Selasa, 05 Agustus 2008

Oper Bola Pancing Walet Bersarang

Seri walet (129): Oper Bola Pancing Walet Bersarang
Oleh trubus
Senin, Maret 03, 2008 11:31:14 Kirim-kirim Print version

Sudah 3 tahun rumah walet Afong di Kecamatan Siantan, Kabupatan Pontianak, Kalimantan Barat, kosong dari cericit walet. Jangankan untuk bersarang, singgah pun Collocalia fuciphaga itu tidak mau. Namun sejak rumah walet itu dipasang tweeter sistem oper bola selama 8 bulan, ada 200 sarang walet di sana.

Sulitnya si liur emas untuk bersarang di bangunan walet milik pengusaha emas itu kontras dengan lingkungan sekitarnya. Lokasi tempat bangunan itu berada kondang sebagai kompleks walet. 'Di sini ada sekitar 100 rumah walet,' ujar Afong. Mayoritas rumah-rumah itu sudah banyak dihuni walet. Namun, 'Di tempat saya walet-walet itu hanya keluar masuk,' tambahnya. Padahal perangkat pendukung untuk memancing walet antara lain cd walet dan tweeter sudah dipasang.

Nasib baik mulai berpihak setelah bangunan itu dikunjungi seorang konsultan walet dari Jakarta Barat. Konsultan itu menduga sulitnya walet bersarang karena penempatan tweeter yang salah. 'Rupanya posisi tweeter yang berhadapan membuat suara antartweeter bertabrakan. Akibatnya walet sulit menentukan sumber suara,' ujar Afong yang kemudian mencoba sistem tweeter oper bola. Terbukti setelah posisi dan jarak antartweeter diubah, muncul suara jernih yang membuat walet mau menetap.

Atur jarak

Sistem tweeter oper bola yang didesain oleh Ir Lazuardi Normansah pada 1997 bertujuan untuk mengundang walet tertarik masuk, terutama burung baru. 'Diusahakan burung yang datang itu langsung menginap dan dapat ditolerir sampai hari ketiga,' ujar konsultan walet di Jakarta Barat. Langkah awal untuk mengundang walet adalah dengan memasang 2-4 tweeter luar di pintu masuk walet yang terletak di lantai teratas. 'Tweeter harus menghadap keluar supaya suaranya jelas terdengar oleh walet,' kata kelahiran Riau, 40 tahun lalu.

Tweeter lain, void, dipasang lebih dalam berjarak 1-2 m dari tweeter luar. Tujuannya supaya suara tweeter luar samar-samar terdengar dalam ruangan. 'Kalau tweeter void tidak ada, walet-walet itu akan mengikuti arah suara tweeter luar dan walet akan keluar rumah lagi,' ujar Lazuardi. Nah, agar burung masuk sampai ke lantai bawah, pada void di tiap lantai juga dipasang sebuah tweeter. Posisi tweeter antarlantai-tweeter dalam-berselang-seling. Jarak pemasangan setengah dari lebar sirip tembok.

Tweeter dalam yang terpasang pada sirip-sirip perlu diatur letaknya. Idealnya setiap 1 m² dipasang sebuah tweeter dengan jarak 10-20 cm dari bibir sirip. 'Biasanya walet suka menempel pada tweeter. Bila posisi tweeter dekat bibir sirip, walet jadi takut dan malas bersarang,' ujar Lazuardi. Selain itu posisi tweeter diupayakan tegak lurus agar suara yang keluar terdengar jelas.

Ragam suara

Selain posisi dan jarak, jenis suara menjadi bagian penting memancing walet masuk dan bersarang. Untuk itu menurut Lazuardi perlu dipasang cd suara kawin, bermesraan, saling memanggil, dan piyik. Yang lain suara walet remaja bermain di tweeter luar. Yang disebut pertama lebih dominan terdengar, sekitar 60-70%. Hal itu untuk merangsang walet segera mencari pasangan dan kawin. Suara piyik dan remaja bermain digunakan 10-20%. Begitu pula suara panggil digunakan sebesar 10-20%. 'Walet itu hidup berkoloni. Saat mendengar suara-suara itu mereka tidak akan merasa sendiri,' jelas Lazuardi.

Pada tweeter dalam dan void suara walet mengasuh piyik, piyik, dan remaja yang sedang bermain lebih dominan. Masing-masing porsinya mencapai 20-30%.

Sisanya, suara walet saat birahi dan bermesraan. Pada tweeter luar, dalam, dan voidragam suara itu dipasang dengan durasi 20 menit yang direkam dalam cd.

Lamanya tweeter menyala mempengaruhi kehadiran walet. Tweeter luar dan void hanya dihidupkan setiap hari pukul 05.00-19.00 WIB. Tweeter dalam pada rumah yang telah berproduksi dipasang mulai pukul 04.00-21.00 WIB. Pemasangan pagi huta untuk tanda waktu agar burung keluar mencari pakan,' tutur Lazuardi. Sedangkan tweeter dalam di rumah dibiarkan menyala selama 24 jam.

Mikroklimat

Tweeter yang mampu bekerja maksimal dapat membuat walet masuk dan bersarang. 'Bila dianggap nyaman walet akan menyusuri ruangan sampai ke lantai bawah,' kata Lazuardi. Pada rumah baru, walet biasanya akan berhati-hati masuk lantaran takut. 'Dalam waktu 1-2 detik terbesit keraguan walet untuk tinggal. Namun jika tweeter terpasang benar, keraguan burung akan hilang,' tambahnya.

Tweeter memang bukan satu-satunya faktor penentu walet bersarang. Menurut Hary K Nugroho, konsultan walet di Jakarta Utara, tweeter dipakai sebagai langkah awal menarik walet masuk ke dalam rumah. 'Setelah masuk, selanjutnya mikroklimat dan aroma dalam rumah memegang peran penting,' ujarnya. Idealnya suhu diatur 28-30°C, sehingga tweeter bakal bekerja lebih ringan untuk memikat walet bersarang. (Lastioro Anmi Tambunan)

BIJAK PILIH RUMAH WALET

Seri Walet (133) Bijak Pilih Rumah Walet
Oleh trubus
Senin, Juli 07, 2008 15:35:21Kirim-kirimPrint version

'Dijual rumah walet 15 m x 7 m. Tiga lantai. Siap isi'. Tawaran menarik dari teman dekat itu segera disambar William-bukan nama sebenarnya-di Jakarta Barat. 'Saya langsung beli seharga Rp0,5 miliar,' katanya. Namun, seiring perjalanan waktu janji walet-walet itu akan bersarang bak jauh panggang dari api. 'Jangankan bersarang, untuk memancing walet masuk saja susahnya setengah mati,' tambah pengusaha alat elektronik itu.

William kian masygul saat menjumpai rumah walet orang lain yang berjarak 1 km dari tempat miliknya di Serpong, Tangerang, itu bisa panen 3 kali setahun. 'Kurang apalagi? Cakram CD walet sudah diputar 6 jam sehari. Dinding pun diberi ramuan walet, tapi hasilnya nihil,' katanya. Bahkan sriti yang mendahului masuk sebelum walet datang juga tidak segera bersarang.

Menurut Harry K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara, hal yang menimpa William itu salah satu efek maraknya penjualan rumah walet belakangan ini. Di berbagai surat kabar pariwara dijualnya rumah walet kerap terpampang. 'Rumah yang dijual biasanya produksinya rendah atau memang sulit mengundang walet. Yang tidak mengerti hal itu akan langsung tergiur oleh iming-iming produksi tinggi,' ujarnya. Boleh jadi William adalah salah satu yang menjadi korban.

Sejatinya penjualan rumah walet jadi-real estate walet-adalah bisnis menarik. Tren yang muncul sejak 1999 itu memancing banyak pengusaha mencemplungkan modal besar demi membangun kavling walet. Itu tampak di Tangerang, Serang, Bekasi, hingga Subang, Jawa Barat. Sayang, antusiasme itu malah mengundang petaka. Yang menyedihkan, banyak tempat yang menjadi sumber serangga seperti sawah dan padang rumput bersalin rupa menjadi bangunan walet. 'Serangga jadi sulit didapat sehingga walet semakin jauh mencari pakan,' kata Harry. Ujungnya bisa ditebak, populasi turun bahkan rumah tak kunjung terisi walet.

Cermat

Kondisi itu memang harus diwaspadai pembeli. Menurut Doddy Pramono, konsultan walet di Haurgeulis, Indramayu, saat me milih rumah walet perlu dipastikan lokasi rumah berada di daerah lintasan walet. Maksudnya dilalui walet saat pergi dan pulang mencari pakan.

Selain itu lokasi terpilih dekat dengan sumber pakan. 'Paling jauh sekitar 2 km,' ujar Harry. Sayang hal itu sudah sulit ditemui di Jawa, kecuali di Kalimantan, Sumatera, atau Sulawesi.

Meski demikian, walet sebetulnya dapat menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencari pakan. Jadi, 'Kalau sekadar berisi walet, bisa. Yang sulit memprediksi tingkat huniannya,' kata Doddy. Pria yang mengeluti walet sejak 1994 itu menyebut, idealnya rumah walet 3 lantai seluas 72 m2 berisi 50 sarang supaya dapat dipanen setiap tahun.

Hal lain yang mesti dicermati saat membeli rumah walet adalah memprediksi populasinya. Padat atau tidaknya populasi dapat dicek dengan memutar cakram CD pemikat walet. Populasi disebut padat bila dalam ½ jam sejak CD diputar tampak sekitar 100 individu. 'Tapi kalau hanya 10 ekor populasinya sangat rendah,' kata Doddy. Oleh sebab itu, pemikiran rumah walet harus berukuran besar agar bisa menampung walet lebih banyak tidaklah sepenuhnya benar. Percuma membangun rumah walet berukuran besar jika populasi walet di lokasi itu sedikit. 'Kecuali kalau mau menunggu hingga bertahun-tahun,' tambahnya.

Luar Jawa

Kavling-kavling walet di Pulau Jawa cenderung sulit untuk diharapkan bisa menjaring walet dalam jumlah besar. Di Jawa kini memasuki masa suram untuk pengembangan rumah walet. Kondisi sebaliknya justru terjadi di Kalimantan. Itulah yang dialami para pemain walet di Ketapang. Sebut saja Timotius Kim.

'Sejak 3 tahun terakhir kavling walet banyak tumbuh di jalur Pontianak sampai Ketapang,' ungkap Viany Cin Hong, konsultan walet di Pontianak. Viany menuturkan perusahaannya mengalami kenaikan penjual an perlengkapan rumah walet 200-300% dibandingkan 5 tahun lalu. Sayang, ia menolak menyebut angka pasti. Yang jelas omzetnya sampai puluhan juta rupiah tiap bulan.

Menurut Viany di luar Jawa kondisi alam masih mendukung untuk perkembangan walet. Sebut saja sumber pakan melimpah sehingga memungkinkan penambahan populasi lebih cepat. Perkebunan sawit yang kian meluas dan peternakan ayam yang muncul di berbagai tempat adalah bagian dari pengkayaan sumber pakan. Di luar Jawa ini pula belum banyak pabrik yang mendorong si penghasil liur emas itu untuk bermigrasi. Yang terpenting, rumah-rumah walet belum banyak sehingga tidak terjadi persaingan.

Namun, pengembangan rumah walet di luar Jawa bukan tanpa hambatan. Awal tahun lalu pemda Kota Pontianak mengeluarkan perda yang melarang pemba ngunan gedung walet di dalam kota. Tujuannya, 3-5 tahun mendatang tidak ada lagi gedung walet di tengah kota. Setahun sebelumnya, pemda Kabupaten Ketapang sudah menempuh jalur sama. Rumah walet dianggap merusak keindahan kota, mengancam kebersihan lingkungan, sampai memancing kecemburuan sosial. Makanya izin pembangunan rumah baru tidak diberikan. (A. Arie Raharjo)

Sabtu, 02 Agustus 2008

Sarang Raja Walet??


Hari Rabu, tanggal 30 July 2008, saya mampir ke toko sarang walet Wong Coco, di Mal Taman Anggrek mengantar rekan dari negeri China yang berminat untuk membeli sarang walet yang sudah diproses.

Ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu sarang walet yang belum diproses yang dipajang di etalase toko tersebut.
Di antara sarang-sarang tersebut ada satu sarang yang memanjang (kurang lebih panjangnya 30 cm) seperti sampan sebagaimana photo di atas, dan sarang ini dibuat oleh dan hanya sepasang burung walet. Terus terang, bentuk sarang yang memanjang seperti ini belum pernah saya lihat, dan baru kali ini saya melihat di etalase toko.
Karena bentuk sarangnya yang unik ini maka pemilik gerai Wong Coco menjulukinya sebagai Raja Walet.
Apakah Raja Walet akan membuat sarang seperti ini?
Bentuk sarang seperti photo di atas terjadi karena tempat tempelan sarang atau nesting plank lebarnya tidak mencukupi atau adanya landasan sarang yang dibuat memanjang sehingga burung membuat sarangnya sesuai dengan tempat landasan sarang tersebut.
Jadi bisa saja bukan "Raja walet" yang hanya bisa membuat sarang seperti itu, tapi burung walet tuapun juga dapat membuat sarang memanjang mengikuti nesting plank dan/atau landasan sarang yang ada.

Jumat, 01 Agustus 2008

Aroma Walet

Berbagai cara digunakan oleh pembudidaya datau peternak walet untuk memikat walet. Cara yang digunakan antara lain: dengan menggunakan CD suara walet, menyediakan makanan berupa serangga terbang dan aroma.

Aroma merupakan salah satu bagian dari KACASUSU (Kelembapan Aroma CAhaya SUhu dan SUara), namun sebagian orang tidak memercayai bahwa aroma diperlukan dan dapat dipergunakan agar burung walet segera tinggal atau menginap di rumah burung walet.

Suara panggil dipergunakan untuk menarik burung walet menuju ke lubang masuk dan suara dalam atau suara inap dipergunakan agar burung walet yang terpancing atau terpikat merasa rumah burung walet tersebut telah dihuni oleh burung-burung walet lainnya. Agar burung walet merasa bahwa rumah burung tersebut telah dihuni oleh burung-burung walet, tentunya rumah burung tersebut mempunyai aroma atau berbau burung walet.

Bau burung walet bisa juga karena kotoran burung walet yang baunya khas atau bau khas liur burung walet di nesting plank. Dengan adanya aroma di nesting plank yang serupa atau menyerupai bau burung walet maka burung walet yang terpikat akan segera tinggal dan membangun sarangnya di rumah burung walet tersebut, jika suhu dan kelembapan udara telah terpenuhi.

Aroma walet dibagi menjadi dua yaitu untuk dinding dan untuk nesting plank. Aroma diyakini dapat merangsang burung untuk segera tinggal atau menginap di rumah burung dan membuat sarang.

Jumat, 25 Juli 2008

LAPORAN SEMINAR STRATEGI JITU MEMIKAT WALET - PONTIANAK - INDONESIA


Seminar Strategi Jitu Memikat Walet yang diselenggarakan oleh Eddy Salim di Hotel Gajah Mada, Pontianak - Indonesia telah berlangsung sukses. Seminar dihadiri oleh 68 peserta yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Brunei.
Saya, Hendri Mulia, merupakan pembicara utama di seminar ini yag membahas teknik-teknik terkini untuk memikat burung walet agar burung walet dapat masuk, tinggal dan membuat sarang.Mikro habitat rumah walet memegang peranan penting sebelum pemikatan dilakukan dengan menggunakan suara. Kita dapat menggunakan berbagai jenis suara asli, artificial dan atau suara-suara lain untuk menarik perhatian burung walet mendekati rumah burung walet (RBW) atau lubang masuk burung (LMB), namun bila mikro habitat RBW tidak memadai maka burung walet tidak akan tinggal apalagi bersarang di RBW tersebut.
Seminar yang berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 19 dan 20 Juli 2008, membahas teknik-teknik dan strategi jitu memikat walet yang menekankan pada menciptakan mikro habitat rumah burung walet dan penggunaan suara walet.
Suara walet yang baik adalah yang effektif memikat walet. Suara yang digunakan adalah suara luar yang dikenal juga sebagai suara panggil.
Suara panggil dapat diciptakan dengan menggunakan suara asli burung walet yang direkam dan diedit sedemikian ruap sehingga mampu menarik perhatian burung walet. Suara panggil ini juga dapat diciptakan dengan menggunakan suara serangga dan alat musik yang dikreasikan sedemikian rupa hingga mampu memikat burung walet untuk datang ke rumah burung walet.
Suara dalam atau juga yang dikenal dengan suara inap, memegang peranan penting agar burung walet mau tinggal dan membuat sarang di RBW.
Suara inap sangat disarankan menggunakan suara asli dan tidak dianjurkan menggunakan suara-suara yang ciptakan dari instrumen / alat musik.
Burung walet akan tinggal dan membuat sarang di RBW bila mikro habitatnya ideal.
Setelah seminar hari kedua, seluruh peserta seminar berkunjung ke Sentra Walet, Sei Pinyuh.


Pada malam harinya, kami jalan menuju ke Jl. Ir. H. Juanda....di sini banyak rumah burung walet yang telah berproduksi dan salah satunya yang telah berproduksi puluhan kilo berada di sebelah Bank Ekonomi.

Kami sangat terkejut melihat phenomena yang terjadi sebagaimana pernah kami lihat di Kuala Terengganu, Malaysia, yaitu burung walet masih berkeliaran di malam hari di tempat yang ada lampunya. Burung-burung walet ini meyambar dan memakan serangga terbang yang beterbangan mendekat billboard Bank Ekonomi. Cahaya lampu dari billboard ini mengundang serangga terbang dan serangga terbang mengundang burung-burung walet untuk mendekat serta memakan serangga terbang tersebut.

Hal ini menjadi perhatian kita, dan kita harus bertanya apakah produksi RBW yang disebelah Bank Ekonomi meningkat dan burung waletnya bertambah karena adanya billboard ini?

Secara logika, serangga-serangga terbang ini menarik burung-burung walet lainnya yang sedang menuju ke rumahnya untuk mampir dan bersantap ria di billboard tersebut sampai lupa pulang ke RBW nya. Untuk menuju RBWnya burung walet tersebut akan mengalami kesulitan karena hari telah gelap, sedangkan di sebelah billboard tersebut terdapat RBW yang populasinya besar, sehingga kemungkinan besar burung-burung walet yang sedang berpesta ria di situ akan menginap lalu tinggal di RBW yang bersebelahan dengan billboard tersebut. Hal ini sangat mungkin terjadi.

Video clip di bawah ini saya ambil pada tanggal 20 Juli 2008, pada jam 21.12 di jl. Ir. H. Juanda - Pontianak - Indonesia


Sabtu, 12 Juli 2008

Sarawak Forestry issued a statement on Swiftlet Farming in Sarawak

Kuching, Tuesday, September 11, 2007 - SARAWAK FORESTRY today issued a statement on swiftlets farming in Sarawak.

In Sarawak, edible bird nests industry has a long history of traditional and intimate involvement of local communities; at least 150 years old. Since 1998, sustainable harvest of wild bird nests population from natural caves has been introduced. This effort, not only stop the decline of the wild swiftlets population but also substantially increase some colonies in example in the case of middle Baram, Bukit Sarang and Niah Cave.

This natural resources has benefited the local communities who are licensed to collect edible bird nests from the natural caves. Economic wise, it has become a sustainable income to the local communities and swiftlets population are able to be managed sustainably.

According to SARAWAK FORESTRY, under Section 19 in the Wildlife Protection Rules, 1998 it is stated that "no person shall establish, own or maintain a commercial wild life farm without a license issued by the Controller".

The spokesman advised that under Wild Life Protection (Amendment) Ordinance, 2003, it is clearly stated that "No person shall, without a license from the Controller, build, erect, maintain or set up any building or structure for the purposes of harbouring, or providing facilities or environment for, swiftlets to make or create nests thereon with a view to collecting and taking edible birds´ nests for sale or trade".

Commercial wild life farm includes a place, premises, ranch or estate where wildlife is reared, bred, grown, or maintained for trade or sale or other commercial purposes, but exclude a livestock farm licensed under the Natural Resources and Environment (Control of Livestock Pollution) Rules, 1996.

It is important to note said the spokesman that, all swiftlets including all species of Aerodrarnus, Hydrochous and Collocalia are protected under the Wild Life Protection Ordinance, 1998 thus whether the swiftlets are in urban areas or not, the Ordinance still applies.

SARAWAK FORESTRY acknowledges that edible bird nests (i.e: farming) are lucrative business, because the edible bird nests is an export commodity and valuable. In the past few years, swiftlets farming experienced rapid expansion in Sarawak and Sarawak´s State Cabinet is not opposing the development of swiftlets farming industries provided that it is done in healthy manner, on agriculture land.

This is evident in Rules 18(a) & (b), The Wild Life Protection (Edible Birds´ Nests) (Ammendment) Rules, 2006 which allow for swiftlets farming to exclude:

  1. within an area or land cleared to be town land under section 11(1) of the Land Code [Cap. 81 (1958 Ed.)]; or
  2. within an area of land declared to be town land under section 11(1) of the Land Code [Cap. 81 (1958 Ed.)] unless the special condition of the title for the land allows it to be used for agriculture and written approval has been obtained from Superintendent of Land and Surveys of the Division for the erection of the building to be used for swiftlets farming.

In this instance, operating in shop lots at any building is a violation of these Rules. On the use of shop lots by swiftlets farmers, said the spokesman, according to their expert, it is not conducive in the long run for swiftlets apart from the speakers used to imitate the swiftlets chirping sound can prove to be a nuisance to the surrounding communities when the volume is amplified. In addition to that, he said that though swiftlets roost in the building as in the case of farming in shop houses, inevitably its droppings still have the tendency to land outside their premises.

Furthermore, without proper technique and out of ignorance, water ponds installed in these shop houses can produce obnoxious smells when huge amount of swiftlets droppings fell in it.

However, swiftlets farming is permissible via the approval and license issued by Controller and subject to related rules and regulation stated in the license thereof.

The spokesman said that "there are success stories of swiftlets farming in rural areas/ agriculture land when done in proper manner and in accordance with prescribed rules and regulations stated under the Ordinance. This should be the way forward". The notion that swiftlets farming in rural areas are not prosperous is not true because there are equally large number of unsuccessful swiftlets farming in shop lots. The success depend very much on technique and know-how of this industry.

In conclusion, the State Government encourages swiftlets farming established legally with license approved by the Controller and done in rural areas or agriculture land, which adheres to related rules and regulations.

Selasa, 24 Juni 2008

SEMINAR STRATEGI JITU MEMIKAT WALET - PONTIANAK - INDONESIA


Seminar Strategi Jitu Memikat Walet akan diselenggarakan di Pontianak - Indonesia pada tanggal 19 dan 20 Juli 2008.
Katulistiwa membelah kota Pontianak dan sekitarnya, pepohonan dan tanaman tropis tumbuh subur.
Walau sering terjadi kebakaran hutan karena panas matahari yang menyengat di kala kemarau, namun pada saat musim penghujan, tanaman kembali tumbuh dengan pesat.
Pada waktu terjadi kebakaran hutan , burung-burung walet hijrah ke kota mencari tempat tinggal yang baru, ibaratnya saat ini kota Pontianak dan sekitarnya diibaratkan diserang oleh burung walet yang mencari tempat tinggal.
Kalimantan Barat pada saat ini adalah tempat yang paling baik untuk membudidayakan burung walet karena banyaknya hutan tropis yang menjamin tersedianya makanan burung walet.
Bagaimana merumahkan burung walet dengan teknik terkini? Silakan ikuti Seminar Strategi Jitu Memikat Walet yang akan diselenggarakan di kota Pontianak - Indonesia pada tanggal 19 dan 20 Juli 2008. Tempat terbatas.

GRAND OPENING CHICKEN CRUSH VILLA MELATI MAS, SERPONG

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, pada tanggal 17 Oktober 2019 dilakukan pemberkatan tempat usaha resto Chicken Crush yang terletak di Ru...