAND OPENING CHICKEN CRUSH VILLA MELATI MAS, SERPONG

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, pada tanggal 17 Oktober 2019 dilakukan pemberkatan tempat usaha resto Chicken Crush yang terletak di Ru...